artikel pilihan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan
Kumpulan Fatwa

Website Pendidikan Anak

Website Pendidikan Anak
kids.tauhid.or.id

Panduan Seputar Bulan Dzulhijjah

Panduan Seputar Bulan Dzulhijjah
Fikih Ibadah Qurban, Haji, Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Panduan Muamalah Tanpa Riba

Panduan Muamalah Tanpa Riba
Seri Artikel Muamalah

Artikel Pilihan

artikel pilihan/module

Landasan Agama

landasan agama/carousel

Ibadah

ibadah/carousel

Muamalah

muamalah/carousel

Keluarga

keluarga/box

Adab & Akhlak

adab & akhlak/carousel

Sirah

sirah/carousel

Artikel Terbaru

UNTUKMU YANG MENGHARAPKAN KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM

UNTUKMU YANG MENGHARAPKAN KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM


Dari Khutbah Jum'at Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله

**********


Khutbah Pertama:
Segala puji hanya bagi Allah, kita memuji hanya kepada-Nya, meminta pertolongan,  memohon ampunan-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga dan para sahabat beliau. Semoga Allah memberikan keselamatan yang melimpah kepada mereka semua. Adapun setelah itu,

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian semua kepada Allah Ta’âlâ, dan bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya baik yang nampak atau yang tersembunyi. Dia senantiasa menolong kalian pada musim-musim kebaikan dan penuh keutamaan. Telah selesai bulan-bulan haji sampai sekarang dan tibalah sekarang bulan Allah yaitu bulan Muharram. Bulan ini, Allah mengistimewakannya dengan beberapa keistimewaan. Di antaranya:

Pertama, bahwa (bulan) Muharram ini termasuk di antara bulan-bulan yang di dalamnya Allah mengharamkan peperangan. Allah Ta’âlâ berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [At-Taubah: 36]
Keempat bulan ini adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’âlâ mengharamkan peperangan di dalamnya demi memberikan rasa aman kepada para jamaah haji dan umrah dalam perjalanan mereka menuju haji dan umrah. Maka ketika agama Islam datang, segala puji hanya bagi Allah, keamanan pun  terwujud, orang-orang kafir pun kalah dan diperintahkanlah perang di jalan Allah Azza wa Jalla di setiap waktu pada saat yang memungkinkan untuk berperang.
Bulan ini memiliki beberapa keutamaan. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Allah, yaitu Muharram.”
Maka dianjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan itu.

Bulan ini juga termasuk dari keempat bulan (yang) haram (untuk berperang). Bulan yang dipilih oleh para shahabat radhiyallâhu anhum pada zaman Umar bin Al-Khaththab radhiyallâhu anhu agar menjadi bulan yang pertama dalam penanggalan tahun Hijriyah. Bulan ini memiliki banyak keutamaan.

Di antara keutamaannya yang paling besar adalah bahwa di dalam bulan ini terdapat hari ‘Asyura yang mana Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa puasa pada hari tersebut (pahalanya) berupa dihapusnya dosa-dosa setahun yang lalu. Nabi Musa ‘alaihissalâm juga berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukurnya kepada Allah ketika Allah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya. Maka beliau berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Kemudian orang-orang Yahudi sepeninggal beliau pun berpuasa pada hari itu.

Ketika Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu. Beliau bertanya, “Puasa apakah yang kalian lakukan ini?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya hari ini adalah hari di mana Allah memuliakan Musa serta pengikutnya dan menghinakan Fira’un dan bala tentaranya, dan Musa juga berpuasa pada hari ini. Maka kami pun berpuasa pada hari ini.” Maka beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,


نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ” أو “أولا بِمُوسَى مِنْكُمْ
“Kami lebih berhak atas perbuatan Musa daripada kalian.” Atau dalam riwayat yang lain, “Kami lebih pantas dengan perbuatan Musa daripada kalian.”
Maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut. Maka puasa ‘Asyura hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang ditekankan). Namun beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam ingin agar kita menyelisihi orang-orang Yahudi dengan memerintahkan untuk berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal kesembilan Muharam. Dan di dalam riwayat yang lain, “Atau berpuasa sehari setelahnya.” Akan tetapi berpuasa pada tanggal sembilan lebih ditekankan. Maka berpuasa pada hari kesembilan ini merupakan perbuatan yang meneladani para nabi Allah ‘alaihimushshalatu wassalâm, yaitu meneladi nabi Musa dan nabi Muhammad ‘alaihimushshalâtu wassalâm pada puasanya yaitu pada hari di mana kaum muslimin Allah muliakan melalui perantara nabi Musa ‘alahissalam. Itulah pertolongan bagi kaum muslimin hingga hari kiamat dan merupakan sebuah nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Wajib disyukuri dan itu dengan berpuasa pada hari itu. Maka puasanya merupakan ajaran Nabi yang ditekankan.

Seorang muslim hendaknya berpuasa pada hari kesembilan dan hari kesepuluh yang merupakan hari ‘Asyura. Dan sunnah itu telah berjalan di tengah-tengah umat ini, segala puji hanya bagi Allah. Maka hukum puasanya lebih ditekankan demi mengharapkan pahala dan balasan dari Allah dan bentuk syukur kepada-Nya.

Ajaran para nabi dan para pengikutnya adalah bahwa mereka bersyukur kepada Allah atas pertolongan–pertolongan yang ada. Dan hal itu direalisasikan dengan menjalankan ketaatan, berpuasa dan dzikir kepada Allah serta bersyukur kepada-Nya. Tidak melakukan kebidahan-kebidahan dan kemungkaran-kemungkaran dengan adanya pertolongan-pertolongan ini. Karena sesungguhnya perbuatan ini merupakan kebiasan-kebiasan orang-orang Jahiliyah. Demikian juga dengan membuat perayaan demi perayaan. Akan tetapi hendaklah mereka bersyukur kepada Allah di dalamnya dan berpuasa karena menghidupkan sunnah perkara yang diharapkan dari umat ini. Di dalam puasanya terdapat pahala yang besar berupa diampuninya dosa-dosa selama setahun.

Tidak sepantasnya seorang muslim untuk meremehkan hal ini. Adapun menjadikan hari ‘Asyura (sebagai) hari kesedihan, hari menangis, meronta-ronta dan meratap sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah, semoga Allah melaknat mereka, sebagai bentuk kesedihan atas terbunuhnya Husein radhiyallâhu anhu, maka perbuatan itu termasuk perang pada hari Asyura ini, yaitu pada tanggal sepuluh Muharam. Akan tetapi musibah janganlah kamu menyambutnya dengan meratap, berbuat kemaksiatan dan kebid’ahan. Akan tetapi hendak disambut dengan menjalankan ketaatan, sabar dan mengharap pahala dari Allah.

Terbunuhnya Husein tidak diragukan lagi bahwa itu adalah musibah. Akan tetapi Allah memerintahkan kita ketika terjadi musibah untuk bersabar dan mengharap pahala.

Yang disunahkan pada hari ini adalah sunnah yang dilakukan para nabi, semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada mereka, yaitu dengan melakukan puasa bukan dengan membuat perkara baru di hari itu atau perbuatan yang lain. Demikian juga sebaliknya dari orang-orang bodohnya kaum muslimin dan orang-orang bodohnya Ahlus Sunnah yang menamakan hari ini sebagai hari kebahagiaan. Dan sebagian mereka menamakan hari ini sebagai hari raya setiap tahun sebagaimana yang biasa mereka ucapkan, padahal hari ini bukan hari raya. Hari ini hanyalah hari pertolongan dan kesyukuran kepada Allah. Mereka bergembira bersama anak-anak mereka dan memberikan serta saling memberikan hadiah di antara mereka. Maka ini adalah bid’ah perkara baru dan tidak dibolehkan. Dan ini kebalikan dari perbuatan orang-orang Syi’ah. Orang-orang Syi’ah bersedih sedangkan mereka bergembira. Apakah mereka bergembira dengan terbunuhnya Al-Husein radhiyallâhu anhu, maksudnya membuat mereka membenci Syi’ah dengan bergembira atas terbunuhnya Al Husein radhiyallâhu anhu? Tidak, ini tidak boleh.

Maka yang wajib bagi setiap muslim untuk mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah. Inilah yang diinginkan. Kebid’ahan tidak akan bisa dilawan dengan yang lebih jelek lagi berupa kebid’ahan yang lain. Bidah itu hanya bisa dilawan dengan meninggalkannya dan menghidupkan yang sunnah.

Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua kepada perkara yang dicintai dan diridhai-Nya. Aku ucapkan perkataan ini. Aku mohon ampun kepada Allah untukku dan kalian serta untuk kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya dan bertaubatlah sesungguhnya Dia Maha Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



**********

Khutbah Kedua:

Segala puji hanya bagi Allah atas keutamaan dan kebaikan-Nya. Aku bersyukur atas taufik dan nikmat-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya sebagai pengagungan akan keberadaan-Nya, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam itu adalah hamba dan rasul-Nya yang menyerukan kepada ridha-Nya. Semoga shalawat dan salam atas beliau, keluarga, para sahabat, para kawan dan para penolongnya. Semoga Allah memberikan keselamatan yang melimpah kepada mereka semua. Adapun setelah itu,

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwasanya tidak akan diterima suatu perbuatan yang sunnah atau yang dianjurkan sampai perbuatan yang wajib dikerjakan. Maka bersungguh-sungguhlah untuk melaksanakan amalan-amalan yang wajib terlebih dahulu. Karena perbuatan yang wajib itu lebih dicintai Allah dari perbuatan yang sunnah. Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman di dalam sebuah hadits Qudsi,


مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah seorang hamba-Ku itu mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sebuah perbuatan yang lebih Aku cintai daripada perbuatan yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan yang sunnah hingga Aku mencintainya.”
Maka amalan-amalan sunnah menyempurnakan amalan-amalan yang fardhu (wajib). Adapun dengan melakukan amalan-amalan sunnah dan bermudah-mudahan dalam melaksanakan amalan-amalan fardhu maka ini perkara yang terbalik.

Yang wajib setiap muslim yang menjaga amalan-amalan yang fardhu lebih dahulu dan sebelum melakukan perbuatan apa pun. Kemudian dia melakukan amalan-amalan yang sunnah setelahnya agar menyempurnakan yang fardhu dan sebagai tambahan dan kebaikan bagi seorang muslim.

Bertakwalah kepada Allah wahai para hamba Allah, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. Setiap bid’ah adalah kesesatan dan hendaklah kalian bersatu karena sesungguhnya Tangan Allah di atas persatuan. Dan barangsiapa yang berpecah belah maka dia berpecah belah di neraka.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzâb: 56]
Ya Allah, berilah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, yaitu nabi kami nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan ridhailah para Khulafâur Rasyidin beliau, para pimpinan yang mendapatkan hidayah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para shahabat yang lain semuanya, juga para tabi’in dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kesyirikan dan orang-orang yang melakukan kesyirikan, hancurkanlah mereka para musuh agama, jadikanlah negeri ini negeri yang damai dan sentosa dan seluruh negeri kaum muslimin wahai Rabb seluruh alam semesta. Ya Allah, jagalah untuk kami keamanan, keimanan dan kesejahteraan di negeri-negeri kami, perbaikilah para pemimpin kami, janganlah Engkau menyiksa kami karena perbuatan orang-orang bodoh di kalangan kami, jagalah kami dari fitnah yang jelek, baik yang terlihat atau pun yang tidak terlihat. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kebenaran itu sebagai kebenaran dan anugerahkanlah kepada kami untuk bisa mengikutinya, tunjukkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan anugerahkanlah kepada kami untuk bisa menjauhinya, cintakanlah kepada kami keimanan dan hiasilah ia di dalam hati kami, bencikanlah kepada kami kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, jadikanlah kami orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Ya Allah, berilah mereka taufik kepada kebaikan yang ada pada mereka dan yang ada pada kebaikan agama Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, jagalah keamanan kami dengan perantara mereka, satukanlah kekuatan kami dengan perantara mereka, lembutkanlah jamaah kami dengan sebab mereka, Wahai Dzat yang Maha Hidup dan Maha Mengatur wahai Dzat yang mendengarkan doa. Ya Allah, jagalah negeri kaum muslimin seluruhnya wahai Rabb seluruh alam. Ya Allah, berilah jalan keluar bagi kaum muslimin atas kesusahan dan penderitaan yang mereka alami dari perbuatan tangan para musuh, orang-orang kafir dan munafik.

Ya Allah, berilah jalan keluar bagi kaum muslimin dengan segera. Ya Allah, berilah jalan keluar untuk kaum muslimin dengan pertolongan. Ya Allah, berilah jalan keluar bagi kaum muslimin dari segala tindakan kekerasan dan dari segala kesusahan wahai Dzat yang mendengarkan doa, wahai Dzat yang mengeluarkan dari segala macam kesusahan, wahai Dzat yang mendengarkan semua, doa wahai Dzat yang menolong dari semua perkara yang menenggelamkan, wahai Dzat yang Maha Hidup, wahai Dzat yang mendengar doa, wahai Dzat yang memiliki kemuliaan dan kehormatan.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Allah, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 127]
Wahai hamba Allah,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah (kalian) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah kalian itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat.” [An-Nahl: 90-91]
Ingatlah Allah niscaya Dia juga akan mengingat kalian, bersyukurlah kalian atas nikmat-Nya niscaya Dia akan menambahnya. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu amat besar. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang apa kalian ketahui.


Khutbah Jumat, pada tanggal 27-12-1434


__________________________

Ditulis Oleh Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan Al Fauzan
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

http://alfawzan.af.org.sa/node/15019

Diterjemahkan oleh tim Redaksi alfawzan.net




Dari Khutbah Jum'at Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله

**********


Khutbah Pertama:
Segala puji hanya bagi Allah, kita memuji hanya kepada-Nya, meminta pertolongan,  memohon ampunan-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga dan para sahabat beliau. Semoga Allah memberikan keselamatan yang melimpah kepada mereka semua. Adapun setelah itu,

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian semua kepada Allah Ta’âlâ, dan bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya baik yang nampak atau yang tersembunyi. Dia senantiasa menolong kalian pada musim-musim kebaikan dan penuh keutamaan. Telah selesai bulan-bulan haji sampai sekarang dan tibalah sekarang bulan Allah yaitu bulan Muharram. Bulan ini, Allah mengistimewakannya dengan beberapa keistimewaan. Di antaranya:

Pertama, bahwa (bulan) Muharram ini termasuk di antara bulan-bulan yang di dalamnya Allah mengharamkan peperangan. Allah Ta’âlâ berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [At-Taubah: 36]
Keempat bulan ini adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’âlâ mengharamkan peperangan di dalamnya demi memberikan rasa aman kepada para jamaah haji dan umrah dalam perjalanan mereka menuju haji dan umrah. Maka ketika agama Islam datang, segala puji hanya bagi Allah, keamanan pun  terwujud, orang-orang kafir pun kalah dan diperintahkanlah perang di jalan Allah Azza wa Jalla di setiap waktu pada saat yang memungkinkan untuk berperang.
Bulan ini memiliki beberapa keutamaan. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Allah, yaitu Muharram.”
Maka dianjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan itu.

Bulan ini juga termasuk dari keempat bulan (yang) haram (untuk berperang). Bulan yang dipilih oleh para shahabat radhiyallâhu anhum pada zaman Umar bin Al-Khaththab radhiyallâhu anhu agar menjadi bulan yang pertama dalam penanggalan tahun Hijriyah. Bulan ini memiliki banyak keutamaan.

Di antara keutamaannya yang paling besar adalah bahwa di dalam bulan ini terdapat hari ‘Asyura yang mana Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa puasa pada hari tersebut (pahalanya) berupa dihapusnya dosa-dosa setahun yang lalu. Nabi Musa ‘alaihissalâm juga berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukurnya kepada Allah ketika Allah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya. Maka beliau berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Kemudian orang-orang Yahudi sepeninggal beliau pun berpuasa pada hari itu.

Ketika Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu. Beliau bertanya, “Puasa apakah yang kalian lakukan ini?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya hari ini adalah hari di mana Allah memuliakan Musa serta pengikutnya dan menghinakan Fira’un dan bala tentaranya, dan Musa juga berpuasa pada hari ini. Maka kami pun berpuasa pada hari ini.” Maka beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,


نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ” أو “أولا بِمُوسَى مِنْكُمْ
“Kami lebih berhak atas perbuatan Musa daripada kalian.” Atau dalam riwayat yang lain, “Kami lebih pantas dengan perbuatan Musa daripada kalian.”
Maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut. Maka puasa ‘Asyura hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang ditekankan). Namun beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam ingin agar kita menyelisihi orang-orang Yahudi dengan memerintahkan untuk berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal kesembilan Muharam. Dan di dalam riwayat yang lain, “Atau berpuasa sehari setelahnya.” Akan tetapi berpuasa pada tanggal sembilan lebih ditekankan. Maka berpuasa pada hari kesembilan ini merupakan perbuatan yang meneladani para nabi Allah ‘alaihimushshalatu wassalâm, yaitu meneladi nabi Musa dan nabi Muhammad ‘alaihimushshalâtu wassalâm pada puasanya yaitu pada hari di mana kaum muslimin Allah muliakan melalui perantara nabi Musa ‘alahissalam. Itulah pertolongan bagi kaum muslimin hingga hari kiamat dan merupakan sebuah nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Wajib disyukuri dan itu dengan berpuasa pada hari itu. Maka puasanya merupakan ajaran Nabi yang ditekankan.

Seorang muslim hendaknya berpuasa pada hari kesembilan dan hari kesepuluh yang merupakan hari ‘Asyura. Dan sunnah itu telah berjalan di tengah-tengah umat ini, segala puji hanya bagi Allah. Maka hukum puasanya lebih ditekankan demi mengharapkan pahala dan balasan dari Allah dan bentuk syukur kepada-Nya.

Ajaran para nabi dan para pengikutnya adalah bahwa mereka bersyukur kepada Allah atas pertolongan–pertolongan yang ada. Dan hal itu direalisasikan dengan menjalankan ketaatan, berpuasa dan dzikir kepada Allah serta bersyukur kepada-Nya. Tidak melakukan kebidahan-kebidahan dan kemungkaran-kemungkaran dengan adanya pertolongan-pertolongan ini. Karena sesungguhnya perbuatan ini merupakan kebiasan-kebiasan orang-orang Jahiliyah. Demikian juga dengan membuat perayaan demi perayaan. Akan tetapi hendaklah mereka bersyukur kepada Allah di dalamnya dan berpuasa karena menghidupkan sunnah perkara yang diharapkan dari umat ini. Di dalam puasanya terdapat pahala yang besar berupa diampuninya dosa-dosa selama setahun.

Tidak sepantasnya seorang muslim untuk meremehkan hal ini. Adapun menjadikan hari ‘Asyura (sebagai) hari kesedihan, hari menangis, meronta-ronta dan meratap sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah, semoga Allah melaknat mereka, sebagai bentuk kesedihan atas terbunuhnya Husein radhiyallâhu anhu, maka perbuatan itu termasuk perang pada hari Asyura ini, yaitu pada tanggal sepuluh Muharam. Akan tetapi musibah janganlah kamu menyambutnya dengan meratap, berbuat kemaksiatan dan kebid’ahan. Akan tetapi hendak disambut dengan menjalankan ketaatan, sabar dan mengharap pahala dari Allah.

Terbunuhnya Husein tidak diragukan lagi bahwa itu adalah musibah. Akan tetapi Allah memerintahkan kita ketika terjadi musibah untuk bersabar dan mengharap pahala.

Yang disunahkan pada hari ini adalah sunnah yang dilakukan para nabi, semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada mereka, yaitu dengan melakukan puasa bukan dengan membuat perkara baru di hari itu atau perbuatan yang lain. Demikian juga sebaliknya dari orang-orang bodohnya kaum muslimin dan orang-orang bodohnya Ahlus Sunnah yang menamakan hari ini sebagai hari kebahagiaan. Dan sebagian mereka menamakan hari ini sebagai hari raya setiap tahun sebagaimana yang biasa mereka ucapkan, padahal hari ini bukan hari raya. Hari ini hanyalah hari pertolongan dan kesyukuran kepada Allah. Mereka bergembira bersama anak-anak mereka dan memberikan serta saling memberikan hadiah di antara mereka. Maka ini adalah bid’ah perkara baru dan tidak dibolehkan. Dan ini kebalikan dari perbuatan orang-orang Syi’ah. Orang-orang Syi’ah bersedih sedangkan mereka bergembira. Apakah mereka bergembira dengan terbunuhnya Al-Husein radhiyallâhu anhu, maksudnya membuat mereka membenci Syi’ah dengan bergembira atas terbunuhnya Al Husein radhiyallâhu anhu? Tidak, ini tidak boleh.

Maka yang wajib bagi setiap muslim untuk mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah. Inilah yang diinginkan. Kebid’ahan tidak akan bisa dilawan dengan yang lebih jelek lagi berupa kebid’ahan yang lain. Bidah itu hanya bisa dilawan dengan meninggalkannya dan menghidupkan yang sunnah.

Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua kepada perkara yang dicintai dan diridhai-Nya. Aku ucapkan perkataan ini. Aku mohon ampun kepada Allah untukku dan kalian serta untuk kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya dan bertaubatlah sesungguhnya Dia Maha Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



**********

Khutbah Kedua:

Segala puji hanya bagi Allah atas keutamaan dan kebaikan-Nya. Aku bersyukur atas taufik dan nikmat-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya sebagai pengagungan akan keberadaan-Nya, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam itu adalah hamba dan rasul-Nya yang menyerukan kepada ridha-Nya. Semoga shalawat dan salam atas beliau, keluarga, para sahabat, para kawan dan para penolongnya. Semoga Allah memberikan keselamatan yang melimpah kepada mereka semua. Adapun setelah itu,

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwasanya tidak akan diterima suatu perbuatan yang sunnah atau yang dianjurkan sampai perbuatan yang wajib dikerjakan. Maka bersungguh-sungguhlah untuk melaksanakan amalan-amalan yang wajib terlebih dahulu. Karena perbuatan yang wajib itu lebih dicintai Allah dari perbuatan yang sunnah. Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman di dalam sebuah hadits Qudsi,


مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah seorang hamba-Ku itu mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sebuah perbuatan yang lebih Aku cintai daripada perbuatan yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan yang sunnah hingga Aku mencintainya.”
Maka amalan-amalan sunnah menyempurnakan amalan-amalan yang fardhu (wajib). Adapun dengan melakukan amalan-amalan sunnah dan bermudah-mudahan dalam melaksanakan amalan-amalan fardhu maka ini perkara yang terbalik.

Yang wajib setiap muslim yang menjaga amalan-amalan yang fardhu lebih dahulu dan sebelum melakukan perbuatan apa pun. Kemudian dia melakukan amalan-amalan yang sunnah setelahnya agar menyempurnakan yang fardhu dan sebagai tambahan dan kebaikan bagi seorang muslim.

Bertakwalah kepada Allah wahai para hamba Allah, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. Setiap bid’ah adalah kesesatan dan hendaklah kalian bersatu karena sesungguhnya Tangan Allah di atas persatuan. Dan barangsiapa yang berpecah belah maka dia berpecah belah di neraka.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzâb: 56]
Ya Allah, berilah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, yaitu nabi kami nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan ridhailah para Khulafâur Rasyidin beliau, para pimpinan yang mendapatkan hidayah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para shahabat yang lain semuanya, juga para tabi’in dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kesyirikan dan orang-orang yang melakukan kesyirikan, hancurkanlah mereka para musuh agama, jadikanlah negeri ini negeri yang damai dan sentosa dan seluruh negeri kaum muslimin wahai Rabb seluruh alam semesta. Ya Allah, jagalah untuk kami keamanan, keimanan dan kesejahteraan di negeri-negeri kami, perbaikilah para pemimpin kami, janganlah Engkau menyiksa kami karena perbuatan orang-orang bodoh di kalangan kami, jagalah kami dari fitnah yang jelek, baik yang terlihat atau pun yang tidak terlihat. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kebenaran itu sebagai kebenaran dan anugerahkanlah kepada kami untuk bisa mengikutinya, tunjukkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan anugerahkanlah kepada kami untuk bisa menjauhinya, cintakanlah kepada kami keimanan dan hiasilah ia di dalam hati kami, bencikanlah kepada kami kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, jadikanlah kami orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Ya Allah, berilah mereka taufik kepada kebaikan yang ada pada mereka dan yang ada pada kebaikan agama Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, jagalah keamanan kami dengan perantara mereka, satukanlah kekuatan kami dengan perantara mereka, lembutkanlah jamaah kami dengan sebab mereka, Wahai Dzat yang Maha Hidup dan Maha Mengatur wahai Dzat yang mendengarkan doa. Ya Allah, jagalah negeri kaum muslimin seluruhnya wahai Rabb seluruh alam. Ya Allah, berilah jalan keluar bagi kaum muslimin atas kesusahan dan penderitaan yang mereka alami dari perbuatan tangan para musuh, orang-orang kafir dan munafik.

Ya Allah, berilah jalan keluar bagi kaum muslimin dengan segera. Ya Allah, berilah jalan keluar untuk kaum muslimin dengan pertolongan. Ya Allah, berilah jalan keluar bagi kaum muslimin dari segala tindakan kekerasan dan dari segala kesusahan wahai Dzat yang mendengarkan doa, wahai Dzat yang mengeluarkan dari segala macam kesusahan, wahai Dzat yang mendengarkan semua, doa wahai Dzat yang menolong dari semua perkara yang menenggelamkan, wahai Dzat yang Maha Hidup, wahai Dzat yang mendengar doa, wahai Dzat yang memiliki kemuliaan dan kehormatan.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Allah, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 127]
Wahai hamba Allah,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah (kalian) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah kalian itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat.” [An-Nahl: 90-91]
Ingatlah Allah niscaya Dia juga akan mengingat kalian, bersyukurlah kalian atas nikmat-Nya niscaya Dia akan menambahnya. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu amat besar. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang apa kalian ketahui.


Khutbah Jumat, pada tanggal 27-12-1434


__________________________

Ditulis Oleh Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan Al Fauzan
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

http://alfawzan.af.org.sa/node/15019

Diterjemahkan oleh tim Redaksi alfawzan.net



KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM DAN HARI 'ASYURA

KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM DAN HARI 'ASYURA


Sesungguhnya dari nikmat Allah Subhanahu wa ta'ala yang paling besar adalah sampainya seorang hamba pada waktu-waktu yang Allah Subhanahu wa ta'ala berikan keutamaan di dalamnya. Kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan taufiq kepada seorang hamba agar bisa meraih pahala yang sempurna dan menyambutnya dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan yang telah Allah Subhanahu wa ta'ala syariatkan.

Diantara bulan yang Allah ta’ala berikan keutamaan adalah bulan Muharram. Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ  [التوبة:36
“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram demikiat itu adalah agama yang lurus maka janganlah kalian menzhalimi diri-diri kalian di dalamnya ” [QS. At Taubah: 36]
Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh kaum Jahiliyah. Pada bulan ini mereka dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan juga bentuk kezhaliman yang lain.

Al Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata dalma tafsirnya: "Allah Subhanahu wata'ala  mengkhususkan bulan-bulan haram dalam penyebutannya dalam ayat dan melarang kezhaliman di dalamnya sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan tersebut,Walaupun kezhaliman itu dilarang pada bulan apapun.tafsiran ini yang dikuatkan oleh banyak ahli tafsir[1]".

Dinamakan bulan Muharram karena sangat ditekankannya larangan untuk perang pada bulan ini,dikarenakan orang jahiliyah dahulu sering mengganti bulan haram ini yaitu bulan Muharram,terkadang menjadikanya bulan yang diharamkan dan terkadang tidak.[2]

Qatadah rahimahullah beliau adalah seorang imam ahli hadits dan ahli tafsir dari kalangan tabi’in menyatakan “Amal sholeh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan haram, sebagaimana kezhaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezhaliman yang dikerjakan di bulan-bulan lain, meskipun secara umum kezhaliman adalah dosa yang besar tetapi Allah membesarkan segala urusannya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.”[3]

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَان
“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharram, serta Rajab mudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban." [ HR Al-Bukhari(3197) Muslim(1679/4383)]
Berkata Al Hafizh Ibnu Rajab:
Para ulama berbeda pendapat bulan manakah yang paling mulia diantara empat bulan haram tersebut, Al Imam Al hasan Al-Bashri mengatakan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia, kemudian beliau berkata:
"Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah menutup tahun dengan bulan yang mulia -DzulHijjah- ,dan memulai tahun dengan bulan yang mulia -Muharram-dan tidak ada bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadhan selain bulan Muharram."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ  بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama setelah puasa wajib adalah shalat lail”. [HR. Muslim(747)]
Hadits ini menunjukan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum,dan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, akan tetapi kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan paling banyak puasa selain bulan Ramadhan di bulan Sya’ban dan bukan pada bulan Muharram?

Al Imam An Nawawi berkata : bahwa kemungkinan besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui keutamaan bulan Muharram tersebut kecuali di akhir umurnya atau karena pada saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak udzur seperti: safar, sakit atau yang lainnya.[4]





Sejarah Hari ‘Asyura Yaitu 10 Muharram

Diriwayatkan dari Ummil Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha dalam Shalihain beliau berkata:


 يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَه
“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silahkan meninggalkannya.”[ H.R Bukhari(2002) Muslim (1125)]
Hadits ini menunjukan bahwa hari ‘Asyura’ adalah hari yang mulia disisi orang-orang arab jahiliyah ketika itu,dari masa sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka sudah mengagungkannya.
Oleh karena itu,pada hari ‘Asyura’ juga ka’bah diberi kiswah(penutup),sebagaimana datang dari riwayat ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha juga bahwa beliau berkata:


قالت: كانوا يصومون عاشوراء قبل أن يفرض رمضان، وكان يومًا تُسترُ فيه الكعبة... الحديث أخرجه البخاري
Mereka dahulu berpuasa hari ‘Asyura’ sebelum diwajibkannya bulan Ramadhan,dan waktu itu adalah hari dimana ka’bah diberi penutup...Al Hadist [H.R Bukhari (1952)]
Memang hari ‘Asyura dari zaman jahiliyah sudah diagungkan bangsa Arab dengan mereka berpuasa pada hari tersebut,kemungkinan besar mereka mengetahui keutamaanya dari syari’at Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimassalam karena orang-orang jahiliyah dalam berhaji mereka juga bersandar pada syari’at Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimassalam, sebagaimana dijelaskan Al Imam Al Qurtubi dalam kitabnya.[5]

Pada Awalnya puasa hari ‘Asyura diwajibkan oleh Allah ta’ala sebagaimana dalam hadits dari Salamah Bin Al akwa’ Radhiallahu ‘anhu beliau berkata:


كما في حديث سلمة بن الأكوع رضي الله عنه قال: «أمر النبي صلى الله عليه وسلم رجلًا من أسلم أن أذن في الناس: أن من كان أكل فليصم بقية يومه، ومن لم يكن أكل فليصم، فإن اليوم يوم عاشوراء» متفق عليه
 “Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan seorang lelaki yang telah masuk Islam agar mengumumkan kepada para manusia : sesungguhnya barang siapa yang yang telah makan di awal harinya, maka hendaklah ia berpuasa di sisa hari yang ia jalani, dan barangsiapa yang belum makan apapun, maka hendaklah dia berpuasa, karena pada hari ini adalah hari ‘Asyura’ atau tanggal sepuluh Muharram” [ H.R Bukhari (2007) Muslim (1135)].
Akan tetapi setelah diwajibkan puasa Ramadhan pada tahun kedua Hijriyah maka dihapuskan kewajibannya dan hanya sunnah hukumnya.Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ber’azam (bertekad) untuk puasa juga pada tanggal 9 Muharram juga dikarenakan untuk menyelisihi orang-orang ahli kitab ketika itu.Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat yang akan datang.



**********


Keutamaan Puasa ‘Asyura

Sangat dianjurkan untuk berpuasa di hari ‘Asyura karena keutamaanya yang banyak,dan di antara keutaman tersebut adalah :

1.Menghapus dosa setahun yang lalu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


ففي صحيح مسلم من حديث أبي قتادة الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئل عن صوم يوم عرفة فقال: يكفر السنة الماضية والباقية، وسئل عن صوم يوم عاشوراء فقال: يُكفر السنة الماضية
Dalam Shahih Muslim dari hadist Abu Qotadah Al Anshari Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sallam ditanya puasa hari ‘Arafah maka beliau bersabda : Menghapus setahun yang lalu dan akan datang,dan ditanya puasa hari ‘Asyura beliau bersabda : menghapus setahun yang lalu. [H.R Muslim (2804)].
Yang dimaksud menghapus dosa setahun yang lalu disini adalah dosa-dosa kecil bukan dosa besar.Karena pelaku dosa besar dalam aqidah Ahlussunnah wal jama’ah adalah dibawah kehendak Allah ta’ala,jika Allah berkehendak akan mengampuninya jika tidak maka Allah akan mengazabnya sesuai kadar dosanya jika dia tidak bertaubat sampai dia meninggal atau tertutupnya pintu taubat baginya.

Dan dari keutamaanya adalah :

2. Mencontoh Nabi Musa ‘alaihissalam,dan bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas dieselamatkanya kaum mu’minin yang bersama Nabi Musa ‘Alaihissalam.


فرسول الله صلى الله عليه وسلم حين قدم المدينة رأى اليهود تصوم عاشوراء، قال: «ما هذا؟»، قالوا: هذا يوم صالح، هذا يوم نجى الله بني إسرائيل من عدوهم، فصامه موسى. قال صلى الله عليه وسلم: «فأنا أحق بموسى منكم» فصامه وأمر بصيامه
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika datang ke Madinah beliau melihat kaum Yahudi berpuasa hari ‘Asyura dan berkata : Apa ini?? Mereka berkata : ini adalah hari baik,ini adalah hari dimana Allah ta’ala menyelamatkan Bani Isra’il dari musuhnya,maka Nabi Musa pun berpuasa padanya,Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Saya lebih berhak terhadap nabi musa daripada kalian,maka beliau berpuasa padanya den menyuruh untuk berpuasa padanya.[H.R Bukhari (2004)dan Muslim (2714)].
3.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupaya keras untuk puasa pada hari itu. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma beliau berkata:


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu Ramadhan.” [ H.R. Bukhari (1867) dan Muslim(1914) ] 

**********

Bagi yang ingin berpuasa ‘Asyura hendaknya berpuasa juga sehari sebelumnya

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) menyampaikan, “Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda:


فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Jika tahun depan insya Allah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharram), kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (tanggal sembilan Akan tetapi belum tiba Muharram tahun depan hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat di tahun tersebut  [HR. Muslim (1134)]
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ
 Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau berkata, “Berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, berbedalah dengan orang Yahudi” [Diriwayatkan dengan sanad yang shohih oleh Baihaqi di As Sunan Al Kubro (8665) dan Ath Thobari di Tahdzib Al Aatsaar (1110)] 

**********
Tingkatan berpuasa ‘Asyura yang disebutkan oleh para Ulama’

Para ulama membuat beberapa tingkatan dalam berpuasa di hari ‘Asyura ini, sebagai berikut:

1.Tingkatan paling utama adalah: berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
Dikarenakan ada riwayat yang menyatakan

صوموا يومًا قبله ويومًا بعده

Puasalah pada hari sebelumnya dan setelahnya[6]

Diterangkan dalam riwayat yang telah lalu tentang keutamaan memperbanyak puasa di bulan Muharram,tentu orang yang berpuasa lebih banyak(tiga hari) akan lebih utama daripada yang berpuasa satu atau dua hari saja.

Orang yang berpuasa sebelum dan sesudah lebih yakin akan mendapatkan hari ‘Asyura dikarenakan terkadang dalam penentuan bulan Muharram kurang tepat.Oleh karena itu bagi yang berpuasa tiga hari akan lebih yakin.

2.Tingkatan kedua: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Dalam riwayat yang telah lalu Rasulullah berkeinginan kuat untuk puasa pada tanggal 9,untuk menyelisihi orang-orang ahli kitab dari kalangan Yahudi ketika itu.

3.Tingkatan ketiga: Berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram.
Tingkatan yang ketiga ini lebih utama daripada tingkatan yang ke 4,karena keumuman perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau berpuasa pada 'Asyura saja dan berpuasa tanggal 11 dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi.

4.Tingkatan keempat: Berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram.
Tingkatan yang paling terakhir adalah seseorang hanya puasa pada hari ‘Asyura saja,karena keumuman perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,akan tetapi sebagian ulama’ memakruhkannya karena dalam riwayat yang telah lalu diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang Yahudi, karena mereka hanya puasa pada hari ‘Asyura saja.

Akan tetapi para ulama yang lain seperti Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz Rahimahullah tetap membolehkannya namun dia telah meninggalkan yang afdhal. Karena yang paling afdhal adalah menambahkan satu hari sebelumnya atau setelahnya.

Wallahu ta’ala a’lam bishawab




___________________

Ditulis Oleh Ustadz Imron Maladi Lc



[1]  Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Imam Al Qurtubi (8/135).
[2] Tafsir Alqur’an Al Azhim Ibnu Kastsir (4/ 128-129)
[3] Tafsir Ibnu Abi Hatim 6/1793.
[4] Syarah Shahih Muslim Imam An Nawawi (7-8/296).
[5] Al Mufhim Lima Asykala Min Talkhis Muslim,Abul Abbas Al Qurtubi (3/190)
[6] Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma.Tidak shahih secara marfu’ akan tetapi dari perkataan Ibnu Abbas.Lihat Kitab Silsilah Adho’ifah Syaikh Al Albani no (4297).





Sesungguhnya dari nikmat Allah Subhanahu wa ta'ala yang paling besar adalah sampainya seorang hamba pada waktu-waktu yang Allah Subhanahu wa ta'ala berikan keutamaan di dalamnya. Kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan taufiq kepada seorang hamba agar bisa meraih pahala yang sempurna dan menyambutnya dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan yang telah Allah Subhanahu wa ta'ala syariatkan.

Diantara bulan yang Allah ta’ala berikan keutamaan adalah bulan Muharram. Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ  [التوبة:36
“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram demikiat itu adalah agama yang lurus maka janganlah kalian menzhalimi diri-diri kalian di dalamnya ” [QS. At Taubah: 36]
Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh kaum Jahiliyah. Pada bulan ini mereka dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan juga bentuk kezhaliman yang lain.

Al Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata dalma tafsirnya: "Allah Subhanahu wata'ala  mengkhususkan bulan-bulan haram dalam penyebutannya dalam ayat dan melarang kezhaliman di dalamnya sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan tersebut,Walaupun kezhaliman itu dilarang pada bulan apapun.tafsiran ini yang dikuatkan oleh banyak ahli tafsir[1]".

Dinamakan bulan Muharram karena sangat ditekankannya larangan untuk perang pada bulan ini,dikarenakan orang jahiliyah dahulu sering mengganti bulan haram ini yaitu bulan Muharram,terkadang menjadikanya bulan yang diharamkan dan terkadang tidak.[2]

Qatadah rahimahullah beliau adalah seorang imam ahli hadits dan ahli tafsir dari kalangan tabi’in menyatakan “Amal sholeh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan haram, sebagaimana kezhaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezhaliman yang dikerjakan di bulan-bulan lain, meskipun secara umum kezhaliman adalah dosa yang besar tetapi Allah membesarkan segala urusannya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.”[3]

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَان
“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharram, serta Rajab mudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban." [ HR Al-Bukhari(3197) Muslim(1679/4383)]
Berkata Al Hafizh Ibnu Rajab:
Para ulama berbeda pendapat bulan manakah yang paling mulia diantara empat bulan haram tersebut, Al Imam Al hasan Al-Bashri mengatakan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia, kemudian beliau berkata:
"Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah menutup tahun dengan bulan yang mulia -DzulHijjah- ,dan memulai tahun dengan bulan yang mulia -Muharram-dan tidak ada bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadhan selain bulan Muharram."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ  بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama setelah puasa wajib adalah shalat lail”. [HR. Muslim(747)]
Hadits ini menunjukan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum,dan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, akan tetapi kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan paling banyak puasa selain bulan Ramadhan di bulan Sya’ban dan bukan pada bulan Muharram?

Al Imam An Nawawi berkata : bahwa kemungkinan besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui keutamaan bulan Muharram tersebut kecuali di akhir umurnya atau karena pada saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak udzur seperti: safar, sakit atau yang lainnya.[4]





Sejarah Hari ‘Asyura Yaitu 10 Muharram

Diriwayatkan dari Ummil Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha dalam Shalihain beliau berkata:


 يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَه
“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silahkan meninggalkannya.”[ H.R Bukhari(2002) Muslim (1125)]
Hadits ini menunjukan bahwa hari ‘Asyura’ adalah hari yang mulia disisi orang-orang arab jahiliyah ketika itu,dari masa sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka sudah mengagungkannya.
Oleh karena itu,pada hari ‘Asyura’ juga ka’bah diberi kiswah(penutup),sebagaimana datang dari riwayat ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha juga bahwa beliau berkata:


قالت: كانوا يصومون عاشوراء قبل أن يفرض رمضان، وكان يومًا تُسترُ فيه الكعبة... الحديث أخرجه البخاري
Mereka dahulu berpuasa hari ‘Asyura’ sebelum diwajibkannya bulan Ramadhan,dan waktu itu adalah hari dimana ka’bah diberi penutup...Al Hadist [H.R Bukhari (1952)]
Memang hari ‘Asyura dari zaman jahiliyah sudah diagungkan bangsa Arab dengan mereka berpuasa pada hari tersebut,kemungkinan besar mereka mengetahui keutamaanya dari syari’at Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimassalam karena orang-orang jahiliyah dalam berhaji mereka juga bersandar pada syari’at Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimassalam, sebagaimana dijelaskan Al Imam Al Qurtubi dalam kitabnya.[5]

Pada Awalnya puasa hari ‘Asyura diwajibkan oleh Allah ta’ala sebagaimana dalam hadits dari Salamah Bin Al akwa’ Radhiallahu ‘anhu beliau berkata:


كما في حديث سلمة بن الأكوع رضي الله عنه قال: «أمر النبي صلى الله عليه وسلم رجلًا من أسلم أن أذن في الناس: أن من كان أكل فليصم بقية يومه، ومن لم يكن أكل فليصم، فإن اليوم يوم عاشوراء» متفق عليه
 “Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan seorang lelaki yang telah masuk Islam agar mengumumkan kepada para manusia : sesungguhnya barang siapa yang yang telah makan di awal harinya, maka hendaklah ia berpuasa di sisa hari yang ia jalani, dan barangsiapa yang belum makan apapun, maka hendaklah dia berpuasa, karena pada hari ini adalah hari ‘Asyura’ atau tanggal sepuluh Muharram” [ H.R Bukhari (2007) Muslim (1135)].
Akan tetapi setelah diwajibkan puasa Ramadhan pada tahun kedua Hijriyah maka dihapuskan kewajibannya dan hanya sunnah hukumnya.Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ber’azam (bertekad) untuk puasa juga pada tanggal 9 Muharram juga dikarenakan untuk menyelisihi orang-orang ahli kitab ketika itu.Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat yang akan datang.



**********


Keutamaan Puasa ‘Asyura

Sangat dianjurkan untuk berpuasa di hari ‘Asyura karena keutamaanya yang banyak,dan di antara keutaman tersebut adalah :

1.Menghapus dosa setahun yang lalu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


ففي صحيح مسلم من حديث أبي قتادة الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئل عن صوم يوم عرفة فقال: يكفر السنة الماضية والباقية، وسئل عن صوم يوم عاشوراء فقال: يُكفر السنة الماضية
Dalam Shahih Muslim dari hadist Abu Qotadah Al Anshari Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sallam ditanya puasa hari ‘Arafah maka beliau bersabda : Menghapus setahun yang lalu dan akan datang,dan ditanya puasa hari ‘Asyura beliau bersabda : menghapus setahun yang lalu. [H.R Muslim (2804)].
Yang dimaksud menghapus dosa setahun yang lalu disini adalah dosa-dosa kecil bukan dosa besar.Karena pelaku dosa besar dalam aqidah Ahlussunnah wal jama’ah adalah dibawah kehendak Allah ta’ala,jika Allah berkehendak akan mengampuninya jika tidak maka Allah akan mengazabnya sesuai kadar dosanya jika dia tidak bertaubat sampai dia meninggal atau tertutupnya pintu taubat baginya.

Dan dari keutamaanya adalah :

2. Mencontoh Nabi Musa ‘alaihissalam,dan bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas dieselamatkanya kaum mu’minin yang bersama Nabi Musa ‘Alaihissalam.


فرسول الله صلى الله عليه وسلم حين قدم المدينة رأى اليهود تصوم عاشوراء، قال: «ما هذا؟»، قالوا: هذا يوم صالح، هذا يوم نجى الله بني إسرائيل من عدوهم، فصامه موسى. قال صلى الله عليه وسلم: «فأنا أحق بموسى منكم» فصامه وأمر بصيامه
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika datang ke Madinah beliau melihat kaum Yahudi berpuasa hari ‘Asyura dan berkata : Apa ini?? Mereka berkata : ini adalah hari baik,ini adalah hari dimana Allah ta’ala menyelamatkan Bani Isra’il dari musuhnya,maka Nabi Musa pun berpuasa padanya,Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Saya lebih berhak terhadap nabi musa daripada kalian,maka beliau berpuasa padanya den menyuruh untuk berpuasa padanya.[H.R Bukhari (2004)dan Muslim (2714)].
3.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupaya keras untuk puasa pada hari itu. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma beliau berkata:


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu Ramadhan.” [ H.R. Bukhari (1867) dan Muslim(1914) ] 

**********

Bagi yang ingin berpuasa ‘Asyura hendaknya berpuasa juga sehari sebelumnya

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) menyampaikan, “Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda:


فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Jika tahun depan insya Allah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharram), kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (tanggal sembilan Akan tetapi belum tiba Muharram tahun depan hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat di tahun tersebut  [HR. Muslim (1134)]
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ
 Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau berkata, “Berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, berbedalah dengan orang Yahudi” [Diriwayatkan dengan sanad yang shohih oleh Baihaqi di As Sunan Al Kubro (8665) dan Ath Thobari di Tahdzib Al Aatsaar (1110)] 

**********
Tingkatan berpuasa ‘Asyura yang disebutkan oleh para Ulama’

Para ulama membuat beberapa tingkatan dalam berpuasa di hari ‘Asyura ini, sebagai berikut:

1.Tingkatan paling utama adalah: berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
Dikarenakan ada riwayat yang menyatakan

صوموا يومًا قبله ويومًا بعده

Puasalah pada hari sebelumnya dan setelahnya[6]

Diterangkan dalam riwayat yang telah lalu tentang keutamaan memperbanyak puasa di bulan Muharram,tentu orang yang berpuasa lebih banyak(tiga hari) akan lebih utama daripada yang berpuasa satu atau dua hari saja.

Orang yang berpuasa sebelum dan sesudah lebih yakin akan mendapatkan hari ‘Asyura dikarenakan terkadang dalam penentuan bulan Muharram kurang tepat.Oleh karena itu bagi yang berpuasa tiga hari akan lebih yakin.

2.Tingkatan kedua: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Dalam riwayat yang telah lalu Rasulullah berkeinginan kuat untuk puasa pada tanggal 9,untuk menyelisihi orang-orang ahli kitab dari kalangan Yahudi ketika itu.

3.Tingkatan ketiga: Berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram.
Tingkatan yang ketiga ini lebih utama daripada tingkatan yang ke 4,karena keumuman perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau berpuasa pada 'Asyura saja dan berpuasa tanggal 11 dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi.

4.Tingkatan keempat: Berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram.
Tingkatan yang paling terakhir adalah seseorang hanya puasa pada hari ‘Asyura saja,karena keumuman perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,akan tetapi sebagian ulama’ memakruhkannya karena dalam riwayat yang telah lalu diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menyelisihi orang-orang Yahudi, karena mereka hanya puasa pada hari ‘Asyura saja.

Akan tetapi para ulama yang lain seperti Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz Rahimahullah tetap membolehkannya namun dia telah meninggalkan yang afdhal. Karena yang paling afdhal adalah menambahkan satu hari sebelumnya atau setelahnya.

Wallahu ta’ala a’lam bishawab




___________________

Ditulis Oleh Ustadz Imron Maladi Lc



[1]  Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Imam Al Qurtubi (8/135).
[2] Tafsir Alqur’an Al Azhim Ibnu Kastsir (4/ 128-129)
[3] Tafsir Ibnu Abi Hatim 6/1793.
[4] Syarah Shahih Muslim Imam An Nawawi (7-8/296).
[5] Al Mufhim Lima Asykala Min Talkhis Muslim,Abul Abbas Al Qurtubi (3/190)
[6] Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma.Tidak shahih secara marfu’ akan tetapi dari perkataan Ibnu Abbas.Lihat Kitab Silsilah Adho’ifah Syaikh Al Albani no (4297).




adv/https://www.aamfa.org|https://1.bp.blogspot.com/-26IJGCm4TeY/XT1FVcI6xbI/AAAAAAAAAr8/KoJsIaie-P4R8t7DswrVqEHijBLdI8YTgCEwYBhgL/s1600/banneraamfa%2B-%2BCopy.jpg
adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|

Artikel Pilihan

artikel pilihan/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Kids

Konten khusus anak & download e-book

Course