artikel pilihan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan
Kumpulan Fatwa

Website Pendidikan Anak

Website Pendidikan Anak
kids.tauhid.or.id

Panduan Seputar Bulan Dzulhijjah

Panduan Seputar Bulan Dzulhijjah
Fikih Ibadah Qurban, Haji, Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Panduan Muamalah Tanpa Riba

Panduan Muamalah Tanpa Riba
Seri Artikel Muamalah

Artikel Pilihan

artikel pilihan/module

Landasan Agama

landasan agama/carousel

Ibadah

ibadah/carousel

Muamalah

muamalah/carousel

Keluarga

keluarga/box

Adab & Akhlak

adab & akhlak/carousel

Sirah

sirah/carousel

Artikel Terbaru

LAA ILAAHA ILLALLAH KUNCI SURGA

LAA ILAAHA ILLALLAH KUNCI SURGA


Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به
Berkata Musa ‘alaihissalam: “Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepadaMu dan aku berdoa kepadaMu”
قال : قل يا موسى لا إله إلا الله
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berkata: “Wahai Musa, katakanlah laa ilaaha illallah”[1]
Perhatikan tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk diajari sesuatu yang dengannya ia berdoa sekaligus berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkannya untuk mengatakan kalimat laa ilaaha illallah.

Hadits ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai dzikir yang kita ketahui juga sebagai doa yang dipanjatkan oleh Musa ‘alaihissalam sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala ajarkan kepada beliau. Perhatikan bahwa doa terkadang juga menjadi dzikir sebagaimana kalimat  laa ilaaha illallah.

Kemudian kisah tentang doa yang dipanjatkan oleh Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alahissalam. Ketika Nabi Yunus berada di kegelapan di dalam perut ikan Paus, Nabi Yunus berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
 “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim”.[2]
Secara tekstual pada lanjutan ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ

Maka Kami telah memperkenankan doanya”[3]

Padahal Nabi Yunus hanya mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ yang seolah hanya sebagai dzikir. Tetapi Allah mengatakan فَاسْتَجَبْنَا لَهُ “maka Kami telah memperkenankan doanya”. Hal ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai doa kepada Allah juga sebagai dzikir yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan doa seseorang.

Ucapan laa ilaaha illallah sebagaimana disebutkan dari Wahab Ibnu Munabbih. Sebagaimana diketahui bahwa laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga, seseorang berkata kepada beliau “bukankah jika seseorang telah mengatakan laa ilaaha illallah maka ia telah memiliki kunci untuk pintu surga?” Berkata Wahab Ibnu Munabbih, “Betul, jika engkau memiliki kunci dan kunci tersebut memiliki gigi gerigi maka kunci tersebut akan bisa membuka kunci surga. Akan tetapi jika engkau mendatangkan kunci yang kunci tersebut tidak memiliki gigi gerigi niscaya kunci tersebut tidak akan bisa membuka sebuah pintu.”

Demikianlah juga laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga. Akan tetapi tidak semua orang yang mengatakan laa ilaaha illallah akan masuk surga kecuali barang siapa yang bisa mendatangkan laa ilaaha illallah dengan syarat dan rukun yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau diisyaratkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadits-nya.

Maka inilah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim bahwasanya laa ilaaha illallah memiliki keutamaan sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi ﷺ:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ , لَهُ الْمُلْكُ , وَلَهُ الْحَمْدُ , وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumnya adalah ucapan Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qodiir"[4]
Disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah bahwasanya orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sering mengucapkan laa ilaaha illallah akan tetapi tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka tidak bisa merealisasikan dan men-tahqiq. Mereka tidak bisa untuk benar-benar memberikan hak kepada makna laa ilaaha illallah yang terdiri dari rukun yang harus menafikan dan menetapkan bahwasanya makna laa ilaaha illallah adalah لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ atau tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang-orang Yahudi mengatakan laa ilaaha illallah akan tetapi mereka mengangkat Uzair sebagai anak Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu menjadikan ucapan laa ilaaha illallah tidaklah bermanfaat. Adapun ucapan laa ilaaha illallah yang bermanfaat selain sebagai dzikir juga sebagai doa adalah ucapannya yang dengannya seseorang bisa memenuhi rukun dan syarat-syaratnya

Dalam sebuah hadits qudsi, Nabi ﷺ bersabda sebagaimana yang telah beliau riwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala:

يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة
“Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau meninggal (dalam keadaan) tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka aku akan memberikan ampunan sepenuh bumi pula kepadamu”[5]
Di dalam hadits lain, hadits yang ma’ruf yang dikenal sebagai hadits bithaqah, Rasulullah ﷺ bersabda:

يصاح برجل من أمتي يوم القيامة على رؤوس الخلائق، فينشر له تسعة وتسعون سجلًا، كل سجل مَدَّ البصر، ثم يقول الله عز وجل: هل تنكر من هذا شيئاً؟ فيقول: لا يا رب. فيقول: أظلَمَتك كتبتي الحافظون؟ ثم يقول: ألك عن ذلك حسنة. فيهاب الرجل فيقول: لا، فيقول: بلى إن لك عندنا حسنات، وإنه لا ظلم عليك اليوم. فتخرج له بطاقة فيها أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا عبده ورسوله. قال: فيقول: يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات. فيقول: إنك لا تُظلم. فتوضع السجلات في كِفَّة والبطاقة في كِفَّة، فطاشت السجلات وثقلت البطاقة
“Dipanggil dengan suara keras dari seorang dari umatku pada hari kiamat di hadapan keramaian manusia. Lalu dibukakan atasnya 99 catatan, setiap catatan sejauh jarak mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya: “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bithaqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaaha illallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tersebut.”[6]
Sehingga di dalam lanjutan hadits Musa yang disebutkan di bagian awal pembahasan ini, Rasulullah bersabda di hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله
“Wahai Musa, kalau seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat laa ilaaha illallah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat timbangannya”[7]
Inilah yang disebutkan di dalam hadits bithaqah tersebut bahwasanya orang yang melihat amalan keburukannya sepanjang mata memandang dan ia mengira sudah tidak ada jalan keluar untuk selamat ternyata ia masih memiliki satu kebaikan yang merupakan kebaikan terbesar yaitu ucapan laa ilaaha illallah yang ia ucapkan semasa hidupnya dengan ikhlas dan penuh keyakinan.


والله أعلمُ بالـصـواب



*) Dirangkum dari khutbah Jum’at Syaikh Dr. Ashim bin Abdullah Alu Hamd

 ___________________________

[1] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Hakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[2] QS. Al-Anbiya: 87
[3] QS. Al-Anbiya: 88
[4] HR. Tirmidzi No. 3585 & Ahmad 2:220
[5] HR. Tirmidzi No. 3534, Ad-Darimy No, 2791, dan Ahmad 5/172, disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[6] HR. Ibnu Majah No 4300, Tirmidzi No. 2639, dan Ahmad 2: 213
[7] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Haakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid


Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به
Berkata Musa ‘alaihissalam: “Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepadaMu dan aku berdoa kepadaMu”
قال : قل يا موسى لا إله إلا الله
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berkata: “Wahai Musa, katakanlah laa ilaaha illallah”[1]
Perhatikan tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk diajari sesuatu yang dengannya ia berdoa sekaligus berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkannya untuk mengatakan kalimat laa ilaaha illallah.

Hadits ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai dzikir yang kita ketahui juga sebagai doa yang dipanjatkan oleh Musa ‘alaihissalam sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala ajarkan kepada beliau. Perhatikan bahwa doa terkadang juga menjadi dzikir sebagaimana kalimat  laa ilaaha illallah.

Kemudian kisah tentang doa yang dipanjatkan oleh Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alahissalam. Ketika Nabi Yunus berada di kegelapan di dalam perut ikan Paus, Nabi Yunus berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
 “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim”.[2]
Secara tekstual pada lanjutan ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ

Maka Kami telah memperkenankan doanya”[3]

Padahal Nabi Yunus hanya mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ yang seolah hanya sebagai dzikir. Tetapi Allah mengatakan فَاسْتَجَبْنَا لَهُ “maka Kami telah memperkenankan doanya”. Hal ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai doa kepada Allah juga sebagai dzikir yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan doa seseorang.

Ucapan laa ilaaha illallah sebagaimana disebutkan dari Wahab Ibnu Munabbih. Sebagaimana diketahui bahwa laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga, seseorang berkata kepada beliau “bukankah jika seseorang telah mengatakan laa ilaaha illallah maka ia telah memiliki kunci untuk pintu surga?” Berkata Wahab Ibnu Munabbih, “Betul, jika engkau memiliki kunci dan kunci tersebut memiliki gigi gerigi maka kunci tersebut akan bisa membuka kunci surga. Akan tetapi jika engkau mendatangkan kunci yang kunci tersebut tidak memiliki gigi gerigi niscaya kunci tersebut tidak akan bisa membuka sebuah pintu.”

Demikianlah juga laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga. Akan tetapi tidak semua orang yang mengatakan laa ilaaha illallah akan masuk surga kecuali barang siapa yang bisa mendatangkan laa ilaaha illallah dengan syarat dan rukun yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau diisyaratkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadits-nya.

Maka inilah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim bahwasanya laa ilaaha illallah memiliki keutamaan sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi ﷺ:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ , لَهُ الْمُلْكُ , وَلَهُ الْحَمْدُ , وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumnya adalah ucapan Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qodiir"[4]
Disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah bahwasanya orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sering mengucapkan laa ilaaha illallah akan tetapi tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka tidak bisa merealisasikan dan men-tahqiq. Mereka tidak bisa untuk benar-benar memberikan hak kepada makna laa ilaaha illallah yang terdiri dari rukun yang harus menafikan dan menetapkan bahwasanya makna laa ilaaha illallah adalah لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ atau tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang-orang Yahudi mengatakan laa ilaaha illallah akan tetapi mereka mengangkat Uzair sebagai anak Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu menjadikan ucapan laa ilaaha illallah tidaklah bermanfaat. Adapun ucapan laa ilaaha illallah yang bermanfaat selain sebagai dzikir juga sebagai doa adalah ucapannya yang dengannya seseorang bisa memenuhi rukun dan syarat-syaratnya

Dalam sebuah hadits qudsi, Nabi ﷺ bersabda sebagaimana yang telah beliau riwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala:

يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة
“Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau meninggal (dalam keadaan) tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka aku akan memberikan ampunan sepenuh bumi pula kepadamu”[5]
Di dalam hadits lain, hadits yang ma’ruf yang dikenal sebagai hadits bithaqah, Rasulullah ﷺ bersabda:

يصاح برجل من أمتي يوم القيامة على رؤوس الخلائق، فينشر له تسعة وتسعون سجلًا، كل سجل مَدَّ البصر، ثم يقول الله عز وجل: هل تنكر من هذا شيئاً؟ فيقول: لا يا رب. فيقول: أظلَمَتك كتبتي الحافظون؟ ثم يقول: ألك عن ذلك حسنة. فيهاب الرجل فيقول: لا، فيقول: بلى إن لك عندنا حسنات، وإنه لا ظلم عليك اليوم. فتخرج له بطاقة فيها أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا عبده ورسوله. قال: فيقول: يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات. فيقول: إنك لا تُظلم. فتوضع السجلات في كِفَّة والبطاقة في كِفَّة، فطاشت السجلات وثقلت البطاقة
“Dipanggil dengan suara keras dari seorang dari umatku pada hari kiamat di hadapan keramaian manusia. Lalu dibukakan atasnya 99 catatan, setiap catatan sejauh jarak mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya: “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bithaqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaaha illallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tersebut.”[6]
Sehingga di dalam lanjutan hadits Musa yang disebutkan di bagian awal pembahasan ini, Rasulullah bersabda di hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله
“Wahai Musa, kalau seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat laa ilaaha illallah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat timbangannya”[7]
Inilah yang disebutkan di dalam hadits bithaqah tersebut bahwasanya orang yang melihat amalan keburukannya sepanjang mata memandang dan ia mengira sudah tidak ada jalan keluar untuk selamat ternyata ia masih memiliki satu kebaikan yang merupakan kebaikan terbesar yaitu ucapan laa ilaaha illallah yang ia ucapkan semasa hidupnya dengan ikhlas dan penuh keyakinan.


والله أعلمُ بالـصـواب



*) Dirangkum dari khutbah Jum’at Syaikh Dr. Ashim bin Abdullah Alu Hamd

 ___________________________

[1] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Hakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[2] QS. Al-Anbiya: 87
[3] QS. Al-Anbiya: 88
[4] HR. Tirmidzi No. 3585 & Ahmad 2:220
[5] HR. Tirmidzi No. 3534, Ad-Darimy No, 2791, dan Ahmad 5/172, disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[6] HR. Ibnu Majah No 4300, Tirmidzi No. 2639, dan Ahmad 2: 213
[7] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Haakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid

TUJUH KEAGUNGAN IBADAH HAJI

TUJUH KEAGUNGAN IBADAH HAJI



Allah 'azza wa jalla mensyariatkan segala bentuk ibadah untuk maksud dan tujuan yang mulia. Salah satunya adalah rukun Islam yang kelima: haji ke Baitullah. Dalam amalan tersebut terwujud berbagai manfaat, keutamaan, dan pelajaran bagi umat manusia. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ. لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." [Surat Al-Hajj, ayat 27-28]
Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang penting bagi kaum muslimin untuk kembali merenungi nilai-nilai keagungan ibadah haji, sebagai sarana yang mendorong untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan menguatkan keimanan bahwa Allah jalla wa 'ala adalah satu-satunya yang berhak disembah karena hanya Dialah yang mampu untuk menurunkan agama yang begitu sempurna dan penuh dengan keindahan.


1.) Ibadah Haji Menanamkan Tauhidullah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus untuk menegakkan tauhid di tengah umat manusia. Beliau menyeru agar seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah tabaraka wa ta'ala. Sehingga, semenjak permulaan ibadah haji beliau memberikan teladan yang menunjukkan pentingnya keikhlasan. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, 
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berhaji (mengendarai unta). Diletakkan di atas punggung unta tersebut pelana yang sudah lama digunakan dan lembaran kain yang harganya empat Dirham atau kurang dari itu. Kemudian beliau bersabda,
(اللَّهُمَّ حَجَّةٌ لَا رِيَاءَ فِيهَا ، وَلَا سُمْعَةَ)
'Ya Allah, jadikanlah haji ini sebagai ibadah yang tidak bercampur dengan riya' dan sum'ah.'." [Riwayat Ibnu Majah no. 2885. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam "Ash-Shahihah" jilid 6 hlm. 227]
Dahulu kala, kaum musyrikin juga berhaji dan umrah dengan tata cara jahiliah. Ketika bertalbiah, mereka berucap,

لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ
"Kami menyambut seruan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang kami jadikan untuk-Mu. Engkau menguasai sekutu tersebut beserta apa yang dimilikinya."
Maka, setelah mereka mengucapkan bagian pertama dari talbiah di atas (yang berisikan tauhidullah), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari dengan sabda beliau,

(وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ)
"Celaka Kalian. Cukup! Cukup!" (Riwayat Muslim no. 2093, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma)
Maksud beliau, cukuplah bertalbiah dengan tauhid, jangan menambahnya dengan kesyirikan.


2.) Ibadah Haji Wujud Ittiba' terhadap Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Amal ibadah bersifat tauqifiah, dilakukan sesuai petunjuk syariat. Seorang muslim diperintahkan untuk menghormati aturan-aturan syariat, menjalankannya dengan segenap ketaatan, walaupun terkadang belum bisa dipahami dengan baik hikmah yang tersembunyi di balik perintah ibadah tersebut. Itulah sikap ittiba' dalam peribadatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ
"Hendaklah kalian mengambil tata cara ibadah haji (dariku)." [Riwayat Muslim no. 1297, dari Jabir radhiyallahu 'anhu]
Sikap mulia dalam mengikuti sunnah tercermin pada kehidupan para sahabat. Suatu ketika, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menuju hajar aswad, lalu menciumnya. Kemudian beliau berkata,

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ. وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
"Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu, tidak mampu menimpakan bahaya dan tidak bisa mendatangkan manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan melakukannya." [Riwayat Al-Bukhari no. 1520 dan Muslim no. 1720]


 3.) Ibadah Haji Mengingatkan tentang Hari Akhir

Surat Al-Hajj yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang haji dimulai dengan peringatan tentang kiamat. Allah ta'ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ)
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabbmu. Sungguh, guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar." [Surat Al-Hajj ayat 1]
Rangkaian ibadah haji memiliki banyak keserupaan dengan perjalanan hidup manusia menuju negeri akhirat. Di antaranya, ketika wuquf di padang Arafah. Seluruh jamaah haji dari berbagai belahan dunia berkumpul di satu tempat. Keadaan tersebut menggambarkan hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan amalan mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

(ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ)
"Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)." [Surat Hud ayat 103]


 4.) Islam Agama yang Mudah

Kewajiban haji tidak dibebankan, kecuali bagi kaum muslimin yang mampu menunaikannya. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ)
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." [Surat Ali Imran ayat 97]
Sehingga pada asalnya, kewajiban haji didasarkan pada kemudahan. Di samping itu, masih terdapat keringanan bagi orang yang memiliki udzur syar'i, seperti orang yang mencukur rambutnya saat berhaji atau umrah karena penyakit di kepalanya. Allah ta'ala berfirman,

(فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍِ)
"Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, atau bersedekah atau berqurban." [Surat Al-Baqarah ayat 196]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Ka'b bin 'Ujrah merasa terganggu dengan kutu yang ada di kepalanya. Kemudian beliau bersabda,

(فَاحْلِقْ وَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ أَوْ انْسُكْ نَسِيكَةً)
"Cukurlah rambutmu dan berpuasalah selama tiga hari atau berilah makan enam orang miskin atau sembelihlah dam." [Riwayat Al-Bukhari no. 3954 dan Muslim no. 1201]


5.) Haji adalah Jihad bagi Kaum Wanita

Ibunda kaum mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kami (para wanita) mengetahui bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Bolehkah kami berjihad?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,

لَكُنَّ أفْضَلُ الجِهَادِ: حَجٌّ مَبْرُورٌ
"Bagi kalian (para wanita) jihad yang paling afdhal, yaitu haji yang mabrur." [Riwayat Al-Bukhari no. 1448]
ِAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut haji sebagai jihad karena seseorang melawan hawa nafsunya saat menunaikan ibadah tersebut." ["Fathul Bari" jilid 3, hlm. 481, cet. Darus Salam Riyadh].


6.) Musim Haji Kesempatan untuk Berdakwah dan Menimba Ilmu

Berkumpulnya jutaan jiwa dari berbagai pelosok dunia di tanah suci merupakan saat yang tepat untuk menebar kebaikan dengan mengajarkan ilmu syariat kepada mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melaksanakan haji wada' beliau menyampaikan khutbah yang sangat berharga bagi umat Islam. Beliau berpesan,

(فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا)

"Maka, sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian terlindungi, seperti kesucian hari ini, negeri ini, dan bulan ini." [Riwayat Al-Bukhari no. 1739 dan Muslim no. 1679]

Dalam waktu yang sama, para ulama dapat berkumpul untuk membahas dan memecahkan permasalahan umat Islam. Demikian juga, para penuntut ilmu berkesempatan untuk bertemu dengan para alim ulama, belajar di hadapan mereka, dan bertanya akan hal-hal yang bermanfaat.

Ketika muncul akidah yang menyimpang tentang takdir di kota Bashrah, dua orang tabi'in: Yahya bin Ya'mur dan Humaid bin 'Abdirrahman Al-Himyari rahimahumallah melakukan perjalanan haji atau umrah. Keduanya berniat, jika bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka ingin bertanya tentang penyimpangan tersebut. Allah memberikan taufiq-Nya sehingga keduanya bertemu dengan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma. Keduanya bertanya dengan penuh adab. Kemudian, Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma menjelaskan dan bersumpah, bahwa seandainya orang-orang yang mengingkari takdir memiliki emas sebesar gunung Uhud, kemudian diinfaqkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir. (Riwayat Muslim no. 8).


7.) Ibadah Haji Membentuk Pribadi Muslim yang Berakhlak Mulia

Amaliah haji merupakan madrasah yang mendidik seorang muslim untuk berbudi luhur. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,


(الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ)
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." [Al-Baqarah ayat 197]
Asy-Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah berkata, "Wajib bagi kalian untuk mengagungkan ihram (niatan untuk melaksanakan ibadah haji), khususnya yang dilakukan pada bulan-bulan yang ditentukan (Syawwal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah). Dan wajib juga menjaganya dari segala sesuatu yang merusak atau mengurangi nilai ibadah tersebut, baik berupa rafats (jima' dan ucapan serta perbuatan yang menjurus kepadanya), terlebih ketika berada di hadapan para wanita, begitu juga kefasikan (seluruh bentuk maksiat, termasuk larangan-larangan ihram), dan jidal (perdebatan, sengketa, dan perselisihan) karena hal itu menimbulkan kejelekan dan permusuhan.

Maksud dari haji adalah ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah, mendekatkan diri kepadanya dengan ibadah-ibadah yang mampu untuk dikerjakan, dan menjaga diri dari perbuatan tercela. Dengan hal tersebut, dia menjadi haji mabrur. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga." ["Tafsir As-Sa'di" hlm. 91-92, cet. Ar-Risalah].

Inilah sebagian dari berbagai keagungan ibadah haji yang mencerminkan keindahan dan kesempurnaan Islam. Agama yang mulia ini selain mengarahkan umat manusia kepada kemaslahatan akhirat, juga membimbing para pemeluknya menuju maslahat duniawi. Allah ta'ala memperbolehkan bagi kaum muslimin melakukan perniagaan di musim haji apabila perdagangan tersebut tidak melalaikan dari pelaksanaan ibadah. Allah jalla wa 'ala berfirman,

(لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ)
" Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat." [Surat Al-Baqarah ayat 198]

Wallahu a'lamu bish shawab.




______________________



Allah 'azza wa jalla mensyariatkan segala bentuk ibadah untuk maksud dan tujuan yang mulia. Salah satunya adalah rukun Islam yang kelima: haji ke Baitullah. Dalam amalan tersebut terwujud berbagai manfaat, keutamaan, dan pelajaran bagi umat manusia. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ. لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." [Surat Al-Hajj, ayat 27-28]
Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang penting bagi kaum muslimin untuk kembali merenungi nilai-nilai keagungan ibadah haji, sebagai sarana yang mendorong untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan menguatkan keimanan bahwa Allah jalla wa 'ala adalah satu-satunya yang berhak disembah karena hanya Dialah yang mampu untuk menurunkan agama yang begitu sempurna dan penuh dengan keindahan.


1.) Ibadah Haji Menanamkan Tauhidullah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus untuk menegakkan tauhid di tengah umat manusia. Beliau menyeru agar seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah tabaraka wa ta'ala. Sehingga, semenjak permulaan ibadah haji beliau memberikan teladan yang menunjukkan pentingnya keikhlasan. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, 
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berhaji (mengendarai unta). Diletakkan di atas punggung unta tersebut pelana yang sudah lama digunakan dan lembaran kain yang harganya empat Dirham atau kurang dari itu. Kemudian beliau bersabda,
(اللَّهُمَّ حَجَّةٌ لَا رِيَاءَ فِيهَا ، وَلَا سُمْعَةَ)
'Ya Allah, jadikanlah haji ini sebagai ibadah yang tidak bercampur dengan riya' dan sum'ah.'." [Riwayat Ibnu Majah no. 2885. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam "Ash-Shahihah" jilid 6 hlm. 227]
Dahulu kala, kaum musyrikin juga berhaji dan umrah dengan tata cara jahiliah. Ketika bertalbiah, mereka berucap,

لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ
"Kami menyambut seruan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang kami jadikan untuk-Mu. Engkau menguasai sekutu tersebut beserta apa yang dimilikinya."
Maka, setelah mereka mengucapkan bagian pertama dari talbiah di atas (yang berisikan tauhidullah), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari dengan sabda beliau,

(وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ)
"Celaka Kalian. Cukup! Cukup!" (Riwayat Muslim no. 2093, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma)
Maksud beliau, cukuplah bertalbiah dengan tauhid, jangan menambahnya dengan kesyirikan.


2.) Ibadah Haji Wujud Ittiba' terhadap Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Amal ibadah bersifat tauqifiah, dilakukan sesuai petunjuk syariat. Seorang muslim diperintahkan untuk menghormati aturan-aturan syariat, menjalankannya dengan segenap ketaatan, walaupun terkadang belum bisa dipahami dengan baik hikmah yang tersembunyi di balik perintah ibadah tersebut. Itulah sikap ittiba' dalam peribadatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ
"Hendaklah kalian mengambil tata cara ibadah haji (dariku)." [Riwayat Muslim no. 1297, dari Jabir radhiyallahu 'anhu]
Sikap mulia dalam mengikuti sunnah tercermin pada kehidupan para sahabat. Suatu ketika, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menuju hajar aswad, lalu menciumnya. Kemudian beliau berkata,

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ. وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
"Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu, tidak mampu menimpakan bahaya dan tidak bisa mendatangkan manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan melakukannya." [Riwayat Al-Bukhari no. 1520 dan Muslim no. 1720]


 3.) Ibadah Haji Mengingatkan tentang Hari Akhir

Surat Al-Hajj yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang haji dimulai dengan peringatan tentang kiamat. Allah ta'ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ)
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabbmu. Sungguh, guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar." [Surat Al-Hajj ayat 1]
Rangkaian ibadah haji memiliki banyak keserupaan dengan perjalanan hidup manusia menuju negeri akhirat. Di antaranya, ketika wuquf di padang Arafah. Seluruh jamaah haji dari berbagai belahan dunia berkumpul di satu tempat. Keadaan tersebut menggambarkan hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan amalan mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

(ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ)
"Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)." [Surat Hud ayat 103]


 4.) Islam Agama yang Mudah

Kewajiban haji tidak dibebankan, kecuali bagi kaum muslimin yang mampu menunaikannya. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ)
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." [Surat Ali Imran ayat 97]
Sehingga pada asalnya, kewajiban haji didasarkan pada kemudahan. Di samping itu, masih terdapat keringanan bagi orang yang memiliki udzur syar'i, seperti orang yang mencukur rambutnya saat berhaji atau umrah karena penyakit di kepalanya. Allah ta'ala berfirman,

(فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍِ)
"Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, atau bersedekah atau berqurban." [Surat Al-Baqarah ayat 196]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Ka'b bin 'Ujrah merasa terganggu dengan kutu yang ada di kepalanya. Kemudian beliau bersabda,

(فَاحْلِقْ وَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ أَوْ انْسُكْ نَسِيكَةً)
"Cukurlah rambutmu dan berpuasalah selama tiga hari atau berilah makan enam orang miskin atau sembelihlah dam." [Riwayat Al-Bukhari no. 3954 dan Muslim no. 1201]


5.) Haji adalah Jihad bagi Kaum Wanita

Ibunda kaum mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kami (para wanita) mengetahui bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Bolehkah kami berjihad?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,

لَكُنَّ أفْضَلُ الجِهَادِ: حَجٌّ مَبْرُورٌ
"Bagi kalian (para wanita) jihad yang paling afdhal, yaitu haji yang mabrur." [Riwayat Al-Bukhari no. 1448]
ِAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut haji sebagai jihad karena seseorang melawan hawa nafsunya saat menunaikan ibadah tersebut." ["Fathul Bari" jilid 3, hlm. 481, cet. Darus Salam Riyadh].


6.) Musim Haji Kesempatan untuk Berdakwah dan Menimba Ilmu

Berkumpulnya jutaan jiwa dari berbagai pelosok dunia di tanah suci merupakan saat yang tepat untuk menebar kebaikan dengan mengajarkan ilmu syariat kepada mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melaksanakan haji wada' beliau menyampaikan khutbah yang sangat berharga bagi umat Islam. Beliau berpesan,

(فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا)

"Maka, sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian terlindungi, seperti kesucian hari ini, negeri ini, dan bulan ini." [Riwayat Al-Bukhari no. 1739 dan Muslim no. 1679]

Dalam waktu yang sama, para ulama dapat berkumpul untuk membahas dan memecahkan permasalahan umat Islam. Demikian juga, para penuntut ilmu berkesempatan untuk bertemu dengan para alim ulama, belajar di hadapan mereka, dan bertanya akan hal-hal yang bermanfaat.

Ketika muncul akidah yang menyimpang tentang takdir di kota Bashrah, dua orang tabi'in: Yahya bin Ya'mur dan Humaid bin 'Abdirrahman Al-Himyari rahimahumallah melakukan perjalanan haji atau umrah. Keduanya berniat, jika bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka ingin bertanya tentang penyimpangan tersebut. Allah memberikan taufiq-Nya sehingga keduanya bertemu dengan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma. Keduanya bertanya dengan penuh adab. Kemudian, Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma menjelaskan dan bersumpah, bahwa seandainya orang-orang yang mengingkari takdir memiliki emas sebesar gunung Uhud, kemudian diinfaqkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir. (Riwayat Muslim no. 8).


7.) Ibadah Haji Membentuk Pribadi Muslim yang Berakhlak Mulia

Amaliah haji merupakan madrasah yang mendidik seorang muslim untuk berbudi luhur. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,


(الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ)
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." [Al-Baqarah ayat 197]
Asy-Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah berkata, "Wajib bagi kalian untuk mengagungkan ihram (niatan untuk melaksanakan ibadah haji), khususnya yang dilakukan pada bulan-bulan yang ditentukan (Syawwal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah). Dan wajib juga menjaganya dari segala sesuatu yang merusak atau mengurangi nilai ibadah tersebut, baik berupa rafats (jima' dan ucapan serta perbuatan yang menjurus kepadanya), terlebih ketika berada di hadapan para wanita, begitu juga kefasikan (seluruh bentuk maksiat, termasuk larangan-larangan ihram), dan jidal (perdebatan, sengketa, dan perselisihan) karena hal itu menimbulkan kejelekan dan permusuhan.

Maksud dari haji adalah ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah, mendekatkan diri kepadanya dengan ibadah-ibadah yang mampu untuk dikerjakan, dan menjaga diri dari perbuatan tercela. Dengan hal tersebut, dia menjadi haji mabrur. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga." ["Tafsir As-Sa'di" hlm. 91-92, cet. Ar-Risalah].

Inilah sebagian dari berbagai keagungan ibadah haji yang mencerminkan keindahan dan kesempurnaan Islam. Agama yang mulia ini selain mengarahkan umat manusia kepada kemaslahatan akhirat, juga membimbing para pemeluknya menuju maslahat duniawi. Allah ta'ala memperbolehkan bagi kaum muslimin melakukan perniagaan di musim haji apabila perdagangan tersebut tidak melalaikan dari pelaksanaan ibadah. Allah jalla wa 'ala berfirman,

(لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ)
" Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat." [Surat Al-Baqarah ayat 198]

Wallahu a'lamu bish shawab.




______________________

adv/https://www.aamfa.org|https://1.bp.blogspot.com/-26IJGCm4TeY/XT1FVcI6xbI/AAAAAAAAAr8/KoJsIaie-P4R8t7DswrVqEHijBLdI8YTgCEwYBhgL/s1600/banneraamfa%2B-%2BCopy.jpg
adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|

Artikel Pilihan

artikel pilihan/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

AAMFA.org

Jaringan Klinik Al-Afiyah - Tauhid.or.id

Kids

Konten khusus anak & download e-book

Course