artikel pilihan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan
Kumpulan Fatwa

Website Pendidikan Anak

Website Pendidikan Anak
kids.tauhid.or.id

shalihah.tauhid.or.id

shalihah.tauhid.or.id
Segera hadir sub media khsusu muslimah

Panduan Muamalah Tanpa Riba

Panduan Muamalah Tanpa Riba
Seri Artikel Muamalah

Artikel Pilihan

artikel pilihan/module

Landasan Agama

landasan agama/carousel

Ibadah

ibadah/carousel

Muamalah

muamalah/carousel

Keluarga

keluarga/box

Adab & Akhlak

adab & akhlak/carousel

Sirah

sirah/carousel

Artikel Terbaru

METODE DALAM MENDIDIK ANAK

METODE DALAM MENDIDIK ANAK



Sepasang suami istri tentunya sangat mendambakan datangnya buah hati, yang bisa menjadikan penyejuk hati bagi kedua orangtuanya. Sebuah rumah akan terasa hampa tanpa keberadaanya. Akan tetapi, di sisi lain keberadaan buah hati menjadi tanggung jawab besar bagi orang tuanya. Mendidik buah hati merupakan kewajiban bagi setiap orang tua demi menjaganya dari fitnah syubhat dan syahwat yang senantiasa mengintainya. Begitu banyak metode untuk mendidik anak, alangkah indahnya metode tersebut selaras dengan Al-Qur’an dan sunnah. Sebelum kami berbicara tentang metode tersebut terlebih dahulu kami ingin memberikan beberapa hal yang tidak kalah pentingnya sebagai penyokong sekaligus penopang pada proses pendidikan anak.


**********

A. Perhatian Para Nabi dan Orang Shalih Terdahulu Terhadap Pendidikan Anak


1) Nabi Nuh ‘alaihissalam

Allah subhanahu wa ta’ala membawakan kisah beliau bersama putranya  dalam firman-Nya,

وَهِىَ تَجْرِى بِهِمْ فِى مَوْجٍ كَٱلْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبْنَهُۥ وَكَانَ فِى مَعْزِلٍ يَٰبُنَىَّ ٱرْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلْكَٰفِرِينَ ۞ قَالَ سَـَٔاوِىٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ ٱلْمَآءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا ٱلْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُغْرَقِينَ
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan NUh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir”. Anaknya menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah”. Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi dari adzab Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang keduanya, maka jadilah anak tersebut diantara orang-orang ditenggelamkan.”[1]
Dalam ayat tersebut, Nabi Nuh ‘alaihissalam telah berusaha mendidik putranya,  mengajak putranya untuk beriman dan mengikuti ajarannya akan tetapi dia tidak mengindahkan perintah  ayahnya dan pada akhirnya Allah timpakan adzab baginya karena tidak beriman kepada Allah sekaligus durhaka kepada sang ayah.


2) Nabi Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub ‘alaihimassalam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذْ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ۞ وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِۦمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Ketika Rabbnya berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab, Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam”. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak cucunya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata, “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agma ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama islam.””[2]
Dalam ayat tersebut, Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub ‘alaihimassalam berwasiat kepada anak cucunya untuk selalu menjaga agama mereka, mengikhlaskan seluruh bentuk ibadah hanya untuk Allah hingga akhir hayat mereka.


3) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkan anak kalian untuk menunaikan shalat pada umur 7 tahun, dan pukullah mereka pada umur 10 tahun (jika enggan menunaikan shalat).”[3]
Dalam hadist tersebut terdapat wasiat yang sangat  penting dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk seluruh umatnya supaya senantiasa memperhatikan pendidikan anak terlebih tentang shalat. Karena shalat merupakan tolak ukur amalan seorang hamba, dan shalatlah pertama kali amalan yang akan dihisab di hari kiamat kelak.


4) Luqman Al-Hakim

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya sewaktu ia memberi wejangan kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesunggunya menyekutukan Allah merupakan kedzaliman yang besar.””[4]
Dalam ayat tersebut Luqman berwasiat kepada putranya untuk tidak terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini menandakan betapa bahayanya dosa syirik, barang siapa mati dalam keadaan belum bertaubat dari kesyirikan maka nerakalah tempat kembalinya dan kekal di dalamnya.


**********


B. Peran Istri Shalihah dalam Mendidik Anak

Allah telah mensyariatkan kepada kita untuk menjaga kehormatan dan memperbanyak keturunan dengan cara menikah. Karena dengan menikah tersebut akan menundukkan pandangan sekaligus menjaga kemaluan kita dari perbuatan zina. Bahkan menikah sampai derajat wajib bagi orang yang takut terjatuh dalam perbuatan keji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka menikahlah, karena dengan menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.”[5]
Begitu banyak wanita di dunia ini. Maka terkadang seorang pemuda yang ingin menikah merasa bingung untuk memilih wanita manakah yang pantas  mendampinginya di sisa umurnya. Syariat islam memberikan arahan yang tepat bagi kaum adam untuk mencari pasangannya dari kaum hawa dengan kriteria tertentu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”[6]
Dalam hadist tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa kriteria utama seorang wanita terdapat pada agamanya. Dengan agama tersebutlah seorang hamba menjadi hamba yang shalih, mengarahkan kepada kebenaran dan memerangi kebatilan serta membedakan antara yang baik dan buruk. Oleh karena itu, wanita yang shalihah akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik anak keturunnya menjadi shalih pula, membangun si anak di atas aqidah yang benar, menuntunnya kepada akhlak dan budi pekerti yang baik, memberikan wawasan agama yang luas, membentengi dirinya dari fitnah syhawat dan syubhat.

Hafidh Ibrahim[7] rahimahullah berkata,



الْأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا

أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ
“Seorang ibu bagaikan sebuah sekolah, jika engkau mempersiapkannya (untuk anakmu) berarti engkau telah menyongsong generasi yang baik.”

Di sisi lain istri shalihah juga merupakan sebaik-baik perhiasan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
 “Dunia itu semuanya menyenangkan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah istri shalihah.”[8]
Maka sudah menjadi kewajiban seorang laki-laki yang akan menikah, memastikan bahwa calon istrinya berkriteria sesuai dengan arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dialah yang nantinya akan mengasuh anak-anaknya, menjaga rumah suaminya, dia tahu bahwa taat kepada suami merupakan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.


**********


C.  Apa Saja yang Perlu Dilakukan di Hari-Hari Pertama Kelahiran Bayi?

1) Tahnik. Tahnik adalah seseorang mengunyah sebutir kurma hingga halus kemudian dikeluarkan lagi dan dimasukkan ke dalam mulut si bayi, kemudian si bayi menelannya perlahan. Hal ini dilakukan setelah kelahirannya sebelum meminum air susu ibu. Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha menyatakan,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكَهُمْ
“Sesungguhnya telah didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bayi-bayi, maka beliau mendoakan keberkahan baginya dan mengunyahkan kurma untuk mereka.”[9]

2) Mengumandangkan adzan pada telinga bayi.

عَنْ أَبِيْ رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ أّذَّنَ فِيْ أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ 
Dari Abu Rafi’ radhiyallahu’anhu beliau berkata: “Aku melihat Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan bin ‘Ali pada saat Fathimah melahirkannya seperti adzan yang dikumandangkan untuk shalat.”[10])
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Diantara hikmah yang tersembunyi dalam mengumandangkan adzan –Allah lebih mengetahuinya- ialah supaya kata-kata pertama yang diperdengarkan pada telinga bayi tersebut adalah kata-kata yang mengandung pengagungan terhadap Allah, serta dua kalimat syahadat.” [11]

3) Aqiqah. Aqiqah ialah penyembelihan kambing dikarenakan lahirnya seorang bayi ke muka bumi pada hari ketujuh. Hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang ditekankan untuk dilakukan. Untuk bayi laki-laki 2 ekor kambing, dan bayi perempuan 1 ekor kambing. Adapun persyaratan kambing yang disembelih sebagaimana hewan kurban yang disembelih pada hari raya idul adha.

4) Pemberian nama. Penetapan nama seorang bayi dilakukan pada hari yang ketujuh pula. Wajib bagi kedua orangtua untuk memilih nama yang terbaik untuk keturunannya. Mengetahui makna yang dikandung oleh sebuah nama juga harus diperhatikan, jangan sampai nama buah hati kita mengandung makna yang tidak pantas disandang oleh seorang muslim. Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman dan nama-nama nabi merupakan nama yang indah bagi si buah hati. Telah banyak riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti nama yang bermakna tidak baik, seperti seorang sahabat yang bernama Hazn yang berarti kesedihan, kemudian diganti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Sahl yang berarti kemudahan.

5) Membotak kepala bayi laki-laki. Caranya adalah memangkas rambut kepala dari pangkalnya hingga tidak tersisa sehelai rambutpun. Hal ini juga dilakukan pada hari ketujuh. Adapun membotak bayi perempuan hukumnya adalah makruh.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: كُلُّ غًلَامِ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُسَمَّى فِيْهِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

“Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu, dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, penyembelihan kambing pada hari ketujuh, diberikan nama dan dibotak kepalanya.”[12]

6) Bersedekah. Maksutnya bersedekah dengan perak seberat rambut bayi yang telah terpisah dari kepalanya. Sedekah ini bisa digantikan dengan mata uang rupiah setelah dikonversikan.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: عَقَّ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ عَنِ الْحَسَنِ بِشَاةٍ وَقَالَ: يَا فَاطِمَةُ اِحْلِقِيْ رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِيْ  بِزِنَةِ شَعَرِهِ فِضَّةً
“Dari ‘Ali radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan aqiqah untuk Al-Hasan (cucunya) dengan menyembelih kambing dan berkata, “Wahai Fathimah, botaklah kepalanya, dan bersedekahlah dengan perak seberat potongan rambut tersebut.””[13]



Bersambung in syaa Allah….


Ditulis Oleh Ustadz Muhammad Jafari bin Rustam (Mahasiswa Universitas Majma’ah, Arab Saudi)

________________________________

[1] Surat Hud, ayat 42-43.
[2] Surat al-baqarah, ayat 131-132.
[3]  Hadits riwayat Ahmad (2/180).
[4] Surat Luqman, ayat 13.
[5] Hadits riwayat Al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no 1400.
[6] Hadits riwayat Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no 1466.
[7] Beliau adalah seorang penyair dari Mesir yang dijuluki dengan penyair sungai nil, beliau hidup dalam keadaan yatim, syairnya yang begitu indah dan penuh makna amat terkenal dibandingkan kawan penyair sepantarannya, beliau meninggal di Cairo pada tahun 1351 H.
[8] Hadits riwayat Muslim no.1467.
[9] Hadits riwayat Muslim no. 2147
[10] Hadits riwayat At-tirmidzi no. 1514 dan Abu Dawud no. 5105
[11] Tuhfah al-maudud bi ahkam al-maulud hal. 22
[12] Hadits riwayat Ahmad no. 20083, Abu Dawud no. 2838.
[13] Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 1519.



Sepasang suami istri tentunya sangat mendambakan datangnya buah hati, yang bisa menjadikan penyejuk hati bagi kedua orangtuanya. Sebuah rumah akan terasa hampa tanpa keberadaanya. Akan tetapi, di sisi lain keberadaan buah hati menjadi tanggung jawab besar bagi orang tuanya. Mendidik buah hati merupakan kewajiban bagi setiap orang tua demi menjaganya dari fitnah syubhat dan syahwat yang senantiasa mengintainya. Begitu banyak metode untuk mendidik anak, alangkah indahnya metode tersebut selaras dengan Al-Qur’an dan sunnah. Sebelum kami berbicara tentang metode tersebut terlebih dahulu kami ingin memberikan beberapa hal yang tidak kalah pentingnya sebagai penyokong sekaligus penopang pada proses pendidikan anak.


**********

A. Perhatian Para Nabi dan Orang Shalih Terdahulu Terhadap Pendidikan Anak


1) Nabi Nuh ‘alaihissalam

Allah subhanahu wa ta’ala membawakan kisah beliau bersama putranya  dalam firman-Nya,

وَهِىَ تَجْرِى بِهِمْ فِى مَوْجٍ كَٱلْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبْنَهُۥ وَكَانَ فِى مَعْزِلٍ يَٰبُنَىَّ ٱرْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلْكَٰفِرِينَ ۞ قَالَ سَـَٔاوِىٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ ٱلْمَآءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا ٱلْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُغْرَقِينَ
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan NUh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir”. Anaknya menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah”. Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi dari adzab Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang keduanya, maka jadilah anak tersebut diantara orang-orang ditenggelamkan.”[1]
Dalam ayat tersebut, Nabi Nuh ‘alaihissalam telah berusaha mendidik putranya,  mengajak putranya untuk beriman dan mengikuti ajarannya akan tetapi dia tidak mengindahkan perintah  ayahnya dan pada akhirnya Allah timpakan adzab baginya karena tidak beriman kepada Allah sekaligus durhaka kepada sang ayah.


2) Nabi Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub ‘alaihimassalam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذْ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ۞ وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِۦمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Ketika Rabbnya berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab, Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam”. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak cucunya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata, “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agma ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama islam.””[2]
Dalam ayat tersebut, Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub ‘alaihimassalam berwasiat kepada anak cucunya untuk selalu menjaga agama mereka, mengikhlaskan seluruh bentuk ibadah hanya untuk Allah hingga akhir hayat mereka.


3) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkan anak kalian untuk menunaikan shalat pada umur 7 tahun, dan pukullah mereka pada umur 10 tahun (jika enggan menunaikan shalat).”[3]
Dalam hadist tersebut terdapat wasiat yang sangat  penting dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk seluruh umatnya supaya senantiasa memperhatikan pendidikan anak terlebih tentang shalat. Karena shalat merupakan tolak ukur amalan seorang hamba, dan shalatlah pertama kali amalan yang akan dihisab di hari kiamat kelak.


4) Luqman Al-Hakim

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya sewaktu ia memberi wejangan kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesunggunya menyekutukan Allah merupakan kedzaliman yang besar.””[4]
Dalam ayat tersebut Luqman berwasiat kepada putranya untuk tidak terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini menandakan betapa bahayanya dosa syirik, barang siapa mati dalam keadaan belum bertaubat dari kesyirikan maka nerakalah tempat kembalinya dan kekal di dalamnya.


**********


B. Peran Istri Shalihah dalam Mendidik Anak

Allah telah mensyariatkan kepada kita untuk menjaga kehormatan dan memperbanyak keturunan dengan cara menikah. Karena dengan menikah tersebut akan menundukkan pandangan sekaligus menjaga kemaluan kita dari perbuatan zina. Bahkan menikah sampai derajat wajib bagi orang yang takut terjatuh dalam perbuatan keji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka menikahlah, karena dengan menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.”[5]
Begitu banyak wanita di dunia ini. Maka terkadang seorang pemuda yang ingin menikah merasa bingung untuk memilih wanita manakah yang pantas  mendampinginya di sisa umurnya. Syariat islam memberikan arahan yang tepat bagi kaum adam untuk mencari pasangannya dari kaum hawa dengan kriteria tertentu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”[6]
Dalam hadist tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa kriteria utama seorang wanita terdapat pada agamanya. Dengan agama tersebutlah seorang hamba menjadi hamba yang shalih, mengarahkan kepada kebenaran dan memerangi kebatilan serta membedakan antara yang baik dan buruk. Oleh karena itu, wanita yang shalihah akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendidik anak keturunnya menjadi shalih pula, membangun si anak di atas aqidah yang benar, menuntunnya kepada akhlak dan budi pekerti yang baik, memberikan wawasan agama yang luas, membentengi dirinya dari fitnah syhawat dan syubhat.

Hafidh Ibrahim[7] rahimahullah berkata,



الْأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا

أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ
“Seorang ibu bagaikan sebuah sekolah, jika engkau mempersiapkannya (untuk anakmu) berarti engkau telah menyongsong generasi yang baik.”

Di sisi lain istri shalihah juga merupakan sebaik-baik perhiasan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
 “Dunia itu semuanya menyenangkan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah istri shalihah.”[8]
Maka sudah menjadi kewajiban seorang laki-laki yang akan menikah, memastikan bahwa calon istrinya berkriteria sesuai dengan arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dialah yang nantinya akan mengasuh anak-anaknya, menjaga rumah suaminya, dia tahu bahwa taat kepada suami merupakan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.


**********


C.  Apa Saja yang Perlu Dilakukan di Hari-Hari Pertama Kelahiran Bayi?

1) Tahnik. Tahnik adalah seseorang mengunyah sebutir kurma hingga halus kemudian dikeluarkan lagi dan dimasukkan ke dalam mulut si bayi, kemudian si bayi menelannya perlahan. Hal ini dilakukan setelah kelahirannya sebelum meminum air susu ibu. Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha menyatakan,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكَهُمْ
“Sesungguhnya telah didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bayi-bayi, maka beliau mendoakan keberkahan baginya dan mengunyahkan kurma untuk mereka.”[9]

2) Mengumandangkan adzan pada telinga bayi.

عَنْ أَبِيْ رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ أّذَّنَ فِيْ أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ 
Dari Abu Rafi’ radhiyallahu’anhu beliau berkata: “Aku melihat Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan bin ‘Ali pada saat Fathimah melahirkannya seperti adzan yang dikumandangkan untuk shalat.”[10])
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Diantara hikmah yang tersembunyi dalam mengumandangkan adzan –Allah lebih mengetahuinya- ialah supaya kata-kata pertama yang diperdengarkan pada telinga bayi tersebut adalah kata-kata yang mengandung pengagungan terhadap Allah, serta dua kalimat syahadat.” [11]

3) Aqiqah. Aqiqah ialah penyembelihan kambing dikarenakan lahirnya seorang bayi ke muka bumi pada hari ketujuh. Hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang ditekankan untuk dilakukan. Untuk bayi laki-laki 2 ekor kambing, dan bayi perempuan 1 ekor kambing. Adapun persyaratan kambing yang disembelih sebagaimana hewan kurban yang disembelih pada hari raya idul adha.

4) Pemberian nama. Penetapan nama seorang bayi dilakukan pada hari yang ketujuh pula. Wajib bagi kedua orangtua untuk memilih nama yang terbaik untuk keturunannya. Mengetahui makna yang dikandung oleh sebuah nama juga harus diperhatikan, jangan sampai nama buah hati kita mengandung makna yang tidak pantas disandang oleh seorang muslim. Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman dan nama-nama nabi merupakan nama yang indah bagi si buah hati. Telah banyak riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti nama yang bermakna tidak baik, seperti seorang sahabat yang bernama Hazn yang berarti kesedihan, kemudian diganti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Sahl yang berarti kemudahan.

5) Membotak kepala bayi laki-laki. Caranya adalah memangkas rambut kepala dari pangkalnya hingga tidak tersisa sehelai rambutpun. Hal ini juga dilakukan pada hari ketujuh. Adapun membotak bayi perempuan hukumnya adalah makruh.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: كُلُّ غًلَامِ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُسَمَّى فِيْهِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

“Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu, dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, penyembelihan kambing pada hari ketujuh, diberikan nama dan dibotak kepalanya.”[12]

6) Bersedekah. Maksutnya bersedekah dengan perak seberat rambut bayi yang telah terpisah dari kepalanya. Sedekah ini bisa digantikan dengan mata uang rupiah setelah dikonversikan.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: عَقَّ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ عَنِ الْحَسَنِ بِشَاةٍ وَقَالَ: يَا فَاطِمَةُ اِحْلِقِيْ رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِيْ  بِزِنَةِ شَعَرِهِ فِضَّةً
“Dari ‘Ali radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan aqiqah untuk Al-Hasan (cucunya) dengan menyembelih kambing dan berkata, “Wahai Fathimah, botaklah kepalanya, dan bersedekahlah dengan perak seberat potongan rambut tersebut.””[13]



Bersambung in syaa Allah….


Ditulis Oleh Ustadz Muhammad Jafari bin Rustam (Mahasiswa Universitas Majma’ah, Arab Saudi)

________________________________

[1] Surat Hud, ayat 42-43.
[2] Surat al-baqarah, ayat 131-132.
[3]  Hadits riwayat Ahmad (2/180).
[4] Surat Luqman, ayat 13.
[5] Hadits riwayat Al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no 1400.
[6] Hadits riwayat Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no 1466.
[7] Beliau adalah seorang penyair dari Mesir yang dijuluki dengan penyair sungai nil, beliau hidup dalam keadaan yatim, syairnya yang begitu indah dan penuh makna amat terkenal dibandingkan kawan penyair sepantarannya, beliau meninggal di Cairo pada tahun 1351 H.
[8] Hadits riwayat Muslim no.1467.
[9] Hadits riwayat Muslim no. 2147
[10] Hadits riwayat At-tirmidzi no. 1514 dan Abu Dawud no. 5105
[11] Tuhfah al-maudud bi ahkam al-maulud hal. 22
[12] Hadits riwayat Ahmad no. 20083, Abu Dawud no. 2838.
[13] Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 1519.

#03 | KHIAR DALAM JUAL BELI

#03 | KHIAR DALAM JUAL BELI



DEFINISI KHIAR

Menurut bahasa khiar berasal dari kata ikhtiar yang bermakna memilih. Menurut istilah khiar adalah hak pelaku transaksi untuk meneruskan atau membatalkan akad. Jenis-jenis khiar, di antaranya :

*****

A. KHIAR MAJELIS

Majelis berarti:  tempat transaksi, dengan demikian khiar majelis berarti hak pelaku transaksi untuk meneruskan atau membatalkan akad selagi mereka berada dalam tempat transaksi dan belum berpisah.

Dalilnya adalah :

عن حكيم بن حزام - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: البيِّعانِ بالخيار ما لم يتفرَّقا، فإن صدقا وبيَّنا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما
Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam bahwa Nabi bersabda, "Penjual dan pembeli memiliki hak khiar selama mereka belum berpisah maka jika keduanya jujur dan saling terbuka niscaya akad mereka diberkahi dan jika keduanya berdusta dan saling menutupi dicabut keberkahan dari akad yang mereka lakukan". (HR. Bukhari Muslim). 


>> Hikmah Penetapan Hukum Khiar 

Terkadang, seseorang setelah menjual atau membeli suatu barang timbul dalam dirinya penyesalan maka dengan khiar majelis dia berhak untuk rujuk.


>> Waktu Khiar Majelis

Khiar majelis merupakan hak kedua pihak, waktunya dimulai dari awal akad dan berakhir saat jasad kedua belah pihak berpisah dari tempat akad berlangsung sekalipun akad tersebut berlangsung lama.

Bilamana akad berlangsung via telepon waktu khiar berakhir dengan ditutupnya gagang telepon.
Dan bilamana berlangsung via internet menggunakan program messenger maka waktu khiar berakhir dengan ditutupnya program tersebut.

Dan bila berlangsung dengan cara mengisi daftar belanja maka ijabnya dengan mengisi daftar yang kemudian dikirim ke pihak penjual, sedangkan pengiriman daftar dari pihak penjual dianggap sebagai qabul. Dan khiar berakhir dengan terkirimnya daftar belanja yang telah diisi sebelumnya.


>> Menafikan/Menggugurkan Khiar:

Dibolehkan menafikan dan menggugurkan khiar majelis. Menafikan khiar, yaitu: kedua belah pihak sepakat sebelum melakukan akad untuk tidak ada hak khiar bagi keduanya dan akad menjadi tetap dengan ijab dan qabul.

Menggugurkan khiar, yaitu: kedua pihak melakukan transaksi, setelah transaksi dan sebelum berpisah mereka sepakat menggugurkan khiar, ini biasanya terjadi manakala mejelis akad terlalu lama.


>> Upaya Tipuan untuk Menggugurkan Khiar:

Tidak dibenarkan kedua-belah pihak melakukan tipuan untuk menggugurkan khiar, seumpama: bersegera meninggalkan majelis akad dengan maksud hak khiar gugur dari pihak lain.
Berdasarkan hadist nabi :

 البيِّعانِ بالخيار ما لم يتفرَّقا، إِلا أَنْ تَكُونَ صَفْقَةَ خِيَارٍ، وَلا يَحِلُّ لَـهُ أَنْ يُفَارِقَهُ خَشْيَةَ أَنْ يَسْتَقِيلَهُ" رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلا اِبْنَ مَاجَهْ ورواه الدارقطنيُّ وابنُ خُزيمةَ وابن الجارود. وَفِي رِوَايَةٍ: "حَتَّى يَتَفَرَّقَا مِنْ مَكَانِهِمَا
Penjual dan pembeli memiliki hak khiar selama mereka belum berpisah, kecuali akad khiar syarat dan tidak dibolehkan seseorang sengaja meninggalkan majelis akad karena khawatir pihak lain membatalkan akadnya. HR. Ahmad.   

*****

B. KHIAR SYARAT

Khiar syarat, yaitu: kedua pihak atau salah satunya berhak memberikan persyaratan khiar dalam jangka waktu tertentu.

Misalnya: Pembeli berkata," aku beli barang ini dengan syarat aku berhak khiar selama 1 minggu. Maka dia berhak meneruskan atau membatalkan transaksi dalam tempo tersebut sekalipun barang itu tidak ada cacatnya.

Dalilnya adalah:

 عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ المُزَنِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: المُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
"Diriwayatkan dari Amru bin Auf bahwa Nabi bersabda," Orang islam terikat dengan persyaratan (yang mereka buat) selagi syarat itu tidak mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram". (HR. Tirmizi).


>> Syarat Sah Khiar Syarat:

Agar khiar syarat dianggap sah disyaratkan 2 hal:
  1. Kedua belah pihak saling rela, baik kerelaannya terjadi sebelum atau saat akad berlangsung.
  2. Waktunya jelas sekalipun jangkanya panjang.

>> Berakhirnya Masa Khiar Syarat

Khiar syarat berakhir ditandai dengan berakhirnya jangka waktu yang telah disepakati atau keduanya sepakat mengakhiri waktu khiar sebelum berakhirnya waktu yang disepakati sebelumnya.


*****

C. KHIAR AIB

Khiar aib yaitu hak pilihan untuk meneruskan atau membatalkan akad dikarenakan terdapat cacat pada barang yang mengurangi harganya. Misalnya:
  • Retak pada dinding rumah yang merupakan obyek akad. 
  • Mesin mobil tidak berfungsi.
  • Banyak terdapat buah busuk dibagian bawah keranjang saat membelinya dalam jumlah besar.

>> Hukum menutupi cacat barang

Bila terdapat cacat yang mengurangi harga barang maka pihak penjual berkewajiban menjelaskannya kepada pembeli, jika tidak dilakukannya maka dia termasuk orang yang menipu. 

عن أبي هريرة: أن رسول الله مر على صبرة طعامٍ، فأدخل يده فيها، فنالت أصابعه بللًا، فقال: ((ما هذا يا صاحب الطعام؟))، قال: أصابته السماء يا رسول الله! قال: ((أفلا جعلته فوق الطعام كي يراه الناس، من غش فليس مني))؛ رواه مسلم
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi melewati setumpuk tepung gandum yang dijual, lalu Beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut ternyata bagian dalamnya basah, Beliau bertanya, "Apa ini hai penjual tepung?", ia menjawab, "Terkena hujan wahai Rasulullah", lalu Beliau bersabda, "Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas sehingga orang dapat melihatnya. Sesungguhnya orang yang menipu tidak termasuk golonganku". HR. Muslim.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : " الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ  
Dari Uqbah bin Amir, ia berkata, "Aku mendengar Nabi bersabda, "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak dibenarkan seorang muslim menjual barang yang cacat kepada saudaranya melainkan ia jelaskan cacatnya". HR. Ibnu Majah.


>> Hak Pembeli Barang Cacat

Seseorang yang membeli barang, ternyata barang tersebut cacat dan dia tidak mengetahui sebelumnya maka dia berhak memilih;
  1. Mengembalikan barang dan menarik kembali uang yang telah dibayar.
  2. Menahan barang serta meminta sebagian dari uang yang telah dibayarkannya sesuai dengan kekurangan harga barang tersebut dikarenakan cacat.
Misalnya:
Pak Saleh membeli mobil dengan harga 54 juta rupiah, ternyata transmisinya tidak berfungsi maka untuk menentukan berapa uang yang harus dikembalikan penjual maka harga mobil ditaksir oleh pedagang dalam keadaan baik umpamanya seharga 45 juta rupiah dan dalam kondisi transmisi rusak seharga 40 juta rupiah. Dengan demikian selisih antara 2 harga Rp. 5 juta sama dengan 1/9 dari harga keseluruhan. Maka pembeli boleh pilih antara menarik kembali seluruh uangnya yaitu 54 juta rupiah atau mengambil mobil tersebut dan menarik 1/9 dari 54 juta rupiah = 6 juta rupiah.


>> Menjual Barang Dengan Syarat Tidak Ada Jaminan

Apabila penjual memberikan persyaratan kepada pembeli bahwa tidak ada jaminan kerusakan pada barang dan pembeli menyetujui persyaratan tersebut, maka apakah lepas tanggung jawab penjual? Ataukah pembeli masih berhak menuntut kerugian jika kelak dia menemukan cacat? Hal ini ada 2 macam:
  1. Bila penjual menjelaskan cacatnya dan pembeli tahu, umpamanya: penjual berkata,"oli mesin mobil sering berkurang," atau cacatnya nyata. Contoh: tampak jelas bekas tabrakan pada bagian luar mobil. Maka penjual telah lepas tanggungannya dan pembeli tidak memiliki khiar lagi.
  2. Pembeli tidak tahu cacat barang dan penjual mensyaratkan lepas tanggungan dari segala cacat barang. Misalnya ia berkata, "Aku jual barang ini kepadamu dengan syarat aku lepas tanggungan dari segala cacatnya.

Dalam hal ini, pihak penjual lepas tanggungan dari seluruh cacat barang andai dia benar-benar tidak mengetahui cacat sebelumnya karena khiar adalah hak pembeli manakala dia rela hal itu dibolehkan.

Namun jika penjual tahu cacat barang sebelumnya lalu menyembunyikan dan mensyaratkan lepas tanggungan dari seluruh cacat barang maka dia tetap menjamin kerusakan barang tersebut, karena tindakan ini termasuk penipuan dan pengelabuan, padahal nabi bersabda:

 من غش فليس مني 

"Sesungguhnya orang yang menipu tidak termasuk golonganku"



------------------------------------------------------------------------------

Oleh Dr. Yusuf Al-Subaily (dosen Pasca Sarjana Univesritas Islam Muhammad Saud, Riyadh - Arab Saudi).



Diterjemahkan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN




DEFINISI KHIAR

Menurut bahasa khiar berasal dari kata ikhtiar yang bermakna memilih. Menurut istilah khiar adalah hak pelaku transaksi untuk meneruskan atau membatalkan akad. Jenis-jenis khiar, di antaranya :

*****

A. KHIAR MAJELIS

Majelis berarti:  tempat transaksi, dengan demikian khiar majelis berarti hak pelaku transaksi untuk meneruskan atau membatalkan akad selagi mereka berada dalam tempat transaksi dan belum berpisah.

Dalilnya adalah :

عن حكيم بن حزام - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: البيِّعانِ بالخيار ما لم يتفرَّقا، فإن صدقا وبيَّنا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما
Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam bahwa Nabi bersabda, "Penjual dan pembeli memiliki hak khiar selama mereka belum berpisah maka jika keduanya jujur dan saling terbuka niscaya akad mereka diberkahi dan jika keduanya berdusta dan saling menutupi dicabut keberkahan dari akad yang mereka lakukan". (HR. Bukhari Muslim). 


>> Hikmah Penetapan Hukum Khiar 

Terkadang, seseorang setelah menjual atau membeli suatu barang timbul dalam dirinya penyesalan maka dengan khiar majelis dia berhak untuk rujuk.


>> Waktu Khiar Majelis

Khiar majelis merupakan hak kedua pihak, waktunya dimulai dari awal akad dan berakhir saat jasad kedua belah pihak berpisah dari tempat akad berlangsung sekalipun akad tersebut berlangsung lama.

Bilamana akad berlangsung via telepon waktu khiar berakhir dengan ditutupnya gagang telepon.
Dan bilamana berlangsung via internet menggunakan program messenger maka waktu khiar berakhir dengan ditutupnya program tersebut.

Dan bila berlangsung dengan cara mengisi daftar belanja maka ijabnya dengan mengisi daftar yang kemudian dikirim ke pihak penjual, sedangkan pengiriman daftar dari pihak penjual dianggap sebagai qabul. Dan khiar berakhir dengan terkirimnya daftar belanja yang telah diisi sebelumnya.


>> Menafikan/Menggugurkan Khiar:

Dibolehkan menafikan dan menggugurkan khiar majelis. Menafikan khiar, yaitu: kedua belah pihak sepakat sebelum melakukan akad untuk tidak ada hak khiar bagi keduanya dan akad menjadi tetap dengan ijab dan qabul.

Menggugurkan khiar, yaitu: kedua pihak melakukan transaksi, setelah transaksi dan sebelum berpisah mereka sepakat menggugurkan khiar, ini biasanya terjadi manakala mejelis akad terlalu lama.


>> Upaya Tipuan untuk Menggugurkan Khiar:

Tidak dibenarkan kedua-belah pihak melakukan tipuan untuk menggugurkan khiar, seumpama: bersegera meninggalkan majelis akad dengan maksud hak khiar gugur dari pihak lain.
Berdasarkan hadist nabi :

 البيِّعانِ بالخيار ما لم يتفرَّقا، إِلا أَنْ تَكُونَ صَفْقَةَ خِيَارٍ، وَلا يَحِلُّ لَـهُ أَنْ يُفَارِقَهُ خَشْيَةَ أَنْ يَسْتَقِيلَهُ" رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلا اِبْنَ مَاجَهْ ورواه الدارقطنيُّ وابنُ خُزيمةَ وابن الجارود. وَفِي رِوَايَةٍ: "حَتَّى يَتَفَرَّقَا مِنْ مَكَانِهِمَا
Penjual dan pembeli memiliki hak khiar selama mereka belum berpisah, kecuali akad khiar syarat dan tidak dibolehkan seseorang sengaja meninggalkan majelis akad karena khawatir pihak lain membatalkan akadnya. HR. Ahmad.   

*****

B. KHIAR SYARAT

Khiar syarat, yaitu: kedua pihak atau salah satunya berhak memberikan persyaratan khiar dalam jangka waktu tertentu.

Misalnya: Pembeli berkata," aku beli barang ini dengan syarat aku berhak khiar selama 1 minggu. Maka dia berhak meneruskan atau membatalkan transaksi dalam tempo tersebut sekalipun barang itu tidak ada cacatnya.

Dalilnya adalah:

 عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ المُزَنِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: المُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
"Diriwayatkan dari Amru bin Auf bahwa Nabi bersabda," Orang islam terikat dengan persyaratan (yang mereka buat) selagi syarat itu tidak mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram". (HR. Tirmizi).


>> Syarat Sah Khiar Syarat:

Agar khiar syarat dianggap sah disyaratkan 2 hal:
  1. Kedua belah pihak saling rela, baik kerelaannya terjadi sebelum atau saat akad berlangsung.
  2. Waktunya jelas sekalipun jangkanya panjang.

>> Berakhirnya Masa Khiar Syarat

Khiar syarat berakhir ditandai dengan berakhirnya jangka waktu yang telah disepakati atau keduanya sepakat mengakhiri waktu khiar sebelum berakhirnya waktu yang disepakati sebelumnya.


*****

C. KHIAR AIB

Khiar aib yaitu hak pilihan untuk meneruskan atau membatalkan akad dikarenakan terdapat cacat pada barang yang mengurangi harganya. Misalnya:
  • Retak pada dinding rumah yang merupakan obyek akad. 
  • Mesin mobil tidak berfungsi.
  • Banyak terdapat buah busuk dibagian bawah keranjang saat membelinya dalam jumlah besar.

>> Hukum menutupi cacat barang

Bila terdapat cacat yang mengurangi harga barang maka pihak penjual berkewajiban menjelaskannya kepada pembeli, jika tidak dilakukannya maka dia termasuk orang yang menipu. 

عن أبي هريرة: أن رسول الله مر على صبرة طعامٍ، فأدخل يده فيها، فنالت أصابعه بللًا، فقال: ((ما هذا يا صاحب الطعام؟))، قال: أصابته السماء يا رسول الله! قال: ((أفلا جعلته فوق الطعام كي يراه الناس، من غش فليس مني))؛ رواه مسلم
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi melewati setumpuk tepung gandum yang dijual, lalu Beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut ternyata bagian dalamnya basah, Beliau bertanya, "Apa ini hai penjual tepung?", ia menjawab, "Terkena hujan wahai Rasulullah", lalu Beliau bersabda, "Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas sehingga orang dapat melihatnya. Sesungguhnya orang yang menipu tidak termasuk golonganku". HR. Muslim.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : " الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ  
Dari Uqbah bin Amir, ia berkata, "Aku mendengar Nabi bersabda, "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak dibenarkan seorang muslim menjual barang yang cacat kepada saudaranya melainkan ia jelaskan cacatnya". HR. Ibnu Majah.


>> Hak Pembeli Barang Cacat

Seseorang yang membeli barang, ternyata barang tersebut cacat dan dia tidak mengetahui sebelumnya maka dia berhak memilih;
  1. Mengembalikan barang dan menarik kembali uang yang telah dibayar.
  2. Menahan barang serta meminta sebagian dari uang yang telah dibayarkannya sesuai dengan kekurangan harga barang tersebut dikarenakan cacat.
Misalnya:
Pak Saleh membeli mobil dengan harga 54 juta rupiah, ternyata transmisinya tidak berfungsi maka untuk menentukan berapa uang yang harus dikembalikan penjual maka harga mobil ditaksir oleh pedagang dalam keadaan baik umpamanya seharga 45 juta rupiah dan dalam kondisi transmisi rusak seharga 40 juta rupiah. Dengan demikian selisih antara 2 harga Rp. 5 juta sama dengan 1/9 dari harga keseluruhan. Maka pembeli boleh pilih antara menarik kembali seluruh uangnya yaitu 54 juta rupiah atau mengambil mobil tersebut dan menarik 1/9 dari 54 juta rupiah = 6 juta rupiah.


>> Menjual Barang Dengan Syarat Tidak Ada Jaminan

Apabila penjual memberikan persyaratan kepada pembeli bahwa tidak ada jaminan kerusakan pada barang dan pembeli menyetujui persyaratan tersebut, maka apakah lepas tanggung jawab penjual? Ataukah pembeli masih berhak menuntut kerugian jika kelak dia menemukan cacat? Hal ini ada 2 macam:
  1. Bila penjual menjelaskan cacatnya dan pembeli tahu, umpamanya: penjual berkata,"oli mesin mobil sering berkurang," atau cacatnya nyata. Contoh: tampak jelas bekas tabrakan pada bagian luar mobil. Maka penjual telah lepas tanggungannya dan pembeli tidak memiliki khiar lagi.
  2. Pembeli tidak tahu cacat barang dan penjual mensyaratkan lepas tanggungan dari segala cacat barang. Misalnya ia berkata, "Aku jual barang ini kepadamu dengan syarat aku lepas tanggungan dari segala cacatnya.

Dalam hal ini, pihak penjual lepas tanggungan dari seluruh cacat barang andai dia benar-benar tidak mengetahui cacat sebelumnya karena khiar adalah hak pembeli manakala dia rela hal itu dibolehkan.

Namun jika penjual tahu cacat barang sebelumnya lalu menyembunyikan dan mensyaratkan lepas tanggungan dari seluruh cacat barang maka dia tetap menjamin kerusakan barang tersebut, karena tindakan ini termasuk penipuan dan pengelabuan, padahal nabi bersabda:

 من غش فليس مني 

"Sesungguhnya orang yang menipu tidak termasuk golonganku"



------------------------------------------------------------------------------

Oleh Dr. Yusuf Al-Subaily (dosen Pasca Sarjana Univesritas Islam Muhammad Saud, Riyadh - Arab Saudi).



Diterjemahkan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN


adv/https://prestasiyatim.id|https://1.bp.blogspot.com/-YWyTmyLHDbQ/WZUQw2kwY7I/AAAAAAAAAYo/lBAufTNCUwAgPlKNCcZGt6Gky4zhR-pNACLcBGAs/s1600/aytams%2B-%2BCopy.jpg
adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

CRAST

PROGRAM DAKWAH TAUHID MELALUI KEGIATAN SOSIAL, PENDIDIKAN, MEDIS, DAN KEBENCANAAN DARI TAUHID.OR.ID

Community Relief and Spreading Tauhid