artikel pilihan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan
Kumpulan Fatwa

shalihah.tauhid.or.id

shalihah.tauhid.or.id
Segera hadir sub media khsusu muslimah

Panduan Muamalah Tanpa Riba

Panduan Muamalah Tanpa Riba
Seri Artikel Muamalah

Artikel Pilihan

artikel pilihan/module

Landasan Agama

landasan agama/carousel

Ibadah

ibadah/carousel

Muamalah

muamalah/carousel

Keluarga

keluarga/box

Adab & Akhlak

adab & akhlak/carousel

Sirah

sirah/carousel

Artikel Terbaru

#44 | PEMBOIKOTAN KEPADA BANI HASYIM

#44 | PEMBOIKOTAN KEPADA BANI HASYIM


Kaum musyrikin selalu mencari cara bagaimana agar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggalkan dakwah beliau. Setelah gagal menempuh berbagai cara, mereka memperluas target mereka kepada Bani Hasyim, keluarga besar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta Bani Al Mutthalib yang selalu melindungi beliau.

Para pemuka kaum musyrikin berkumpul di kediaman Bani Kinanah yang terletak di lembah Al Mahshib dan bersumpah untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Al Mutthalib. Mereka sepakat tidak akan menikahi Bani Hasyim dan Bani Al Muththalib, tidak berjual beli dengan mereka, tidak berkumpul, berbaur, memasuki rumah ataupun berbicara dengan mereka hingga mereka menyerahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk dibunuh. Kesepakatan mereka tersebut dikukuhkan di atas sebuah shahifah (lembaran) dan digantungkan di dalam Ka’bah. [1]

Menghadapi hal ini Bani Hasyim dan Bani Al Mutthalib semuanya, baik yang masih kafir maupun yang sudah beriman selain Abu Lahab tetap berpihak untuk membela Rasulullah.

Pemboikotan semakin diperketat persediaan makanan mereka sampai habis. Kaum musyrikin tidak membiarkan makanan apapun yang masuk ke Makkah atau dijual kecuali mereka segera memborongnya. Tindakan ini membuat kondisi Bani Hasyim dan Bani Al Mutthalib semakin kepayahan dan memprihatinkan sehingga mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Selain itu, jeritan kaum wanita dan tangis bayi-bayi yang mengerang kelaparan pun terdengar di balik kediaman tersebut. Hampir tidak ada makanan yang sampai ke tangan mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi. Mereka pun tidak keluar rumah untuk membeli keperluan keseharian kecuali pada bulan-bulan Haram. [2]


PENGHENTIAN PEMBOIKOTAN

Di bulan Muharram tahun kesepuluh dari kenabian terjadi pembatalan terhadap pemboikotan. shahifah dan perobekan perjanjian tersebut. Hal ini dilakukan karena tidak semua kaum Quraisy menyetujui perjanjian tersebut. Di antara mereka ada yang sebenarnya menentang. Maka pihak yang menentang inilah yang kemudian membatalkan pemboikotan tersebut.

Di antara tokoh yang melakukan itu adalah Hisyam bin Amr dari suku Bani Amir bin Lu’ay. Selama pemboikotan berlangsung Hisyam termasuk yang memberikan makanan secara diam-diam kepada Bani Hasyim. Hisyam dan beberapa orang tokoh Quraisy lainnya seperti Al Muth’im bin Adiy, Zuhair bin Umayyah, Abul Bukhturi bin Hisyam dan Zam’ah bin Al Aswad bersepakat untuk menghentikan pemboikotan tersebut. [3]


SURAT PERJANJIAN DIMAKAN RAYAP

Disebutan di dalam sebuah riwayat bahwa ketika mereka bersepakat untuk membatalkan, Rasulullah mendapatkan kabar dari Allah subhanahu wata’ala bahwa Allah telah mengirim pasukan rayap untuk memakan lembaran kesepakatan yang digatung di dalam Ka’bah. Beliau pun mengabarkan hal tersebut kepada pamannya Abu Thalib.

Abu Thalib pun kemudian datang kepada kaum Quraisy dan memberitahukan kepada mereka tentang apa yang telah diberitahukan oleh keponakanya kepadanya. Dia mengatakan, “Apabila keponakan ku berdusta, maka kami akan membiarkan kalian untuk menyelesaikan urusan dengannya, Namun kalau apa yang dia sampaikan adalah benar, maka kalian harus membatalkan pemboikotan kepada kami.” Para pembesar Quraisy pun menyepakati hal tersebut.

Ketika Al Muth’im masuk ke dalam Ka’bah ternyata benar apa yang dikabarkan oleh Abu Thalib. Rayap-rayap telah memakan perjanjian pemboikotan tersebut kecuali tulisan “Bismikallah” (dengan nama-Mu ya Allah) dan tulisan yang ada nama Allah di dalamnya di mana rayap-rayap tersebut tidak memakannya.

Lalu dibatalkanlah pemboikotan tersebut sehingga Rasulullah bersama orang-orang yang ada di kediaman Abu Thalib dapat leluasa keluar.

Sungguh, peristiwa dimakannya lembaran perjanjian tersebut oleh rayap merupakan sebuah bukiti dari kenabian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi kaum musyrikin tetap dalam kekafiran mereka seperti yang telah Allah firmankan,

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ
“Dan jika mereka melihat sesuatu tanda (mu'jizat), mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (Al Qamar:2).[4]
Peristiwa pemboikotan ini menyingkap bagaimana kezhaliman yang dilakukan oleh kaum musrikin Quraisy. Penganiayaan mereka bukan berupa siksaan kepada golongan lemah dari kaum muslimin saja. Bahkan melebar kepada kerabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan yang merasakan akibat dari pemboikotan ini bukan saja orang-orang dewasa, akan tetapi juga anak-anak dan orang-orang yang sudah tua renta. Permusuhan mereka terhadap Islam telah sampai menghilangkan sisi kemanusiaan mereka.[5]

Tekanan yang dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat demikian berat, akan tetapi hal ini tidaklah membuat mereka kehilangan keimanan mereka. Rasa berat ini justru menambah kekokohan para sahabat dan keyakinan mereka akan datangnya pertolongan dari Allah.

Faidah lain dari kisah pemboikotan ini adalah datangnya pertolongan dari sisi orang-orang kafir. Hisyam bin Amr, Al Muth’im bin Adiy, Zuhair bin Umayyah, Abul Bukhturi bin Hisyam dan Zam’ah bin Al Aswad adalah orang-orang kafir yang menaruh simpati kepada pihak-pihak yang diboikot. Merekalah yang kemudian membatalkan perjanjian pemboikotan tersebut. Demikianlah keadaan dakwah, terkadang Allah memberikan pertolongan kepada agama ini melalui perantaraan orang-orang yang durhaka sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yang muttafaqun alaihi,

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
"Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali jiwa muslim dan sesungguhnya Allah akan menguatkan dien ini dengan laki-laki fajir." [6]
Dari peristiwa pemboikotan yang dilakukan orang-orang kafir kepada orang-orang Islam ini, nampak jelas juga bagi kita salah satu dari bentuk peperangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam adalah dalam bentuk perang ekonomi. Kaum kafir Mekah ketika ingin memerangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka tidak memerangi beliau dengan senjata, tetapi mereka menggunakan perang ekonomi dengan cara mengembargo Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, dengan tidak: ada hubungan transaksi jual beli maupun akad pernikahan dengan mereka.

Hal yang harus dipahami oleh kaum muslimin saat ini adalah sangat tepat apabila kaum muslimin mengembargo ekonomi kepada semua musuh yang memerangi umat Islam, dan tidak selalu melawan musuh Islam dengan persenjataan, tetapi setidaknya kita memerangi mereka dengan embargo ekonomi, dengan memutuskan hubungan perdagangan misalnya. Hal ini disebabkan jika embargo ekonomi ini tidak kita jalankan terhadap mereka yang memusuhi Islam, maka berarti kita mendukung musuh secara finansial untuk memerangi kaum muslimin, padahal tidak boleh seorang muslim membantu orang kafir dalam memerangi orang Islam.[7]


Wallahu a’lam bisshawab.


Catatan Kaki:
[1] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 129.
[2] Ibid.
[3] Ibid. hlm 130
[4] Ibid., hlm. 131
[5] Zaid bin Abdul Karim Az Zaid, Fiqhus Sirah, (Riyadh: Darut Tadmuriyyah, 1424 H) hlm. 216-217.
[6] Ibid., 218.
[7] Ibid.



Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy


--------------

Kaum musyrikin selalu mencari cara bagaimana agar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggalkan dakwah beliau. Setelah gagal menempuh berbagai cara, mereka memperluas target mereka kepada Bani Hasyim, keluarga besar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta Bani Al Mutthalib yang selalu melindungi beliau.

Para pemuka kaum musyrikin berkumpul di kediaman Bani Kinanah yang terletak di lembah Al Mahshib dan bersumpah untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Al Mutthalib. Mereka sepakat tidak akan menikahi Bani Hasyim dan Bani Al Muththalib, tidak berjual beli dengan mereka, tidak berkumpul, berbaur, memasuki rumah ataupun berbicara dengan mereka hingga mereka menyerahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk dibunuh. Kesepakatan mereka tersebut dikukuhkan di atas sebuah shahifah (lembaran) dan digantungkan di dalam Ka’bah. [1]

Menghadapi hal ini Bani Hasyim dan Bani Al Mutthalib semuanya, baik yang masih kafir maupun yang sudah beriman selain Abu Lahab tetap berpihak untuk membela Rasulullah.

Pemboikotan semakin diperketat persediaan makanan mereka sampai habis. Kaum musyrikin tidak membiarkan makanan apapun yang masuk ke Makkah atau dijual kecuali mereka segera memborongnya. Tindakan ini membuat kondisi Bani Hasyim dan Bani Al Mutthalib semakin kepayahan dan memprihatinkan sehingga mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Selain itu, jeritan kaum wanita dan tangis bayi-bayi yang mengerang kelaparan pun terdengar di balik kediaman tersebut. Hampir tidak ada makanan yang sampai ke tangan mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi. Mereka pun tidak keluar rumah untuk membeli keperluan keseharian kecuali pada bulan-bulan Haram. [2]


PENGHENTIAN PEMBOIKOTAN

Di bulan Muharram tahun kesepuluh dari kenabian terjadi pembatalan terhadap pemboikotan. shahifah dan perobekan perjanjian tersebut. Hal ini dilakukan karena tidak semua kaum Quraisy menyetujui perjanjian tersebut. Di antara mereka ada yang sebenarnya menentang. Maka pihak yang menentang inilah yang kemudian membatalkan pemboikotan tersebut.

Di antara tokoh yang melakukan itu adalah Hisyam bin Amr dari suku Bani Amir bin Lu’ay. Selama pemboikotan berlangsung Hisyam termasuk yang memberikan makanan secara diam-diam kepada Bani Hasyim. Hisyam dan beberapa orang tokoh Quraisy lainnya seperti Al Muth’im bin Adiy, Zuhair bin Umayyah, Abul Bukhturi bin Hisyam dan Zam’ah bin Al Aswad bersepakat untuk menghentikan pemboikotan tersebut. [3]


SURAT PERJANJIAN DIMAKAN RAYAP

Disebutan di dalam sebuah riwayat bahwa ketika mereka bersepakat untuk membatalkan, Rasulullah mendapatkan kabar dari Allah subhanahu wata’ala bahwa Allah telah mengirim pasukan rayap untuk memakan lembaran kesepakatan yang digatung di dalam Ka’bah. Beliau pun mengabarkan hal tersebut kepada pamannya Abu Thalib.

Abu Thalib pun kemudian datang kepada kaum Quraisy dan memberitahukan kepada mereka tentang apa yang telah diberitahukan oleh keponakanya kepadanya. Dia mengatakan, “Apabila keponakan ku berdusta, maka kami akan membiarkan kalian untuk menyelesaikan urusan dengannya, Namun kalau apa yang dia sampaikan adalah benar, maka kalian harus membatalkan pemboikotan kepada kami.” Para pembesar Quraisy pun menyepakati hal tersebut.

Ketika Al Muth’im masuk ke dalam Ka’bah ternyata benar apa yang dikabarkan oleh Abu Thalib. Rayap-rayap telah memakan perjanjian pemboikotan tersebut kecuali tulisan “Bismikallah” (dengan nama-Mu ya Allah) dan tulisan yang ada nama Allah di dalamnya di mana rayap-rayap tersebut tidak memakannya.

Lalu dibatalkanlah pemboikotan tersebut sehingga Rasulullah bersama orang-orang yang ada di kediaman Abu Thalib dapat leluasa keluar.

Sungguh, peristiwa dimakannya lembaran perjanjian tersebut oleh rayap merupakan sebuah bukiti dari kenabian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi kaum musyrikin tetap dalam kekafiran mereka seperti yang telah Allah firmankan,

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ
“Dan jika mereka melihat sesuatu tanda (mu'jizat), mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (Al Qamar:2).[4]
Peristiwa pemboikotan ini menyingkap bagaimana kezhaliman yang dilakukan oleh kaum musrikin Quraisy. Penganiayaan mereka bukan berupa siksaan kepada golongan lemah dari kaum muslimin saja. Bahkan melebar kepada kerabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan yang merasakan akibat dari pemboikotan ini bukan saja orang-orang dewasa, akan tetapi juga anak-anak dan orang-orang yang sudah tua renta. Permusuhan mereka terhadap Islam telah sampai menghilangkan sisi kemanusiaan mereka.[5]

Tekanan yang dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat demikian berat, akan tetapi hal ini tidaklah membuat mereka kehilangan keimanan mereka. Rasa berat ini justru menambah kekokohan para sahabat dan keyakinan mereka akan datangnya pertolongan dari Allah.

Faidah lain dari kisah pemboikotan ini adalah datangnya pertolongan dari sisi orang-orang kafir. Hisyam bin Amr, Al Muth’im bin Adiy, Zuhair bin Umayyah, Abul Bukhturi bin Hisyam dan Zam’ah bin Al Aswad adalah orang-orang kafir yang menaruh simpati kepada pihak-pihak yang diboikot. Merekalah yang kemudian membatalkan perjanjian pemboikotan tersebut. Demikianlah keadaan dakwah, terkadang Allah memberikan pertolongan kepada agama ini melalui perantaraan orang-orang yang durhaka sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yang muttafaqun alaihi,

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
"Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali jiwa muslim dan sesungguhnya Allah akan menguatkan dien ini dengan laki-laki fajir." [6]
Dari peristiwa pemboikotan yang dilakukan orang-orang kafir kepada orang-orang Islam ini, nampak jelas juga bagi kita salah satu dari bentuk peperangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam adalah dalam bentuk perang ekonomi. Kaum kafir Mekah ketika ingin memerangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka tidak memerangi beliau dengan senjata, tetapi mereka menggunakan perang ekonomi dengan cara mengembargo Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, dengan tidak: ada hubungan transaksi jual beli maupun akad pernikahan dengan mereka.

Hal yang harus dipahami oleh kaum muslimin saat ini adalah sangat tepat apabila kaum muslimin mengembargo ekonomi kepada semua musuh yang memerangi umat Islam, dan tidak selalu melawan musuh Islam dengan persenjataan, tetapi setidaknya kita memerangi mereka dengan embargo ekonomi, dengan memutuskan hubungan perdagangan misalnya. Hal ini disebabkan jika embargo ekonomi ini tidak kita jalankan terhadap mereka yang memusuhi Islam, maka berarti kita mendukung musuh secara finansial untuk memerangi kaum muslimin, padahal tidak boleh seorang muslim membantu orang kafir dalam memerangi orang Islam.[7]


Wallahu a’lam bisshawab.


Catatan Kaki:
[1] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 129.
[2] Ibid.
[3] Ibid. hlm 130
[4] Ibid., hlm. 131
[5] Zaid bin Abdul Karim Az Zaid, Fiqhus Sirah, (Riyadh: Darut Tadmuriyyah, 1424 H) hlm. 216-217.
[6] Ibid., 218.
[7] Ibid.



Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy


--------------

ANTARA DOSA DAN BENCANA

ANTARA DOSA DAN BENCANA




Sering kita jumpai berbagai bencana serta kerusakan di muka bum ini, baik di darat maupun di laut. Seperti banijr bandang, gempa bumi, tsunami, terpuruknya perekonomian dan berbagai macam bencana yang lain. Akan tetapi pernahkah kita berfikir tentang penyebab sebenarnya dari semua bencana itu?

Banyak orang yang mengira bahwa semua kejadian tersebut merupakan kejadian alam semata, bahkan menganggapnya sebagai hal yang wajar, atau lemahnya pemerintah dalam mengatasi masalah ekonomi. Ini semua membuktikan lemahnya pengetahuan mereka terhadap ilmu agama.

Adapun seorang mukmin, maka dia menyakini bahwa semua yang dia dapatkan berupa kebaikan maka itu datangnya dari Allah subhanahu wata’ala yang harus disyukuri dan memanfaatkannya dengan baik. Supaya kenikmatan tersebut selalu ada dan terus bertambah. Jangan sampai kenikmatan malah berubah manjadi malapetaka. Allah ‘azza wajalla berfirman,


وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجۡ‍َٔرُونَ ٥٣
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”1
Allah ‘azza wajalla juga berfirman dalam ayat lain,


وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧
Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengumumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat.”2
Sedangkan apa saja yang menimpa dirinya berupa kejelekan disebabkan karena ulahnya sendiri. Allah jalla jalaluh berfirman,


مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ
Kebajikan apapun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu itu dari (kesalahan) dirimu sendiri...”3
Selaras dengan ayat diatas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ الله، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلَا نَفْسَه
... Maka, barang siapa yang mendapatkan kebaikan hendaknya dia memuji Allah, dan barang siapa yang mendapatkan selain itu maka janganlah mencela kecuali dirinya sendiri.”4


AMBIL PELAJARAN DARI MEREKA!

Agama islam telah menejelaskan kepada pemeluknya perihal solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. Di antaranya adalah mempelajari sejarah peradaban umat manusia zaman dahulu. Kita bisa mengambil pelajaran dari mereka, memikirkan keadaan mereka, merenungi sebab-sebab kejayaan atau kebinasaan mereka.

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk mencermati apa yang terjadi pada umat-umat yang terdahulu. Bagaimana keadaan mereka ketika meereka menyelisishi perintah Allah? Dan apa yang terjadi ketika mereka menyelisihi para Rasul? Allah subhanahu wata’ala berfirman,


قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُمۡ سُنَنٞ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ١٣٧ هَٰذَا بَيَانٞ لِّلنَّاسِ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٞ لِّلۡمُتَّقِينَ ١٣٨
Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Inilah (Al-Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” 5
Banyak bangunan bersejarah yang menunjukkan besarnya kekuasaan Allah yang masih ada sampai sekarang. Kita diperintahkan untuk merenungi dan mengambil pelajaran dari kejadian yang mereka alami. Bukan hanya mejadikan bekas bangunan mereka sebagai tempat wisata atau bahan penelitian. Allah subhanahu wata’ala berfiman,


قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلُۚ كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ ٤٢
Katakanlah (Muhammad), “Berjalanlah kamu di muka bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.”6
Allah juga berfirman,


أَلَمۡ يَأۡتِهِمۡ نَبَأُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَقَوۡمِ إِبۡرَٰهِيمَ وَأَصۡحَٰبِ مَدۡيَنَ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتِۚ أَتَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ٧٠
Apakah tidak sampai kepada mereka berita (tentang) orang-orang yang sebelum mereka, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata; Allah tidak menzhalimi mereka, tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.”7
Sudahkah kita merenungi kejadian mereka? Pernahkah kita mengambil pelajaran dari kisah mereka?


UCAPAN PARA ULAMA

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Diantara pengaruh buruk dari dosa dan maksiat adalah menyebabkan berbagai kerusakan di muka bumi. Seperti kerusakan pada air, udara, pertanian dan tempat tinggal. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Telah tampak kerusakaan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia; Allah menghendaki agar meraka merasakaan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”8

Beliau juga berkata, “Setiap kali mereka melakukan perbuatan dosa maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan mereka hukuman... Dan diantara penngaruh buruk dari maksiat adalah terjadinya likuifaksi9 tanah (tanah ‘ambles’) serta gempa. Itu semua bisa diatasi dengan meninggalkan dosa.”10

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Setiap kali terjadi gempa bumi atau yang semisalnya, penyebabnya adalah kesyirikan dan maksiat. Sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wata’ala, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan yang banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”11

Allah juga berfirman tentang umat-umat yang terdahulu,


فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ٤٠
Dan masing-masing (mereka itu) kami azab karena dosa-dosanya, diantara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang kami benamkan kedalam bumi, dan ada pula yang kami tenggelamkan (ke dalam laut). Allah sama sekali tidak hendak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.”12
Maka hal yang harus dilakukan ketika terjadi gempa atau yang lainnya yang merupakan tanda kekuasaan Allah, seperti gerhana, angin yang sangat kencang, dan banjir adalah segera bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, tunduk kepada-Nya, meminta keselamatan, memperbanyak dzikir dan mohon ampun kepada-Nya.13


UJIAN ATAU AZAB?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditaya, “Apabila seseorang timpa rasa sakit atau suatu hal yang buruk pada diri maupun hartanya, maka bagaimana hal itu bisa diketahaui sebagai ujian atau bentuk kemurkaan dari Allah?”

Beliau menjawab, “Ada beberapa kemungkinan. Seorang mukmin itu bersikap layaknya dokter ataupun musuh bagi dirinya (ungkapan untuk selalu merasa memiliki penyakit, kesalahan serta kekurangan layaknya pandangan seorang dokter terhadap pasiennya atau pandangan seseorang terhadap musuhnya -pen).

Allah ‘azza wajalla menguji hambanya dengan kebahagiaan, kesusahan, kesempitan, dan kelonggaran. Terkadang Dia menguji mereka dengan hal-hal itu untuk mengankat derajat, meninggikan, serta melipatgandakan pahala mereka. Sebagaimana yang terjadi pada para Nabi dan Rasul ‘alaihim ash-sholatu wassalam, begitu juga yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang shalih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya.”14

Dan terkadang musibah itu terjadi dikaranakan maksiat dan dosa. Maka hal ini adalah hukuman yang yang disegerakan. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan yang banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Pada umumnya, apa yang menimpa seseorang yang kurang ibadahnya dan tidak melaksanakan kewajiban maka disebabkan karena dosanya dan minimnya dia dalam melaksanakan perintah Allah.”15


HARUS BAGAIMANA?

Sikap yang diambil oleh seorang muslim dalam menghadapi musibah adalah selalu merendah diri, introspeksi diri, dan merasa banyak kekurangan. Kemudian dia bertaubat kepada Allah dan memperbanyak istighfar. Allah ‘azza wajalla berfirman,


وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ٣٣
Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara meraka. Dan tidaklah (pula) Allah mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.”16
Kemudian hal yang bisa dilakukan oleh seorang muslim adalah melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang banar dan penuh hikmah. Karena kalau maksiat sudah merajalela di sebuah daerah maka yang terkena musibah bukan hanya pelaku dosa saja, melainkan semua orang yang berada di daerah tersebut. Allah ‘azza wajalla berfirman,


وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaannya.”17
Kemudian bersabar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh menakjupkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar.”18


Rujukan : 

1. QS. An-Nahl: 53
2. QS. Ibrahim: 7
3. QS. An-Nisa: 79
4. HR. Muslim no. 4674
5. QS. Ali Imran: 137-138
6. QS. Ar-Rum: 42
7. QS. At-Taubah: 70
8. Ad-Daa’ Wad-Dawaa’ hal. 64
9. Pencairan tanah atau likuifaksi tanah adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatanakibat adanya tegangan, misal getaran gempa bumi atau perubahan tegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat. Sumber: www.wikipedia.org
10. Ad-Daa’ Wad-Dawaa’ hal. 65
11. QS. Asy-Syura: 30
12. QS. Al-Ankabut: 40
13. Majmu’ Fatawa Ibn Baz, juz 9 hal. 149
14. HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Berkata Syaikh Al-Albani, “Hasan shahih”
15. www.binbaz.org
16. QS. Al-Anfal: 33
17. QS. Al-Anfal: 25
18. HR. Muslim, no. 2999



------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Agus Purwanto
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN





Sering kita jumpai berbagai bencana serta kerusakan di muka bum ini, baik di darat maupun di laut. Seperti banijr bandang, gempa bumi, tsunami, terpuruknya perekonomian dan berbagai macam bencana yang lain. Akan tetapi pernahkah kita berfikir tentang penyebab sebenarnya dari semua bencana itu?

Banyak orang yang mengira bahwa semua kejadian tersebut merupakan kejadian alam semata, bahkan menganggapnya sebagai hal yang wajar, atau lemahnya pemerintah dalam mengatasi masalah ekonomi. Ini semua membuktikan lemahnya pengetahuan mereka terhadap ilmu agama.

Adapun seorang mukmin, maka dia menyakini bahwa semua yang dia dapatkan berupa kebaikan maka itu datangnya dari Allah subhanahu wata’ala yang harus disyukuri dan memanfaatkannya dengan baik. Supaya kenikmatan tersebut selalu ada dan terus bertambah. Jangan sampai kenikmatan malah berubah manjadi malapetaka. Allah ‘azza wajalla berfirman,


وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجۡ‍َٔرُونَ ٥٣
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”1
Allah ‘azza wajalla juga berfirman dalam ayat lain,


وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧
Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengumumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat.”2
Sedangkan apa saja yang menimpa dirinya berupa kejelekan disebabkan karena ulahnya sendiri. Allah jalla jalaluh berfirman,


مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ
Kebajikan apapun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu itu dari (kesalahan) dirimu sendiri...”3
Selaras dengan ayat diatas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ الله، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلَا نَفْسَه
... Maka, barang siapa yang mendapatkan kebaikan hendaknya dia memuji Allah, dan barang siapa yang mendapatkan selain itu maka janganlah mencela kecuali dirinya sendiri.”4


AMBIL PELAJARAN DARI MEREKA!

Agama islam telah menejelaskan kepada pemeluknya perihal solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. Di antaranya adalah mempelajari sejarah peradaban umat manusia zaman dahulu. Kita bisa mengambil pelajaran dari mereka, memikirkan keadaan mereka, merenungi sebab-sebab kejayaan atau kebinasaan mereka.

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk mencermati apa yang terjadi pada umat-umat yang terdahulu. Bagaimana keadaan mereka ketika meereka menyelisishi perintah Allah? Dan apa yang terjadi ketika mereka menyelisihi para Rasul? Allah subhanahu wata’ala berfirman,


قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُمۡ سُنَنٞ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ١٣٧ هَٰذَا بَيَانٞ لِّلنَّاسِ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٞ لِّلۡمُتَّقِينَ ١٣٨
Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Inilah (Al-Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” 5
Banyak bangunan bersejarah yang menunjukkan besarnya kekuasaan Allah yang masih ada sampai sekarang. Kita diperintahkan untuk merenungi dan mengambil pelajaran dari kejadian yang mereka alami. Bukan hanya mejadikan bekas bangunan mereka sebagai tempat wisata atau bahan penelitian. Allah subhanahu wata’ala berfiman,


قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلُۚ كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ ٤٢
Katakanlah (Muhammad), “Berjalanlah kamu di muka bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.”6
Allah juga berfirman,


أَلَمۡ يَأۡتِهِمۡ نَبَأُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَقَوۡمِ إِبۡرَٰهِيمَ وَأَصۡحَٰبِ مَدۡيَنَ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتِۚ أَتَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ٧٠
Apakah tidak sampai kepada mereka berita (tentang) orang-orang yang sebelum mereka, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata; Allah tidak menzhalimi mereka, tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.”7
Sudahkah kita merenungi kejadian mereka? Pernahkah kita mengambil pelajaran dari kisah mereka?


UCAPAN PARA ULAMA

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Diantara pengaruh buruk dari dosa dan maksiat adalah menyebabkan berbagai kerusakan di muka bumi. Seperti kerusakan pada air, udara, pertanian dan tempat tinggal. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Telah tampak kerusakaan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia; Allah menghendaki agar meraka merasakaan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”8

Beliau juga berkata, “Setiap kali mereka melakukan perbuatan dosa maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan mereka hukuman... Dan diantara penngaruh buruk dari maksiat adalah terjadinya likuifaksi9 tanah (tanah ‘ambles’) serta gempa. Itu semua bisa diatasi dengan meninggalkan dosa.”10

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Setiap kali terjadi gempa bumi atau yang semisalnya, penyebabnya adalah kesyirikan dan maksiat. Sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wata’ala, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan yang banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”11

Allah juga berfirman tentang umat-umat yang terdahulu,


فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ٤٠
Dan masing-masing (mereka itu) kami azab karena dosa-dosanya, diantara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang kami benamkan kedalam bumi, dan ada pula yang kami tenggelamkan (ke dalam laut). Allah sama sekali tidak hendak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.”12
Maka hal yang harus dilakukan ketika terjadi gempa atau yang lainnya yang merupakan tanda kekuasaan Allah, seperti gerhana, angin yang sangat kencang, dan banjir adalah segera bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, tunduk kepada-Nya, meminta keselamatan, memperbanyak dzikir dan mohon ampun kepada-Nya.13


UJIAN ATAU AZAB?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditaya, “Apabila seseorang timpa rasa sakit atau suatu hal yang buruk pada diri maupun hartanya, maka bagaimana hal itu bisa diketahaui sebagai ujian atau bentuk kemurkaan dari Allah?”

Beliau menjawab, “Ada beberapa kemungkinan. Seorang mukmin itu bersikap layaknya dokter ataupun musuh bagi dirinya (ungkapan untuk selalu merasa memiliki penyakit, kesalahan serta kekurangan layaknya pandangan seorang dokter terhadap pasiennya atau pandangan seseorang terhadap musuhnya -pen).

Allah ‘azza wajalla menguji hambanya dengan kebahagiaan, kesusahan, kesempitan, dan kelonggaran. Terkadang Dia menguji mereka dengan hal-hal itu untuk mengankat derajat, meninggikan, serta melipatgandakan pahala mereka. Sebagaimana yang terjadi pada para Nabi dan Rasul ‘alaihim ash-sholatu wassalam, begitu juga yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang shalih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya.”14

Dan terkadang musibah itu terjadi dikaranakan maksiat dan dosa. Maka hal ini adalah hukuman yang yang disegerakan. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan yang banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Pada umumnya, apa yang menimpa seseorang yang kurang ibadahnya dan tidak melaksanakan kewajiban maka disebabkan karena dosanya dan minimnya dia dalam melaksanakan perintah Allah.”15


HARUS BAGAIMANA?

Sikap yang diambil oleh seorang muslim dalam menghadapi musibah adalah selalu merendah diri, introspeksi diri, dan merasa banyak kekurangan. Kemudian dia bertaubat kepada Allah dan memperbanyak istighfar. Allah ‘azza wajalla berfirman,


وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ٣٣
Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara meraka. Dan tidaklah (pula) Allah mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.”16
Kemudian hal yang bisa dilakukan oleh seorang muslim adalah melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang banar dan penuh hikmah. Karena kalau maksiat sudah merajalela di sebuah daerah maka yang terkena musibah bukan hanya pelaku dosa saja, melainkan semua orang yang berada di daerah tersebut. Allah ‘azza wajalla berfirman,


وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaannya.”17
Kemudian bersabar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh menakjupkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar.”18


Rujukan : 

1. QS. An-Nahl: 53
2. QS. Ibrahim: 7
3. QS. An-Nisa: 79
4. HR. Muslim no. 4674
5. QS. Ali Imran: 137-138
6. QS. Ar-Rum: 42
7. QS. At-Taubah: 70
8. Ad-Daa’ Wad-Dawaa’ hal. 64
9. Pencairan tanah atau likuifaksi tanah adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatanakibat adanya tegangan, misal getaran gempa bumi atau perubahan tegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat. Sumber: www.wikipedia.org
10. Ad-Daa’ Wad-Dawaa’ hal. 65
11. QS. Asy-Syura: 30
12. QS. Al-Ankabut: 40
13. Majmu’ Fatawa Ibn Baz, juz 9 hal. 149
14. HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Berkata Syaikh Al-Albani, “Hasan shahih”
15. www.binbaz.org
16. QS. Al-Anfal: 33
17. QS. Al-Anfal: 25
18. HR. Muslim, no. 2999



------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Agus Purwanto
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN


adv/https://prestasiyatim.id|https://1.bp.blogspot.com/-YWyTmyLHDbQ/WZUQw2kwY7I/AAAAAAAAAYo/lBAufTNCUwAgPlKNCcZGt6Gky4zhR-pNACLcBGAs/s1600/aytams%2B-%2BCopy.jpg
adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Seputar Dzulhijjah

qurban/carousel

Program Tauhid.or.id untuk Korban Gempa Lombok

Arsip Artikel Per Bulan

Facebook @Tauhid.or.id

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian