artikel pilihan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan

Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Al Fauzan
Kumpulan Fatwa

Website Pendidikan Anak

Website Pendidikan Anak
kids.tauhid.or.id

Panduan Seputar Bulan Dzulhijjah

Panduan Seputar Bulan Dzulhijjah
Fikih Ibadah Qurban, Haji, Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Panduan Muamalah Tanpa Riba

Panduan Muamalah Tanpa Riba
Seri Artikel Muamalah

Artikel Pilihan

artikel pilihan/module

Landasan Agama

landasan agama/carousel

Ibadah

ibadah/carousel

Muamalah

muamalah/carousel

Keluarga

keluarga/box

Adab & Akhlak

adab & akhlak/carousel

Sirah

sirah/carousel

Artikel Terbaru

AKHLAK KARIMAH

AKHLAK KARIMAH


Agama Islam telah menetapkan suatu kaidah yang berkaitan dengan akhlak, yaitu adanya korelasi yang kuat dan erat antara akhlak dengan keimanan seseorang. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(اكمل المؤمنين ايمانا أحسنهم خلقا (رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح
“Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”[H.R Tirmidzi dia berkata hadist hasan shahih]
Hadits ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan tolak ukur kadar keimanan seseorang. Apabila seseorang terbiasa berhias dengan akhlak-akhlak yang terpuji, ini merupakan tanda yang lahir atas kuatnya kadar keimanan orang tersebut.

Sebaliknya apabila seseorang terbiasa dengan akhlak-akhlak yang buruk dan tercela, ini merupakan tanda yang lahir atas lemahnya keimanan yang ada pada diri orang tersebut.

Akhlak yang tampak pada diri seseorang merupakan refleksi lahir dari batin orang tersebut. Artinya baik buruknya akhlak yang terlihat, maka seperti itulah jati diri batin orang tersebut.

Oleh karena itu adab dan akhlak dalam pandangan islam memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, demikian pula di hadapan Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan di hadapan seluruh makhluk. Namun banyak orang yang mengentengkan masalah ini dan menjadikannya seakan-akan bagian luar dari agama.

Allah ‘azza wajalla dan juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan keutamaan dan balasan bagi orang yang berakhlak dengan akhlak yang baik. Dan sebaliknya ancaman bagi orang yang berakhlak dengan akhlak yang buruk.


***********

KEUTAMAAN DAN BALASAN BAGI ORANG YANG BERAKHLAK DENGAN AKHLAK YANG BAIK


1.) Sebab Diterima Amalan dan Diampuninya Dosa-Dosa


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿٧٠﴾ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴿٧١﴾١
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu” [QS. Al Ahzab: 70-71]
Al-Qaulus Sadiid adalah setiap perkataan yang mengandung kebaikan berupa nasihat, amar makruf nahi mungkar, dan termasuk didalamnya bertutur kata yang manis dan lembut.

Dalam ayat ini Allah ‘azza wa jalla menyebutkan bahwa takwa dan ucapan yang baik merupakan salah satu sebab agar amalan-amalan kita diperbaiki dan juga merupakan jalan agar amalan kita diterima oleh Allah ‘azza wa jalla. Disini digandengkan antara ucapan yang baik dengan ketakwaan, yang menunjukkan bahwa ucapan yang baik dan tutur kata yang manis dan lembut merupakan tanda ketakwaan seseorang.


2.) Lebih baik dari Sedekah yang Diiringi dengan Sesuatu yang Menyakiti Perasaan si Penerima

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّـهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ ﴿٢٦٣﴾ ١
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti” [QS. Al Baqarah: 263]


3.) Sebab Dicintai Allah ‘Azza wajalla


الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤﴾١
“(yaitu) Orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah mereka dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali Imran: 134) Sebaik-baik anugrah yang diberikan


4.) Sebaik-Baik Anugrah yang Diberikan 

Demikian pula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia. Sampai-sampai ketika beliau ditanya tentang sebaik-baik anugerah yang diberikan kepada seseorang, beliau menjawab “Akhlak yang baik”

سئل النبي فقيل له: يا رسول الله ما خيرُ ما أُعطي الانسانُ ؟ قال خلقٌ حسن
“Rasulullah ditanya, Ya Rasulullah, pemberian apakah yang paling baik kepada seseorang? Beliau menjawab: “Akhlak yang baik” [HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Imam Bukhari dari Usamah bin Syarik]


5.) Mendapat Derajat orang yang Berpuasa dan Shalat Malam

Kemudian seseorang bisa jadi tidak diberi kemudahan untuk banyak shalat malam dan puasa, namun bila baik akhlaknya dia bisa menyusul dan mendapatkan derajat orang-orang yang melakukan shalat dan puasa.

(ان المؤمن ليُدركُ بحسن خلُقه درجةَ الصائمِ القائم (رواه ابو داود
“Sesungguhnya seorang mukmin mendapat derajat orang yang berpuasa dan shalat malam dengan sebab baiknya akhlak” [HR. Abu Daud]


6.) Dapat Memberatkan Timbangan Kebaikan

ما من شيئ أثقل فى الميزان من حسن الخلق
“Tidak ada sesuatu yang paling berat timbangannya daripada akhlak yang baik” [HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi]

**********


ANCAMAN DAN CELAAN BAGI ORANG YANG BERAKHLAK YANG BURUK

Disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits, diantaranya adalah Allah ‘azza wa jalla mengutuk iblis dan mengeluarkannya dari Surga akibat akhlaknya yang jelek kepada Allah, yaitu ujub, hasad dan takabur/sombong [QS. Al Hijr: 32-35].


1.) Sebab Mendapatkan Laknat

قَالَ يَٰٓإِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ
قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُۥ مِن صَلْصَٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
قَالَ فَٱخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
وَإِنَّ عَلَيْكَ ٱللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ
Allah berfirman: “Wahai Iblis! Apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama mereka yang sujud itu?” Iblis berkata: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk." Allah berfirman: “(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat” [QS. Al Hijr: 32-35]

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ ١ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ ٢ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ٣ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ٤ فِي جِيدِهَا حَبۡل مِّن مَّسَدِۢ 
Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa.(2)Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.(3)Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.(4)Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar [1].(5)Yang di lehernya ada tali dari sabut. [QS. Al Lahab: 1-5]
[1] Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. Isteri Abu Lahab disebut pembawa kayu bakar karena dia selalu menyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin.


2. Tidak Termasuk Golongan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam


(من حمل علينا السلاح فليس منا، من غشنا فليس منا (مسلم عن أبي هربرة
“Barangsiapa yang membawa pedang atas kami (memerangi kami) maka dia bukan termasuk dari kami, dan barangsiapa yang suka menipu kami maka dia bukan dari kami”


3. Tanda Kefasikan

(سباب المسلم فسوق وقتاله كفر (خ م عن عبد الله ابن مسعود
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran”

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang lain.

Adapun hakikat akhlak yang baik dalam bergaul bersama masyarakat adalah seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Mubarak rahimahullah yaitu:

  1. Wajah yang lapang (tersenyum),
  2. Memberikan kebaikan, dan
  3. Menahan diri dari menyakiti orang [lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no.2005].

Berikut ini penjelasannya:

1.) Tersenyum ketika berjumpa dengan seseorang adalah salah satu bentuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan dapat menimbulkan kasih sayang diantara mereka, disamping pelakunya juga akan mendapatkan pahala. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق
“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski kamu berjumpa dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” [Mukhtashar Shahih Muslim no. 1782]
(تبسمك فى وجه أخيك لك صدقة (الترمذي
 Senyumanmu di wajah saudaramu adalah sedekah [H.R Tirmidzi]
Coba kita berangkat dari sesuatu yang mudah dan tidak membutuhkan modal ini yaitu tersenyum, niscaya kita akan sampai kepada sesuatu yang tinggi. Tetapi jika yang seperti ini saja diremehkan, mana mungkin bisa melakukan yang lebih besar? Kita justru menyaksikan pemandangan yang sebaliknya. Banyak manusia bila berpapasan dengan orang lain bukannya menebar salam dan senyuman, bahkan menampilkan wajah cemberut dan muka yang masam/berpaling.

Bila kita bakhil dengan adab yang seperti ini, adab mana lagi yang akan dijalankan?! Karena sekedar senyum dan bermuka manis adalah sesuatu yang mudah. Maka orang yang mengikuti jalan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Salafush Shalih semestinya tahu bahwa ini merupakan salah satu jalan untuk diterimanya dakwah islam.

Maka jadikanlah orang tertarik dan cinta dengan islam dan jangan membuat mereka lari. Sapalah orang yang berjumpa denganmu dan yang duduk semajelis denganmu, terutama mereka yang baru mengenal dakwah dan mulai tertarik dengan dakwah ini. Jangan bermuka sangar dan seram, karena hal itu akan memudaratkanmu dan memudaratkan kebenaran yang ada pada dirimu.

Ingat bahwa kita diperintah untuk mengambil suri teladan dari Rasulullah, sebagaimana firman-Nya:

(21). لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ الَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو الَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ الَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik pada (diri) Rasulullah bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” [QS. Al Ahzab: 21]
2. Adapun memberikan kebaikan kepada orang maka sangat banyak bentuknya. Adakalanya dengan memberikan materi kepada orang yang membutuhkan, atau menyumbangkan tenaga, pikiran, dan saran, atau apa saja yang bisa kita suguhkan dalam rangka mewujudkan maslahat bersama.

أحب الناس الى الله تعالى أنفعهم للناس، وأحب الأعمال الى الله عز وجل سرورٌ يُدخله على مسلم أو يكشف عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينا أو يطرد عنه جُوعا
“Orang yang paling dicintai disisi Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia dan amalan yang paling dicintai disisi Allah adalah memberikan kegembiraan kepada seorang muslim, atau menghilangkan kesusahannya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan kelaparan darinya.“
ولأن أمشي مع أخٍ فى حاجةٍ أحب الي من أن أعتكف فى هذا المسجد شهرا
“Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk menyelesaikan kebutuhannya lebih aku sukai dari beriktikaf di masjidku ini selama sebulan lamanya.“
ومن كف غضبه ستره الله عورته ومن كظم غيظَه ولو شاء أن يمضيَه أمضاه ملأ الله قلبه رجاء يوم القيامة
“Dan barangsiapa yang menahan amarahnya, Allah akan tutupi auratnya (keburukannya), dan barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melaksanakannya, Allah akan memenuhi hatinya dengan Roja’ (harapan) pada Hari Kiamat.“
ومن مشى مع أخيه فى حاجة حتى تتهيّأ له أثبت الله قدمَه يوم تزولُ الأ قدام
“dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya sampai terpenuhi, Allah akan kokohkan kakinya pada hari banyak kaki terpeleset (ke dalam Neraka).“
وانّ سوءَ الخلق يفسد العمل كما يفسد الخلُّ العسلَ
“dan sesungguhnya akhlak yang buruk dapat merusak amal sebagaimana cuka dapat merusak madu.” [HR. Ibnu Abi Dunya]
Memang manusia pada umumnya memiliki sifat egois dan mementingkan diri sendiri. Namun watak yang tercela ini bukan berarti tidak bisa diobati. Dengan membaca kisah-kisah teladan yang ada dalam Al Quran, hadits, dan kitab-kitab sejarah para ulama Islam adalah salah satu jalan untuk seseorang bisa meninggalkan sifat egois.

Misalnya kisah Nabi Musa ‘alaihissalam ketika beliau lari dari Mesir, saat Fir’aun dan pasukannya hendak membunuhnya. Beliau berjalan kaki berhari-hari dengan rasa lapar yang luar biasa dan keletihan yang tiada tara. Sesampainya di Madyan, beliau melihat sekelompok manusia tengah memberi minum ternaknya. Di sana ada pula dua wanita penggembala yang tidak ikut berdesakan memberi minum ternaknya.

Watak baik Nabi musa ‘alaihissalam mendorongnya untuk membantu dua wanita yang lemah tadi untuk memberi minum ternak mereka, meski tubuhnya letih, pikirannya capai, dan perutnya kosong, dibantunya dua wanita tadi tanpa meminta upah sedikitpun, padahal kondisinya sangat membutuhkan.
Demikian pula pada masa Khalifah Abu Bakar As-Shidiq radhiallahu ‘anhu ketika manusia ditimpa kekeringan dan paceklik. Tatkala kondisi semakin parah, mereka datang kepada Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan mengatakan: “Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan tanah tidak bisa tumbuh, sementara manusia memperkirakan akan binasa, lalu apa yang harus kita lakukan?”

Abu Bakar mengatakan: “Beranjaklah kalian dan bersabarlah! Sungguh aku berharap kalian tidak sampai memasuki sore melainkan Allah akan melepaskan derita kalian.”
Tatkala sore telah tiba, datang berita bahwa unta Utsman radhiallahu ‘anhu telah datang dari Syam dan akan sampai Madinah besok pagi. Tatkala telah sampai, manusia keluar untuk menyambutnya. Ternyata ada seribu unta yang membawa gandum, minyak dan kismis, lalu berhenti di depan rumah Utsman.

Para pedagang mendatanginya dengan mengatakan: “Juallah barang ini kepada kami, karena kamu tahu manusia sangat membutuhkan-nya!”
Utsman berkata: “Dengan penuh kecintaan. Berapa kalian mau memberi untung barang daganganku?”
Mereka mengatakan: “Setiap kamu beli satu dirham kami membeli darimu dua dirham.”
Utsman berkata: “Ada yang berani memberi untung kepadaku lebih dari ini?”
Mereka berkata: “Kami beli empat dirham.”
Utsman mengatakan: “Ada yang berani lebih dari ini?”
Mereka mengatakan: “Lima dirham.”
Utsman mengatakan: “Ada yang berani lebih dari ini?”
Mereka mengatakan: “Wahai Abu Amr (Utsman) tidak ada di Madinah para pedagang selain kami. Siapa lagi yang akan bisa membeli dengan harga ini?”
Utsman berkata: “Sesungguhnya Allah telah memberi untung kepadaku 10 setiap 1 dirham. Apakah kalian bisa lebih?”
Mereka mengatakan: “Tidak”
Utsman berkata: “Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksi bahwa aku telah menjadikan seluruh yang dibawa unta-unta ini adalah sedekah untuk orang-orang fakir miskin dan yang membutuhkan”
Ya, Utsman telah menjualnya kepada Allah dengan laba yang tidak bisa dihitung oleh manusia. [Al-Khulafa Ar-Rasyidun wa daulah Umawiyah hal: 75-76].

Masih adakah orang-orang seperti Utsman radhiallahu ‘anhu dan para pedagang tadi yang bersegera untuk melepaskan krisis yang hampir menelan banyak korban, tanpa mereka mencari keuntungan duniawi sedikitpun?

Padahal kalau mereka ingin memanfaatkan kesempatan, niscaya mereka akan meraup keuntungan sebesar-besarnya. Namun keinginan untuk mendapat pahala dari Allah ‘azza wa jalla dan tertanamnya sifat belas kasih menghalangi mereka dari nafsu serakah.

Apakah kiranya para saudagar kaya bisa mengambil pelajaran dari ini?! Atau bahkan mereka akan tetap larut diatas kerakusan mereka serta menari-nari diatas penderitaan umat? Hanya kepada Allah kita adukan nasib kita ini.


3.) Sedangkan yang ketiga adalah menghindarkan diri dari menyakiti orang lain.

(والله لا يؤمن 3× قيل من يارسول الله؟ قال: الذي لايأمن جارُه بوائقَه.(خم
“Demi Allah tidaklah dia beriman (3x). Rasulullah ditanya: “Siapakah dia Ya Rasulullah?” Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya“

لأن يسرق من عشرة ابيات ايسر عليه من ان يسرق من بيت جاره، لأن يزني الرجل بعشرة نسوة ايسر عليه من ان يزني بامرأة جاره
“Seseorang mencuri dari sepuluh rumah itu masih lebih ringan baginya daripada mencuri dari rumah tetangganya. Seseorang berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan baginya daripada berzina dengan istri tetangganya.” [HR. Bukhari dari Miqdad bin Al-Aswad]
من ظلم قيد شبر من الأرض طوقه من سبع ارضين
“Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah milik orang lain secara zalim, maka akan dikalungkan pada lehernya 7 lapis bumi.” [HR. Bukhari Muslim]
Orang yang dizalimi tidak ditolak doanya baik dia seorang muslim ataupun seorang kafir. Dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang derajatnya hasan disebutkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اتقوا دعوة المظلوم وان كان كافرا فانه ليس دونها حجاب
“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi meskipun dia seorang kafir, sebab tidak ada dinding penghalang padanya.“


4.) Kemudian termasuk akhlak yang baik adalah menjaga amanah.

Allah ‘azza wajalla memerintahkan kita untuk menunaikan amanah.

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” [QS. An-Nisa: 58]
Konsekuensi dari perintah untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya adalah perintah untuk menjaganya dengan penjagaan yang ketat, sehingga bisa menunaikannya kepada yang berhak untuk menerimanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang sifat-sifat orang munafik:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ : اِذَا حَدَّثَ كَذَّبَ، وَاِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَاِذَا اْؤتُمِنَ خَانَ (البخاري و مسلم) وفى رواية: وان صام وصلى وزعم انه مسلم
“Bukti/tanda orang munafiq ada tiga: Jika berbicara ia suka berdusta, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” [HR. Bukhari Muslim]
Dalam sebuah riwayat disebutkan:

“Meskipun ia berpuasa, mengerjakan shalat dan mengaku sebagai muslim.“ Pembatasan pada 3 tanda tersebut, sebab ketiganya sudah cukup untuk mengingatkan tanda-tanda lainnya yang menunjukkan kerusakan dalam perkara yang lainnya juga.

Pangkal agama itu terbatas pada tiga hal, yaitu ucapan, perbuatan, dan niat. Dalam hadits ini disebutkan bahwa kerusakan ucapan itu terletak pada dusta/ suka berbohong, kerusakan perbuatan terletak pada pengkhianatan, dan kerusakan niat terletak pada pengingkaran.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan taufik-Nya kepada kita semua agar dapat menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan dijauhkan dari seluruh akhlak yang hina dan tercela.



Wallahu waliyyut Taufiq



_______________________

Ditulis Oleh Ustadz Abdullah Sya'roni
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN



Agama Islam telah menetapkan suatu kaidah yang berkaitan dengan akhlak, yaitu adanya korelasi yang kuat dan erat antara akhlak dengan keimanan seseorang. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(اكمل المؤمنين ايمانا أحسنهم خلقا (رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح
“Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”[H.R Tirmidzi dia berkata hadist hasan shahih]
Hadits ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan tolak ukur kadar keimanan seseorang. Apabila seseorang terbiasa berhias dengan akhlak-akhlak yang terpuji, ini merupakan tanda yang lahir atas kuatnya kadar keimanan orang tersebut.

Sebaliknya apabila seseorang terbiasa dengan akhlak-akhlak yang buruk dan tercela, ini merupakan tanda yang lahir atas lemahnya keimanan yang ada pada diri orang tersebut.

Akhlak yang tampak pada diri seseorang merupakan refleksi lahir dari batin orang tersebut. Artinya baik buruknya akhlak yang terlihat, maka seperti itulah jati diri batin orang tersebut.

Oleh karena itu adab dan akhlak dalam pandangan islam memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, demikian pula di hadapan Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan di hadapan seluruh makhluk. Namun banyak orang yang mengentengkan masalah ini dan menjadikannya seakan-akan bagian luar dari agama.

Allah ‘azza wajalla dan juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan keutamaan dan balasan bagi orang yang berakhlak dengan akhlak yang baik. Dan sebaliknya ancaman bagi orang yang berakhlak dengan akhlak yang buruk.


***********

KEUTAMAAN DAN BALASAN BAGI ORANG YANG BERAKHLAK DENGAN AKHLAK YANG BAIK


1.) Sebab Diterima Amalan dan Diampuninya Dosa-Dosa


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿٧٠﴾ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴿٧١﴾١
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu” [QS. Al Ahzab: 70-71]
Al-Qaulus Sadiid adalah setiap perkataan yang mengandung kebaikan berupa nasihat, amar makruf nahi mungkar, dan termasuk didalamnya bertutur kata yang manis dan lembut.

Dalam ayat ini Allah ‘azza wa jalla menyebutkan bahwa takwa dan ucapan yang baik merupakan salah satu sebab agar amalan-amalan kita diperbaiki dan juga merupakan jalan agar amalan kita diterima oleh Allah ‘azza wa jalla. Disini digandengkan antara ucapan yang baik dengan ketakwaan, yang menunjukkan bahwa ucapan yang baik dan tutur kata yang manis dan lembut merupakan tanda ketakwaan seseorang.


2.) Lebih baik dari Sedekah yang Diiringi dengan Sesuatu yang Menyakiti Perasaan si Penerima

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّـهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ ﴿٢٦٣﴾ ١
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti” [QS. Al Baqarah: 263]


3.) Sebab Dicintai Allah ‘Azza wajalla


الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤﴾١
“(yaitu) Orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah mereka dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali Imran: 134) Sebaik-baik anugrah yang diberikan


4.) Sebaik-Baik Anugrah yang Diberikan 

Demikian pula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia. Sampai-sampai ketika beliau ditanya tentang sebaik-baik anugerah yang diberikan kepada seseorang, beliau menjawab “Akhlak yang baik”

سئل النبي فقيل له: يا رسول الله ما خيرُ ما أُعطي الانسانُ ؟ قال خلقٌ حسن
“Rasulullah ditanya, Ya Rasulullah, pemberian apakah yang paling baik kepada seseorang? Beliau menjawab: “Akhlak yang baik” [HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Imam Bukhari dari Usamah bin Syarik]


5.) Mendapat Derajat orang yang Berpuasa dan Shalat Malam

Kemudian seseorang bisa jadi tidak diberi kemudahan untuk banyak shalat malam dan puasa, namun bila baik akhlaknya dia bisa menyusul dan mendapatkan derajat orang-orang yang melakukan shalat dan puasa.

(ان المؤمن ليُدركُ بحسن خلُقه درجةَ الصائمِ القائم (رواه ابو داود
“Sesungguhnya seorang mukmin mendapat derajat orang yang berpuasa dan shalat malam dengan sebab baiknya akhlak” [HR. Abu Daud]


6.) Dapat Memberatkan Timbangan Kebaikan

ما من شيئ أثقل فى الميزان من حسن الخلق
“Tidak ada sesuatu yang paling berat timbangannya daripada akhlak yang baik” [HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi]

**********


ANCAMAN DAN CELAAN BAGI ORANG YANG BERAKHLAK YANG BURUK

Disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits, diantaranya adalah Allah ‘azza wa jalla mengutuk iblis dan mengeluarkannya dari Surga akibat akhlaknya yang jelek kepada Allah, yaitu ujub, hasad dan takabur/sombong [QS. Al Hijr: 32-35].


1.) Sebab Mendapatkan Laknat

قَالَ يَٰٓإِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ
قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُۥ مِن صَلْصَٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
قَالَ فَٱخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
وَإِنَّ عَلَيْكَ ٱللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ
Allah berfirman: “Wahai Iblis! Apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama mereka yang sujud itu?” Iblis berkata: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk." Allah berfirman: “(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat” [QS. Al Hijr: 32-35]

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ ١ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ ٢ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ٣ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ٤ فِي جِيدِهَا حَبۡل مِّن مَّسَدِۢ 
Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa.(2)Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.(3)Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.(4)Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar [1].(5)Yang di lehernya ada tali dari sabut. [QS. Al Lahab: 1-5]
[1] Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. Isteri Abu Lahab disebut pembawa kayu bakar karena dia selalu menyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin.


2. Tidak Termasuk Golongan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam


(من حمل علينا السلاح فليس منا، من غشنا فليس منا (مسلم عن أبي هربرة
“Barangsiapa yang membawa pedang atas kami (memerangi kami) maka dia bukan termasuk dari kami, dan barangsiapa yang suka menipu kami maka dia bukan dari kami”


3. Tanda Kefasikan

(سباب المسلم فسوق وقتاله كفر (خ م عن عبد الله ابن مسعود
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran”

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang lain.

Adapun hakikat akhlak yang baik dalam bergaul bersama masyarakat adalah seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Mubarak rahimahullah yaitu:

  1. Wajah yang lapang (tersenyum),
  2. Memberikan kebaikan, dan
  3. Menahan diri dari menyakiti orang [lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no.2005].

Berikut ini penjelasannya:

1.) Tersenyum ketika berjumpa dengan seseorang adalah salah satu bentuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan dapat menimbulkan kasih sayang diantara mereka, disamping pelakunya juga akan mendapatkan pahala. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق
“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski kamu berjumpa dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” [Mukhtashar Shahih Muslim no. 1782]
(تبسمك فى وجه أخيك لك صدقة (الترمذي
 Senyumanmu di wajah saudaramu adalah sedekah [H.R Tirmidzi]
Coba kita berangkat dari sesuatu yang mudah dan tidak membutuhkan modal ini yaitu tersenyum, niscaya kita akan sampai kepada sesuatu yang tinggi. Tetapi jika yang seperti ini saja diremehkan, mana mungkin bisa melakukan yang lebih besar? Kita justru menyaksikan pemandangan yang sebaliknya. Banyak manusia bila berpapasan dengan orang lain bukannya menebar salam dan senyuman, bahkan menampilkan wajah cemberut dan muka yang masam/berpaling.

Bila kita bakhil dengan adab yang seperti ini, adab mana lagi yang akan dijalankan?! Karena sekedar senyum dan bermuka manis adalah sesuatu yang mudah. Maka orang yang mengikuti jalan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Salafush Shalih semestinya tahu bahwa ini merupakan salah satu jalan untuk diterimanya dakwah islam.

Maka jadikanlah orang tertarik dan cinta dengan islam dan jangan membuat mereka lari. Sapalah orang yang berjumpa denganmu dan yang duduk semajelis denganmu, terutama mereka yang baru mengenal dakwah dan mulai tertarik dengan dakwah ini. Jangan bermuka sangar dan seram, karena hal itu akan memudaratkanmu dan memudaratkan kebenaran yang ada pada dirimu.

Ingat bahwa kita diperintah untuk mengambil suri teladan dari Rasulullah, sebagaimana firman-Nya:

(21). لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ الَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو الَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ الَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik pada (diri) Rasulullah bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” [QS. Al Ahzab: 21]
2. Adapun memberikan kebaikan kepada orang maka sangat banyak bentuknya. Adakalanya dengan memberikan materi kepada orang yang membutuhkan, atau menyumbangkan tenaga, pikiran, dan saran, atau apa saja yang bisa kita suguhkan dalam rangka mewujudkan maslahat bersama.

أحب الناس الى الله تعالى أنفعهم للناس، وأحب الأعمال الى الله عز وجل سرورٌ يُدخله على مسلم أو يكشف عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينا أو يطرد عنه جُوعا
“Orang yang paling dicintai disisi Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia dan amalan yang paling dicintai disisi Allah adalah memberikan kegembiraan kepada seorang muslim, atau menghilangkan kesusahannya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan kelaparan darinya.“
ولأن أمشي مع أخٍ فى حاجةٍ أحب الي من أن أعتكف فى هذا المسجد شهرا
“Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk menyelesaikan kebutuhannya lebih aku sukai dari beriktikaf di masjidku ini selama sebulan lamanya.“
ومن كف غضبه ستره الله عورته ومن كظم غيظَه ولو شاء أن يمضيَه أمضاه ملأ الله قلبه رجاء يوم القيامة
“Dan barangsiapa yang menahan amarahnya, Allah akan tutupi auratnya (keburukannya), dan barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melaksanakannya, Allah akan memenuhi hatinya dengan Roja’ (harapan) pada Hari Kiamat.“
ومن مشى مع أخيه فى حاجة حتى تتهيّأ له أثبت الله قدمَه يوم تزولُ الأ قدام
“dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya sampai terpenuhi, Allah akan kokohkan kakinya pada hari banyak kaki terpeleset (ke dalam Neraka).“
وانّ سوءَ الخلق يفسد العمل كما يفسد الخلُّ العسلَ
“dan sesungguhnya akhlak yang buruk dapat merusak amal sebagaimana cuka dapat merusak madu.” [HR. Ibnu Abi Dunya]
Memang manusia pada umumnya memiliki sifat egois dan mementingkan diri sendiri. Namun watak yang tercela ini bukan berarti tidak bisa diobati. Dengan membaca kisah-kisah teladan yang ada dalam Al Quran, hadits, dan kitab-kitab sejarah para ulama Islam adalah salah satu jalan untuk seseorang bisa meninggalkan sifat egois.

Misalnya kisah Nabi Musa ‘alaihissalam ketika beliau lari dari Mesir, saat Fir’aun dan pasukannya hendak membunuhnya. Beliau berjalan kaki berhari-hari dengan rasa lapar yang luar biasa dan keletihan yang tiada tara. Sesampainya di Madyan, beliau melihat sekelompok manusia tengah memberi minum ternaknya. Di sana ada pula dua wanita penggembala yang tidak ikut berdesakan memberi minum ternaknya.

Watak baik Nabi musa ‘alaihissalam mendorongnya untuk membantu dua wanita yang lemah tadi untuk memberi minum ternak mereka, meski tubuhnya letih, pikirannya capai, dan perutnya kosong, dibantunya dua wanita tadi tanpa meminta upah sedikitpun, padahal kondisinya sangat membutuhkan.
Demikian pula pada masa Khalifah Abu Bakar As-Shidiq radhiallahu ‘anhu ketika manusia ditimpa kekeringan dan paceklik. Tatkala kondisi semakin parah, mereka datang kepada Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan mengatakan: “Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan tanah tidak bisa tumbuh, sementara manusia memperkirakan akan binasa, lalu apa yang harus kita lakukan?”

Abu Bakar mengatakan: “Beranjaklah kalian dan bersabarlah! Sungguh aku berharap kalian tidak sampai memasuki sore melainkan Allah akan melepaskan derita kalian.”
Tatkala sore telah tiba, datang berita bahwa unta Utsman radhiallahu ‘anhu telah datang dari Syam dan akan sampai Madinah besok pagi. Tatkala telah sampai, manusia keluar untuk menyambutnya. Ternyata ada seribu unta yang membawa gandum, minyak dan kismis, lalu berhenti di depan rumah Utsman.

Para pedagang mendatanginya dengan mengatakan: “Juallah barang ini kepada kami, karena kamu tahu manusia sangat membutuhkan-nya!”
Utsman berkata: “Dengan penuh kecintaan. Berapa kalian mau memberi untung barang daganganku?”
Mereka mengatakan: “Setiap kamu beli satu dirham kami membeli darimu dua dirham.”
Utsman berkata: “Ada yang berani memberi untung kepadaku lebih dari ini?”
Mereka berkata: “Kami beli empat dirham.”
Utsman mengatakan: “Ada yang berani lebih dari ini?”
Mereka mengatakan: “Lima dirham.”
Utsman mengatakan: “Ada yang berani lebih dari ini?”
Mereka mengatakan: “Wahai Abu Amr (Utsman) tidak ada di Madinah para pedagang selain kami. Siapa lagi yang akan bisa membeli dengan harga ini?”
Utsman berkata: “Sesungguhnya Allah telah memberi untung kepadaku 10 setiap 1 dirham. Apakah kalian bisa lebih?”
Mereka mengatakan: “Tidak”
Utsman berkata: “Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksi bahwa aku telah menjadikan seluruh yang dibawa unta-unta ini adalah sedekah untuk orang-orang fakir miskin dan yang membutuhkan”
Ya, Utsman telah menjualnya kepada Allah dengan laba yang tidak bisa dihitung oleh manusia. [Al-Khulafa Ar-Rasyidun wa daulah Umawiyah hal: 75-76].

Masih adakah orang-orang seperti Utsman radhiallahu ‘anhu dan para pedagang tadi yang bersegera untuk melepaskan krisis yang hampir menelan banyak korban, tanpa mereka mencari keuntungan duniawi sedikitpun?

Padahal kalau mereka ingin memanfaatkan kesempatan, niscaya mereka akan meraup keuntungan sebesar-besarnya. Namun keinginan untuk mendapat pahala dari Allah ‘azza wa jalla dan tertanamnya sifat belas kasih menghalangi mereka dari nafsu serakah.

Apakah kiranya para saudagar kaya bisa mengambil pelajaran dari ini?! Atau bahkan mereka akan tetap larut diatas kerakusan mereka serta menari-nari diatas penderitaan umat? Hanya kepada Allah kita adukan nasib kita ini.


3.) Sedangkan yang ketiga adalah menghindarkan diri dari menyakiti orang lain.

(والله لا يؤمن 3× قيل من يارسول الله؟ قال: الذي لايأمن جارُه بوائقَه.(خم
“Demi Allah tidaklah dia beriman (3x). Rasulullah ditanya: “Siapakah dia Ya Rasulullah?” Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya“

لأن يسرق من عشرة ابيات ايسر عليه من ان يسرق من بيت جاره، لأن يزني الرجل بعشرة نسوة ايسر عليه من ان يزني بامرأة جاره
“Seseorang mencuri dari sepuluh rumah itu masih lebih ringan baginya daripada mencuri dari rumah tetangganya. Seseorang berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan baginya daripada berzina dengan istri tetangganya.” [HR. Bukhari dari Miqdad bin Al-Aswad]
من ظلم قيد شبر من الأرض طوقه من سبع ارضين
“Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah milik orang lain secara zalim, maka akan dikalungkan pada lehernya 7 lapis bumi.” [HR. Bukhari Muslim]
Orang yang dizalimi tidak ditolak doanya baik dia seorang muslim ataupun seorang kafir. Dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang derajatnya hasan disebutkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اتقوا دعوة المظلوم وان كان كافرا فانه ليس دونها حجاب
“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi meskipun dia seorang kafir, sebab tidak ada dinding penghalang padanya.“


4.) Kemudian termasuk akhlak yang baik adalah menjaga amanah.

Allah ‘azza wajalla memerintahkan kita untuk menunaikan amanah.

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” [QS. An-Nisa: 58]
Konsekuensi dari perintah untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya adalah perintah untuk menjaganya dengan penjagaan yang ketat, sehingga bisa menunaikannya kepada yang berhak untuk menerimanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang sifat-sifat orang munafik:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ : اِذَا حَدَّثَ كَذَّبَ، وَاِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَاِذَا اْؤتُمِنَ خَانَ (البخاري و مسلم) وفى رواية: وان صام وصلى وزعم انه مسلم
“Bukti/tanda orang munafiq ada tiga: Jika berbicara ia suka berdusta, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” [HR. Bukhari Muslim]
Dalam sebuah riwayat disebutkan:

“Meskipun ia berpuasa, mengerjakan shalat dan mengaku sebagai muslim.“ Pembatasan pada 3 tanda tersebut, sebab ketiganya sudah cukup untuk mengingatkan tanda-tanda lainnya yang menunjukkan kerusakan dalam perkara yang lainnya juga.

Pangkal agama itu terbatas pada tiga hal, yaitu ucapan, perbuatan, dan niat. Dalam hadits ini disebutkan bahwa kerusakan ucapan itu terletak pada dusta/ suka berbohong, kerusakan perbuatan terletak pada pengkhianatan, dan kerusakan niat terletak pada pengingkaran.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan taufik-Nya kepada kita semua agar dapat menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan dijauhkan dari seluruh akhlak yang hina dan tercela.



Wallahu waliyyut Taufiq



_______________________

Ditulis Oleh Ustadz Abdullah Sya'roni
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN


RINGKASAN BEBERAPA PERMASALAHAN TERKAIT PUASA SYAWAL

RINGKASAN BEBERAPA PERMASALAHAN TERKAIT PUASA SYAWAL


 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshori radhiyallahu’anhu]

 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan maka itu satu bulan yang dilipatgandakan pahalanya seperti sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah idul fitri (dilipatgandakan sepuluh kali menjadi 60 hari atau 2 bulan) maka dengan itu menjadi sempurna satu tahun.” [HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu]


BEBERAPA PERMASALAHAN


1) Puasa Syawwal adalah Tanda Diterimanya Puasa Ramadhan

Orang yang diberikan taufiq untuk berpuasa Syawwal adalah tanda puasa Ramadhan yang ia kerjakan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,


أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنةالحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها
“Bahwa membiasakan puasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan, karena sesungguhnya Allah apabila menerima amalan seorang hamba, maka Allah memberikan kemampuan kepadanya untuk beramal shalih lagi setelahnya, sebagaimana kata sebagian ulama: Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya, barangsiapa melakukan suatu kebaikan kemudian ia susul dengan kebaikan yang lain maka itu adalah tanda diterimanya amal kebaikannya yang sebelumnya, sebagaimana orang yang melakukan kebaikan kemudian ia susul dengan kejelekan maka itu adalah tanda ditolaknya kebaikan yang telah ia kerjakan dan tidak diterima.” [Lathooiful Ma’aarif: 244]


*****

2) Urgensi Puasa Syawwal

Puasa sunnah Syawwal disyari’atkan untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan puasa Ramadhan yang dikerjakan oleh seorang hamba. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,


فإن صيام ستة أيام من شوال بمنزلة الراتبة للصلاة التي تكون بعدها ليكمل بها ما حصل من نقص في الفريضة ومن حكمة الله تعالى ورحمته أنه جعل للفرائض سنناً تكمل بها وترقع بها
“Sesungguhnya puasa 6 hari di bulan Syawwal seperti sholat sunnah rawatib yang dilakukan setelah sholat wajib untuk menyempurnakan kekurangan dalam sholat wajib. Dan diantara hikmah Allah ta’ala serta rahmat-Nya, Dia menetapkan amalan-amalan sunnah untuk menyempurnakan amalan-amalan wajib dan menutupi kekurangan-kekurangannya.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 11/2]


*****

3) Hikmah Puasa Syawwal

Puasa sunnah Syawwal juga disyari’atkan dalam rangka membentengi diri dari tipuan setan terhadap hamba yang telah beribadah di bulan Ramadhan. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,


بعد شهر رمضان وبعد أن أدى المسلمون ما أدوا فيه من عبادة الله قد يلحق بعض الناس الفتور عن الأعمال الصالحة؛ لأن الشيطان يتربص بعباد الله الدوائر ويقعد لهم بكل صراط، وقد أقسم أن يأتي بني آدم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمانهم وعن شمائلهم وقال: {لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ} [الأعراف:16] ولكن العاقل إذا تبصر واعتبر علم أنه لا انقطاع للعمل الصالح إلا بالموت، لقول الله تعالى: {وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} [الحجر:99]
“Setelah bulan Ramadhan dan setelah kaum muslimin mengerjakan sejumlah ibadah kepada Allah di bulan itu, bisa jadi sebagian manusia melemah semangatnya untuk beramal shalih. Karena setan selalu menunggu kesempatan untuk dapat menjerumuskan hamba-hamba Allah dan menghalangi mereka dari jalan yang lurus dengan segala cara, dan sungguh ia telah bersumpah untuk mendatangi anak Adam dari arah depan, belakang, kanan dan kiri seraya berkata:


لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
“Sungguh aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (Al-A’raf: 16)

Akan tetapi orang yang berakal, apabila ia melihat dengan ilmu dan mengambil pelajaran maka ia pun mengetahui bahwa tidak boleh putus amal shalih kecuali dengan kematian, berdasarkan firman Allah ta’ala:


وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (Al-Hijr: 99).” [Liqo’Al-Baabil Maftuh no. 86]


*****

4) Hukum Puasa Syawwal

Puasa 6 hari di bulan Syawwal hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama, kecuali dinukil dari Al-Imam Malik rahimahullah bahwa beliau tidak berpendapat sunnahnya, dan pendapat beliau tertolak dengan adanya hadits di atas yang mungkin belum sampai kepada beliau.[1]


*****

5) Kapan Waktu Awal dan Akhir Puasa Syawwal?

Puasa Syawwal dapat dimulai sejak tanggal 2 Syawwal sampai berakhir bulan Syawwal, dan boleh dikerjakan secara berurutan maupun terpisah.[2]


*****

6) Dahulukan Meng-qodho’ Puasa Ramadhan Sebelum Berpuasa Syawwal

Bagi yang memiliki hutang puasa Ramadhan hendaklah ia meng-qodho’-nya terlebih dahulu sebelum berpuasa sunnah Syawwal, karena yang wajib hendaklah didahulukan daripada yang sunnah dan karena dalam hadits disebutkan barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu ia ikutkan dengan puasa Syawwal, bukan berpuasa sebagian Ramadhan saja.[3]


*****

7) Hukum Qodho’ Ramadhan Setelah Puasa Sunnah Syawwal

Bagi yang terlanjur berpuasa sunnah sebelum meng-qodho’ hutang puasa wajib Ramadhan maka ia telah salah karena yang wajib lebih utama didahulukan dan ia tidak mendapatkan pahala puasa setahun penuh karena ia hanya berpuasa sebagian Ramadhan, namun demikian puasa qodho’ yang ia lakukan setelah puasa Syawwal tetap sah.[4]


*****

8) Bolehkah Berniat Puasa Syawwal dan Qodho’ Puasa Ramadhan Sekaligus?

Tidak dibenarkan berniat puasa qodho’ dan puasa sunnah Syawwal sekaligus, karena keduanya adalah ibadah tersendiri.[5]


*****

9) Permasalahan Niat dalam Puasa Sunnah Muthlaq dan Muqoyyad

Puasa sunnah ada dua bentuk:
  1. Muthlaq (umum, tanpa terikat waktu dan sebab tertentu),
  2. Muqoyyad (terikat waktu dan sebab tertentu seperti puasa Senin Kamis dan puasa 6 hari di bulan Syawwal).
Maka yang pertama tidak disyaratkan berniat sejak malam harinya, boleh berniat di pagi hari asalkan belum melakukan pembatal puasa. Adapun yang kedua harus diniatkan sejak malam hari sebelum terbit fajar untuk mendapatkan pahala penuhnya, sebab hitungan satu hari adalah sejak terbit fajar, jika seseorang berniat setelah terbit fajar maka tidak terhitung satu hari.[6]


*****

10) Tentang Meng-qodho’ Puasa Syawwal

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berpendapat tidak ada qodho’ untuk puasa Syawwal, baik ditinggalkan dengan udzur maupun tanpa udzur, karena puasa Syawwal terkait waktu, apabila waktunya telah berlalu maka tidak lagi disyari’atkan.[7]

Adapun Asy-Syaikh Ibnul ‘Utaimin rahimahullah berpendapat boleh meng-qodho’ puasa sunnah Syawwal setelah berakhir bulan Syawwal, dengan syarat ada udzur syar’i ketika meninggalkannya, seperti safar, sakit atau meng-qodho’ puasa wajib. Inilah pendapat yang lebih kuat insya Allah, karena sebagaimana puasa Ramadhan dapat di-qodho’ apabila ditinggalkan dengan udzur syar’i maka demikian pula puasa Syawwal.[8]



وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


————————-

[1] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/389 no. 4763.
[2] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/391 no. 3475.
[3] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/392 no. 2264.
[4] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/382 no. 2232.
[5] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/383 no. 6497.
[6] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaiminrahimahullah, 19/185.
[7] Lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, 15/388 no. 146.
[8] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/467

------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshori radhiyallahu’anhu]

 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan maka itu satu bulan yang dilipatgandakan pahalanya seperti sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah idul fitri (dilipatgandakan sepuluh kali menjadi 60 hari atau 2 bulan) maka dengan itu menjadi sempurna satu tahun.” [HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu]


BEBERAPA PERMASALAHAN


1) Puasa Syawwal adalah Tanda Diterimanya Puasa Ramadhan

Orang yang diberikan taufiq untuk berpuasa Syawwal adalah tanda puasa Ramadhan yang ia kerjakan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,


أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنةالحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها
“Bahwa membiasakan puasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan, karena sesungguhnya Allah apabila menerima amalan seorang hamba, maka Allah memberikan kemampuan kepadanya untuk beramal shalih lagi setelahnya, sebagaimana kata sebagian ulama: Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya, barangsiapa melakukan suatu kebaikan kemudian ia susul dengan kebaikan yang lain maka itu adalah tanda diterimanya amal kebaikannya yang sebelumnya, sebagaimana orang yang melakukan kebaikan kemudian ia susul dengan kejelekan maka itu adalah tanda ditolaknya kebaikan yang telah ia kerjakan dan tidak diterima.” [Lathooiful Ma’aarif: 244]


*****

2) Urgensi Puasa Syawwal

Puasa sunnah Syawwal disyari’atkan untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan puasa Ramadhan yang dikerjakan oleh seorang hamba. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,


فإن صيام ستة أيام من شوال بمنزلة الراتبة للصلاة التي تكون بعدها ليكمل بها ما حصل من نقص في الفريضة ومن حكمة الله تعالى ورحمته أنه جعل للفرائض سنناً تكمل بها وترقع بها
“Sesungguhnya puasa 6 hari di bulan Syawwal seperti sholat sunnah rawatib yang dilakukan setelah sholat wajib untuk menyempurnakan kekurangan dalam sholat wajib. Dan diantara hikmah Allah ta’ala serta rahmat-Nya, Dia menetapkan amalan-amalan sunnah untuk menyempurnakan amalan-amalan wajib dan menutupi kekurangan-kekurangannya.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 11/2]


*****

3) Hikmah Puasa Syawwal

Puasa sunnah Syawwal juga disyari’atkan dalam rangka membentengi diri dari tipuan setan terhadap hamba yang telah beribadah di bulan Ramadhan. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,


بعد شهر رمضان وبعد أن أدى المسلمون ما أدوا فيه من عبادة الله قد يلحق بعض الناس الفتور عن الأعمال الصالحة؛ لأن الشيطان يتربص بعباد الله الدوائر ويقعد لهم بكل صراط، وقد أقسم أن يأتي بني آدم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمانهم وعن شمائلهم وقال: {لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ} [الأعراف:16] ولكن العاقل إذا تبصر واعتبر علم أنه لا انقطاع للعمل الصالح إلا بالموت، لقول الله تعالى: {وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} [الحجر:99]
“Setelah bulan Ramadhan dan setelah kaum muslimin mengerjakan sejumlah ibadah kepada Allah di bulan itu, bisa jadi sebagian manusia melemah semangatnya untuk beramal shalih. Karena setan selalu menunggu kesempatan untuk dapat menjerumuskan hamba-hamba Allah dan menghalangi mereka dari jalan yang lurus dengan segala cara, dan sungguh ia telah bersumpah untuk mendatangi anak Adam dari arah depan, belakang, kanan dan kiri seraya berkata:


لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
“Sungguh aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (Al-A’raf: 16)

Akan tetapi orang yang berakal, apabila ia melihat dengan ilmu dan mengambil pelajaran maka ia pun mengetahui bahwa tidak boleh putus amal shalih kecuali dengan kematian, berdasarkan firman Allah ta’ala:


وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (Al-Hijr: 99).” [Liqo’Al-Baabil Maftuh no. 86]


*****

4) Hukum Puasa Syawwal

Puasa 6 hari di bulan Syawwal hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama, kecuali dinukil dari Al-Imam Malik rahimahullah bahwa beliau tidak berpendapat sunnahnya, dan pendapat beliau tertolak dengan adanya hadits di atas yang mungkin belum sampai kepada beliau.[1]


*****

5) Kapan Waktu Awal dan Akhir Puasa Syawwal?

Puasa Syawwal dapat dimulai sejak tanggal 2 Syawwal sampai berakhir bulan Syawwal, dan boleh dikerjakan secara berurutan maupun terpisah.[2]


*****

6) Dahulukan Meng-qodho’ Puasa Ramadhan Sebelum Berpuasa Syawwal

Bagi yang memiliki hutang puasa Ramadhan hendaklah ia meng-qodho’-nya terlebih dahulu sebelum berpuasa sunnah Syawwal, karena yang wajib hendaklah didahulukan daripada yang sunnah dan karena dalam hadits disebutkan barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu ia ikutkan dengan puasa Syawwal, bukan berpuasa sebagian Ramadhan saja.[3]


*****

7) Hukum Qodho’ Ramadhan Setelah Puasa Sunnah Syawwal

Bagi yang terlanjur berpuasa sunnah sebelum meng-qodho’ hutang puasa wajib Ramadhan maka ia telah salah karena yang wajib lebih utama didahulukan dan ia tidak mendapatkan pahala puasa setahun penuh karena ia hanya berpuasa sebagian Ramadhan, namun demikian puasa qodho’ yang ia lakukan setelah puasa Syawwal tetap sah.[4]


*****

8) Bolehkah Berniat Puasa Syawwal dan Qodho’ Puasa Ramadhan Sekaligus?

Tidak dibenarkan berniat puasa qodho’ dan puasa sunnah Syawwal sekaligus, karena keduanya adalah ibadah tersendiri.[5]


*****

9) Permasalahan Niat dalam Puasa Sunnah Muthlaq dan Muqoyyad

Puasa sunnah ada dua bentuk:
  1. Muthlaq (umum, tanpa terikat waktu dan sebab tertentu),
  2. Muqoyyad (terikat waktu dan sebab tertentu seperti puasa Senin Kamis dan puasa 6 hari di bulan Syawwal).
Maka yang pertama tidak disyaratkan berniat sejak malam harinya, boleh berniat di pagi hari asalkan belum melakukan pembatal puasa. Adapun yang kedua harus diniatkan sejak malam hari sebelum terbit fajar untuk mendapatkan pahala penuhnya, sebab hitungan satu hari adalah sejak terbit fajar, jika seseorang berniat setelah terbit fajar maka tidak terhitung satu hari.[6]


*****

10) Tentang Meng-qodho’ Puasa Syawwal

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berpendapat tidak ada qodho’ untuk puasa Syawwal, baik ditinggalkan dengan udzur maupun tanpa udzur, karena puasa Syawwal terkait waktu, apabila waktunya telah berlalu maka tidak lagi disyari’atkan.[7]

Adapun Asy-Syaikh Ibnul ‘Utaimin rahimahullah berpendapat boleh meng-qodho’ puasa sunnah Syawwal setelah berakhir bulan Syawwal, dengan syarat ada udzur syar’i ketika meninggalkannya, seperti safar, sakit atau meng-qodho’ puasa wajib. Inilah pendapat yang lebih kuat insya Allah, karena sebagaimana puasa Ramadhan dapat di-qodho’ apabila ditinggalkan dengan udzur syar’i maka demikian pula puasa Syawwal.[8]



وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


————————-

[1] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/389 no. 4763.
[2] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/391 no. 3475.
[3] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/392 no. 2264.
[4] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/382 no. 2232.
[5] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/383 no. 6497.
[6] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaiminrahimahullah, 19/185.
[7] Lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, 15/388 no. 146.
[8] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/467

------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray
adv/https://www.aamfa.org|https://1.bp.blogspot.com/-26IJGCm4TeY/XT1FVcI6xbI/AAAAAAAAAr8/KoJsIaie-P4R8t7DswrVqEHijBLdI8YTgCEwYBhgL/s1600/banneraamfa%2B-%2BCopy.jpg
adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|

Artikel Pilihan

artikel pilihan/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Kids

Konten khusus anak & download e-book

Course