artikel pilihan

#6 | KISAH PASUKAN GAJAH #1



Pembaca yang budiman, Nabi shalallallahu alaihi wasallam lahir di tahun yang dikenal oleh Bangsa Arab sebagai Tahun Gajah. Tahun itu disebut tahun gajah karena ada peristiwa penyerbuan pasukan gajah dari Yaman yang dipimpin oleh Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah di Makkah. Bagaimana kisahnya?

Dahulu Yaman dikuasai oleh seorang gubernur berkebangsaan Habasyah (Ethiopia) yang beragama Nashrani. Namanya adalah Abrahah. Bagaimana mungkin seorang gubernur Ethiopia berkuasa di negeri arab (Yaman)? Penjelasannya harus kita kembalikan pada kisah Ashabul Ukhdud (orang-orang yang dikorbankan di parit).

Allah berfirman tentang Ashahbul Ukhud ini:
قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8 
Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Al Buruj: 4-8).

Dahulu di Yaman terjadi penyiksaan terhadap orang-orang Nashrani. Raja Yaman yang musyrik yang bernama Dzu Nuwas menyiksa dan membunuh orang-orang Nashrani dengan memasukkan mereka ke dalam parit besar yang berapi. Jumlah korban pembantaian ini mencapai sekitar dua puluh ribu orang. Di antara orang Nashrani ini ada yang bernama Daus Dzu Tsa’laban melarikan diri ke negeri Syam untuk menemui Kaisar Romawi yang ketika itu juga beragama Nashrani. [1]

Kaisar Romawi ini kemudian mengirimkan surat kepada An Najasyi, raja Ethiopia yang juga beragama Nashrani. Kaisar meminta agar An Najasyi mengirimkan pasukan untuk menghukum Dzu Nuwas yang sudah berlaku zhalim kepada orang-orang Nashrani di Yaman.

Kenapa dia meminta Ethiopia yang bertindak?

Kenapa tidak berangkat sendiri ke Yaman?

Hal ini karena letak Ethiopia yang begitu dekat dengan Yaman, tinggal menyeberangi laut Merah, maka sampailah pasukan Ethiopian ke negeri Yaman.

An Najasyi kemudian mengirimkan dua panglima perang terbaiknya yaitu Aryat dan Abrahah. Tanpa kesulitan mereka kemudian melibas habis pasukan Dzu Nuwas lalu menjadikan Yaman sebagai sebuah koloni yang berada di bawah kekuasaan Ethiopian.

Setelah menang, Aryat dan Abrahah, dua panglima Ethiopian ini kemudian saling berebut kekuasaan. Masing-masing mengklaim merekalah yang berhak untuk menjadi gubernur jenderal di Yaman. Akhirnya perebutan kekuasaan itu diselesaikan dengan duel satu lawan satu bagaikan pertandingan dua gladiator. Dikisahkan bahwa di pertandingan tersebut Aryat lebih mendominasi. Dia bahkan bisa menebaskan pedangnya sehingga hidung Abrahah terpotong. [2]

Walaupun lebih mendominasi dalam duel tersebut, sial bagi Aryat, ‘Ataudah seorang budak loyalis Abrahah ikut serta dalam pertandingan tersebut lalu berhasil membunuh Aryat. Jadilah Abrahah sebagai pemenang pertandingan tersebut walaupun dengan cara yang curang, dengan dibantu oleh budaknya tadi. [3]

Ketika mendengar apa yang terjadi di antara panglima-panglimanya ini, An Najasyi, emperor Ethiopia murka. Dia pun berjanji akan menginjak Yaman untuk menghukum Abrahah dan menginjak ubun-ubun Abrahah. Namun bukan Abrahah namanya kalau tidak cerdas. Untuk meredam kemarahan An Najasyi, maka Abrahah mengirimkan berbagai macam hadiah yang membuat senang hati An Najasyi. Dia juga mengirimkan tanah Yaman yang disertai rambut ubun-ubunnya. Dengan demikian An Najasyi tak perlu berangkat ke Yaman. Cukup dengan menginjak tanah dan ubun-ubun yang dia kirimkan. [4]

Selain itu, untuk meredam kemarahan An Najasyi, Abrahah juga menjanjikan akan membangun sebuah gereja yang indah di kota Shan’a, ibukota Yaman, Karena tahu bahwa rajanya ini adalah raja seorang Nashrani yang taat, maka cara melobinya pun dengan membangun gereja yang indah. Cerdas bukan? [5]

Abrahah pun kemudian membangun sebuah gereja yang sangat besar di kota Shan'a, bangunannya tinggi sekali lagi dipenuhi dengan berbagai ukiran dan pahatan; orang-orang Arab menamainya Al-Qullais. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa bangsa Arab menyebutnya gereja sebagai Al-Qullais karena bangunannya demikian tinggi sehingga menyebabkan qolansuwah (peci) yang dipakai seorang laki-laki akan terjatuh ketika mendongak untuk melihat puncak gereja tersebut. [6] Tapi bisa jadi Al-Qullais itu berasal dari bahasa Yunani kuno “ekklēsía” yang bermakna gereja. [7]

Untuk pembangunan Al-Qullais, Abrahah mengirimkan surat kepada Kerajaan Habasyah dan Kekaisaran Romawi di Bizantium untuk mengirimkan batu pualam, para tukang dan ahli bangunan serta mozaik-mozaik penghias gereja. Gereja itu juga dibangun dari batu berwarna warni hijau, kuning, putih dan hitam. Batu-batu ini dibawa dari reruntuhan istana Ratu Saba’ yang berasal dari Ma’rib. Tangga gereja tersebut terbuat dari batu pualam, sedangkan pintu-pintunya dibuat dari perunggu. Dinding-dindingnya dihiasi dengan ornament mozaik-mozaik yang indah berbentuk salib. Di masa itu, sesuai dengan tradisi Nashrani, salib tidak boleh diletakkan pada sesuatu yang bisa dipijak. Oleh karena itu, salib hanya digantungkan di dinding. Gereja juga dihiasi dengan ukiran-ukiran kayu dan juga gading yang indah, dan dilengkapi pula dengan hiasan-hiasan yang terbuat dari emas serta batu-batu berharga.[8]

Abrahah kemudian menginstruksikan agar bangsa Arab menziarahi dan memuliakan gereja ini seperti mereka memuliakan Ka’bah di kota Makkah. Tentu orang-orang Arab sangat murka dengan perintah Abrahah ini. Bagaimana mungkin mereka memuliakan gereja buatan seorang Jenderal penjajah dari Ethiopia untuk kemudian meninggalkan baitullah yang ada di Kota Makkah?

Akhirnya puncak kemarahan itu tampak dari tindakan salah seorang Arab dari suku Quraisy. Orang ini pergi ke gereja tersebut. Kemudian pada malam hari dia buang hajat di dalam gereja, lalu kembali ke tempat asalnya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ada seorang pemuda dari kalangan Quraisy memasuki gereja besar di Yaman itu, lalu ia membakarnya, sedangkan di hari itu cuaca sangat panas, maka dengan mudahnya gereja itu terbakar hingga rata dengan tanah. Juru kunci gereja ini pun melaporkan apa yang terjadi kepada Abrahah. Marahlah Abrahah. Dia pun ingin membalas perlakuan bangsa Arab dengan menghancurkan rumah ibadah mereka, yaitu Ka’bah di kota Makkah.[9]

Abrahah kemudian bersiap-siap menghimpun bala tentaranya dalam jumlah yang sangat besar. Lalu ia berangkat dengan pasukannya itu dengan maksud agar tiada seorang pun yang dapat menghalang-halangi niatnya. Selain dari itu ia membawa seekor gajah yang sangat besar. Gajah itu disebut sebagai Mahmud. Gajah tersebut sengaja dikirim oleh Raja An Najasyi kepadanya untuk tujuan tersebut. Bahkan menurut pendapat lain, selain Mahmud, masih ada delapan gajah lainnya; dan menurut pendapat yang lainnya lagi dua belas ekor gajah. Gajah tersebut akan dijadikan sebagai sarana untuk merobohkan Ka'bah. Rencananya mereka akan mengikat semua sisi Ka'bah dengan rantai, lalu mengikatkannya pada leher gajah, maka gajah akan menariknya dan tembok Ka'bah akan runtuh seketika. [10]

Ketika orang-orang Arab mendengar keberangkatan Abrahah dengan pasukannya yang bergajah itu, maka mereka merasakan adanya bahaya yang amat besar akan menimpa diri mereka. Dan mereka merasakan bahwa sudah merupakan kewajiban mereka untuk membela rumah Allah dan mengusir orang-orang yang bermaksud jahat terhadapnya. Maka bangkitlah seorang lelaki dari kalangan penduduk Yaman yang terhormat dan terbilang sebagai pemimpin mereka untuk mengadakan perlawanan terhadap Abrahah. Orang tersebut bernama Dzu Nafar. Dzu Nafar kemudian menyerukan kepada kaumnya dan orang-orang Arab lainnya untuk memerangi Abrahah dan berjihad melawannya demi mempertahankan Baitullah. Ajakan Dzu Nafar itu mendapat sambutan dari bangsa Arab. Mereka pun kemudian berperang melawan Abrahah dipimpin oleh Dzu Nafar, tetapi pada akhirnya Dzu Nafar kalah. Hal ini karena Allah ingin agar orang-orang bisa menyaksikan kekuasaan Allah dalam melindungi rumah-Nya. Dzu Nafar kemudian ditawan. Abrahah kemudian memberinya amnesti dan membiarkannya pergi.[11]

Dan ketika perjalanan Abrahah sampai di tanah orang-orang Khats'am, ia dihalangi oleh Nufail ibnu Habib Al Khats'ami bersama kaumnya, yang memeranginya selama dua bulan. Tetapi pada akhirnya Abrahah berhasil mengalahkan mereka dan menawan Nufail ibnu Habib; pada mulanya Abrahah bermaksud untuk mengeksekusi Nufail, akan tetapi kemudian dia berubah pikiran. Abrahah lalu memberikannya amnesti dan membawanya serta ke Makkah sebagai penunjuk jalan menuju negeri Hijaz untuk menghancurkan Ka’bah. [12]

(bersambung)




Catatan Kaki:

[1] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri et al., Al Misbah Al Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, (Riyadh: Darussalam, 2013), hlm. 1582.

[2] Inilah yang kemudian menyebabkan Abrahah disebut sebagai Al Asyram, Abrahah yang hidungnya terpotong.

[3] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri et al., Al Misbah Al Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, (Riyadh: Darussalam, 2013), hlm. 1582

[4] Ibid., hlm. 1583.

[5] Ibid.

[6] Ibid., 1583.

[7] Ekklesia adalah bahasa Yunani untuk gereja. Artinya asalnya adalah kumpulan kebaktian. Dia memiliki arti yang sama dengan Synagog. Hanya saja kemudian Synagog dipergunakan untuk kaum Yahudi, adapun Ekklesia dipergunakan untuk menunjukkan tempat ibadah kaum Nasrani. Lihat Scripture: History and Interpretation, Bergant, 2008.

[8] Muhammad bin Abdillah Al Azraqi, Akhbaru Makkah wa ma Ja’a minal Atsaar, (Beirut: Darul Andalus, t.t), hlm. 136.

[9] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri et al., Al Misbah Al Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, (Riyadh: Darussalam, 2013), hlm. 1583.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.





------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN


Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian