artikel pilihan

5 KARAKTER ORANG BERTAKWA #1



Surat Al-Baqarah adalah surat kedua di mushaf. Dinamakan surat Al-Baqarah (Sapi Betina) karena Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan di surat ini kisah sapi betina yang bani israil diperintahkan untuk menyembelihnya untuk mengetahui pelaku pembunuhan yang samar siapa pelakunya.

Surat ini adalah surat yang agung. Terkandung padanya ilmu yang sangat banyak pada perkara akidah, hukum-hukum, kisah-kisah umat terdahulu dan selainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi kita untuk mempelajari surat Al-Baqarah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ
“Pelajarilah surat Al-Baqarah, mengambilnya adalah berkah, meninggalkannya adalah penyesalan dan tidak mampu dikalahkan para batholah.”[1]
Yaitu : para syaithon tidak mampu untuk tinggal di tempat yang surat ini dibaca pada tempat tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits :
إنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ البَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ البَقرَةِ  رواه مسلم
“Sesungguhnya syaithon kabur dari rumah yang surat Al-Baqarah dibaca di situ.” (HR. Muslim)[2]

Makna mempelajari dan mengambilnya adalah mempelajari bacaannya dengan benar dan juga mempelajari makna dan tafsirnya. Dan bukanlah maksudnya hanya sekedar membacanya saja, atau sekedar mempelajari bacaannya saja.  

Yang diinginkan adalah mempelajari bacaannya sekaligus mempelajari makna-maknanya sehingga diamalkan. Karena itulah salah seorang shahabat berkata :
“Dulu kami tidak melampaui sepuluh ayat sampai kami mempelajari makna-maknanya dan beramal dengannya, maka kami mempelajari ilmu dan amal semuanya.”[3]

Inilah yang dimaksud dari mempelajari Al-Baqarah dan selainnya dari Al-Qur’an, mempelajari bagaimana membacanya dengan benar serta mempelajari makna-makna dan tafsirnya dengan tujuan untuk mengamalkan dan mengaplikasikannya.
Firman Allah Ta’ala :
الٓمٓ ١

“Alif  Lam Miim”
Allah membuka surat ini dengan firmanNya :
الٓمٓ ١

 “Alif Lam Miim”

Dan ini adalah potongan huruf-huruf. Allah membuka surat-surat lain dengan potongan-potongan huruf seperti ini. Di antaranya : الٓمٓصٓ , الٓمٓرۚ, كٓهيعٓصٓ, طه, يسٓ, صٓۚ, حمٓ, قٓۚ, عٓسٓقٓ حمٓ
Ulama berbeda pendapat terhadap ayat-ayat seperti ini yang terbagi pada banyak pendapat. Kita cukupkan pada dua pendapat :

Pendapat pertama : Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya ayat-ayat seperti ini dibiarkan sebagaimana adanya karena ayat-ayat ini termasuk yang Allah simpan ilmunya di sisi Allah sehingga tidak dibahas karena tidak ada dalil untuk membahasnya dan hal yang menunjukkan maksudnya.

Pendapat kedua : Bahwasanya huruf-huruf ini adalah isyarat kepada kemu’jizatan Al-Qur’an. Allah menurunkan Al-Qur’an yang tersusun dari huruf-huruf ini yang mana bangsa Arab juga menggunakan huruf-huruf ini di dalam percakapan mereka. Dalam keadaan demikian , mereka tidak mampu untuk mendatangkan yang semisal Al-Qur’an atau yang semisal satu surat atau ayat. 

Ini adalah isyarat kemu’jizatan Al-Qur’an. Karena itu –kebanyakannya- jika terdapat ayat-ayat ini maka setelahnya adalah penyebutan Al Qur’an, sebagaimana di surat ini :
الٓمٓ ١ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢

“Alif Laam Miim. Ini adalah kitab yang tiada keraguan padanya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah : 1-2)
Dan firman Allah ta’ala di awal surat Al-A’raf :
الٓمٓصٓ ١ كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ فَلَا يَكُن فِي صَدۡرِكَ حَرَجٞ مِّنۡهُ لِتُنذِرَ بِهِۦ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٢
“Alim laam miim shood. (Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah engkau sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman.” (Al A’raf : 1-2)
Dan firmanNya :
قٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ

“Qaaf Demi Al-Qur’an Yang Mulia” (Qaf : 1)
Dan firmanNya :
صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ

“Shaad. Demi Al-Qur’an yang mengandung peringatan.” (Shad : 1)
Dan firmanNya :
الٓمٓ ١ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
“Alif laam miim. Turunnya Al-Qur’an itu tidak ada keraguan padanya, (yaitu) dari Rabb semesta alam.” (As-Sajadah : 1-2)
dan selainnya.

Ini semua menunjukkan kemu’jizatan Al-Qur’an. Yaitu bahwasanya Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf seperti ini, dan dalam keadaan demikian kalian tidak mampu untuk mendatangkan yang semisal Al Qur’an, bahkan semisal satu surat saja. Pendapat ini kuat, disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan selainnya.
Firman Allah Ta’ala :
ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ

“Ini adalah kitab”
ذا (dzaa) adalah kata isyarat,  huruf  (اللام) laam menunjukkan jauhnya, dan (الكاف) kaaf adalah huruf menunjukkan lawan bicara. 

Ini adalah isyarat kepada kitab ini yaitu Al-Qur’an sebagai bentuk isyarat pengagungan dan pemuliaan, yaitu tidak ada yang serupa dengan kitab ini. Dan Al-Qur’an adalah kitab teragung yang diturunkan oleh Allah ta’ala.

Kemudian Allah berfirman :
لَا رَيۡبَۛ فِيهِ
“Tiada keraguanpadanya”
Allah nafikan dari Al Qur’an keraguan. Tidak ada sedikitpun keraguan dan kebatilan padanya.
وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا

“Seandainya Al-Qur’an itu dari selain Allah niscaya mereka akan dapatkan padanya perselisihan yang banyak”(An-Nisa : 82)
Dan firman Allah ta’ala :
هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ
“Sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa”
Ini adalah sifat kedua bagi Al Qur’an. (الهدى) Al-Huda maknanya adalah petunjuk dan bimbingan kepada jalan yang benar. Maka Al Qur’an, padanya terdapat petunjuk dan bimbingan kepada jalan kebenaran dan jalan ke surga. Dan Al Huda  terbagi menjadi dua, huda atau hidayah petunjuk dan bimbingan, dan hidayah taufik dan ilham, atau hidayah hati. Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa.

(المتقون) Al-Muttaquun adalah kata jamak dari (متقٍ) muttaqin yaitu siapa yang memiliki sifat takwa. Dan takwa (التقوى) adalah engkau menjadikan antara dirimu dan kemurkaan dan adzab Allah perisai yang melindungimu darinya, yaitu dengan taat kepada Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka yang dimaksudkan dengan Al Muttaqiin (المتقين) adalah mereka yang menjadikan antara diri mereka dan adzab Allah perisai berupa ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Para ulama mendefinisikan bahwasanya takwa adalah : engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya Allah (ilmu) mengharapkan pahala dari Allah, dan engkau meninggalkan apa yang Allah larang di atas cahaya Allah (ilmu) karena takut dari hukuman Allah. 

Inilah takwa, yang ringkasnya adalah engkau jadikan antara dirimu dan sesuatu yang tidak disukai penghalang dimana sesuatu yang dibenci tersebut tidak akan mencapaimu. Kalau tidak ada takwa maka tidak diragukan lagi dirimu terancam dengan adzab Allah.

Mengapa Allah mengkhususkan orang-orang yang bertakwa di dalam penyebutan padahal hidayah adalah untuk seluruh manusia sebagaimana firman Allah Ta’ala di tengah surat ini:
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ

“Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh manusia” (Al-Baqaroh : 185)
Jawabannya : Allah mengkhususkan orang-orang yang bertakwa di ayat ini (Al-Baqarah : 2) karena merekalah yang bisa mengambil manfaat dari petunjuk Al-Qur’an dan mendapatkan hidayah darinya. Adapun selain mereka maka telah tegak atas mereka hujjah dan telah putus udzur mereka karena sudah tidak tersisa lagi udzur bagi mereka di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian ketika Allah menyebutkan bahwasanya Al-Qur’an ini adalah petunjuk, Allah membagi manusia terhadap hidayah Al-Qur’an menjadi tiga golongan :

      1.   Mereka yang beriman kepada Al-Qur’an secara dhohir dan batin serta melaksanakan hukum-hukumnya baik perintah maupun larangan.
2    2.    Mereka yang mengingkari dan kufur terhadap Al-Qur’an dhohir dan batin.
     3.  Mereka yang dhohirnya beriman akan tetapi mengingkari dan kufur terhadap Al-Qur’an secara batin.(Bersambung ke bag 2)




[1] HR. Ahmad dari hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu no. 23338 (7/618)
[2] HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Kitab Sholatil Musafirin bab 29 no 780 (3/310)
[3] Sebagaimana dihikayatkan dari sejumlah mereka di antaranya Abu Abdirrahman As-Sulamy. Dikeluarkan Ibnu Jarir At-Thobary di tafsirnya (1/80)

Sumber : Kitab Durus minal Qur’an Al-Karim karya Asy-Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan, 66-78




Artikel Sebelumnya 5 KARAKTER ORANG BERTAKWA  #2



Oleh : Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhohullah
Penerjemah : Ustadz Ayyub Abu Ayyub

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian