artikel pilihan

RAMADHAN PUN TIBA


Kaum muslimin rahimakumullah,

Waktu merupakan perkara yang sangat bernilai tinggi, padanya kita beramal, padanya kita hidup dan padanya pula kita mencari keridho’an Allah. Karena besarnya nilai waktu inilah, Allah subhanahu wa ta ‘ala bersumpah dengannya:
وَالْعَصْرِ (١
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣
“Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Ashr: 1-3)


Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua untuk senantiasa mengisi waktu dengan segala hal yang mendatangkan kecintai dan keridhoan-Nya. Sebab, imam Al-Hasan Al-Bashriy pernah berpesan: “Tanda-tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Ia jadikan kesibukannya pada perkara yang tidak bermanfaat”. (Jāmiàlum wal Hikam).

Dan waktu berjalan sangat cepat, tanpa kita sadari ternyata keadaan ini adalah tanda-tanda dekatnya hari kiamat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونُ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ وَتَكُونُ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُونُ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ وَتَكُونُ السَّاعَةُ كَالضَّرَمَةِ بِالنَّارِ
“Tidak akan terjadi kiamat hingga nanti akan tiba masa tatkalal itu waktu didekatkan, setahun pada saat itu bagaikan sebulan, sebulan pada saat itu bagaikan sepekan, sepekan pada saat itu bagaikan sehari, sehari pada saar itu bagaikan sejam dan sejam pada saat itu seperti menyulut api”. (HR. Tirmidziy, Dishohihkan Al-Albaniy dalam Al-Misykah)
Dan subhanallah, ini telah kita rasakan bersama, mungkin masih segar diingatan kita akan Ramadhan tahun lalu, bagaimana keadaan kita, dan sekarang Ramadhan tahun ini telah berada di depan kedua mata kita.

Karena itulah keadaan berlalunya waktu dengan cepat ini hendaknya kita renungi bersama kemudian mencambuk kita semua untuk senantiasa memanfaatkannya mengisinya dengan segala kebaikan.

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh dengan keberkahan, pengampunan dan rahmat. Bahkan kebaikan yang muncul di bulan Ramadhan ikut merasakannya seluruh insan. Allah subhanahu wa ta ‘ala berfirman:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan , bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Al-Baqarah: 185).
Al-Quran sebagai penutup dan penyempurna seluruh kitab sebelumnya, dan juga sebagai petunjuk dan pegangan bagi seluruh makhluk untuk keselamatan dunia dan akhirat, ternyata Allah turunkan di bulan Ramadhan . Ini menunjukkan bulan ini memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah rabbul ‘alamin.

Dan dengan keagungan serta kemuliaan bulan Ramadhan ini sambutan hangat-pun terucapkan di lisan sang Qudwah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Telah datang kepada kalian Ramadhan!, bulan penuh berkah, Allah melimpahkan rahmat padanya kepada kalian, menghapus kesalahan-kesalahan kalian, mengabulkan do’a-do’a, dan Allah melihat perlombaan diantara kalian pada bulan itu, dan Ia-pun membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah perlomabaan kalian (dengan bersegera kepada kebaikan), karena sesungguhnya orang yang celaka adalah yang diharamkan dari rahmat Allah di bulan Ramadhan ”. HR. Ath-Thabraniy.

Dan banyak hadits-hadits lainnya yang shohihah menyebutkan akan keutamaan puasa dan bulan Ramadhan, dan kita cukupkan penyebutannya di sini karena –insyaAllah-, di mimbar-mimbar, majelis-majelis ta’lim banyak penceramah yang mengangkat tema tentang hal tersebut.
Namun kali ini yang ingin disampaikan adalah untaian nasihat dari saudara seiman kepada saudaranya seiman lainnya yang kurang memperhatikan dan melalaikan puasa di bulan Ramadhan.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Shahabat nabi yang bernama Abu Umamah Al-Bahiliy radhiallahu’anhu pernah bercerita: 

“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ketika aku tidur tiba-tiba datang kepadaku dua orang, keduanya lalu mengangkat kedua bahuku, dan membawaku ke sebuah bukit yang terjal lagi cadas, maka keduanya berkata kepadaku: Naiklah!, akupun menjawab: Aku tidak mampu, keduanya berkata: Kami akan memudahkanmu, maka akupun naik, hingga aku sampai di puncak bukit, tiba-tiba terdengar teriakan suara yang sangat keras, aku bertanya: Suara apakah ini?, keduanya menjawab: ini adalah teriakan kepedihan penduduk neraka!, kemudian keduanya pun memindahkan aku ke tempat lainnya, tiba-tiba aku melihat sebuah kaum yang keadaan mereka tergantung kaki-kakinya di atas, yang pecah-pecah bibirnya, dan mengalirkan darah, aku bertanya: siapakah mereka?, mereka menjawab: mereka adalah orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa) sebelum tiba waktunya”. HR. Al-Baihaqiy: 7796, Ibnu Hibban: 7491.

Dalam hadits ini, terdapat kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan berita ancaman bagi mereka yang tidak berpuasa, dan tentunya puasa yang diinginkan adalah Ramadhan sebagai puasa wajib. Dan ancaman ini ditujukan kepada mereka yang meninggalkan puasa tersebut tanpa udzur atau alasan yang dibolehkan syari’at. Maka ini adalah ancaman yang sangat keras dan mengerikan, adzab yang sangat pedih, semoga Allah menjaga kita semua darinya.

Asy-Syaikh Albaniy rahimahullah menjelaskan makna hadits tersebut, kata beliau: “Pada hadits ini terdapat ancaman hukuman bagi yang berpuasa kemudian berbuka dengan sengaja sebelum waktu berbuka, lalu bagaimana kiranya jika ada yang tidak puasa sama sekali?!, kita memohon kepada Allah keselamatan dan ‘afiyah di dunia dan akhirat”. (Silsilah Ash-Shahihah).

Karena itulah para ulama kita mereka sangat tegas mengingatkan hal ini, diantaranya imam Adz-Dzahabiy dalam kitabnya “Al-Kaba’ir” hal. 64, beliau berkata: “Barangsiapa yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa udzur maka orang tersebut lebih jelek daripada pezina dan peminum arak, bahkan diragukan ke-Islamannya”.

Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Jika ada seorang yang tidak berpuasa Ramadhan karena menganggap boleh padahal ia tahu larangannya, maka wajib (bagi pemerintah Islam) untuk memeranginya, dan jika ia seorang yang fasik, maka diberi hukuman”. (Majmu’ Fatawa: 25/ 265).

Dan juga Syaikh ‘Abdul’aziz Ar-Rajihiy berkata: “Barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, maka ia dianggap keluar dari Islam. Sebab ia mengingkari salah satu rukun Islam, perkara yang telah diketahui merupakan bagian dari Agama dengan pasti. Dan barangsiapa yang mengetahui kewajibannya akan tetapi ia tetap tidak berpuasa dengan sengaja tanpa udzur maka dia telah terjatuh pada dosa besar”. (Ahkamush Shiyam).

Inilah nasehat yang ditujukan kepada saudara-ku seiman, untuk menjaga puasa Ramadhan dengan melaksanakannya sebaik-baiknya. Mengejar keutamaan dari lautan keutamaan yang Allah janjikan bak kilauan mutiara yang siap direbut. Dan ibadah puasa Ramadhan akan dianggap benar pelaksanaannya jika terpenuhi dua syarat mutlak, yang harus ada pada seluruh ibadah, yaitu:

Pertama, ikhlash. Hal ini berdasarkan firman Allah:


قُلِ ٱللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُۥ دِينِى
”Katakanlah: "Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan (meng-ikhlash-kan) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (Az-Zumar: 14)

Dan ibadah puasa juga termasuk salah satu ibadah serta ketaatan kepada Allah. Dan khusus untuk puasa Ramadhan , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, dengan keimanan dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Buhoriy-Muslim).

Dengan keimanan, maksudnya: atas dasar keimanan kepada Allah den perintah-perintah Nya, adapun makna ihtisab maksudnya: hanya berharap balasan dan ganjaran dari Allah semata dari ibadah puasanya.

Kedua, melaksanakannya sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah untuk menjelaskan kepada ummat manusia dalam urusan ibadah, hal ini berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:


مَنْ عَمِلَ عَمَلاٍ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang beramal ibadah pada perkara yang tidak ada padanya perintah kami, maka tertolak” (HR. Bukhariy-Muslim).

Inilah dua syarat yang harus terpenuhi dalam melaksanakan seluruh ibadah kepada Allah, apalagi ibadah puasa yang sangat agung puasa Ramadhan. Dan dengan terpenuhinya hal inilah sangat diharapkan puasa Ramadhan yang dilaksanakan akan mendapatkan seluruh keutamaannya dari yang dinjanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, perkara ini semua akan lahir dari ilmu yang dimiliki seseorang, semakin jauh dan dalam bekal keilmuan seseorang terhadap agama maka akan semakin kuat kemampuannya mewujudkan hal ini. Karena itulah, menuntut ilmu agama adalah perkara dasar yang sangat pokok bagi kita semua.

Kita sangat berharap hanya kepada Alloh subhanahu wa ta ‘ala .

Semoga Allah subhanahu wa ta ‘ala mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan tahun ini, memberi kita kerbekahannya, kebaikan dan ampunan dari-Nya, serta menjadikan ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini jauh lebih baik dari yang sebelumnya.

Dan semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua pada perkara yang Ia cintai dan ridhai, memberi hidayah dan memudahkan kita untuk memaksimalkan ibadah dan kebaikan pada bulan Ramadhan ini.

Akhirnya, kami mengucapkan ‘Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan’.



------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Hudzaifah Bin Muhammad

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian