artikel pilihan

KIAT MERAIH SUKSES DI BULAN SUCI RAMADHAN


Puasa di bulan suci Ramadhan merupakan perkara yang telah Allah subhanahu wa ta'ala wajibkan kepada kita. Allah  subhanahu wa ta'ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” [Al Baqarah 183]
Bahkan lebih dari pada itu, puasa di bulan suci Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam, di mana bangunan keislaman seseorang tidak akan berdiri tanpanya. Dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan bahwa puasa adalah salah satu rukun Islam yang agung dan mulia, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima (perkara, pondasi): Syahadat La Ilaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasulullah, mendirikan shalat, me ngeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.”


*****

Keutamaan Puasa di Bulan Suci Ramadhan

Terdapat banyak sekali keutamaan yang akan diperoleh seseorang apabila dia berpuasa di bulan suci Ramadhan, diantaranya:



1. Dosa-Dosanya Akan Diampuni

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” [Muttafaqun ‘alaihi]
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa di sini adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka diperlukan adanya taubat.


2. Karena Kesabarannya Ketika Berpuasa, Allah ta'ala Langsung yang Akan Membalasnya dengan Pahala yang Tiada Batas

Allah ta'ala berfirman dalam hadits Qudsi,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام ، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” [Muttafaqun ‘alaihi]
Allah subhanahu wa ta'ala ber firman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabar lah yang pahala mereka dicukupkan tanpa batas.” [Az-Zumar: 10]


3. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kegembiraan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ المِسْكِ . لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا : إِذَا أفْطَرَ فَرِحَ بفطره ، وَإذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya.” [Muttafaqun ‘alaihi]

4. Bagi Orang yang Berpuasa Disediakan Pintu Surga yang Khusus Bagi Mereka

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ في الجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ : الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَومَ القِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أحدٌ غَيْرُهُمْ ، يقال : أيْنَ الصَّائِمُونَ ؟ فَيَقُومُونَ لاَ يَدخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar Rayyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak masuk melalui pintu tersebut seorang pun kecuali mereka. Dikatakan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak masuk melalui pintu tersebut seorang pun kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.” [Muttafaqun ‘alaihi]

*****

Apa saja Kegiatan yang hendaknya dilakukan selama bulan Suci Ramadhan?

Selain berpuasa, selama bulan suci Ramadhan ini, hendaknya kaum muslimin menyibukkan diri mereka dengan berbagai ketaatan serta menjaga diri mereka dari melakukan kesia-siaan atau bahkan kemaksiatan. Diantara hal-hal yang perlu mereka jaga adalah:


1. SHALAT, BAIK YANG WAJIB MAUPUN YANG SUNNAH

Cukup disayangkan, kita dapati sebagian kaum muslimin di bulan Ramadhan mereka berpuasa, akan tetapi mereka malah meninggalkan shalat. Padahal Rasulullah  bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” [HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani ]
Selain shalat wajib, hendaknya seseorang juga menjaga shalat-shalat sunnah rawatib. Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha, istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” [HR. Muslim]
Demikian pula hendaknya di bulan Ramadhan ini dia menjaga shalat tarawihnya di setiap malam Ramadhan. Rasulullallah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa yang menegakkan (malam-malam) bulan Ramadhan dengan keimanan dan mencari keridhaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya pahala sholat semalam penuh.” [HR. An Nasai, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. DIshahihkan oleh Al Albani rahimahullah]


2. MEMBACA AL QURAN

Bulan Ramadhan adalah bulan Al Quran. Allah ta'ala berfirman,
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” [Al Baqarah: 185]
Maka disunnahkan bagi seseorang untuk memperbanyak tilawatul Quran sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
“Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dahulu Rasululllah shallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan di bulan Ramadhan ketika Jibril mengajarkan beliau Al Quran. Dan dahulu Jibril mengajarkan Al Quran kepada beliau di setiap malam Ramadhan. Maka Rasulullah adalah orang yang lebih pemurah lagi dermawan daripada angin yang berhembus.” [HR. Al Bukhari]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” [HR. At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani rahimahullah]
Dan disunnahkan untuk memperbanyak tilawah di malam hari.
Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah menyebutkan,
“Di dalam hadits Ibnu Abbas, disebutkan bahwa pengajaran Al-Quran antara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Jibril dilakukan pada malam hari. Ini menunjukkan disukainya memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan itu di malam hari. Karena sesungguhnya pada waktu malam hari, manusia sudah lepas dari kesibukannya, bisa lebih fokus, hati dan lisannya bisa lebih menyatu untuk mentadabburi Al Quran, sebagaimana firman Allah ta'ala:
إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡ‍ٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ٦
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. [Al Muzammil: 6]
Para salaf (generasi awal Islam) pun dikenal dengan kesibukan mereka dengan Al Quran di bulan suci Ramadhan. Imam Al Zuhri rahimahullah jika sudah memasuki Ramadhan beliau mengatakan, "Sesungguhnya (pekerjaan itu) hanya membaca Al Qur'an dan memberi makan." Abdurrazzaq berkata, "Sufyan ats-Tsauri jika sudah masuk Ramadhan meninggalkan segala bentuk ibadah dan hanya membaca Al Qur'an". Imam Al Syafi'i rahimahullah, pada bulan Ramadhan menghatamkan Al-Qur'an sampai 60 kali dan itu di luar shalat.


3. MEMPERBANYAK BERSHADAQAH

Diantara perkara yang hendaknya diperbanyak di bulan suci Ramadhan adalah memperbanyak shadaqah sebagai yang disampaikan di dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
“Dahulu Rasululllah shallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan di bulan Ramadhan ketika Jibril mengajarkan beliau Al Quran. Dan dahulu Jibril mengajarkan Al Quran kepada beliau di setiap malam Ramadhan. Maka Rasulullah adalah orang yang lebih pemurah lagi dermawan daripada angin yang berhembus.” [HR. Al Bukhari]
Hendaknya seseorang bersemangat untuk memberikan bantuan kepada saudaranya, karena di balik bantuan yang dia berikan ada keutamaan yang sangat besar.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
“Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat ” [HR. Muslim].
Termasuk amalan shadaqah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” [HR. At Tirmidzi dan yang selainnya, dishahihkan oleh Al Albani]


4. MENJAGA LISAN

Agar mendapatkan kesuksesan hendaknya seorang muslim tak hanya menahan dirinya dari lapar dan haus, tapi juga menahan lisannya dari ucapan yang tidak Allah ta'ala ridhoi seperti ucapan dusta, ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), mengumpat, dan ucapan-ucapan jelek lainnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” [HR. Al Bukhari].
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan ucapan yang dipenuhi syahwat. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. [HR. Ibnu Majah dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Albani].


5. SEMAKIN MEMPERBANYAK IBADAH DI SEPULUH MALAM TERAKHIR

Di sepuluh malam terakhir, hendaknya seseorang semakin meningkatkan intensitas ibadahnya. Disebutkan bahwa:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد فى العشر الأواخر ما لايجتهد فى غيره
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meningkatkan kesungguhan (ibadahnya) di sepuluh terakhir (bulan Ramadhan) yang tidak dilakukan pada hari-hari sebelumnya.” [HR. Muslim].
Beliau bahkan melakukan I’tikaf di masjid, menyibukkan diri beliau dengan ibadah. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim. Bukannya malah menyibukkan diri di pasar dan pusat-pusat perbelanjaan untuk mempersiapkan hari raya.

Demikianlah beberapa hal yang bisa dilakukan oleh seseorang agar bi idznillah (dengan seizin Allah ta'ala) dia bisa meraih keberhasilan di bulan suci Ramadhan sehingga dia pun keluar dari bulan ini dalam keadaan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan beroleh banyak keutamaan.

Semoga Allah ta'ala memberikan kemudahan kepada kita semua untuk dapat melaksanakannya. Amin ya Rabbal ‘alamin.


Wallahu a’lam bis shawab.





------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian