artikel pilihan

KEPASRAHAN TOTAL KEPADA ALLAH TA'ALA




إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئة أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, صلى الله عليه وعلى آله و صحبه وسلم
قال الله تعالى في كتابه الكريم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ |آل عمران : 102
:وقال تعالى
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا |النساء : 1
:وقال تعالى
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا |الأحزاب : 70 ، 71

:أما بعد

فإن أصدق الحديث كتاب الله, وخير الهدي هدي نبينا محمد صلى الله عليه وسلم, وشر الأمور محدثاتها, فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

.أعاذني الله وإياكم من النار


Kaum muslimin dan muslimin, jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan dan dirahmati Allah Ta’ala. Pada hari-hari ini, kita tengah melewati waktu-waktu istimewa, momen-momen luar biasa yang Allah anugerahkan bagi kita. Bulan ini, bulan dzulhijjah, terutama hari-hari pertamanya adalah waktu-waktu yang penuh keistimewaan, penuh keutamaan dan limpahan rahmat dari Allah Ta’ala.

Di antara perkara-perkara istimewa dan utama pada bulan dzulhijjah ini :


1. 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

10 hari pertama adalah hari-hari yang paling utama di dalam satu tahunnya. Hari-hari yang paling dicintai oleh Allah, penuh limpahan rahmat, barang siapa yang beramal dengan amalan kebaikan pada hari-hari tersebut maka Allah akan melipatgandakan pahalanya lebih dari amalan-amalan kebaikan pada selain hari-hari tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam bersabda :
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tiada suatu hari pun yang amal shalih pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini. (Para shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak pula (dilebihi oleh) jihad di jalan Allah?’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘(Ya), tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun dari hal tersebut.’.”

2.Ibadah haji

Bulan ini semakin terasa keutamaan dan keistimewaannya karena pada bulan inilah dilakukan salah satu rukun dari rukun-rukun Islam yang lima, yaitu ibadah haji ke baitullah. Ribuan bahkan jutaan umat Islam dari segenap penjuru dunia, dengan segala macam ras, suku bangsa, kebudayaan yang berbeda-beda, semuanya berkumpul di baitullah Al-Haram, memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan ibadah yang sangat mulia ini.
Allah Ta’ala berfirman :
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ |الحج : 27
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus [1] yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (Al Hajj : 27)
Kaum muslimin dan muslimat rahimaniyallahu wa iyyakum,
Demikian juga, di antara keistimewaan yang ada pada bulan dzulhijjah, adalah pada tanggal 10 Dzulhijjah, yaitu pada hari ini, adalah hari’ ied, hari rayanya umat muslim selain ‘iedul fithr. 
Berbondong-bondong kaum muslimin, menuju ke musholla mereka untuk menunaikan sholat ‘ied.

Kemudian setelah itu, terdapat satu syari’at yang tidak terdapat pada bulan-bulan yang lain, yaitu syari’at berkurban.
Allah Ta’ala berfirman :
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Dan telah Kami jadikan unta-unta itu untuk kalian sebagai bagian dari syiar Allah, yang kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian, apabila (unta-unta itu) telah roboh (mati), makanlah sebagiannya serta beri makanlah orang yang rela dengan sesuatu yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu untuk kalian, mudah-mudahan kalian bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Hajj: 36-37]
Ketika kita berbicara tentang syariat kurban, maka tak lepas dari suatu kisah, kisah yang luar biasa, kisah yang sangat agung, kisah yang padanya terdapat ibroh, pelajaran-pelajaran yang sangat berharga bagi setiap muslim, kisah Abul anbiya’ bapaknya para Nabi, yaitu Ibrahim dan putra beliau Nabi Ismail ‘alaihimash sholatu wassalam.
Kisah tersebut telah Allah ceritakan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) [الصافات : 102 - 111]
“Maka tatkala anak itu sampai [pada umur sanggup] berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (102) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis [nya], [nyatalah kesabaran keduanya]. (103) Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, (104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu [1] , sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar [2]. (107) Kami abadikan untuk Ibrahim itu [pujian yang baik] di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108) [yaitu] "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". (109) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (110) Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Nabi Ibrahim telah sekian lama menantikan kehadiran seorang anak sampai akhirnya Allah anugerahkan Ismail untuk beliau. 

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang bersifat halim”
Sifat halim mencakup sifat-sifat yang mulia, seperti sifat sabar, akhlakh yang baik, lapang dada, dan pema’af. Siapakah kiranya dari kalangan orang tua, di saat dia menanti-nantikan kehadiran buah hatinya, dia dianugerahi dengan kehadiran seorang putera yang bersifat mulia. Terlebih, di saat putra tersebut sudah menginjak usia yang sudah bisa memberikan kemanfaatan bagi orang tuanya. 

Begitulah yang terjadi pada Ibrahim. Beliau sangat mencintai putera beliau Ismail. Akan tetapi, Ibrahim adalah kholilullah, kekasih Allah, suatu kedudukan yang sama sekali tidak menerima bentuk syarikat di dalam kecintaan, di mana seluruh bagian hati terikat kepada yang dicintainya. Maka ketika secuil dari bagian hati Ibrahim, terikat dengan kecintaan kepada anaknya Isma’il, maka Allah hendak menguji kekasih-Nya tersebut. Maka Allah perintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya sendiri.
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.”
Siapakah kiranya dari kita yang sanggup menghadapi ujian ini, perintah untuk menyembelih anak yang begitu kita cintai dengan tangan kita sendiri? Mungkin kita akan segera berburuk sangka kepada Allah Ta’ala.

Akan tetapi, lihatlah apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Dengan tegas dan mantap beliau menerima ujian tersebut. Bahkan beliau sampaikan kepada Isma’il apa yang menjadi perintah Allah Ta’ala.
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
“Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!"
Dan lihatlah, perhatikanlah dengan seksama, simaklah dengan sebaik-baiknya, ternyata ketegaran itu bukan hanya milik Ibrahim saja. Akan tetapi sang anak, yang sedang tumbuh dewasa, ternyata didikannya adalah didikan taqwa, ditempa dengan tempaan keimanan yang sempurna. Dengan tegas dan mantap Isma’il menjawab :
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar"
Keimanan yang luar biasa ditunjukkan oleh Isma’il. Keta’atan kepada RabbNya dan juga baktinya kepada orang tuanya. Tak sedikitpun keluar bentuk penolakan dari lisannya. Tak ada sedikitpun bentuk keraguan terpancar dari jawabannya.
فَلَمَّا أَسْلَمَا
“Tatkala keduanya telah berserah diri”
Yaitu keduanya pasrah akan ketentuan Allah, tunduk terhadap perintah Allah, dimana Ibrahim sudah membaringkan Ismail di atas wajahnya, dan sudah bersiap untuk menyembelihnya. Begitu juga Ismail pasrah dan bersabar dengan apa yang akan terjadi, sebagai bentuk keta’atan kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya.

Maka luluslah Ibrahim dari ujian yang maha berat tersebut. Beliau lebih mendahulukan kecintaannya kepada Allah, mengalahkan dorongan hawa nafsunya, bertekad untuk melaksanakan perintah Allah, dan ketika itu maka Allah gantikan Isma’il dengan hewan sesembelihan yang besar.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia..
Kisah Ibrahim dan Ismail ini, adalah kisah yang luar biasa. Padanya begitu banyak pelajaran yang dapat kita petik. Satu di antara pelajaran-pelajaran tersebut adalah kepasrahan total yang ditunjukkan oleh Ibrahim dan anaknya Ismail kepada Allah Ta’ala dan hanya kepada Allah. Ketundukan yang sempurna untuk taat terhadap apa saja yang diperintahkan oleh Allah. Keimanan yang sempurna dari seorang hamba yang betul-betul menghambakan dirinya kepada Allah. Karena itu, di akhir kisah Allah memuji Ibrahim : 
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111
“Kami abadikan untuk Ibrahim itu [pujian yang baik] di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108) [yaitu] "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". (109) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (110) Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”
Benar, bahwasanya kita semua adalah hamba Allah. Kita diciptakan oleh Allah, tidak ada satupun dari kita yang keluar dari kehendak dan kekuasaan Allah. Akan tetapi, sudahkah kita menjadi seorang hamba Allah yang betul-betul menghambakan dirinya kepada Allah? Menjadi seorang yang hamba yang betul-betul pasrah dan tunduk akan perintah Allah? 

Kaum muslimin dan muslimat yang senantiasa dilindungi oleh Allah…
Apa yang dicontohkan oleh Ibrahim dan juga anaknya Ismail alaihimassalam, dari kepasrahan dan ketundukan total kepada Allah Ta’ala adalah merupakan perealisasian dari keislaman mereka. Karena hakekat Islam adalah:
الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله
“Memasrahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkannya, tunduk kepadaNya dengan mena’atinya dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.”
Yaitu seseorang itu tunduk dan pasrah hanya kepada Allah semata, tidak kepada selain Allah. Seorang muslim dinanamakan muslim, karena ketundukan dirinya untuk ta’at kepada RabbNya, karena pada kata islam terkandung di situ makna kepasrahan yaitu dia merendahkan dirinya hanya kepada Allah, tunduk kepadaNya dan hanya beribadah kepadaNya.

Seorang yang berserah diri dan pasrah kepada Allah dan selainNya maka dia adalah musyrik. Adapun yang tidak mau tunduk dan pasrah kepada Allah maka dia adalah seorang yang sombong.
Allah Ta’ala berfirman :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ |الحج : 34
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan [korban], supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Ilahmu adalah Ilah yang Esa, karena itu berserah dirilah kamu hanya kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh [kepada Allah].”
Allah Ta’ala juga berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ |البقرة : 208
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Masuk ke dalam Islam secara keseluruhan adalah secara totalitas pada seluruh syari’at agama ini dan tidak meninggalkannya sedikitpun sehingga dia tidak termasuk orang-orang yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai Tuhan mereka. Kalau syariat ini sesuai dengan hawa nafsunya maka dia ikuti akan tetapi kalau syariat ini bertentangan dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan. Justru yang menjadi kewajiban adalah hawa nafsu haruslah tunduk kepada syariat ini dan dia melakukan apa yang dia mampu dari syariat ini. 

Adapun perkara-perkara yang dia belum mampu untuk melakukannya dia selalu niatkan dalam hatinya untuk bisa melakukannya ketika dia sudah mampu.
Itulah islam. Ketundukan dan kepasrahan total hanya kepada Allah dengan mentauhidkan Allah, tunduk dan ta’at terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah dan dia berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan dan pelakunya.

Dan sebagai teladan dan contoh kita pada perkara ini adalah para shahabat yang mulia, orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menyertai dan membantu perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala berfirman :
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ [البقرة : 285
“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. [Mereka mengatakan]: "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun [dengan yang lain] dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta’at". [Mereka berdo’a]: "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".
Allah mengkhabarkan bagaimana imannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang mukminin yang bersama mereka yaitu para shohabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in serta ketundukan mereka terhadap perintah Rabb mereka. Terhadap perintah atau larangan mereka mengatakan “Sami’naa wa atho’naa” Kami dengarkan perintahMu dan laranganMu, dan kami ta’ati dengan mengerjakan apa yang Engkau perintahkan dan menjauhi apa yang Engkau larang.
Bahkan terhadap perintah ataupun larangan yang mungkin bertentangan dengan keterbatasan akal kita untuk memahaminya, atau perkara-perkara yang belum mampu untuk kita pahami hikmahnya maka tidak ada jalan bagi kecuali adalah ketundukan dan keyakinan bahwasanya Allah Maha Bijaksana, apa yang menjadi ketentuan Allah pastilah terkandung hikmah yang luar biasa, apakah kita memahami hikmah tersebut atau belum sampai ilmu kita untuk bisa memahaminya.
Allah Taala berfirman :
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ |البقرة : 216
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi [pula] kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka di situ terdapat tauladan bagi kita bagaimana ketika keimanan itu betul-betul sudah terpatri di dalam hati maka yang ada adalah kemantapan hati tanpa kebimbangan sedikitpun terhadap yang diimani. Termasuk dari keimanan, adalah membenarkan khabar apapun yang dikhabarkan oleh Allah Ta’ala dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jama’ah sholat ied yang dirahmati Allah…
Ketahuilah ada suatu perkara, yang perkara ini adalah penghalang terbesar bagi seseorang itu untuk tunduk dan pasrah kepada Allah Ta’ala. Penghalang itu adalah kesombongan. Kesombongan dan keangkuhan pada diri seseorang akan menghalangi dia untuk menerima kebenaran sekaligus ini menyebabkan dia kagum kepada dirinya sendiri dan meremehkan manusia lainnya.
Ingatlah akan kisah Iblis la’natullahi ‘alaihi! Dia tahu keperkasaan dan kekuasaan Allah, dia paham akan kemahaagungan Allah Ta’ala. Akan tetapi kesombongan dan kecongkakan yang ada pada dirinya menjadikan dia enggan dan berpaling dari perintah Allah, menghalangi dia untuk tunduk dan ta’at kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman :
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ |البقرة : 34
“Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah [2] kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Begitu juga Allah mengisahkan :
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (76) قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (77) وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (78) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (80) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (81) قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83) [ص : 75 - 83]
“Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu [merasa] termasuk orang-orang yang [lebih] tinggi?". (75) Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". (76) Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, (77) sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan". (78) Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan". (79) Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, (80) sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya [hari kiamat]". (81) Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, (82) kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis [1] di antara mereka.”
Akibat kesombongannya yang menghalangi iblis untuk tunduk akan perintah Allah, akibatnya dia dikeluarkan dari surganya Allah dan kelak di hari kiamat dia akan merasakan adzab Allah yang maha pedih.

Kesombongan pula lah yang menghalangi umat-umat terdahulu untuk tunduk dan beriman kepada nabi-nabi dan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Bahkan lebih dari itu, kesombongan pula yang menyebabkan bani Israil membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka sebagaimana yang disebutkan Allah Ta’ala tentang mereka :
أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ |البقرة : 87
“Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu [pelajaran] yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang [di antara mereka] kamu dustakan dan beberapa orang [yang lain] kamu bunuh?”

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah…
Allah Ta’ala telah berfirman :
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [يوسف : 111
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan [kitab-kitab] yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
Sungguh pada kisah-kisah terdahulu terdapat begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik. Pelajaran dari mereka yang berbuat baik atau pun yang berbuat kejelekan. Dan barang siapa yang melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan, maka dia akan mendapatkan balasan seperti apa yang mereka dapatkan, apakah berupa kemuliaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan juga di akherat bagi siapa yang mencontoh dan meneladani ahlul khoir, para pelaku kebaikan di antara mereka ataupun kehinaan dan kenista’an di dunia serta kesengsaraan abadi di akherat bagi yang mengekor perangainya orang-orang yang berbuat keburukan.

Terakhir, sebelum kita mengakhiri khutbah ini, ada suatu kisah yang dengan kisah ini kita akan mengetahui rahasia bagaimana nabi Ismail alaihissalam tumbuh dan berkembang menjadi seorang yang sholih dan berakhlak mulia. Satu kisah, yang hendaknya menjadi pelajaran berharga terutama bagi kaum muslimat. 

Yaitu kisahnya Hajar Ummu Isma’il, ketika Nabi Ibrahim membawa beliau dan Isma’il yang ketika itu masih dalam masa susuan seorang ibu ke tempat yang gersang, tandus dan tidak ada seorang pun ada di sana bahkan tidak ada mata air yang bisa diminum. Tempat yang akhirnya sekarang ini kita kenal dengan kota Makkah. 

Tatkala Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Isma’il ke tempat itu, kemudian beliaupun meninggalkan keduanya dan sedikit perbekalan kurma dan air. Hajar pun mengejar beliau seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, kemana engkau pergi? Engkau tinggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun bahkan tidak ada sesuatu pun?”Hajar mengulang-ngulang pertanyaan tersebut, sementara Ibrahim tidak sedikitpun menoleh kepada mereka. Sampai akhirnya Hajar bertanya, 
أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا
“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk berbuat ini?”
“Iya” Jawab nabi Ibrahim.
إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا
“Kalau demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami!!”
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Ternyata kepasrahan total itu bukan hanya diwarisi Ismail dari bapaknya saja, akan tetapi ibu beliau Ummu Isma’il Hajar, juga merupakan tauladan dan contoh dari kesempurnaan iman, ketundukan dan keprasahan terhadap apa yang yang menjadi perintah Allah. Keyakinan penuh, tegas bahwasanya pasti, pasti dan pasti pertolongan Allah itu akan datang bagi siapa yang mematuhi perintahNya, bahwasanya Allah sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan siapa pun yang tunduk kepada ketentuanNya. Maka tidak heran, ketika demikian luar biasa kualitas bapak dan ibu maka hasilnya, dengan izin Allah, luar biasa pula kualitas sang anak.

Maka kaum muslimat ! Ambillah pelajaran dari kisah ini! Teladanilah Ummu Isma’il dan Nenek dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Hajar Allahu yardho ‘anhaa. Jadilah seorang muslimah yang betul-betul menyerahkan dirinya, memasrahkan dirinya, merendahkan dan menundukkan dirinya hanya kepada Allah semata! Jadilah seorang mukminah yang betul-betul yakin dengan apa yang Allah janjikan! Dan dengannya, jadilah seorang ibu yang siap untuk mencetak generasi yang akan datang, generasi yang berkualitas keislaman dan keimanannya, yang akan meneruskan kejayaan Islam sampai ke puncaknya.
Wallahu a’lam.

Mudah-mudahan kita dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari peri kehidupan orang-orang yang telah berlalu.

الله أكبر! الله أكبر! الله أكبر! لا إله إلا الله والله أكبر! الله أكبر ولله الحمد
سبحانك الله وبحمدك, أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Ayyub Abu Ayyub
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian