artikel pilihan

ISLAM MEMERANGI HOAX


Di zaman modern ini, banyak sekali kemudahan yang bisa didapatkan oleh manusia dengan cara yang sangat instan. Di antaranya adalah kemudahan dalam mendapatkan suatu berita. Akan tetapi hal ini juga membuka pintu keburukan semakin melebar. Karena banyak sekali berita palsu yang sengaja dibuat untuk menyebarkan fitnah di tengah-tengah masyarakat, atau yang sekarang lebih dikenal dengan hoax.

Tak terhitung lagi berapa banyak persatuan masyarakat yang hancur dikarenakan hoax, persahabatan menjadi renggang, hubungan keluarga menjadi retak, waktu yang terbuang dengan sia-sia, tersebarnya kebencian di tengah masyarakat. kebanyakannya disebabkan karena mempercayai sebuah informasi yang belum terbukti kebenarannya.


*****

PANDANGAN ISLAM

Ketika berbicara tentang hoax maka kita tidak bisa bebas dari kata dusta atau berbohong. Karena hakikat dari hoax adalah kedustaan yang tersebar luas di tengah masyarakat.

Kalau kita membaca Al-Qur’an, hadits, serta buku-buku para ulama maka akan kita dapati berbagai dalil yang menjelaskan tentang haramnya membuat kedustaan. Bahkan tak ada akal sehat manapun yang mengatakan bahwa berdusta adalah perbuatan terpuji.

Allah subhanahu wa ta’la telah memperingatkan tentang penyakit sosial ini dan melarang keras dari melakukan hal itu dalam berbagai ayat. Hal itu dikarenakan betapa buruknya akibat yang ditimbulkan oleh hoax. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh. Padahal pandangan Allah itu soal besar. Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, "Tidaklah pantas bagi kita membicarakan ini, Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar".[1]
Ayat ini turun berkenaan dengan kisah masyhur haditsatul ifk (kejadian berita bohong) yang dibuat oleh kaum munafik untuk memfitnah istri Nabi , Aisyah radhiyallah ‘anha. Di antara orang munafik yang sangat antusias menyebarkan berita bohong itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Cerita itu tersebar dengan sangat cepat, dari mulut ke mulut. Bahan ada beberapa sahabat yang termakan fitnah itu. Maka Allah subhanahu wata’ala menurunkan beberapa ayat untuk membebaskan Aisyah dari tuduhan keji itu.

Kemudian Allah ‘azza wajall menjelaskan ancaman bagi mereka

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji (berita bohong) itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”[2]
Di dalam ayat yang lain Allah ‘azza wajall menjelaskan keadaan seorang pembohong,

إِنَّمَا يَفۡتَرِي ٱلۡكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ١٠٥
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”[3]
Dijelaskan dalam surat Al-Baqarah bahwa berbohong merupakan salah satu sifat orang munafik, beserta balasan yang akan mereka dapat,

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”[4]
وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ٧
“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.”[5]
Sebagian ulama manafsirkan “wail” dengan sebuah jurang yang berada di neraka.

Dan masih banyak lagi ayat yang menjelaskan betapa buruknya perbuatan dusta, serta balasan yang akan dia dapatkan. Hal yang serupa akan banyak kita temukan dalam hadits Rasulullah ﷺ.

Rasûlullâh bersabda,

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ(وفى رواية لمسلم: إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ) حَتَّى يَكُوْنَ صِدِّيْقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ(وفى رواية لمسلم: وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ) حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً
“Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur, sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allâh sebagai pendusta.”[6]
Berdusta merupakan salah satu sifat orang munafik. Rasulullah ﷺ bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: Apabila berbicara, ia dusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanat, ia berkhianat.”[7]
Di dalam hadits yang lain Nabi Muhammad menjelaskan ancaman hukuman bagi pendusta. Beliau bersabda,

رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي، قَالاَ: اَلَّذِى رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ، يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغُ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Aku melihat dua orang (Malaikat), keduanya berkata, “Orang yang engkau lihat disobek mulutnya hingga telinga, adalah seorang pendusta. Ia berdusta dengan kedustaan, dibawanya kedustaan itu berkeliling atas nama dirinya hingga mencapai ufuk, maka dibuatlah ia sebagai pendusta sampai hari kiamat.”[8]
Itulah beberapa ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa agama Islam sangat menentang tersebarnya kebohongan di tengah masyarakat.

Akan tetapi sangat disayangkan, sebagian orang tertimpa penyakit ini, mereka sangat senang dengan tersebarnya isu-isu yang tidak jelas, bahkan mereka sangat mahir membuat dan menyebarkan hoax. 

Ada pula yang menjadikan hal itu sebagai profesi di masa digital ini, yang mana mereka mendapatkan penghasilan dari membuat dan menyebarkan hoax.

*****

BERDUSTA ATAS NAMA ALLAH DAN NABI ﷺ

Pembahasan ini sangat penting untuk disebutkan dalam tulisan ini. Karena kalau hoax dalam kehidupan umat manusia saja Islam sangat menentangnya, apalagi hoax tersebut berkaitan dengan Allah, Nabi-Nya, serta agama-Nya.

Sebenarnya hadits-hadits palsu sudah ada sejak dulu, akan tetapi dengan munculnya teknologi di zaman ini, hadits-hadits itu semakin banyak dan tersebar di berbagai media sosial.


Maka kaum muslimin perlu diingatkan tentang hal itu agar tidak terjerumus di dalamnya, atau ikut serta dalam menyebarkannya tanpa mereka sadari. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِ‍َٔايَٰتِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٢١
"Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu tidak mendapat keberuntungan.”[9]
Allah ta’ala juga berfirman dalam surat Az-Zumar,

وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تَرَى ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى ٱللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسۡوَدَّةٌۚ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡمُتَكَبِّرِينَ ٦٠
“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menghitam. Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?[10]
Ketika menafsirkan ayat ini Ibnul Jauzy berkata, “Sebagian ulama berpendapat bahwa berdusta atas nama Allah dan rasul-Nya merupakan bentuk kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari agama, dan tidak ada keraguan bahwa berdusta atas nama Allah dan rasul-Nya dalam menghalalkan suatu yang haram ataupun mengharamkan sesuatu yang halal adalah kekafiran yang jelas, akan tetapi permasalahannya adalah ketika berdusta dalam selain itu.”[11]

Dalam hadits shahih Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى غَيْرِي , فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَده مِنْ النَّار
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.”[12]
Nabi ﷺ juga bersabda,

مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ
“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).”[13]
Syaikh Bin Baz mengatakan, “Hadits-hadits ini menunjukkan haramnya berdusta atas nama Nabi ﷺ, dan haramnya meriwayatkan hadits yang diketahui atau disangka bahwa itu merupakan kedustaan atas nama Nabi kecuali kalau disertai peringatan bahwa hadits itu palsu. Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas sangat banyak dan mutawatir, hal itu menunjukkan dahsyatnya ancaman bagi orang yang berdusta atas nama Nabi .”[14]


*****

KETIKA ANDA MENDAPAT BERITA

Islam telah mengatur segala tindak tanduk seorang muslim dalam kehidupannya sehari-hari, termasuk ketika dia mendapatkan suatu berita. Berikut adalah beberapa hal yang selayaknya dilakukkan seorang muslim ketika mendapat berita:


1.) Klarifikasi

Allah subhanahu wata’ala telah memberikan arahan kepada kita ketika menerima sebuah kabar berita. Dia berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦
Hai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu.”[15]
Syaikh shalih Fauzan Al-Fauzan berkata, “Seorang muslim haruslah menjaga lisannya dari ucapan yang tidak ada manfaatnya, atau dari hal yang di dalamnnya terdapat keburukan bagi dirinya maupun orang lain. 

Di antara hal tersebut adalah isu atau rumor. Baik yang berkenaan dengan pribadi ataupun masyarakat. Maka wajib bagi seorang muslim untuk meneliti kebenaran kabar dahulu dan tidak perlu berbicara tentang hal itu kecuali pada keadaan yang mendesak.”[16]


2. Mengembalikan Permasalahan Kepada Orang yang Ahli di Bidangnya 

Allah ‘azza wajall berfirman,

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)...” [17]
Syaikh As-Sa’di mengatakan, “Ini merupakan bentuk pengajaran dari Allah kepada hambanya tentang perbuatan mereka yang semestinya tidak dilakukan. 

Apabila telah datang kepada mereka berita penting ataupun maslahat umum yang berkaitan dengan keamanan dan kebahagiaan kaum mukminin, atau berkaitan dengan ketakutan yang merupakan musibah terhadap mereka, seharusnya mereka meneliti dulu kebenaran berita itu serta tidak tergesa-gesa untuk menyebarkannya. 

Bahkan seharusnya mereka mengembalikannya kepada Rasul atau ulil amri di antara mereka, yang memiliki pandangan, ilmu, nasihat, akal, dan martabat. Orang-orang yang mengetahui permasalahannya dan mengetahui akibat baik dan buruk yang ditimbulkannya. 

Kalau mereka melihat ada maslahat, memberikan semangat dan kebahagiaan kepada mukminin dalam menyebarkan berita itu, maka mereka akan melakukannya. Akan tetapi kalau mereka melihat tidak ada maslahat atau ada maslahat tetapi madharatnya lebih besar, maka mereka tidak akan menyebarkannya.[18]


3.) Merenungi Kandungan Rumor yang Tersebar

Banyak sekali orang yang langsung percaya pada setiap berita yang dia dengar. 
Padahal mungkin saja berita itu mengandung kebohongan. Akan tetapi dia langsung sebar berita itu tanpa ia ketahui kebenarannya. Padahal kalau dia berfikir sejenak saja maka tidak akan banyak hoax yang tersebar.

Sebagaimana yang terjadi pada haditsatul ifk (kejadian kebohongan) yang menimpa Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kalau seandainya orang-orang di kala itu berfikir sejenak saja “Bagaimana mungkin istri Nabi  yang merupakan wanita yang paling mulia melakukan hal keji itu?”, tentu mereka tidak termakan hoax yang dibuat orang-orang munafik itu. 

Dan mereka juga tidak akan ikut andil dalam menyebarkan beritanya. Bahkan Allah menegur orang yang ikut menyebarkan berita itu

إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”[19]


4. Tidak Tergesa-Gesa dalam Menyebar Berita

Ini adalah cara yang sangat ampuh untuk meredam hoax. Karena tersebarnya hoax disebabkan oleh orang-orang yang tergesa-gesa dalam menyebarkan setiap apa yang dia dengar. Rasulullah  bersabda,

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Kehati-hatian datang dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan datang dari setan.” [20]



5. Jangan Sebarkan Semua Berita

Rasulullah  telah memperingatkan kita dari hal yang semacam ini. Beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّث بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.”[21]
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah  bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang itu berdosa ketika ia menceritakan setiap apa yang dia dengar.”
Kalau seseorang menceritakan semua yang dia dengar Nabi  dia akan terjatuh dalam qiila waqool, menceritakan sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya. 

Kalau ditanya sumbernya dia hanya bilang “katanya fulan ..., katanya fulan....”. Padahal itu merupakan hal yang dibenci oleh Allah subhanahu wata’ala,

Dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallāhu 'anhu, dari Rasūlullāh  bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ اَلْبَنَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ.
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta'ala mengharamkan atas kalian: durhaka kepada para ibu, mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup, hanya sekedar bisa menuntut hak, sementara tidak menunaikan hak orang lain (banyak menuntut sesuatu yang tidak pantas dituntutnya), Mengatakan "katanya & katanya" (banyak menukil perkataan manusia), terlalu banyak bertanya (meminta), dan membuang-buang (menyia-nyiakan) harta.”[22]

Wallahu a'lam bish showab.



Catatan:
[1] QS. An-Nur: 15-16
[2] QS. An-Nur: 19
[3] QS An-Nahl: 105
[4] QS. Al-Baqarah: 10
[5] QS. Al-Jatsiyah: 7
[6] HR. Al-Bukhari (no. 6094) dan dalam kitab al-Adabul Mufrad (no. 386), Muslim (no. 2607)
[7] HR. Al-Bukhari (no. 33), Muslim (no. 59)
[8] HR. Al-Bukhari, (no. 6096)
[9] QS. Al-An’am: 21
[10] QS. Az-Zumar: 30
[11] Adz-Dzahabi dalam kitab Al-kabair, hal. 70
[12] HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4
[13] HR. Muslim dalam muqaddimah kitab shahihnya pada Bab “Wajibnya meriwayatkan dari orang yang tsiqah –terpercaya (no. 1)
[14] https://binbaz.org.sa/old/45717
[15] QS. Al-Hujurot: 6
[16] https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/13593
[17] QS. An-Nisa: 83
[18] Tafsir As-Sa’di, hal. 190
[19] QS. An-Nur: 15
[20] Silsilah shahihah (no. 1795)
[21] HR. Muslim (no. 5)
[22] HR. Al-Bukhari (no. 2408), Muslim (4580)

___________________________

Ditulis Oleh Ustadz Agus Purwanto
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|

Artikel Pilihan

artikel pilihan/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Kids

Konten khusus anak & download e-book

Course