artikel pilihan

AGAR KHUSYU' DALAM SHALAT

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.”
[QS. Al Baqarah: 45]

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, dari hati yang tidak khusyu', dari jiwa yang tidak pernah kenyang (merasa puas), dan dari do’a yang tidak dikabulkan.” [HR. Muslim].

Para pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala.
Pada kesempatan kali ini, kami akan sedikit mengulas arti khusyu' memaparkan beberapa kiat agar shalat kita khusyu'.
Khusyu' secara bahasa artinya adalah tunduk dan tenang, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا ١٠٨
“Dan semua suara tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik.” [QS. Thaha: 108].

Adapun arti khusyu' dalam syariat adalah: tenang, patuh, dan tunduknya hati di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Berkata Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah : “Asal khusyu' adalah kelembutan, ketenangan, ketentraman, ketundukan, dan kepatuhan hati. Jika hati telah khusyu' maka semua anggota tubuh akan mengikutinya, karena semua anggota tubuh hanyalah pengikut bagi hati”. (Al-khusyu' Ibnu Rojab hal. 17).

Ketahuilah para pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala.
Sesungguhnya khusyuk dalam shalat adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta'ala, Allah subhanahu wa ta'ala hanya memberi kekhusyukan kepada orang-orang yang jujur dalam beribadah, senantiasa ikhlas kepada-Nya, melakukan perintah Nya dan mencegah larangan-Nya. Maka barang siapa yang hatinya tidak patuh terhadap perintah-Nya diluar shalat, dia tidak akan bisa merasakan lezatnya khusyu' ketika shalat, serta kedua matanya tidak akan mampu meneteskan air mata karena pekatnya hati dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta'ala, wal ‘iyaadzu billah.

Juga, siapa saja yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari kemunkaran, dia pasti melakukan sholat tersebut tidak sesuai dengan yang Allah subhanahu wa ta'ala perintahkan, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥
“Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu' ”. [QS. Al Baqarah: 45].
Juga perlu kita ketahui bersama bahwa khusyuk adalah kewajiban yang harus dilakukan bagi orang yang melakukan shalat. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawanya [22/254] ”indikasi bahwa khusyu' itu kewajiban dalam shalat adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala,
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya”. [QS. Al Mu’minun: 1-2].
Maka setelah kita mengetahui pentingnya khusyu' ketika shalat, berikut akan kami sadurkan beberapa kiat ringkas agar kita bisa merasakan kekhusyukan ketika melakukan shalat.


1. Mengenal Allah subhanahu wa ta'ala.

Ini adalah kiat yang paling penting dan paling utama, karena jika kita mengenal nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala dan sifat-sifatNya pasti akan menimbulkan kemaha agungan Allah subhanahu wa ta'ala di dalam diri kita, dan senantiasa merasakan pantauan serta pengawasan-Nya, oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ... ١٩
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah.” [QS. Muhammad: 19].
Oleh sebab itu, keilmuan yang kokoh terhadap kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا الّلُه akan membuahkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala di dalam hati, mengagungkan-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya di setiap keadaan, dan juga akan memberikan rasa malu kepada Allah karena keyakinannya akan keberadaan Allah subhanahu wa ta'ala dan kebersamaan-Nya, dia yakin bahwa Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa melihat dan mendengar segala yang dia lakukan dan ucapkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٤
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Hadiid: 4].
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada Allah subhanahu wa ta'ala) adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia”. (Madarijus Salikin, 1/420).
Maka ketika seorang hamba sadar bahwa Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa melihat dan mengawasinya di semua lini kehidupannya, akankah dia melewatkan kekhusyukan di dalam shalatnya yang mana shalat adalah amalan terbaik seorang hamba ??!!


2. Mengetahui Kemuliaan Shalat

Shalat adalah rukun Islam ke-2, juga shalat adalah ibadah yang tidak bisa ditinggalkan atau diwakilkan. Seseorang wajib melakukan shalat di segala kondisi, dengan berdiri ketika kondisinya prima, atau dengan duduk jika tidak mampu berdiri, atau dengan berbaring jika tidak mampu duduk, bahkan dengan isyarat jika tidak mampu berbaring, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
"Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah, dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah" [HR. Bukhari]
Bahkan ketika dia tidak mampu melakukan shalat, kaum muslimin wajib (kifayah) menyolatinya.
Juga shalat adalah pembeda antara keislaman dan kekufuran, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
[رواه مسلم]
“Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat”. [HR. Muslim].
Shalat juga merupakan amalan hamba yang paling pertama dihisab pada hari kiamat, juga shalat adalah penghapus dosa selama tidak melakukan dosa besar, belum lagi keutamaan langkah-langkah kaki yang berjalan menuju shalat, bahkan shalat sunnah saja lebih baik dari dunia dan seisinya!! Ini beberapa keutamaan yang kami sebutkan tentang keutamaan shalat, masih banyak seabrek kemuliaan yang Allah subhanahu wa ta'ala janjikan bagi yang melakukannya, yang intinya kita harus mengetahui keagungan shalat, sehingga itu bisa membantu kita dalam meraih kekhusyukan ketika melakukan shalat.


3. Mempersiapkan Diri Untuk Shalat

Ketika anda mempersiapkan diri anda untuk melakukan shalat, itu menandakan bahwa anda mencintai Allah subhanahu wa ta'ala, juga semangat anda ketika melakukan shalat tepat waktu dengan berjamaah adalah indikasi bahwa anda mencintai Allahsubhanahu wa ta'ala.
dalam sebuah hadist qudsy Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
و مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ
“Dan tidaklah HambaKu bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaKu dengan suatu (perbuatan) yang lebih Aku sukai dibandingkan ia melakukan kewajiban yang Aku perintahkan kepadanya.” [HR. Bukhari].
Oleh sebab itu, menegakkan shalat sesuai yang disyariatkan adalah sebab tercapainya kecintaan Allah subhanahu wa ta'ala dan keridhaan-Nya. Diantara bentuk persiapan yang harus dilakukan sebelum shalat adalah hendaknya kita menghilangkan segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dunia di pikiran kita, sehingga hati dan pikiran tidak tersibukkan olehnya. Dan ini tidak akan optimal jika kita tidak mengetahui hakikat dunia, yang mana disebutkan dalam sebuah hadist bahwa dunia dan seisinya tidaklah akan menyamai satu sayap nyamuk di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Bahkan disebutkan bahwa dunia lebih jelek dari bangkai kambing yang tergeletak di tengah jalan, juga kita hidup di dunia bagaikan orang asing atau penyebrang jalan, yang akan meninggalkannya cepat atau lambat.

Jika hati sudah kosong dari hal-hal yang menyibukkan (urusan dunia), maka sempurnakanlah wudhu sesuai yang disyariatkan dengan melakukan semua kewajibannya, syarat dan sunnah-sunnahnya, agar kita berada di keadaan yang paling suci, kemudian beranjaklah melangkah ke masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, berdo’alah ketika masuk dan keluar masjid, sempatkan untuk melakukan shalat tahiyyat masjid, dan bersemangatlah untuk meraih shaff pertama, juga menjawab apa yang dilantunkan muadzin, serta jangan tinggalkan shalat sunnah ba’diyyah dan qabliyyah.
Ini semua diantara bentuk persiapan sebelum melakukan shalat, dan pastinya sangat membantu kita untuk meraih kekhusyukan shalat.


4. Mengetahui Fiqih (Tata Cara) Shalat

Sesungguhnya mengetahui tata cara shalat yang benar adalah sebab tercapainya kekhusyukan, karena jika seseorang tidak mengetahui cara shalat yang benar bagaimana mungkin dia bisa meraih khusyuk. Suatu hari seorang lelaki shalat di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lelaki tersebut shalat sekenanya saja, lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya,
 “Kembalilah dan ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat.” [Muttafaqun ‘Alaihi].

Bagaimana mungkin shalat yang tidak dibarengi dengan thuma’ninah bisa menghasilkan kekhusyukan?! Atau shalat dengan menoleh ke kanan dan ke kiri serta melakukan gerakan diluar gerakan shalat bisa memberikan rasa khusyu' ?! Sehingga dari kejadian di atas, menunjukkan bahwa wajib bagi kita semua (kaum muslimin) untuk mengetahui apa saja rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya,sunnah-sunnahnya, dan juga pembatal-pembatal shalat, sehingga kita beribadah (menyembah) Allah subhanahu wa ta'ala dengan semua gerakan dan bacaan shalat yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam contohkan. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
(صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي  (أخرجه البخاري
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” [HR. Bukhari]. 


5. Mengetahui Bahasa Arab Untuk Mentadabburi Al-Quran

Shalat adalah ibadah tauqifiyyah, yaitu ibadah yang sudah ditentukan bagaimana tata caranya oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak ada celah bagi hamba untuk ikut mencampurinya, sehingga hamba hanya diperintah untuk melaksanakannya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Dalam ibadah shalat, tidak ada satu kata pun yang diucapkan selain kata berbahasa arab, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam contohkan dan sabdakan, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat”.

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mencontohkan dengan bacaan-bacaan berbahasa arab, barang siapa yang di dalam shalatnya membaca bacaan selain dalam bahasa arab, maka shalatnya tidak sah dan batal. Sehingga para ulama mewajibkan bahasa yang digunakan dalam bacaan shalat adalah bacaan-bacaan yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau mencontohkan dengan menggunakan Bahasa Arab.

Lantas, bagaimana jika seseorang membaca bacaan shalat sebagaimana yang dicontohkan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, tapi dia tidak mengerti arti dan maksud dari bacaan yang dia baca? Shalatnya sah, hanya saja dia tidak bisa mentadabburi ayat-ayat Al Quran, seperti ayat ancaman, atau ayat-ayat janji bagi hamba-Nya yang berbuat baik, atau kisah-kisah para Nabi dan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, atau ayat yang menceritakan kejadian di hari kiamat, keadaan para penduduk surga atau penduduk neraka, atau dia tidak bisa mentadabburi bacaan shalat ketika rukuk, sujud, tahiyyat dan sebagainya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٢
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal.” [QS. Al Anfaal : 2].

Padahal jika dia memahaminya, akan semakin bertambah keimanannya serta akan semakin kecil dan hina dirinya ketika berdiri tegak bersimpuh di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Keadaan seperti inilah yang mendorongnya kepada kekhusyukan, yang pastinya akan mengangkat dan meninggikan nilai ibadah shalatnya daripada orang yang tidak bisa mentadabburi apa yang dibacanya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٩
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya rang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [QS. Az Zumar: 9]

Juga Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا ٨٢
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah,tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. An-Nisa: 82]

Maka bergembiralah anda yang sudah mengetahui dan memahami Bahasa Arab, sehingga membantu anda untuk mentadabburi bacaan shalat yang dengannya mempermudah anda untuk meraih kekhusyukan, dan bagi anda yang belum mengetahui dan memahami makna-makna bacaan shalat, ayo segera mempelajarinya. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, terlebih jika itu kita niatkan untuk memperbagus kualitas ibadah kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Sebagai penutup, kami ingatkan kepada diri kami pribadi dan kepada para pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala, agar senantiasa mambaca disetiap do’a kita apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  baca dalam do’anya,
(اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَ ( رواه مسلم
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah kenyang (merasa puas), dan dari do’a yang tidak dikabulkan.” [HR. Muslim].

Akhir kata kami ucapkan,
وصلى الله على نبينا محمد وأله وأصحابه و التابعين, والحمد لله رب العالمين

Maraji’ :
Al-Khusyu', Ibnu Rajab;
Madariju As-Salikiin, Ibnul Qayyim;
Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah;
dll.




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Penulis: Ustadz Zubair, Lc.
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN


Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian