artikel pilihan

6 KIAT SUKSES THALABUL ILMI


Allah ta'ala menciptakan umat manusia untuk sebuah hikmah mulia: agar mereka beribadah hanya kepada-Nya. Peribadatan tersebut akan terwujud dengan baik dan optimal bila dilandasi dengan ilmu syar'i yang bermanfaat. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap individu muslim untuk mempelajari ilmu syariat yang dia butuhkan untuk menegakkan ibadahnya kepada Allah ta'ala.

Sebuah kondisi yang menggembirakan, bahwa dewasa ini, semangat umat Islam begitu besar dalam menimba ilmu syariat dan mengamalkannya. Kesadaran dan usaha tersebut, jika disertai dengan penerapan arahan-arahan para ulama, akan membuahkan hasil yang maksimal, insya'allah.

Mendapatkan warisan para Nabi (ilmu yang bermanfaat) adalah tujuan yang sangat agung, seseorang akan meraihnya apabila mencarinya melalui jalan yang telah digariskan.

Burhanul Islam Az-Zarnuji rahimahullah, (seorang ulama di abad ke-7 H) menyebutkan, bahwa di masa itu beliau menyaksikan banyak orang yang bersemangat mencari ilmu. Namun, mereka tidak mendapatkannya, karena tidak menempuh jalan yang semestinya. Itulah yang kemudian mendorong beliau untuk menulis sebuah risalah tentang tata cara belajar ilmu agama yang berjudul "Ta'limul Muta'allim Thariqat Ta'allum" (Penjelasan bagi Penuntut Ilmu tentang Metode Belajar). Beliau berkata, "Ketika saya melihat banyak penuntut ilmu di zaman kami bersunhgguh-sungguh dalam mencarinya. Akan tetapi, mereka tidak mendapatkannya. Begitu juga, mereka terhalang dari manfaat dan buah ilmu: menerapkankan dan menyebarkannya. Itu karena mereka menempuh jalan yang salah dan meninggalkan syarat-syarat untuk mendapat ilmu tersebut." ("Ta'limul Muta'allim" hlm. 57, cet. Al-Maktab Al-Islami).

Maka sudah sepantasnya bagi para penuntut ilmu untuk mengambil petuah para ulama dalam belajar, dan melalui jalan yang tertarah, sehingga sampai kepada ilmu yang diberkahi dan bermanfaat. Berikut ini adalah beberapa arahan yang disampaikan oleh para ulama yang merupakan asas-asas yang penting untuk dicermati dalam menuntut ilmu


1. Menjaga Keikhlasan 

Mempelajari ilmu syar'i adalah amal ibadah yang mendekatkan seseorang kepada Allah ta'ala dan sarana untuk meraih surga-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga." (Riwayat Muslim). Sehingga, keikhlasan menjadi unsur yang penting dalam menuntut ilmu, agar amalan tersebut bernilai di sisi Allah ta'ala. Allah ta'ala berfirman, 

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ 

"Padahal mereka tidak diperintah, kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus." (Al-Bayyinah ayat 5).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mejelaskan pentingnya ikhlas dalam beramal dalam sabda beliau,


"إنَّما الأَعمالُ بالنِّيَّات، وإِنَّمَا لِكُلِّ امرئٍ مَا نَوَى ..‏ "
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai niatannya." (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).


2. Tujuan yang Baik dalam Mempelajari Agama

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam "Kitabul 'Ilmi" bahwa tujuan mulia dalam mendalami ilmu syar'i terwujud dalam tiga hal:

a.) Mengangkat kebodohan yang ada pada dirinya. Karena pada asalnya, setiap manusia terlahir dalam keadaan tidak mengerti. Allah ta'ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 
"Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kaliandalam keadaaan tidak mengtahui sesuatu apapun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kalian bersyukur." (An-Nahl ayat 78)

b.) Menebar kebaikan di tengah umat manusia dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

بلِّغوا عني ولو آية
"Sampaikan ilmu yang kalian dapatkan dariku walaupun hanya satu ayat." (Riwayat Muslim)

c.) Menjaga dan membela Islam. Mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan ilmu syar'i menjadi sarana untuk menjaganya agar tetap lestari dan tidak hilang dari tengah umat manusia. Demikian juga, seseorang berniat untuk menjaga agama Allah ta'ala agar tetap murni dan bersih dari penyimpangan. Allah ta'ala berfirman, 

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (Ali Imran ayat 110)


3. Semangat, Kesungguhan, dan Tawakkal

Menjadi keharusan bagi seorang muslim dalam setiap langkahnya untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah ta'ala dan bersungguh-sungguh, agar usaha yang ditempuh diberkahi dan membuahkan hasil. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

 اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ, وَلَا تَعْجَزْ
"Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan menyerah." (Riwayat Muslim).


4. Berguru

Ini merupakan sendi pokok dalam menimba ilmu agama. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 
 تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ، وَيُسْمَعُ مِمَّنْ يَسْمَعُ مِنْكُمْ
"Kalian mendengarkan ilmu, kemudian ilmu tersebut didengar dari kalian, kemudian didengar dari orang yang mendengarnya dari kalian." (Riwayat Abu Dawud). 

Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata, "Untuk meraih ilmu, seseorang harus mempelajarinya dari guru yang terpercaya dalam keilmuan dan agamanya. Metode ini lebih cepat dan menghasilkan ilmu yang kuat. Karena mengambil ilmu dengan mempelajari kitab tanpa bimbingan guru, terkadang menyebabkan kesalahpahaman, tanpa disadari. Bisa jadi, itu terjadi karena pemahaman yang buruk, kurang ilmu, atau sebab yang lainnya. Adapun jika seseorang belajar di hadapan guru, maka dia bisa berdiskusi dan bertukar pendapat dengannya, sehingga banyak pintu menuju pemahaman dan ilmu yang benar terbuka baginya." ("Al-'Ilmu" hlm. 64, cet.Tsurayya)


5. Bertahap dalam Belajar

Ilmu syar'i sangatlah luas, bagaikan lautan yang tidak bertepi. Sehingga dibutuhkan skala prioritas dan metode yang baik untuk mencapai hal-hal penting yang merupakan bagian kecil dari lautan ilmu tersebut. Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata,

وبعد فالعلم بحور زاخرة * لن يبلغ الكادح فيه آخرة

لكن في أصولى تسهيلا * لنيله فاحرص تجد سبيلا

اغتنم القواعد الأصولا * ومن تفته يحرم الوصولا

"Kemudian, ilmu itu bagai lautan yang sangat lauasSeorang yang mengarunginya tidak akan sampai ke tepianAkan tetapi, dalam pokok-pokok ilmu terdapat kemudahanUntuk meraihnya, maka bersemangatlah, niscaya engkau dapatkan jalannyaManfaatkan kaidah-kaidah yang mendasarSiapa yang tidak memahami kaidah-kaidah tersebut tidak akan mampu memahami ilmu dengan baik." ("Manzhumah Ushulil Fiqh" hlm. 21 cet. Ibnul Jauzi)

Pokok-pokok ilmu adalah dalil Al-Qur'an, hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan kaidah-kaidah yang dibangun di atas dasar ilmiah. Jika hal-hal tersebut dimengerti dengan baik, maka poin-poin penting dalam ilmu sya'i dapat dikuasai dengan mudah.

Dalam menentukan bidang ilmu yang penting untuk dipelajari, selayaknya seorang penuntut ilmu untuk meminta nasihat dan arahan kepada ahlinya. Namun, secara umum, seorang muslim harus memberikan perhatian lebih terhadap akidah yang lurus, tauhid, mempelajari ibadah yang dia butuhkan dalam kesehariannya, dan ibadah yang hendak dia tunaikan, seperti tata cara bersuci, shalat, atau haji ketika dia akan melaksanakannya.

Burhanul Islam Az-Zarnuji berkata, "Seyogyanya seorang penuntut ilmu tidak memilih sendiri jenis ilmu (yang akan dipelajari). Hendaklah menyerahkan perkara tersebut kepada guru, karena guru memilki berbagai pengalaman dalam belajar, sehingga lebih mengetahui apa yang layak dipelajari dan yang sesuai dengan tabiat murid tersebut." ("Ta'limul Muta'allim" hlm. 86, cet. Al-Maktab Al-Islami)
Adapun metode belajar yang baik adalah
  1. Menghafal matan (ringkasan) bidang ilmu yang dipelajari. 
  2. Mempelajari matan tersebut dengan guru yang mumpuni.
  3. Mempelajarinya sampai tamat, tidak beralih ke kitab berikutnya sebelum menyelsaikannya.
  4. Tidak menyibukkan diri dengan kitab-kitab besar sebelum menguasai dasar-dasar ilmu.



6. Menjaga Adab dan Tata Krama

Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah menukil ucapan Yusuf bin Husain Ar-Razi rahimahullah (ulama abad ke-4 H), beliau berkata, "Dengan adab, Engkau akan memahami ilmu." Oleh karena itu, menjaga dan memperbaiki akhlak terhadap diri sendiri, guru, dan rekan sejawat merupakan unsur yang sangat penting. Dengan sebab itu Allah ta'ala akan memberkahi usahanya dalam menuntut ilmu.


***
Inilah sebagian kecil dari arahan dan wasiat para ulama bagi kita semua agar mampu menempuh jalan thalabul ilmi dengan baik. Semoga bermanfaat.



Wa billahit taufiq





------------------------------------------------


Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian