artikel pilihan

#22 | PELAJARAN-PELAJARAN PENTING DARI KISAH TURUNNYA WAHYU PERTAMA (BAG. 1)


Pembaca yang budiman, pada artikel yang lalu kita telah bawakan hadits yang shahih yang mengisahkan turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihissalam di gua Hiro. Kisah yang mulia pada hakikatnya mengandung banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Di antara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:



RASULULLAH BENAR-BENAR BERTEMU DAN BERINTERAKSI DENGAN MALAIKAT JIBRIL

Di dalam hadits disebutkan bahwa Jibril memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membaca. Tidak hanya itu, beliau bahkan mendekap Rasulullah sampai Rasulullah merasa kepayahan. Ini menunjukkan bahwa malaikat itu benar-benar ada dan memiliki bentuk fisik, bukan hanya bisikan-bisikan hati. Pertemuan beliau dengan Jibril ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar mendapatkan wahyu dari Allah. Agama yang beliau dakwahkan bukanlah hasil pemikiran beliau atau ajaran pendeta Buhaira kepada beliau sebagimana yang dituduhkan oleh sebagian orientalis. Akan tetapi agama yang beliau terima ini benar-benar wahyu yang berasal dari atas langit. [1]

Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا (4) وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلا (5) قُلْ أَنزلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (6)

Dan orang-orang kafir berkata, "Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain, " maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Katakanlah, "Al-Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Furqan: 4-6)


KENAPA IQRA’?

Mungkin menjadi pertanyaan sebagian kita, kenapa ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah adalah rangkaian ayat awal dari surat Al Alaq? Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

“Wahyu Al Qur'an yang pertama kali diturunkan adalah ayat-ayat yang mulia dan diberkati ini. Ayat-ayat ini merupakan permulaan rahmat yang diturunkan oleh Allah karena kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya, dan merupakan nikmat yang mula-mula diberikan oleh Allah kepada mereka. Di dalam surat ini terkandung peringatan yang menggugah manusia kepada asal mula penciptaan manusia, yaitu dari 'alaqah (segumpal darah).

Dan bahwa di antara kemurahan Allah ta’ala ialah Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal ini berarti Allah telah memuliakan dan menghormati manusia dengan ilmu. Dan ilmu merupakan kedudukan tersendiri yang membedakan antara Adam alaihissalaam dengan malaikat.”[2]



MEMAKNAI ILMU DARI PERSPEKTIF YANG BENAR

Di dalam ayat pertama yang diturunkan, Allah berfirman


اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
 Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang Menciptakan

Ayat ini menunjukkan kedudukan ilmu yang tinggi di mata Islam. Namun hendaknya para penuntut ilmu memahami bahwa ilmu itu tidaklah bebas nilai. Allah mengaitkan ilmu tersebut dengan penyebutan nama-Nya. Maksudnya adalah hendaknya seseorang memandang dan mengaitkan ilmu dengan keimanan. [3]



KETERKAITAN ANTARA MEMBACA DAN BERSUJUD

Hal yang menakjubkan adalah surat ini yang datang sebagai pembuka wahyu dimulai dengan permintaan untuk “membaca" ternyata diakhiri dengan perintah untuk bersujud. Hal tersebut untuk menunjukkan pentingnya membaca dan juga bersujud. Di antara kandungan surat itu adalah tentang shalat, setiap rakaat yang dilakukan oleh setiap muslim adalah dimulai dengan bacaan dan diakhiri dengan sujud, seperti surat iqra yang diawali dengan perintah untuk membaca dan diakhiri dengan perintah bersujud, itu karena besarnya kedudukan dua masalah ini dalam Islam.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perbuatan yang paling mulia dalam shalat adalah sujud, sedangkan dzikir yang paling mulia dalam shalat adalah qira’ah (membaca bacaan-bacaan yang disyariatkan), dan surat yang pertama yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah diawali dengan membaca dan diakhiri dengan sujud. Demikianlah terhitung satu rakaat, yaitu apabila dimulai dengan qiro’ah dan diakhiri dengan sujud...” [4]



MENENANGKAN ORANG YANG TRAUMA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendatangi Khadijah radhiyallahu ‘anha, beliau dalam kondisi yang sangat takut. Maka langkah pertama yang dilakukan oleh Khadijah bukanlah mencecar dengan pertanyaan atau meminta penjelasan gecara rinci, akan tetapi langkah paling pertama yang beliau lakukan adalah menenangkannya. Orang yang sedang ketakutan atau trauma sebaiknya tidak ditanya-tanya sampai hingga hilang rasa takutnya. [5]



“CURHAT” DENGAN ORANG YANG DIPERCAYA

Seorang yang menghadapi masalah mestinya tidak dirahasiakan sendiri. Dianjurkan baginya untuk membicarakan kepada orang yang dia percayai untuk bisa memberikan masukan dan pandangan. Berbagi beban atau yang dikenal di masa kita dengan “curhat” ini di antara lain bermanfaat untuk melegakan jiwa.

Masalah yang dipendam akan terasa berat dalam jiwa dan akan mengambil tempat lebih banyak dari yang semestinya dan akan menyibukkan pemiliknya melebihi yang semestinya. Oleh karena itu, tatkala dia bicarakan masalah tersebut kepada orang yang dipercaya, maka dengan sendirinya tekanan tersebut akan berkurang, karena dia seolah-olah telah menjadikan orang lain terlibat dalam memikul bebannya. Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam dengan segera menyalurkan bebannya dengan cara bercerita kepada istrinya Khadijah Radhiyallahu Anha agar dia terlibat dalam memikul beban masalah itu dan bersama dalam mencari jalan keluarnya. [6]

Dokter Rose Hilferding, seorang medical advisor di Boston Hospital, Amerika menyebutkan bahwa di antara terapi pengobatan dalam menghilangkan kegelisahan adalah seorang yang sedang menghadapi masalah menceritakan masalahnya itu kepada orang yang dia percaya. Saat seorang yang sedang menderita sakit mencurahkan permasalahannya, maka akan hilang kegelisahan dari pikirannya. [7]

Faidah kedua dari “curhat” ini  adalah seseorang bisa mendapatkan nasihat atau masukan dari orang yang dijadikan tempat curhat. Oleh karena itu, sebaiknya seorang tidak bercerita, kecuali kepada orang yang terpercaya dan dapat memberikan masukan. Ketika dia bercerita kepada seseorang yang khianat, bisa jadi masalah yang dia ceritakan malah tersebar, padahal mungkin dia ingin agar hal tersebut dirahasiakan. Tidak semua orang bisa dijadikan tempat curhat. Orang yang dijadikan tempat curhat pun tidak mesti seorang dokter, psikolog, atau ustadz-ustadzah. Hal yang terpenting adalah orang itu bisa dipercaya, mau mendengar serta concern dengan masalah kita.[8]

Dan tentunya yang lebih baik lagi adalah apabila seseorang mengembalikan masalahnya kepada Allah Yang Maha Mendengar. Dia bermunajat kepada Allah, meminta bantuan atas problematika besar yang  sedang dia hadapi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang menghadapi masalah yang besar, beliau beristighatsah, bersungguh-sungguh meminta bantuan kepada Allah ta’ala sampai Allah berikan bantuan dan menjadikan hati beliau tenteram kembali.

Di Perang Badar, ketika beliau shallallahu 'alaihi wassalam melihat jumlah pasukan musyrikin sebanyak seribu personil, sedangkan jumlah para sahabatnya hanya tiga ratus personil lebih sedikit, maka beliau masuk ke dalam kemah beliau sambil memohon kepada Rabbnya seraya mengangkat tangan dan menghadap kiblat. Beliau berdoa, “Ya Allah, tunaikanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika Engkau menghancurkan kelompok orang Islam ini, niscaya Engkau tidak lagi diibadahi di muka bumi”

Beliau terus melakukan istighatsah kepada Rabbnya seraya mengangkat tangannya, sampai-sampai selendang beliau jatuh dari pundak, lantas diambil oleh Abu Bakar radhiallahu'anhu dan diletakkannya kembali di atas pundak beliau. Kemudian Abu Bakar radhiallahu'anhu mendekati beliau lalu berkata, “Wahai Nabi Allah, Rabbmu pasti mengabulkan permohonanmu. Sesungguhnya Dia pasti menunaikan janji-Nya kepadamu.”

Hal ini kemudian diabadikan oleh Allah di dalam Al Qur’an,

{إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ (9) وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (10) }

“(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu diperkenankan-Nya bagi kalian, "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang berturut-turut." Dan Allah tidak mengirim bala bantuan itu, melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati kalian menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha­bijaksana.” (Al Anfaal: 9)[9]


Wallahu a’lam bisshaawab.



CATATAN KAKI:

[1] Lihat kisah pertemuan beliau dengan pendeta Buhaira pada tulisan kami yang berjudul “Masa Remaja Rasulullah Bag. 1”
[2] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri et al., Al Misbah Al Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, (Riyadh: Darussalam, 2013), hlm. 1583.
[3]Zaid bin Abdul Karim Az Zaid, Fiqhus Sirah, (Riyadh: Darut Tadmuriyyah, 1424 H) hlm. 125.
[4] Ibid., hlm 124.
[5] Ibid., hlm 125.
[6] Ibid., hlm. 125-126.
[7] Ibid.
[8] Ibid., hlm. 127.
[9] Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syarah Tsalatsatil Ushul, (Riyadh: Daruts Tsuroyya, 2005), hlm. 65.



Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian