artikel pilihan


#21 | WAHYU PERTAMA



Pembaca yang budiman, pada artikel yang terakhir, kita telah kemukakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira. Di tengah-tengah kebiasaan beliau inilah, wahyu yang pertama diturunkan kepada beliau.

Ketika itu usia Rasulullah menginjak empat puluh tahun menurut pendapat yang terkenal di kalangan para ulama. Hal ini telah diriwayatkan dari sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, demikian juga dari Atha’, Sa’id bin Al Musayyib dan yang selain mereka. Usia empat puluh tahun ini adalah usia di mana seorang lelaki mencapai puncak kecerdasan, kematangan berpikir, serta keluasan wawasannya. [1]

Menurut Asy Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, setelah melalui pengamatan dan perenungan terhadap beberapa bukti-bukti dan tanda-tanda yang akurat, kejadian turunnya wahyu pertama terjadi pada hari Senin, malam ke-21 Ramadhan dan bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Usia beliau saat itu empat puluh tahun enam bulan dua belas hari menurut kalender qamariyyah (berdasarkan pengamatan bulan) dan sekitar tiga puluh sembilan tahun tiga bulan dua puluh hari; ini menurut penanggalan syamsiyyah (berdasarkan pengamatan matahari).[2]

Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari di dalam shahihnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الخَلاَءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ - وَهُوَ التَّعَبُّدُ - اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ العَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا، حَتَّى جَاءَهُ الحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ


“Dahulu pertama kali yang dialami oleh Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar waktu tidur. Beliau tidak bermimpi kecuali dalam bentuk seperti waktu subuh. Kemudian beliau senang menyendiri. Maka beliau menuju ke gua Hira melakukan tahannuts (beribadah) [3] beberapa malam, lalu pulang menemui istrinya sekaligus mengambil bekal, lalu berangkat lagi. Kemudian beliau pulang kembali menemui Khadijah untuk berbekal kembali. Hingga beliau dikejutkan dengan datangnya kebenaran ketika beliau di dalam Gua Hira.”

Kemudian beliau melanjutkan kisahnya…


فَجَاءَهُ المَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ، قَالَ: «مَا أَنَا بِقَارِئٍ»، قَالَ: " فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ، قُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ، فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ. اقرأ وربك الأكرم . الذي علم بالقلم علَّم الإنسان ما لم يعلم}
 [العلق: 1-5]

Maka suatu malam Malaikat mendatanginya seraya berkata, “Bacalah!”

Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Beliau berkata, “Lalu dia mendekapku hingga aku merasa kepayahan. Kemudian dia melepaskanku dan kembali berkata, “Bacalah!”

Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Dia kembali mendekapku yang kedua kali hingga aku merasa kepayahan. Kemudian aku dilepas dia kembali berkata, “Bacalah!”

Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Maka dia mendekapku yang ketiga kalinya sampai aku merasa kepayahan. Kemudian dia melepaskanku, lalu berkata,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
 
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al Alaq: 1-5)

فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقَالَ: «زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي» فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الخَبَرَ: «لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي» فَقَالَتْ خَدِيجَةُ: كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَكْسِبُ المَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ

Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pulang dalam keadaan gemetar hingga menemui Khadijah seraya mengatakan, “Selimuti aku, selimuti aku.”

Lalu Khadijah radhiyallahu ‘anha menyelimuti beliau hingga hilang rasa takutnya.

Beliau kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Khadijah dan berkata, “Aku khawatir sesuatu akan terjadi pada diriku…”

Khadijah kemudian mengatakan, “Sekali-kali tidak… Demi Allah, sungguh Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambung tali persaudaraan, suka menolong orang yang membutuhkan, membantu orang miskin, engkau juga suka menjamu tamu, dan membantu orang untuk menunaikan haknya."

فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ العُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الكِتَابَ العِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ،

Lalu Khadijah mengajak Rasulullah untuk  menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza, Beliau adalah sepupu Khadijah dari sebelah bapaknya. Ketika itu Waraqah adalah seorang pemeluk agama Nashrani di masa jahiliyah. Waraqah adalah seorang yang menulis dalam bahasa Ibrani. Beliau menulis Injil dengan bahasa Ibraniyah sesuai dengan apa yang telah Allah kehendaki bagi beliau. Ketika itu beliau sudah sangat tua dan buta.

فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ: يَا ابْنَ عَمِّ، اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى؟ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ»، قَالَ: نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا. ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ، وَفَتَرَ الوَحْيُ

Khadijah berkata, “Wahai sepupuku, coba dengarkan apa yang dituturkan oleh anak saudaramu ini!”

Waraqah lalu mengatakan, “Wahai anak saudaraku apa yang terjadi pada dirimu?"

Maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam menceritakan peristiwa yang beliau lihat.

Lalu Waraqah berkata, “Itu adalah namus (malaikat) yang diturunkan kepada Nabi Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”

Waraqah mengatakan, “Ya, tidaklah seorang pun yang mendapatkan wahyu sepertimu kecuali dia akan disakiti. Jika aku masih hidup mendapati saat itu, aku akan menolongmu dengan segenap kemampuan yang ada.”

Kemudian tidak lama setelah itu Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus.

Wallahu a’lam bisshawab.

**********


CATATAN KAKI:

[1] Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Ushulun fit Tafsir, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1423 H), hlm. 10.
[2] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 85.
[3] Lihat perincian makna tahannuts pada artikel sebelum ini.

-----

|| Seri Artikel Sirah Nabawiyah oleh Ustadz Wira Mandiri Bachrun Al Bankawy حَفِظَهُ اللهُ ||


Artikel Sebelumnya:

#20 | BERKHALWAT DALAM GUA HIRA#19 | PENDAHULUAN KENABIAN
#18 | PENJAGAAN ALLAH TERHADAP RASULULLAH SEBELUM MASA KENABIAN #17 | RASULULLAH ﷺ IKUT MEMBANGUN KEMBALI KA’BAH
#16 | PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH RADHIYALLAHU ANHA
#15 MASA REMAJA RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM # 2
#14 MASA REMAJA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM #1
#13 PEMBELAHAN DADA RASULULLAH ﷺ DAN WAFATNYA SANG IBU
#12 HIDUP DI TENGAH BANI SA’AD
#11 PENYUSUAN RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM
#10 AYAH DAN IBU RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
#9 NASAB DAN KELUARGA BESAR RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM
#8 KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM
#7 KISAH PASUKAN GAJAH #2
#6 KISAH PASUKAN GAJAH #1
#5 SEJARAH KOTA MAKKAH
#4 MENGAPA NABI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM DITURUNKAN DI ARAB
#3 MENGENAL BANGSA ARAB JAHILIYAH (Bagian #2)
#2 MENGENAL BANGSA ARAB JAHILIYAH (Bagian #1)
#1 SIRAH NABAWIYAH DAN KEUTAMAAN MEMPELAJARINYA


------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|

Artikel Pilihan

artikel pilihan/carousel

Arsip Artikel Per Bulan



Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id



Kids

Konten khusus anak & download e-book




Course