artikel pilihan

KATAKAN TIDAK UNTUK KESYIRIKAN



Kaum muslimin rahimakumullah!


Ketahuilah bahwa Syirik itu secara bahasa artinya: menyamakan dua perkara. Dan secara istilah, ada dua makna:
  • Makna umum: menyamakan Allah subhanahu wa ta'ala  dengan selain Allah ta'ala, pada perkara yang merupakan kekhususan Allah subhanahu wa ta'ala.
  • Makna khusus: menjadikan sesuau sebagai tandingan atau sekutu bagi Allah ta'ala, yang diminta sebagaimana meminta kepada Allah ta'ala, yang dicintai sebagaimana mencintai Allah ta'ala, yang digantungkan harapan sebagaimana kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yang dijadikan sandaran dalam tawakkal sebagaimana bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahaya perbuatan kesyirikan yaitu:

1. Larangan terbesar yang pertama kali Allah sebutkan dalam Al Quran:


الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqoroh: 22)

2. Kedhzoliman dan kemungkaran terbesar:


وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Luqman: 13)

3. Penghalang keridhoan Allah, walaupun beramal baik sebanyak dan sebaik apapun:

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (Az-Zumar: 7).

4. Tidak akan pernah diberikan ampunan selama-lamanya jika wafat tidak bertaubat darinya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An-Nisa: 48).

5. Menggugurkan segala amalan baik di dunia, walaupun banyak sholatnya, puasanya, sedekahnya dst.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Az Zumar: 65).

6. Kelak di akhirat, menjadi penghuni neraka jahannam yang kekal selama-lamanya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Al-Bayyinah: 6).

7. Bagi pemerintah Islam yang menjalankan syariat Islam diperintahkan kepada mereka untuk memerangi pelaku kesyirikan.

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ ۚ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. (At-Taubah: 5).

Inilah tujuh perkara dari sekian banyak konsekwensi dari perbuatan kesyirikan.


JENIS JENIS KESYIRIKAN

Para ulama membagi jenis-jenis kesyirikan dalam beberapa kategori, dan intinya sama. Diantaranya membagi kesyirikan ditinjau dari tiga jenis tauhid, dan kita pernah sebutkan tiga jenis tauhid tersebut di buletin Al-Muslim ini. Maka demikian juga Kesyirikan sebagai lawan dan penggugur tauhid, jenisnya ada tiga:

1. Kesyirikan dalam Rububiyyah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, sebagai Robb (pemilik sifat rububiyyah) dari alam semesta”

Maka segala makna rububiyyah hanyalah milik Allah semata, jika dipalingkan kepada selain-Nya maka itulah kesyirikan, misalnya dengan menyakini ada selain Allah yang mengatur alam, turunnya hujan, mengatur rezeki, menghidupkan dan mematikan serta selainnya dari perbuatan-perbuatan khusus hanya bagi Allah. 

Seperti keyakinan syiah adanya wali yang mengatur di kutub utara dan selatan, keyakinan orang jawa adanya dewi sri yang menyebabkan tanaman subur, meyakini jimat-jimat dengan menggantungkan kalung di leher atau cincin di jari, keyakinan dengan menanamkan telur busuk untuk menolak balak dan seterusnya dari segala keyakinan adanya makhluk tertentu yang menyebabkan timbulnya bahaya dan manfaat.

2. Kesyirikan dalam Uluhiyyah.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-taubah: 31).

Maka tatkala ada salah satu saja dari jenis-jenis ibadah diserahkan kepada selain Allah ta’ala itulah perbuatan kesyirikan. 

Misalnya: melaksanakan ibadah yang diniatkan untuk selain Allah ta’ala, berdo’a dan meminta keberkahan di kuburan orang-orang shalih atau wali-wali songo, sujud kepada makhluk, bertawakkal kepada makhluk, mencintai sesuatu sama cintanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala atau bahkan mengalahkan cintanya kepada Allah, dan seterusnya dari ibadah-ibadah lainnya yang ditujukan kepada selian Allah ta’ala.

3. Kesyirikan dalam permasalahan nama dan sifat bagi Allah subhanahu wa ta'ala.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik), (Thoha: 8)
Berdasarkan ayat ini, Allah itu memiliki nama dan sifat yang penuh dengan kesempurnaan dan keindahan. Dari nama-nama tersebut ada yang khusus milik-Nya dan tidak boleh selainnya bernama dengannya, jika menamakan dengannya atau menolaknya atau memalingkan maknanya itulah kesyirikan.

Misalnya: bernama Arrahman, mengatakan Allah subhanahu wa ta'ala ada di mana-mana padahal Allah terangkan bahwa Ia di atas langit di atas seluruh makhluknya, atau menyamakan Allah subhanahu wa ta'ala dengan makhluk dari sifat-sfat-Nya.


Dari setiap tiga jenis kesyirikan tersebut, kadang bentuknya kesyirikan akbar dan juga bisa syirik asghor.


Kaum Muslimin rahimakumullah!.
Yang diinginkan dari penjelasan ini semua adalah agar kita benar-benar memurnikan keimanan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, menjadikan-Nya satu-satunya yang diibadahi satu yang diminta, satu tempat kita bertawakal, satu tempat kita gantungkan segala harapan. Dan tidak dicampuri keiman tersebut dengan kesyirikan sedikitpun.
لَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-An’am: 82).

Menjadikan Allah satu-satunya yang dituju dari seluruh ibadah kita, imam Ibnu Qoyyim dalam syairnya berkata:


فَلِوَاحِدٍ كُنْ وَاحِدًا فِي وَاحِدٍ ... أَعْنِىْ سَبِيْلَ الْحَقِّ وَالايمانِ
Maka, untuk yang Esa, jadilah engkau yang mengesakan-Nya di atas jalan yang satu... yaitu jalan kebenaran dan keimanan.

Wallahu’alam.

Semoga Allah melindungi dan menjauhkan kita semua dari segala kesyirikan.
(Rujukan: Al-Qur’an karim, Tamhid fi syarhi Kitab at-Tauhid, Ushulul Iman, dll).




------------------------------------------------




Ditulis Oleh Ustadz Hudzaifah Bin Muhammad


Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian