artikel pilihan

MEMETIK PELAJARAN DARI KISAH ISRA' DAN MI'RAJ


Di antara peristiwa yang paling penting dalam perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Isra’ dan Mi’raj, sebuah perjalanan yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wata’ala. Ia merupakan mukjizat yang agung yang Allah subhanahu wata’ala khususkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bentuk pemuliaan dan pertolongan atas permusuhan kaum musyrikin, dan juga sebagai mukjizat yang menguatkan dan mengokohkan jalan dakwah yang beliau emban. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah subhanahu wata’ala limpahkan kepada beliau, keluarga serta para sahabat dan pengikutnya.


Pengertian Isra’ dan Mi’raj

Al-Isra’ ialah peristiwa ketika Allah subhanahu wata’ala memperjalankan rasul-Nya dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha, kemudian kembali lagi menuju Makkah pada malam itu juga.

Allah ta’ala telah mengabadikan kisah isra’ Rasul-Nya di dalam Al Quran. Allah ta’ala berfirman: 
[سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  [الإسراء: 1
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al Isra: 1].


Adapun Al-Mi’raj maksudnya adalah naiknya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari Baitil Maqdis ke atas langit yang ke tujuh kemudian kembali lagi ke bumi pada malam itu juga.

Allah mengisyaratkan dalam firman-Nya di surat An Najm, Allah ta’ala berfirman:
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (6) وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى (7) ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (8) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (9) فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى (10) مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى (11) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (12) وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18) النجم: 1 - 18
”Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar ( 18 ).” [QS. An Najm: 1-18]



Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan kejadian Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Dan hadits-hadits Mi’raj, naiknya Beliau ke atas langit, perintah shalat lima waktu, penglihatan beliau kepada tanda-tanda kebesaran Allah, surga dan neraka, para Nabi yang ditemui di langit, baitul ma’mur, sidratul muntaha, dan selainnya telah diketahui secara mutawatir dalam banyak hadits.”



Waktu terjadinya Isra’ Mi’raj

Para Ulama bersepakat bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi sebelum hijrah, adapun kapan tepatnya maka terdapat banyak pendapat dalam hal ini dan tidak menjadi masalah yang penting untuk diketahui, karena yang terpenting adalah Isra’ Mi’raj itu nyata terjadi dan disebutkan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara mutawatir dan juga Ijma’.


Isra’ Mi’raj, Perjalanan Jasad dan Ruh Sekaligus

Mayoritas ulama _salaf dan khalaf_ mengatakan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi dalam satu malam, dalam keadaan beliau terjaga dan dengan jasad dan juga ruhnya sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam...” [QS. Al Isra: 1]
Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Isra’ Mi’raj terjadi dalam satu malam, dalam keadaan beliau terjaga dan dengan jasad dan ruhnya, dan inilah pendapat mayoritas ulama ahli hadits, para fuqaha, dan ahli kalam...”.


Kisah Isra’ Mi’raj (Ringkas)

Allah memperjalankan Nabi-Nya pada malam itu bersama Jibril ‘alaihisssalam dengan menaiki Buraq (seekor hewan tunggangan berwarna putih, lebih tinggi dari keledai,lebih rendah daripada bighal) dari Makkah menuju Baitul Maqdis kemudian beliau shalat dua rakaat. Kemudian Jibril ‘alaihisssalam naik bersamanya ke atas langit.

Di langit dunia ada Nabi Adam, di langit ke dua ada Nabi Yahya,kemudian Nabi Yusuf di langit ke tiga, kemudian Nabi Idris di langit ke empat, kemudian Nabi Harun di langit ke lima, kemudian Nabi Musa di langit ke enam, dan kemudian di langit ke tujuh ada Nabi Ibrahim ‘alaihimusssalam. Di setiap (tingkatan) langit Jibril‘alaihisssalam meminta izin maka diberikan izin dan sambutan untuknya.

Kemudian naiklah beliau menuju sidratul muntaha dan Allah wahyukan kepadanya kewajiban shalat 50 kali dalam sehari semalam. Kemudian terus menerus beliau meminta keringanan hingga diringankan menjadi 5 kali shalat dalam sehari semalam. 

Tidak ada satu hadits pun yang secara lengkap dan detail menjelaskan kejadian ini, akan tetapi masing masing riwayat saling melengkapi satu dengan lainnya. Adapun kisahnya secara lengkap bisa dibaca di dalam buku-buku para Ulama dan sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.


Pelajaran dari Kisah Isra’ Mi’raj

Perjalanan Isra’ Mi’raj bukanlah peristiwa biasa yang berlalu kemudian dilupakan, ia merupakan mukjizat agung yang banyak memberikan pelajaran dan renungan kepada kita. Di antara pelajaran dan faedah yang bisa kita petik adalah:


Buah Manis Kesabaran

Sesungguhnya kemenangan itu bagi orang-orang yang bersabar, dan akhir yang baik hanyalah untuk orang-orang yang bertakwa. Setelah apa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari permusuhan dan gangguan dari kaum musyrikin di Makkah, datanglah kemuliaaan dengan Isra’ Mi’raj.

Setelah kesedihan yang beliau alami dengan kematian keluarga dan orang-orang terdekatnya, istri dan pamannya yang selalu membela dan menolongnya, datanglah Isra Mi’raj sebagai mukjizat yang menguatkan dan mengokohkan keimanan, melapangkat hati dan mengangkat derajat. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita agar selalu yakin dengan janji Allah dan bersabar atas cobaan dan ujian.


Berpegang Teguh pada Prinsip Kebenaran dan Keimanan


Para nabi dan rasul, shiddiqin dan syuhada, mereka adalah teladan dalam memegang prinsip kebenaran, teguh dalam keimanan. Adalah Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu ’anhu, sahabat mulia yang selalu terdepan dalam membenarkan dan mengimani apa-apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika orang-orang kafir mengingkari dan menertawakan berita tentang isra’ dan mi’raj-nya Rasullullah, Abu Bakar radhiyallahu ’anhu adalah yang terdepan dalam membenarkan dan mengimaninya. Beliau mengajarkan kepada kita bagaimana keteguhan dan keimanan kepada prinsip-prinsip kebenaran.


Tingginya Kedudukan para Nabi dan Kecintaan di antara Mereka


Para nabi dan rasul adalah pembawa jalan hidayah bagi umat manusia. Meskipun syari’at mereka berbeda-beda, akan tetapi agamanya tetap satu, menyeru kepada tauhid. Dalam kisah Isra’ Mi’raj ini nampak bagi kita kecintaan mereka satu dengan yang lainnya, terlihat dari sambutan, doa dan perhatian mereka terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.


Kedudukan Masjid Al Aqsha


Masjid Al-Aqsha merupakan bagian tak terpisahkan dari umat Islam. Ia adalah kiblat pertama kaum muslimin, satu dari tiga masjid yang paling utama di dunia. Semoga Allah menyatukan shaf kaum muslimin dan menyegerakan kemenangan atas penjajahan dan musuh-musuh Islam.


Penjelasan beberapa Masalah Aqidah Islam


Dalam kisah Isra’ Mi’raj terdapat beberapa masalah penting terkait aqidah. Di antaranya: 
  1. Penetapan sifat ‘uluw (ketinggian) atas Allah subhanahu wata’ala, di atas langit ke tujuh, di atas ‘arsy-Nya.
  2. Nabi melihat Allah pada peristiwa Mi’raj (ada silang pendapat apakah melihat langsung atau dengan mata hati).
  3. Penetapan sifat kalam bagi Allah subhanahu wata’ala.
  4. Keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atas seluruh nabi dan rasul.
  5. Tempat keberadaan arwah.
  6. Kehidupan alam barzakh bagi para nabi dan selainnya.
  7. Penetapan nikmat dan siksa kubur.
  8. Keberadaan surga dan neraka.
  9. Tanda-tanda hari kiamat.
  10. Pentingnya ibadah shalat 5 waktu.
  11. Penghambaan adalah kedudukan tertinggi seorang manusia.
  12. Dll.


Apakah Kita Merayakan/Memperingati Isra’ Mi’raj?

Kita ketahui bersama bahwa sebagian kaum muslimin senantiasa memperingati malam Isra’ Mi’raj setiap tahunnya di bulan Rajab tanggal 27.

Pada hari-hari tersebut diadakan acara-acara seperti ibadah, dzikir, doa bersama, pembacaan ‘mi’raj’ yang dinisbatkan kepada ibnu ‘Abbas, dll.

Perlu kita ketahui bersama bahwa setelah kejadian Isra’ Mi’raj sampai wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pernah ada acara peringatan Isra’ Mi’raj. 

Tidak pula diperintahkan oleh Khulafa’ ar Rasyidun dan generasi setelahnya untuk memperingatinya, sedangkan mereka adalah generasi terbaik umat Islam yang menjadi contoh dan panutan baik dalam ibadah maupun mu’amalah. 

Dari sini dapat kita simpulkal bahwa acara perayaan ini tidak ada dasarnya baik dari kitab, sunnah, ijma’, perkataan sahabat, ataupun dari para imam yang diikuti. Bahkan boleh dikatakan bahwa ini merupakan perkara yang diada-adakan setelah sempurnanya syariat Islam.


Ada dua poin yang perlu diperhatikan dalam masalah peringatan Isra’ Mi’raj:
  1. Tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya Isra’ Mi’raj. Para ahli ilmu berselisih dengan pendapat yang banyak dan berjauhan, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa pendapat yang mengatakan Isra’ Mi’raj terjadi pada bulan Rajab adalah kedustaan. 
  2. Kalaupun toh diketahui secara pasti tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj, kaum muslimin tetap tidak diperbolehkan untuk mengadakan peringatan dan perayaan karena Nabi tidak pernah mengkhususkan hal tersebut, begitu juga para sahabat. Seandainya mereka merayakannya, pasti akan ada riwayat yang sampai kepada kita. Hal ini senada dengan penjelasan Syaikh bin Baz rahimahullah ketika menjelaskan masalah ini.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “adapun apa-apa yang disepakati para salaf untuk ditinggalkan maka tidak boleh untuk diamalkan, karena mereka tidak meninggalkannya kecuali dengan ilmu bahwasanya hal itu tidak (boleh) diamalkan.” 

Maka yang wajib bagi kita adalah mencukupkan diri pada apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi awal umat Islam.
Wallahu a’lam.



Disarikan dari:



------------------------------------------------

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian