artikel pilihan

ADAB TERHADAP ALQUR’AN


Allah ta’ala berfirman,


ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS Al Hajj : 32]


Diantara syiar-syiar agama Allah subhanahu wa ta'ala adalah Al-Qur’an Al-Karim karena ia merupakan kalam Allah subhanahu wa ta'ala sehingga harus dimuliakan dan dihormati. Di antara adab terhadap Al Qur’an adalah:


1. Meyakini Bahwa Al-Qur’an adalah:
  • Kalamullah, Firman/Wahyu Allah subhanahu wa ta'ala.
  • Diturunkan melalui perantaraan Malaikat Jibril 'alaihissalam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bahasa Arab yang dapat dipahami dengan jelas.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala,


وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ ١٩٣ عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ ١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيّٖ مُّبِينٖ
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” [QS. Asy-Syu’araa’ : 192-195]. 

***

2. Menolak Keyakinan bahwa Al Qur’an adalah Makhluk

Al-Imam Ar-Rabi’ (Sahabat dan Murid Al-Imam As-Syafi'i) berkata:


سمعت الشافعي رحمه الله تعالى يقول : القرآن كلام الله عز وجل غير مخلوق ، ومن قال مخلوق فهو كاف
Aku mendengar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: ”Al-Qur’an itu adalah Kalamullah subhanahu wa ta'ala, bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan bahwasannya ia adalah makhluk maka ia telah kafir” [Asy-Syari’ah oleh Al-Imam Al-Ajurri hal. 59; Maktabah Al-Misykah].

***

3. Tidak Boleh ada Keraguan Terhadap Al Qur’an yang Merupakan Pedoman Hidup bagi Orang yang Beriman dan Petunjuk bagi Orang yang Bertaqwa

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
الٓمٓ ١ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢
”Alif laam miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” [QS. Al Baqarah: 1-2]
Ayat di atas sekaligus bantahan terhadap keyakinan bahwa:
  • “Al Qur’an perlu direvisi” atau
  • “Al Qur’an tidak universal dan tidak relevan untuk setiap waktu dan tempat” dan ungkapan-ungkapan yang semisal dengannya dari berbagai bentuk keraguan atau keyakinan yang menyimpang terhadap Al Qur’an.

***

4. Tidak Menyentuh Al Qur’an Kecuali dalam Keadaan Suci

Orang yang berhadats (hadats besar seperti wanita yang sedang haidh, nifas, dan junub atau hadats kecil seperti orang yang sehabis kentut atau kencing dan belum bersuci.) tidak boleh menyentuh mushaf seluruhnya atau sebagiannya. Inilah pendapat Jumhur (mayoritas) para Ulama.
Dalil dari hal ini adalah firman Allah ta'ala,


لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” [QS. Al Waqi’ah: 79].
Begitu pula sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu,


لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ
“Janganlah menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” [HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih].
Lihat kitab Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, Al-Imam Al-Qurthubi dalam penjelasan tafsir surat Al-Waqi'ah ayat 79 diatas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun menyentuh mushaf maka pendapat yang benar wajib berwudhu sebelum menyentuh mushaf sebagaimana pendapat jumhur (mayoritas ulama). Inilah pendapat yang diketahui dari para sahabat, seperti Sa’ad, Salman, dan Ibnu Umar” (Majmu’ Al Fatawa, 21/288)


***

5. Tidak Membawa Al-Qur'an ke Tempat yang Kotor dan Najis

Komite Tetap Kajian Ilmiah Dan Fatwa Kerajan Saudi Arabia ditanya, "Salah seorang diantara kami membawa mushaf di sakunya dan kadang-kadang ia masuk ke dalam wc dengan itu. Apa hukumnya? Tolong beri kami faedah."
Jawaban:
الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه . وبعد .
“Membawa mushaf di dalam saku adalah boleh. Dan tidak boleh bagi seseorang untuk masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa mushaf. Sebaliknya, hendaklah ia meletakkan mushaf itu di tempat yang layak sebagai bentuk pemuliaan terhadap Kitab Allah ta'ala dan penghormatan kepadanya. Akan tetapi, jika terpaksa untuk masuk ke dalam kamar mandi sambil membawanya karena takut ada yang mencurinya jika diletakkan di luar, maka boleh baginya untuk membawanya masuk karena darurat.”
[Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta, soal II dari no. 2245]

Bagaimana dengan Handphone yang didalamnya terdapat aplikasi Al Qur’an?

Di dalam kitab Fiqh An Nawazil fil ‘Ibadah, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan pertama, tahun 1433 H, hal. 96-98, Syaikh Prof. Dr. Kholid bin ‘Ali Al Musyaiqih menjelaskan: “Handphone yang memiliki aplikasi Al Qur’an atau berupa soft file, tidak dihukumi seperti hukum mushaf Al Qur’an (di mana harus dalam keadaan bersuci ketika ingin menyentuhnya, -pen). Handphone seperti ini boleh disentuh meskipun tidak dalam keadaan thoharoh (bersuci). Begitu pula HP ini bisa dibawa masuk ke dalam kamar mandi karena aplikasi Al Qur’an di dalamnya tidaklah seperti mushaf. Ia hanya berupa aplikasi yang ketika dibuka barulah nampak huruf-hurufnya, ditambah dengan suara jika di play. Aplikasi Al Qur’an tersebut akan tampak, namun jika beralih ke aplikasi lainnya ia akan tertutup. Yang jelas aplikasi tersebut tidak terus ON (ada atau nyala). Bahkan dalam HP tersebut bukan hanya ada aplikasi Al Qur’an saja, namun juga aplikasi lainnya.

Ringkasnya, HP tersebut dihukumi seperti mushaf ketika aplikasinya dibuka dan ayat-ayat Al Qur’an terlihat. Namun lebih hati-hatinya, aplikasi Al Qur’an dalam HP tersebut tidak disentuh dalam keadaan tidak suci, cukup menyentuh bagian pinggir HP-nya saja. Wallahu a’lam.”


***

6. Memuliakan Al Qur’an dengan Meletakkan Mushaf Al Qur’an pada Tempat yang Selazimnya

Al Imam Al Qurthubi berkata dalam Tafsirnya, menukil ucapan At Turmudzi Al Hakim Abu Abdillah di dalam Nawadir Al Ushul:

“Diantara bentuk memuliakan Al-Qur’an adalah:
  • Apabila ia meletakan Al-Qur'an janganlah ia biarkan dalam keadaan berserakan;
  • Jangan meletakan sesuatu di atas Al-Quran berupa kitab-kitab ilmiyah atau selainya, sehingga posisinya lebih tinggi diatas Al-Qur'an.
  • Tidak Menulis Al-Qur'an di atas tanah dan dinding sebagaimana hal ini dilakukan pada masjid-masjid yang ada belakangan ini.”
Dari Abu Darda’ radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


إذا زخرفتم مساجدكم و حليتم مصاحفكم فاالدبار عليكم
“Jika kalian sudah bermegah-megahan dengan masjid kalian dan kalian telah menghias-hiasi mushaf kalian maka kebinasaan (akan menimpa) atas kalian.”(H.R Hakim)
Dari Muhammad bin Az-Zubair berkata aku mendengar Umar bin Abdul Aziz bercerita: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati sebuah tulisan di atas tanah, maka beliau berkata kepada seorang pemuda dari Hudzail: “Apa ini?”, Ia berkata: “Tulisan dari Kitab Allah yang ditulis orang Yahudi.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


لعن الله من فعل هذا لا تضعوا كتاب الله إلا موضعه
“Semoga laknat Allah menimpa orang yang melakukan perbuatan ini, janganlah kalian meletakkan Kitab Allah melainkan pada tempatnya.”
Muhammad bin Az Zubair berkata: “Umar bin Abdul Aziz pernah melihat anaknya menulis Al Qur’an pada sebuah dinding maka beliaupun memukulnya.” ( Al Jami' li Ahkam Al Qur’an Juz 1 hal 28-30, Dar Ihya At Turats Al Arabiy, Beirut Libanon 1405 H/1985 M ).

Bagaiman dengan kaligrafi/stiker Al Qur’an yang digantung, ditempel di dinding rumah atau kendaraan?

Didalam kitab As-Sihr wa Asy-Syu’udzah, terbitan Darul Qosim, 67-69, Syaikh Prof. DR. Sholeh Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhohullah ditanya:
“Apakah boleh seorang muslim menggantungkan ayat kursi, ayat lainnya atau berbagai macam do’a di lehernya atau di rumah, mobil, dan ruang kerjanya dalam rangka “ngalap berkah” dan meyakini bahwa dengan menggantungnya setan pun akan lari?”
Jawaban beliau hafizhahullah:
“Tidak boleh seorang muslim menggantungkan ayat kursi dan ayat Al Qur’an lainnya atau berbagai do’a yang syar’i di lehernya dengan tujuan untuk mengusir setan atau untuk menyembuhkan diri dari penyakit. Inilah pendapat yang tepat dari pendapat para ulama yang ada. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang menggantungkan tamimah (jimat) apa pun bentuknya, dan ayat yang digantung semacam itu termasuk tamimah.”

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab At-Tauhid menjelaskan bahwa tamimah adalah segala sesuatu yang digantungkan pada anak-anak dengan tujuan untuk melindungi mereka dari ‘ain (pandangan hasad). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan pelet adalah syirik”. [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud. (Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi)].
Sedangkan menggantungkan ayat Al-Qur’an di leher atau bagian badan lainnya tidak diperbolehkan menurut pendapat yang kuat dari pendapat para ulama. Alasannya karena keumuman larangan menggantungkan tamimah. Dan menggantungkan ayat seperti itu termasuk bagian dari tamimah.

Alasan kedua, larangan ini dimaksudkan untuk menutup pintu dari hal yang lebih parah yaitu menggantungkan jimat yang bukan dari ayat Al-Qur’an. Alasan ketiga, menggantungkan ayat semacam ini juga dapat melecehkan dan tidak menghormati ayat suci Al-Qur’an (seperti di bawa ke toilet dan tempat yang kotor apalagi anak-anak terkhusus bayi yg tidak diketahui secara pasti kapan pipis dan "pup" nya. pen)

Adapun menggantungkan ayat Al-Qur’an pada selain anggota badan seperti pada mobil, tembok, rumah, atau kantor dengan tujuan untuk “ngalap berkah” dan ada juga yang bertujuan untuk mengusir setan, maka saya tidak mengetahui kalau ada ulama yang membolehkannya. Perbuatan semacam ini termasuk menggunakan tamimah yang terlarang. Dan alasan kedua, perbuatan semacam ini termasuk pelecehan pada Al-Qur’an. Juga alasan ketiga, hal semacam ini tidak ada pendahulunya (tidak ada salafnya). Para ulama di masa silam tidaklah pernah menggantungkan ayat Al Qur’an di dinding untuk tujuan “ngalap berkah” atau menghindarkan diri dari bahaya. Yang mereka lakukan malah menghafalkan Al Qur’an di hati-hati mereka (bukan sekedar dipajang, pen). Mereka menulis ayat Al Qur’an di mushaf-mushaf, mereka mengamalkan dan mengajarkan pelajaran hukum dari berbagai ayat. Yang mereka lakukan adalah mentadabburi ayat Al-Qur’an sebagaimana perintah Allah.


***

7. Senantiasa Membaca Al-Qur’an

Keutamaan orang yang membaca Al Qur’an:

a) Di hari kiamat Al-Qur'an Akan menjadi pemberi syafa’at terhadap orang yang membacanya.

Dari Abu Umamah Al Bahiliy radiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه
“Bacalah oleh kalian Al Qur'an karena dia (Al Qur'an) itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya.” [ HR. Muslim]

b) Semakin banyak seseorang membaca Al-Qur'an maka akan menjadi semakin tinggi pula derajatnya di surga nanti.

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ في الدُّنْيَا فإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيةٍ تَقْرَؤُهَا
“Dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur’an (pada Hari kiamat): Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah sebagaimana kamu membaca tartil di dunia, karena kedudukanmu (di surga) sesuai dengan akhir ayat yang kamu baca.” [HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al Albani].

c) Membaca satu huruf dari Al-Qur’an sama dengan satu kebaikan, lalu satu kebaikan itu akan Allah lipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، لا أقول: ألم حرف؛ ولكن ألف حرف , ولام حرف، وميم حرف
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan akan Allah lipat gandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan “Alif Lam Mim” satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf , dan Mim satu huruf.” (HR. At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani].

d) Tiga ayat yang dibaca dalam satu shalat itu lebih bagus daripada tiga unta yang sangat besar dan gemuk.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلَاثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «فَثَلَاثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ
“Apakah salah seorang diantara kalian suka jika pulang kepada keluarganya di rumah dengan mendapatkan tiga unta yang besar dan gemuk?”, mereka menjawab: “Ya”. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tiga ayat yang kalian baca dalam shalat itu lebih bagus daripada tiga unta besar dan gemuk.” [HR. Muslim].
Ketahuilah bahwa seekor unta yang besar dan gemuk saat ini bisa setara dengan harga sebuah mobil.

e) Keutamaan ini Tidak hanya terbatas kepada pembaca Al-Qur'an saja, bahkan orang tua yang mempunyai anak, lalu anak itu membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka Allah ta'ala akan memberikan mahkota kepada kedua orangtua anak tadi pada hari kiamat yang sinarnya lebih bagus dari sinar matahari.

Dari Sahl bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ
“Barangsiapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan apa yang ada didalamnya, maka di Hari Kiamat nanti orangtuanya akan dipakaikan mahkota yang sinarnya lebih bagus dari sinar matahari.” [HR. Abu Dawud dan Al Hakim, beliau berkata: Shahih Al Isnad.]
Al Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hendaknya ia konsisten dan banyak membaca Al-Qur’an, dahulu para Salaf rahimahullah mereka punya kebiasaan yang berbeda dalam mengkhatamkan Al-Qur'an.

Ada yang khatam dalam satu raka’at dan jumlah mereka tidak terhitung banyaknya, diantara mereka adalah Utsman bin Affan , Tamim bin Aus Ad Dariy, dan Sa’id bin Jubair radhiyallahu 'anhum.]

Ada yang khatam sekali dalam seminggu dan jumlah mereka banyak. Dinukilkan seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit Dan Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhum, dan dari kalangan tabi’in seperti Abdurrahman bin Yazid, Alqamah, dan Ibrahim An Nakha’i rahimahumullah.”

Bagaimana dengan Hadits yang melarang khatam kurang dari 3 hari ?
Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ »
“Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahaminya jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” [HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih].
Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, bahwa yang demikian itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. [At Tibyan, Hal 45-48, Dar An Nafais, Beirut cetakan ketiga tahun 1413 H/ 1992 M].

Dalam Lathaif Al Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan terlebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah terkait waktu dan tempat. Inilah pendapat dari Imam Ahmad rahimahullah dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.”

Demikianlah gambaran As-Salaf As-Shalih (ulama shalih terdahulu ) tentang semangat mereka dalam membaca Al-Qur’an, bagaimana dengan kita?

Tidak dapat dipungkiri, kaum muslimin pada hari ini banyak disibukkan dengan membaca majalah, novel dan buku-buku cerita fiksi yang tidak ada manfaatnya untuk dunia dan akhirat mereka, terkhusus yang memiliki sarana teknologi informasi telekomunikasi berupa PC, Laptop, HP, Tab, dsb, mayoritas mereka lebih banyak melihat dan membaca atau meng-update status di facebook, whatsapp, twitter, dll, dibandingkan melihat dan membaca Al Qur’an.

Allah ta'ala berfirman mengabarkan keluhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang umatnya yg mengabaikan Al Qur’an,


وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا}
“Berkatalah Ar-Rasul (Muhammad) shallallahu 'alaihi wa sallam: “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan .”
Muslim yang beradab dengan Al-Qur’an tentu tidak mau digolongkan menjadi kaum yang dikeluhkan oleh Nabi dalam ayat di atas. Semoga Allah ta'ala memperbaiki keadaan kita dan seluruh kaum muslimin.


***

8. Berupaya Semaksimal Mungkin untuk Beretika ketika Membaca Al Qur’an

Al Imam An Nawawi rahimahullah membuat bab khusus dalam kitabnya At-Tibyan tentang permasalahan ini diantaranya:

a) Apabila seseorang ingin membaca Al-Qur’an hendaknya ia membersihkan mulutnya dengan siwak atau yang semisalnya.

b) Hendaknya membaca Al-Qu'an dalam keadaan suci. Adapun hukumnya adalah mustahab (disukai). Dan apabila ada yang membaca Al Qur’an dalam keadaan hadats maka hukumnya boleh dengan kesepakatan para Ulama.

c) Memilih tempat yang baik dan bersih ketika membaca Al-Qur’an, seperti di masjid.

d) Menghadap kiblat sembari duduk dengan tenang dan khusyu’ seperti duduknya seorang murid di depan guru, ini yg paling sempurnanya.


Dan boleh membaca Al Qur’an sambil berdiri, berbaring, membacanya di atas kasur atau keadaan lainnya dengan posisi yang berbeda.

Allah ta'ala berfirman,


إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” [QS. Ali Imran: 190-19]
Dari Aisyah radhiyallahu 'nha beliau berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca Al Qur’an sambil bertelekan di atas pahaku dan aku dalam keadaan haid” [HR. Bukhari dan Muslim]. Dalam riwayat yang lain “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an dan kepala beliau ada di atas pahaku”.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu beliau berkata: “Sungguh aku membaca Al-Qur’an didalam shalatku dan aku pun membaca Al-Qur’an di atas kasurku”.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha beliau berkata: “Sungguh aku membaca Hizibku (bagian dari Al Qur’an) dalam keadaan aku berbaring di atas kasur.”


e) Membaca isti’adzah sebelum membaca Al Qur’an, yakni ucapan “A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim.”
Allah ta'ala berfirman,
فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨ “Apabila kamu membaca Al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” [QS. An Nahl: 98]

f) Khusyu’ dan mentadabburi (merenungi) makna yang terkandung di dalam ayat Al Qur’an. Dan inilah maksud dan tujuan Al Qur’an itu dibaca, sehingga dada menjadi lapang dan hati menjadi terang.

Allah ta'ala berfirman,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ 
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an?.” [QS. An Nisa' 82].
Juga firman Allah ta’ala,
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [QS. Shad: 29].
Mengulang-ulang ayat dalam rangka tadabbur adalah mustahab.
Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat dengan mengulang-ulang sebuah ayat sampai datang waktu shubuh, dan ayat itu adalah,
إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Al Maidah:118)]. [Diriwayatkan oleh An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al Hakim dalam Al Mustadrak dan beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz Dzahabi].

g) Menangis ketika membaca Al Qur’an.

Allah ta'ala berfirman,
وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا
“Dan mereka menyungkur di atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” [QS. Al Isra’: 109]

h) Membaca Al Qur’an secara tartil.

Allah ta'ala telah memerintahkan dalam firman-Nya,
أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا 
“Dan bacalah Al Qur’an itu secara tartil (perlahan-lahan).” [QS. Al Muzzammil: 4]

i) Memperbagus dan memperindah suara ketika membaca Al Qur’an.

Para ulama Salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan) telah sepakat dari kalangan para sahabat, Tabi’in dan setelah mereka dri kalangan ulama di seluruh penjuru negeri dan para imam kaum muslimin bahwa memperbagus suara ketika membaca Al-Qur’an hukumnya adalah mustahab.
Dalilnya adalah Hadits Sa’ad bin Abi Waqqas dan hadits Umamah radhiyaallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 
“Barangsiapa yang tidak melagukan (tidak membaguskan suaranya -pen) dengan Al Qur’an maka dia bukanlah dari golongan kami.” [HR. Abu Dawud dengan dua sanad yang keduanya Jayyid). (At Tibyan, Hal 53-74, Dar An Nafais, Beirut cetakan ketiga tahun 1413 H/ 1992 M]

***

9. Mendengar dan Memperhatikan dengan Seksama Ketika Al-Qur’an Dibacakan

Allah ta’ala berfirman,


وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 
“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [Al A'raf: 204]
Menghindar, mencari kesibukan lain, dan bersenda gurau atau membuat keributan ketika Al-Qur’an dibacakan adalah perbuatan orang-orang kafir.
Allah ta'ala berfirman,


وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَسۡمَعُواْ لِهَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ وَٱلۡغَوۡاْ فِيهِ لَعَلَّكُمۡ تَغۡلِبُونَ 
“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fusshilat: 26]
Al Imam Ibnu katsir rahimahullah di dalam tafsirnya berkata ketika menjelaskan ayat berikut,


وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِي ٱتَّخَذُواْ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا 
“Berkatalah Ar Rasul (Muhammad): “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.” (Al Furqan: 30)
“Hal itu dikarenakan mereka senantiasa tidak memperhatikan Al-Qur'an, tidak pula mendengarnya, sebagaimana firman Allah ta'ala (Surat Fusshilat ayat 26) bahwa apabila Al-Qur’an dibacakan maka mereka membuat banyak keributan dan berbicara dengan selain Al-Qur’an sehingga mereka tidak mendengarnya dan ini diantara bentuk mengabaikan Al-Qur’an. Diantara bentuk mengabaikan Al-Qur’an yang lainnya adalah:
  • Meninggalkan dari mempelajari Al Qur’an dan menghafalnya.
  • Meninggalkan dalam hal mengimani Al Qur’an dan membenarkannya.
  • Tidak mentadabburi Al Qur’an dan memahaminya.
  • Tidak mengamalkan isi kandungan Al Qur’an, tidak mengindahkan perintah dan larangannya.
  • Mengganti Al Qur’an dengan selainnya dalam bentuk syair, perkataan, nyanyian, permainan, pembicaraa atau apa saja yang bersumber dari selain Al Qur’an.

Maka kita memohon kepada Allah ta'ala yang Maha Mulia, Maha Pemurah, Yang Maha Mampu atas segala apa yang Dia kehendaki agar kita dihilangkan dari segala hal yang membuatNya murka, dan memudahkan kita untuk mengamalkan segala hal yang Dia ridhai dengan menghafalkan kitabNya (Al Qur’an), memahaminya, dan mengamalkan kandungannya siang dan malam sesuai dengan apa yang Dia cintai dan ridhai, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi Karunia.
Semoga bermanfaat.

(Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Al-Hafizh Ibnu Katsir)







------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Feri Zaid Gultom

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian