artikel pilihan

MENUAI KEBERKAHAN DI BULAN SYA'BAN


Sesungguhnya orang yang beruntung dalam kehidupan dunia ini adalah orang yang memanfaatkan kehidupannya untuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, serta menggunakannya dalam semua perkara yang dicintai dan diridhai-Nya. Oleh karena itu, kesuksesan seseorang di dunia maupun akhirat diukur dari seberapa besar usahanya dalam merealisasikan penghambaanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Siapa saja yang mencermati kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam menjalani hari-harinya maka dia akan menghetahui betapa besar pengorbanan beliau dalam merealisasikan penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam selalu mamanfaatkan kehidupan ini untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya di setiap keadaan; ketika sehat maupun sakit, di waktu longgar maupun sempit. Dan memang tujuan Allah menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta'ala berfiman:
﴾وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿
“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”
[QS: Adz-Dzariyat: 56]
Allah subhanahu wa ta'ala juga berfiman:
﴾وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴿
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. [QS. Al-Hijr: 99]

Maka seorang muslim yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hendaklah dia menjadakan beliau sebagai panutan dan teladan dalam semua hal. Terutama ketika datang waktu-waktu yang terdapat banyak kebaikan dan keberkahan seperti bulan ramadhan, sya’ban dan yang lainnya.

***

BULAN SYA'BAN DAN KEUTAMANNYA 

Bulan sya’ban adalah bulan kedelapan dari bulan hijriyyah, yaitu sebelum ramadhan. Dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Banyak hadits yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad  dan Imam An Nasai dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, “aku berkata kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa di suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti banyaknya engkau berpuasa di bulan sya’ban.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban adalah sebuah bulan di mana manusia lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. bulan tersebut adalah bulan akan diangkat berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku sangat suka kalau amalanku diangkat ketika aku sedang berpuasa”. [HR. Ahmad 21753 dan Nasa’i 2357]

Di dalam hadits ini terdapat bebrapa faedah yang bisa diambil:


1. Disyariatkannya Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban


Di dalam hadits ‘Aisyah diterangkan bahwa kebanyakan puasa nabi di selain bulan ramadhan adalah pada bulan sya’ban. Dari ‘Aisyah  radhiyallahu 'anha, beliau mengatakan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban”. [HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156]

Maka disyariatkan memperbanyak puasa di bulan sya’ban. Sebabnya karena pada bulan ini adalah waktu dimana amalan-amalan seorang hamba itu diangkat. Dan seseorang ketika amalannya diangkat hendaknya dalam kondisi yang dicintai oleh Allah ta'ala.


2. Amalan Seorang Hamba Diangkat di Bulan Sya’ban


Banyak riwayat shahih yang mejelaskan bahwa amalan hamba diangkat(dilaporkan) kepada Allah ta'ala. Dan pengangkatan amalan ini terbagi menjadi tiga tahapan; harian, mingguan dan tahunan.
Ibnul qayyim rahimahullah mengatakan:
“Sesungguhnya amalan dalam setahun akan diangkat di bulan sya’ban sebagaimana yang telah dikabarkan oleh orang yang jujur dan dipercaya (Nabi Muhammad), amalan dalam satu pekan akan dilaporkan di hari senin dan kamis, serta amalan siang hari akan dilaporkan di akhir waktunya sebelum datang malam dan amalan malam hari akan dilaporkan di akhir waktunya sebelum datang siang. Apabila ajal seseorang telah berkhir dan diangkat amalan seumur hidupnya maka ditutuplah lembaran amal” (hasyiyah sunan Abi Dawud).[1]

3. Memanfaatkan Waktu Ketika Kebanyakan Manusia Lalai Darinya

Pada waktu yang kebanyakan manusia lalai darinya hendaknya digunakan dengan sebaik-baiknya dalam ketaatan kepada Allah. Dan juga sanantiasa mencari ladang-ladang kebaikan di setiap keadaannya.
Al Imam Ibnul Jauziy rahimahullah dalam kitab At-Tabshiroh (2/47) mengatakan:
“Dan ketahuilah bahwa waktu-waktu yang orang-orang lalai darinya adalah waktu yang sangat berharga. Karena mereka lebih sibuk dengan menuruti kebiasaan dan syahwat. Maka apabila seorang pencari kemuliaan masih senantiasa tekun di masa-masa tersebut itu menunjukan semangatnya untuk mencari kebaikan. Oleh karena itulah kenapa menghadiri shalat subuh secara berjamaah memiliki keutamaan, karena kebanyakan manusia lalai dari waktu itu. Begitu juga dengan waktu diantara maghrib dan isya’, shalat di pertengahan malam serta waktu sahur”.

***

PERINGATAN!

Seorang muslim tidak hanya mempelajari hal-hal yang baik saja. Dia juga harus mengetahui kejelekan agar tidak terjatuh kedalamnya. Sebagaima yang dikatakan oleh sahabat yang mulia Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu 'anhu: “Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasuullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, adapun aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan supaya tidak terjatuh kedalamnya.” (HR. Bukhari no.4311 dan Muslim no.1847)

Berikut adalah beberapa perbuatan atau keyakinan yang perlu diluruskan yang terkait dengan bulan sya’ban:


1. Puasa Nisfu Sya’ban

Terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan puasa nisfu (pertengahan) sya’ban secara khusus. Tetapi semua riwayatnya lemah sekali atau palsu sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Oleh karena itu tidak disyariatkan puasa nisfu sya’ban, yang ada adalah memperbanyak puasa di bulan sya’ban sebagaimana yang dicontohkan oleh Raslullah shallallahu 'alaihi wa sallam.


2. Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Terdapat pula riwayat yang mejelaskan tentang keutamaan malam nisfu sya’ban, akan tetapi semua riwayatnya lemah. Jadi, malam di pertengahan bulan sya’ban seperti malam-malam biasa, tidak memiliki keistimewaan khusus.

Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Telah datang hadits-hadits dha’if (lemah) tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban tidak boleh dijadikan sebagai sandaran. Sebagian orang belakangan berusaha untuk menshahihkannya tetapi tidak bisa. Karena kalaupun hadits-hadits lemah itu bisa saling menguatkan maka derajat yang paling tinggi adalah hasan li ghoirihi. Dan tidak mungkin bisa sampai pada derajat shahih sebagaimana yang telah dimaklumi dalam kaidah ilmu mustholah hadits”[2]

Adapun (hadits-hadits) yang datang tentang keutamaan shalat pada malam itu, seluruhnya adalah (hadits) palsu sebagaimana yang telah diingatkan oleh banyak ulama'.


3. Shalat Khusus di Malam Nisfu Sya’ban

Tidak ada riwayat yang shahih yang menjelaskan tentang di syariatkannya shalat khusus di malam nisfu sya’ban. Imam An Nawawi Asy Syafi’i rahimahullah berkata : “Shalat yang dikenal dengan nama shalat Ragha’ib, yaitu shalat dua belas rakaat antara Maghrib dan Isya pada mala awal Jumat di bulan Rajab dan shalat seratus rakaat pada malam nisfu sya’ban. Kedua shalat ini adalah bid’ah dan kemungkaran yang sangat buruk. Jangan tertipu dengan penyebutan dua shalat ini di dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulum Ad-Din. Dan jangan pula (tertipu) dengan hadits yang disebutkan dalam dua buku ini karena seluruh hal tersebut adalah batil. Dan jangan pula tertipu dengan orang yang tersamarkan hukum kedua shalat tersebut dari kalangan para imam, hingga mereka menulis beberapa lembar tentang disunnahkannya shalat tersebut. Ini merupakan perbuatan yang keliru. Syaikhul Islam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail Al-Maqdisi telah menulis sebuah kitab yang bagus tentang batilnya kedua shalat itu. Beliau rahimahullah telah menulis bukunya dengan sangat baik”[3].


4. Penulisan Takdir di Bulan Sya’ban


Tidaklah benar pernyataan yang mengatakan bahwa penentuan takdir dalam satu tahun terjadi pada bulan Sya’ban. Yang benar adalah penentuan takdir dalam satu tahun terjadi pada malam Lailatul Qadr. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
حمٓ  (١) وَٱلْكِتَٰبِ ٱلْمُبِينِ (٢) إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤) أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (۵
“Haa miim. Demi Kitab (Al Quran) yang jelas. sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul”. [QS. Ad-Dukhan: 1-5]

Al-Hasan, Mujahid dan Qatadah rahimahullah menafsirkan ayat keempat dari sura Ad-Dukhan dengan: “Ditetapkan pada malam Lailatul Qadr di bulan Ramadhan setiap ajal, amalan, penciptaan, rezki dan apa-apa yang akan terjadi pada tahun itu”.[4]

Wa billahi at-taufiq wa shallallahu 'ala nabiyina muhammad  wa ala alihi wa 'ala ashabihi wa sallam 



[1] https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=318714
[2] Majmu Fatawa Warasa’il (20/27-28)
[3] Al-Majmu' (5/56)
[4] Tafsir Al-Baghowi (7/228)


*********

Tim Redaksi Buletin Tauhid.or.id


Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian