artikel pilihan

TUJUH KEAGUNGAN IBADAH HAJI




Allah 'azza wa jalla mensyariatkan segala bentuk ibadah untuk maksud dan tujuan yang mulia. Salah satunya adalah rukun Islam yang kelima: haji ke Baitullah. Dalam amalan tersebut terwujud berbagai manfaat, keutamaan, dan pelajaran bagi umat manusia. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ. لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." (Surat Al-Hajj, ayat 27-28)
Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang penting bagi kaum muslimin untuk kembali merenungi nilai-nilai keagungan ibadah haji, sebagai sarana yang mendorong untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan menguatkan keimanan bahwa Allah jalla wa 'ala adalah satu-satunya yang berhak disembah karena hanya Dialah yang mampu untuk menurunkan agama yang begitu sempurna dan penuh dengan keindahan.


1. Ibadah Haji Menanamkan Tauhidullah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus untuk menegakkan tauhid di tengah umat manusia. Beliau menyeru agar seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah tabaraka wa ta'ala. Sehingga, semenjak permulaan ibadah haji beliau memberikan teladan yang menunjukkan pentingnya keikhlasan.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, 
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berhaji (mengendarai unta). Diletakkan di atas punggung unta tersebut pelana yang sudah lama digunakan dan lembaran kain yang harganya empat Dirham atau kurang dari itu. Kemudian beliau bersabda,
(اللَّهُمَّ حَجَّةٌ لَا رِيَاءَ فِيهَا ، وَلَا سُمْعَةَ).
'Ya Allah, jadikanlah haji ini sebagai ibadah yang tidak bercampur dengan riya' dan sum'ah.'." (Riwayat Ibnu Majah no. 2885. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam "Ash-Shahihah" jilid 6 hlm. 227)
Dahulu kala, kaum musyrikin juga berhaji dan umrah dengan tata cara jahiliah. Ketika bertalbiah, mereka berucap,
لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ
"Kami menyambut seruan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang kami jadikan untuk-Mu. Engkau menguasai sekutu tersebut beserta apa yang dimilikinya."
Maka, setelah mereka mengucapkan bagian pertama dari talbiah di atas (yang berisikan tauhidullah), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari dengan sabda beliau,
(وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ)
"Celaka Kalian. Cukup! Cukup!" (Riwayat Muslim no. 2093, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma)
Maksud beliau, cukuplah bertalbiah dengan tauhid, jangan menambahnya dengan kesyirikan.

2. Ibadah Haji Wujud Ittiba' terhadap Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Amal ibadah bersifat tauqifiah, dilakukan sesuai petunjuk syariat. Seorang muslim diperintahkan untuk menghormati aturan-aturan syariat, menjalankannya dengan segenap ketaatan, walapun terkadang belum bisa dipahami dengan baik hikmah yang tersembunyi di balik perintah ibadah tersebut. Itulah sikap ittiba' dalam peribadatan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ
"Hendaklah kalian mengambil tata cara ibadah haji (dariku)." (Riwayat Muslim no. 1297, dari Jabir radhiyallahu 'anhu)

Sikap mulia dalam mengikuti sunnah tercermin pada kehidupan para sahabat. Suatu ketika, Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu menuju hajar aswad, lalu menciumnya. Kemudian beliau berkata,
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ. وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
"Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu, tidak mampu menimpakan bahaya dan tidak bisa mendatangkan manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan melakukannya." (Riwayat Al-Bukhari no. 1520 dan Muslim no. 1720)


 3. Ibadah Haji Mengingatkan tentang Hari Akhir

Surat Al-Hajj yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang haji dimulai dengan peringatan tentang kiamat. Allah ta'ala berfirman,
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ).
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabbmu. Sungguh, guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar." (Surat Al-Hajj ayat 1).
Rangkaian ibadah haji memiliki banyak keserupaan dengan perjalanan hidup manusia menuju negeri akhirat. Di antaranya, ketika wuquf di padang Arafah. Seluruh jamaah haji dari berbagai belahan dunia berkumpul di satu tempat. Keadaan tersebut menggambarkan hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan amalan mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
(ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ)
"Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)." (Surat Hud ayat 103).


 4. Islam Agama yang Mudah

Kewajiban haji tidak dibebankan, kecuali bagi kaum muslimin yang mampu menunaikannya. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,
(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ)
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (Surat Ali Imran ayat 97).
Sehingga pada asalnya, kewajiban haji didasarkan pada kemudahan. Di samping itu, masih terdapat keringanan bagi orang yang memiliki udzur syar'i, seperti orang yang mencukur rambutnya saat berhaji atau umrah karena penyakit di kepalanya. Allah ta'ala berfirman,
(فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍِ)
"Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, atau bersedekah atau berqurban." (Surat Al-Baqarah ayat 196).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Ka'b bin 'Ujrah merasa terganggu dengan kutu yang ada di kepalanya. Kemudian beliau bersabda,
(فَاحْلِقْ وَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ أَوْ انْسُكْ نَسِيكَةً)
"Cukurlah rambutmu dan berpuasalah selama tiga hari atau berilah makan enam orang miskin atau sembelihlah dam." (Riwayat Al-Bukhari no. 3954 dan Muslim no. 1201).


5. Haji adalah Jihad bagi Kaum Wanita

Ibunda kaum mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kami (para wanita) mengetahui bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Bolehkah kami berjihad?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
لَكُنَّ أفْضَلُ الجِهَادِ: حَجٌّ مَبْرُورٌ
"Bagi kalian (para wanita) jihad yang paling afdhal, yaitu haji yang mabrur." (Riwayat Al-Bukhari no. 1448).
ِAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut haji sebagai jihad karena seseorang melawan hawa nafsunya saat menunaikan ibadah tersebut." ("Fathul Bari" jilid 3, hlm. 481, cet. Darus Salam Riyadh).


6. Musim Haji Kesempatan untuk Berdakwah dan Menimba Ilmu

Berkumpulnya jutaan jiwa dari berbagai pelosok dunia di tanah suci merupakan saat yang tepat untuk menebar kebaikan dengan mengajarkan ilmu syariat kepada mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melaksanakan haji wada' beliau menyampaikan khutbah yang sangat berharga bagi umat Islam. Beliau berpesan,
(فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا)
"Maka, sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian terlindungi, seperti kesucian hari ini, negeri ini, dan bulan ini." (Riwayat Al-Bukhari no. 1739 dan Muslim no. 1679).
Dalam waktu yang sama, para ulama dapat berkumpul untuk membahas dan memecahkan permasalahan umat Islam. Demikian juga, para penuntut ilmu berkesempatan untuk bertemu dengan para alim ulama, belajar di hadapan mereka, dan bertanya akan hal-hal yang bermafaat.
Ketika muncul akidah yang menyimpang tentang takdir di kota Bashrah, dua orang tabi'in: Yahya bin Ya'mur dan Humaid bin 'Abdirrahman Al-Himyari rahimahumallah melakukan perjalanan haji atau umrah. Keduanya berniat, jika bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka ingin bertanya tentang penyimpangan tersebut. Allah memberikan taufiq-Nya sehingga keduanya bertemu dengan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma. Keduanya bertanya dengan penuh adab. Kemudian, Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma menjelaskan dan bersumpah, bahwa seandainya orang-orang yang mengingkari takdir memiliki emas sebesar gunung Uhud, kemudian diinfaqkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir. (Riwayat Muslim no. 8).


7. Ibadah Haji Membentuk Pribadi Muslim yang Berakhlak Mulia

Amaliah haji merupakan madrasah yang mendidik seorang muslim untuk berbudi luhur. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,
(الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ)
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (Al-Baqarah ayat 197).
Asy-Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah berkata, "Wajib bagi kalian untuk mengagungkan ihram (niatan untuk melaksanakan ibadah haji), khususnya yang dilakukan pada bulan-bulan yang ditentukan (Syawwal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah). Dan wajib juga menjaganya dari segala sesuatu yang merusak atau mengurangi nilai ibadah tersebut, baik berupa rafats (jima' dan ucapan serta perbuatan yang menjurus kepadanya), terlebih ketika berada di hadapan para wanita, begitu juga kefasikan (seluruh bentuk maksiat, termasuk laranga-larangan ihram), dan jidal (perdebatan, sengketa, dan perselisihan) karena hal itu menimbulkan kejelekan dan permusuhan.
Maksud dari haji adalah ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah, mendekatkan diri kepadanya dengan ibadah-ibadah yang mampu untuk dikerjakan, dan menjaga diri dari perbuatan tercela. Dengan hal tersebut, dia menjadi haji mabrur. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga." ("Tafsir As-Sa'di" hlm. 91-92, cet. Ar-Risalah).
Inilah sebagian dari berbagai keagungan ibadah haji yang mencerminkan keindahan dan kesempurnaan Islam. Agama yang mulia ini selain mengarahkan umat manusia kepada kemaslahan akhirat, juga membimbing para pemeluknya menuju maslahat duniawi. Allah ta'ala memperbolehkan bagi kaum muslimin melakukan perniagaan di musim haji apabila perdagangan tersebut tidak melalaikan dari pelaksanaan ibadah. Allah jalla wa 'ala berfirman,
(لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ)
" Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat." (Surat Al-Baqarah ayat 198).

Wallahu a'lamu bish shawab.




--------------------------------

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian