artikel pilihan

LAA ILAAHA ILLALLAH KUNCI SURGA


Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به
Berkata Musa ‘alaihissalam: “Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepadaMu dan aku berdoa kepadaMu”
قال : قل يا موسى لا إله إلا الله
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berkata: “Wahai Musa, katakanlah laa ilaaha illallah”[1]
Perhatikan tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk diajari sesuatu yang dengannya ia berdoa sekaligus berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkannya untuk mengatakan kalimat laa ilaaha illallah.

Hadits ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai dzikir yang kita ketahui juga sebagai doa yang dipanjatkan oleh Musa ‘alaihissalam sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala ajarkan kepada beliau. Perhatikan bahwa doa terkadang juga menjadi dzikir sebagaimana kalimat  laa ilaaha illallah.

Kemudian kisah tentang doa yang dipanjatkan oleh Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alahissalam. Ketika Nabi Yunus berada di kegelapan di dalam perut ikan Paus, Nabi Yunus berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
 “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim”.[2]
Secara tekstual pada lanjutan ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ

Maka Kami telah memperkenankan doanya”[3]

Padahal Nabi Yunus hanya mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ yang seolah hanya sebagai dzikir. Tetapi Allah mengatakan فَاسْتَجَبْنَا لَهُ “maka Kami telah memperkenankan doanya”. Hal ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai doa kepada Allah juga sebagai dzikir yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan doa seseorang.

Ucapan laa ilaaha illallah sebagaimana disebutkan dari Wahab Ibnu Munabbih. Sebagaimana diketahui bahwa laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga, seseorang berkata kepada beliau “bukankah jika seseorang telah mengatakan laa ilaaha illallah maka ia telah memiliki kunci untuk pintu surga?” Berkata Wahab Ibnu Munabbih, “Betul, jika engkau memiliki kunci dan kunci tersebut memiliki gigi gerigi maka kunci tersebut akan bisa membuka kunci surga. Akan tetapi jika engkau mendatangkan kunci yang kunci tersebut tidak memiliki gigi gerigi niscaya kunci tersebut tidak akan bisa membuka sebuah pintu.”

Demikianlah juga laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga. Akan tetapi tidak semua orang yang mengatakan laa ilaaha illallah akan masuk surga kecuali barang siapa yang bisa mendatangkan laa ilaaha illallah dengan syarat dan rukun yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau diisyaratkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadits-nya.

Maka inilah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim bahwasanya laa ilaaha illallah memiliki keutamaan sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi ﷺ:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ , لَهُ الْمُلْكُ , وَلَهُ الْحَمْدُ , وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumnya adalah ucapan Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qodiir"[4]
Disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah bahwasanya orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sering mengucapkan laa ilaaha illallah akan tetapi tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka tidak bisa merealisasikan dan men-tahqiq. Mereka tidak bisa untuk benar-benar memberikan hak kepada makna laa ilaaha illallah yang terdiri dari rukun yang harus menafikan dan menetapkan bahwasanya makna laa ilaaha illallah adalah لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ atau tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang-orang Yahudi mengatakan laa ilaaha illallah akan tetapi mereka mengangkat Uzair sebagai anak Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu menjadikan ucapan laa ilaaha illallah tidaklah bermanfaat. Adapun ucapan laa ilaaha illallah yang bermanfaat selain sebagai dzikir juga sebagai doa adalah ucapannya yang dengannya seseorang bisa memenuhi rukun dan syarat-syaratnya

Dalam sebuah hadits qudsi, Nabi ﷺ bersabda sebagaimana yang telah beliau riwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala:

يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة
“Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau meninggal (dalam keadaan) tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka aku akan memberikan ampunan sepenuh bumi pula kepadamu”[5]
Di dalam hadits lain, hadits yang ma’ruf yang dikenal sebagai hadits bithaqah, Rasulullah ﷺ bersabda:

يصاح برجل من أمتي يوم القيامة على رؤوس الخلائق، فينشر له تسعة وتسعون سجلًا، كل سجل مَدَّ البصر، ثم يقول الله عز وجل: هل تنكر من هذا شيئاً؟ فيقول: لا يا رب. فيقول: أظلَمَتك كتبتي الحافظون؟ ثم يقول: ألك عن ذلك حسنة. فيهاب الرجل فيقول: لا، فيقول: بلى إن لك عندنا حسنات، وإنه لا ظلم عليك اليوم. فتخرج له بطاقة فيها أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا عبده ورسوله. قال: فيقول: يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات. فيقول: إنك لا تُظلم. فتوضع السجلات في كِفَّة والبطاقة في كِفَّة، فطاشت السجلات وثقلت البطاقة
“Dipanggil dengan suara keras dari seorang dari umatku pada hari kiamat di hadapan keramaian manusia. Lalu dibukakan atasnya 99 catatan, setiap catatan sejauh jarak mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya: “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bithaqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaaha illallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tersebut.”[6]
Sehingga di dalam lanjutan hadits Musa yang disebutkan di bagian awal pembahasan ini, Rasulullah bersabda di hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله
“Wahai Musa, kalau seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat laa ilaaha illallah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat timbangannya”[7]
Inilah yang disebutkan di dalam hadits bithaqah tersebut bahwasanya orang yang melihat amalan keburukannya sepanjang mata memandang dan ia mengira sudah tidak ada jalan keluar untuk selamat ternyata ia masih memiliki satu kebaikan yang merupakan kebaikan terbesar yaitu ucapan laa ilaaha illallah yang ia ucapkan semasa hidupnya dengan ikhlas dan penuh keyakinan.


والله أعلمُ بالـصـواب



*) Dirangkum dari khutbah Jum’at Syaikh Dr. Ashim bin Abdullah Alu Hamd

 ___________________________

[1] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Hakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[2] QS. Al-Anbiya: 87
[3] QS. Al-Anbiya: 88
[4] HR. Tirmidzi No. 3585 & Ahmad 2:220
[5] HR. Tirmidzi No. 3534, Ad-Darimy No, 2791, dan Ahmad 5/172, disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[6] HR. Ibnu Majah No 4300, Tirmidzi No. 2639, dan Ahmad 2: 213
[7] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Haakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|

Artikel Pilihan

artikel pilihan/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Kids

Konten khusus anak & download e-book

Course