artikel pilihan

HUKUM JUAL BELI DENGAN CARA PRE ORDER




Allah subhanahu wata’ala menghalalkan bagi kita jual beli,sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا 
Artinya : Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Seiring berjalanya waktu dan perkembangan sistem muamalah yang ada pada masa modern ini,berkembang pula jenis-jenis akad jual beli menjadi sangat beragam,baik jual beli yang sifatnya halal ataupun yang jelas keharamanya.

Sering kita mendengar istilah pre order dalam sistem penjualan modern.bagaimakakah takyif fiqhi (adaptasi fikih)dari sistem jual beli jenis ini?apakah halal atau tidak?dan apa yang menjadi ketentuan dan syarat-syaratnya?

Akad jual beli jenis ini sering terjadi,bisa dikatakan setiap kita pasti telah melakukan sistem akad ini walaupun kita tidak sadar bahwa yang kita lakukan adalah akad pre order .
Hal ini sering terjadi pada barang yang dijual adalah barang yang diproduksi yang dalam proses produksi memerlukan waktu.

Atau produsen yang terbatas dalam modal produksinya,untuk memproduksi suatu barang membutuhkan modal besar misalnya,maka menggunakan cara pre oder adalah solusi yang sangat efektif dan mengurangi resiko kerugian akibat barang tidak laku.

Maka kebutuhan itu lah yang menyebabkan adanya sistem pembayaran didahulukan atas barang yang diperjualbelikan atau yang sering disebut dengan istilah pre order.


Pre Order Dalam Istilah Jual beli Modern

Pre Order (PO) adalah sistem pembelian barang dengan memesan lalu membayar terlebih dahulu sebelum produksi dimulai, dengan tenggang waktu tunggu yang diperkirakan sampai barang tersedia dimana seorang penjual menerima order atas suatu produk, dan pembeli harus melakukan pembayaran sebagai tanda jadi pemesanan produk tersebut,baik pembayaran yang bersifat kontan atau dengan uang muka.

Dari pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa sistem jual beli preoder adalah jual beli barang yang disifatkan secara sepesifik sifat barang yang akan diproduksi oleh produsen kepada konsumen dengan estimasi waktu yang sudah ditentukan dan uang dibayar dimuka.
Jual barang dengan cara seperti ini disebut dengan Akad istishna’ .


Jual Beli Dengan Akad Istishna’

Istishna’ secara Bahasa dari kata صنع yang artinya membuat,dan istishna’ (الاستصناع) artinya meminta untuk dibuatkan.
Secara istilah akad istishna’ adalah
عقد على مبيع في الذمة شرط  فيه العمل[1] 
Akad atas suatu barang dagangan dalam tanggungan produsen/tidak secara langsung yang disyaratkan didalamnya  pengerjaan barang tersebut -hingga selesai-.

Jadi akad istishna’ adalah akad yang dilakukan antara penjual dan pembeli dimana pembeli meminta kepada produsen untuk membuatkan barang tertentu dengan sifat yang sudah ditentukan dengan bahan baku pembuatan dari pihak produsen dengan harga yang sudah ditentukan.

Sebagai contoh : misal ada seseorang datang ke penjahit pakaian dan mengatakan : Buatkan untuk saya pakaian dengan sifat seperti ini (tertentu) dengan jangka waktu sekian dan harga sekian,bahan baku dari penjahit,maka ketika si penjahit telah menyetujuinya sempurnalah akad istishna’.
Jual beli dengan akad istishna’ ini secara umum, jumhur ulama bersepakat atas kebolehanya.

Diantara dalil yang menunjukan halalnya akad ini :

1. Dari Al qur’an
Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ 
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” (QS al Maidah:1).
Berkata Ibnu Taimiyyah: akad disini umum,mencakup akad dengan Allah,akad terhadap dirinya sendiri dan akad sesama manusia yaitu nadzar dan jual beli.[2]

2.Dari As Sunnah
Hadist yang pertama ;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « وَالمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا»: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ[حكم الالبانى] : صحيح، ابن ماجة (2353)
“Seorang muslim wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati kecuali persyaratan yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah dan selainya ) di Shahihkan Al albani dalam Shahih ibnu Majah(2353)

Hadist Yang Ke 2
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memesan agar dibuatkan cincin dari perak.

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْعَجَمِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّ الْعَجَمَ لاَ يَقْبَلُونَ إِلاَّ كِتَابًا عَلَيْهِ خَاتِمٌ. فَاصْطَنَعَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ. قَالَ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِى يَدِهِ. رواه مسلم
Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiallahu ‘anhu, pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menuliskan surat kepada seorang raja non arab, lalu dikabarkan kepada beliau: Sesungguhnya raja-raja non arab tidak sudi menerima surat yang tidak distempel, maka beliaupun memesan agar ia dibautkan cincin stempel dari bahan perak. Anas menisahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat menyaksikan kemilau putih di tangan beliau.” (Riwayat Muslim)

Hadits  yang ke 3 
Dari Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu ‘anhu :

قَدِمَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ فِى الثِّمَارِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ فَقَالَ : مَنْ أَسْلَفَ فِى تَمْرٍ فَلْيُسْلِفْ فِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dengan waktu satu dan dua tahun. maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memesan kurma, maka hendaknya ia memesan dalam takaran, timbangan dan tempo yang jelas (diketahui oleh kedua belah pihak).” [Muttafaqun ‘alaih]

Hadist yang ke tiga menunjukan atas boleh nya jual-beli salam. Menurut para Ulama, definisi jual beli salam yaitu jual beli barang yang disifati (dengan kriteria tertentu/spek tertentu) dalam tanggungan (penjual) dengan pembayaran kontan dimajlis akad[3]

Akan tetapi para ulama berbeda pendapat dalam takyif fiqhi nya termasuk jual beli jenis apakah ini?maka para ulama berbeda pendapat menjadi lebih dari delapan pendapat,akan tetapi yang paling dekat dari pendapat-pendapat tersebut ada 2 pendapat :

1.Jumhur dari kalangan Malikiyah,Syafi’iyyah,Hanabilah mengatakan :

bahwa akad istishna’ adalah masuk dalam akad Salam.Oleh Karena itu mereka mensyaratkan di dalam akad istishna’ ini apa-apa yang disyaratkan dalam akad salam  Yaitu Menyerahkan uang secara kontan ketika akad terjadi.
Jadi,bagi yang berpendapat bolehnya istishna’ karena masuk dalam bab salam,dan salam disepakati kebolehanya maka disyaratkan harus dibayar kontan ketika di tempat akad terjadi.

2.Hanafiyyah dan diikuti oleh ulama yang lain mengatakan :

Bolehnya akad Istishna’ walaupun tanpa syarat yang ada pada akad salam yaitu uang kontan yang dibayarkan ketika akad.
Mazhab hanafiyah menganggap akad istishna’ ini jenis akad tersendiri bukan bagian dari akad salam.
Dengan kata lain bahwa akad istishna’ tidak disyaratkan harus dibayar kontan di awal ketika melakukan akad,bisa dicicil atau dengan cara DP(Down Payment).


Tarjih

Yang paling kuat diantara dua pendapat ini adalah pendapat yang ke 2,yang dikuatkan oleh hanafiyyah dan yang selainya dan juga dikuatkan oleh mujamma’ fiqhil islamy addauly pada mu’tamar yang ke 7 di Jeddah pada tahun 1412 H.

Pendapat ini sesuai dengan kebutuhan mausia saat ini yang sangat membutuhkan untuk menjalankan akad istishna’ ini,dan jika diharamkan akan memberatkan bagi manusia terutama pada era saat ini.
Dengan demikian maka bisa disimpulkan bahwa jual beli dengan cara pre order diperbolehkan dengan persyaratan sebagai berikut :

1.       Barang yang akan dirpoduksi sudah diketahui jenis barang dan sifatnya dengan spesifik sehingga    terhindar dari perselisihan ketika barang sudah diproduksi.
2.       Barang yang dibeli adalah barang produksi,seperti rumah,pakaian dll
3.       Bahan baku untuk pembuatan barang harus dari produsen,jika bahan baku bukan dari produsen maka  ini akad jasa atau Ijaroh
4.       Harga barang harus jelas nominal dan jumlahnya sehingga dapat terhindar dari perselisihan nantinya.
5.       Ditentukan tempat serah terima barang(jika diperlukan)
6.       Harus ditentukan perkiraan waktu produksinya.

Dan bagi yang berpendapat bahwa preorder termasuk dalam bab akad salam maka disyaratkan pembayaran harus secara kontan dilakukan ketika akad terjadi.

Wallahu A’lam bisshowab




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Imron Maladi Lc




[1] Al mausuu’ah al fiqhiyyah al kuwaitiyyah cet.auqof Kuwait 3/101
[2] ‘Aqdul istishna’ baina itba’ wal istiqlal wa bainalluzum wal jawas Dr Ali muhyiddin.cek Univ Qatar hal 382.
[3] Lihat, kitab Min Fiqhil Mu’âmalat, Syaikh Shâlih Ali fauzân, hlm. 145

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian