MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #1
Dari Materi Pelajaran منهج السلف الصالح وحاجة الأمة إليه Karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله
**********
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد:
Tema pembahasannya merupakan tema yang sangat penting sekali, sebagaimana yang telah kalian dengarkan dan telah diumumkan, “
Manhaj As-Salaf Ash-Shalih dan Butuhnya Umat Terhadapnya.”
Yang diinginkan dengan ‘
As-Salafush Shalih’ adalah generasi pertama dari umat ini, mereka para sahabat Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari kalangan
Muhajirin dan
Anshar. Allah
Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
Dan juga Allah
Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الصَّادِقُونَ
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [Al-Hasyr: 8]
Pada ayat ini disebutkan
Muhajirin, kemudian Allah juga menyebut
Al-Anshar.
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [Al-Hasyr: 9]
Kemudian, Allah berfirman menyebut orang-orang yang datang setelah mereka.
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” [Al-Hasyr: 10]
Kemudian, orang-orang yang datang setelah mereka, yang belajar dari mereka, itulah kalangan tabi’in dan para pengikut tabi’in dan orang-orang yang datang setelah mereka dari generasi yang utama. Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang mereka, “Sebaik-baik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang setelah mereka, kemudian generasi orang-orang setelah mereka.” Berkata perawi
hadits ini, “Saya tidak tahu, apakah beliau setelah menyebut generasi beliau, menyebut dua atau tiga generasi.” Generasi mereka inilah dikenal dan menjadi lebih baik dari setelahnya, dikenal dengan “Masa Generasi Yang Utama”. Mereka itulah ‘Salaf’ dari umat ini, yang telah dipuji oleh Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau, “Sebaik-baik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang setelah mereka, kemudian generasi orang-orang setelah mereka.” Merekalah tauladan untuk umat ini,
manhaj/metode keberagaman mereka adalah jalan yang telah mereka jalani dalam aqidah, mu’amalah, akhlak, dan dalam seluruh urusan-urusan mereka. Itulah
manhaj yang diambil dari Al-Qur`an dan Sunnah, karena kedekatannya mereka dengan masa Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan masa turunnya wahyu, serta mereka mengambil agama ini dari Rasulullah
shallallâhu alaihi wa sallam, maka mereka adalah generasi terbaik dan
manhaj mereka adalah
manhaj yang terbaik. Oleh karena itu kaum muslimin bersemangat untuk mengetahui
manhaj mereka untuk mereka jadikan pegangan. Karena tidak mungkin kita dapat berjalan di atas
manhaj mereka kecuali dengan mengetahui, mempelajari dan mengamalkannya. Oleh karena itu Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
”Dan orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”
Dengan ihsan di sini maksudnya adalah dengan kokoh, dan tidak mungkin kita dapat mengikuti mereka dengan baik kecuali dengan mempelajari
madzhab dan
manhaj mereka serta hal-hal yang membahagiakan mereka. Adapun jika hanya sekadar menisbatkan diri kepada
salaf dan dakwah
salafiyyah tanpa mengetahui tentang
salaf dan
manhaj salaf, maka sejatinya dia tidak tahu apa-apa. Bahkan terkadang hal ini akan membahayakannya, sehingga harus mengetahui
manhaj salafus shalih.
Oleh karena itulah, umat ini dulunya senantiasa mempelajari
manhaj salafush shalih, dan senantiasa mengajarkannya dari generasi ke generasi. Mereka mempelajarinya di masjid, di sekolah-sekolah, pondok-pondok pesantren, di perguruan tinggi, inilah
manhaj salafush shalih, inilah jalan atau cara untuk bisa mengetahui mereka. Sungguh kita juga (hendaknya) senantiasa mempelajari
manhaj salafush shalih yang murni yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya
shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Nabi
shallallâhu ‘alaih wa sallam telah mengabarkan bahwasanya kelak akan banyak terjadi perselisihan di tengah umat ini. Beliau bersabda, “Yahudi telah berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan
Nashrani juga berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka, kecuali satu.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah yang dikecualikan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Setiap orang yang dirinya berada seperti saya dan para sahabatku pada hari ini.” Inilah
manhaj salafush shalih, yaitu perkara yang ada padanya Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya.
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”
Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nasihat kepada para sahabatnya pada saat akhir hayat beliau, dengan nasihat yang sangat menyentuh hati yang membekas hingga membuat air mata menangis karenanya. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, berilah kami wasiat.” Beliau bersabda, “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah serta mendengar dan menaati.” Mendengar dan menaati siapa? Kepada pemerintah kaum muslimin. Mendengar dan menaati walaupun yang memimpin kalian dari kalangan seorang budak, sesungguhnya kelak barangsiapa di antara kalian yang masih hidup, maka ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnahnya para Khulafa’ Ar-Rasyidin yang berpentunjuk setelahku. Peganglah dengan erat hal itu, dan gigitlah dengan geraham kalian, dan jauhilah oleh kalian segala perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan itu adalah
bid’ah dan setiap
bid’ah itu kesesatan, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka. Inilah wasiat Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk umatnya agar berjalan di atas
manhaj salafush shalih. Karena itu adalah jalan keselamatan, sebagaimana firman Allah
Jalla wa ‘Alâ.
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” [Al-An’âm: 153]
Takutlah kalian terhadap neraka, takutlah kalian terhadap kesesatan, dan kalian pun menyelisihi golongan yang menyimpang. Berjalanlah kalian di atas
manhaj yang selamat hingga kalian berjumpa dengan Nabi kalian
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau serta para pengikutnya, barangsiapa yang berpegang dengan hal ini, apalagi di akhir zaman ini, akan mendapati kesusahan dari manusia dan para penentang, akan mendapati ancaman-ancaman sehingga butuh kesabaran, akan mendapati perkara-perkara yang menipu lagi memalingkan dari jalan ini, serta ancaman dan gertakan-gertakan dari golongan-golongan yang menyimpang dan kelompok-kelompok yang sesat, sehingga butuh kesabaran. Karena itulah, Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan terasing, dan kelak akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.” Beliau ditanya, “Siapa orang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan di tengah rusaknya manusia.” Maka tidaklah ada yang bisa selamat dari kesesatan di dunia ini, dan tidak pula bisa selamat dari neraka kelak di akhirat kecuali orang yang berjalan di atas jalan
manhaj salafush shalih. Merekalah yang Allah sebutkan,
وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقاً* ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنْ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيماً
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” [An-Nisâ`: 69-70]
Oleh karena itulah, Allah telah mewajibkan kita untuk senantiasa membaca surat Al-Fatihah di setiap rakaat pada setiap shalat wajib kita atau sunnah, dan di akhir suratnya dengan doa,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah Kami jalan yang lurus.” [Al-Fâtihah: 6]
Disebut dengan ‘jalan yang lurus’, karena disana ada jalan-jalan yang menyimpang dan menipu. Maka engkau mintalah kepada Allah agar menjauhkanmu dari jalan-jalan tersebut, dan agar memberi hidayah kepadamu akan ‘Jalan…’, yaitu agar memberimu petunjuk akan jalan yang lurus dan mengokohkanmu di atasnya. Ini di setiap rakaat, karena sangat pentingnya doa ini. Perhatikanlah maknanya, “…jalan yang lurus”, siapakah yang berjalan di atas jalan yang lurus? Yaitu mereka yang telah Allah beri anugerah kenikmatan pada mereka.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 7]
Dan siapakah mereka yang telah diberikan nikmat tersebut?
مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقاً
“Yaitu, para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisâ`: 69]
Dan jika engkau memohon kepada Allah agar memberimu hidayah kepada jalan yang lurus ini, itu artinya juga engkau memohon agar dijauhkan dari jalan-jalan yang menyimpang dan sesat.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 7]
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
“Bukanlah jalannya orang-orang yang Engkau murkai.” [Al-Fâtihah: 7]
Yaitu mereka yang dimurkai oleh Allah, merekalah dari kalangan Yahudi, yang mereka itu mengetahui akan kebenaran namun tidak mengamalkannya, dan setiap orang yang berjalan di atas jalan Yahudi dari umat ini, yang mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya, itulah jalannya Yahudi, jalan yang dimurkai. Karena mengetahui kebenaran dan tidak mengamalkannya, mengambil ilmu namun tidak mengamalkannya, dan setiap orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya, maka ia termasuk kalangan yang dimurkai.
وَلا الضَّالِّينَ
“Dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.” [Al-Fâtihah: 7]
Yaitu, mereka yang beribadah kepada Allah di atas kebodohan dan kesesatan, beribadah dan menghambakan diri kepada Allah serta mendekatkan diri pada-Nya, akan tetapi tidak di atas jalan yang benar, tidak di atas
manhaj yang selamat, tanpa ada dalil dari Al-Qur`an dan sunnah, justru di atas ke
bid’ahan, “Dan setiap ke
bid’ahan itu adalah kesesatan.” Sebagaimana keadaannya kaum
Nashrani dan juga setiap orang yang berjalan dengan jalan mereka, beribadah kepada Allah tidak di atas jalan yang benar dan
manhaj yang selamat. Itulah kesesatan, tersesat dari jalan yang benar dan amalannya sia-sia.
Sehingga, doa ini adalah doa yang luas maknanya, senantiasa kita ulangi di setiap rakaat dari shalat-shalat kita. Perhatikanlah maknanya, kita memanjatkannya dengan menghadirkan hati dan memahami maknanya hingga bisa dikabulkan untuk kita, dan diucapkanlah setelah membaca Al-Fatihah, “Amin”, yang artinya, “Ya Allah, kabulkanlah.” Ini adalah doa yang sangat agung bagi orang yang memperhatikannya. (bersambung)
Artikel Berikutnya:
MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #2
Diterjemahkan oleh tim Redaksi alfawzan.net
Dari Materi Pelajaran منهج السلف الصالح وحاجة الأمة إليه Karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله
**********
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد:
Tema pembahasannya merupakan tema yang sangat penting sekali, sebagaimana yang telah kalian dengarkan dan telah diumumkan, “
Manhaj As-Salaf Ash-Shalih dan Butuhnya Umat Terhadapnya.”
Yang diinginkan dengan ‘
As-Salafush Shalih’ adalah generasi pertama dari umat ini, mereka para sahabat Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari kalangan
Muhajirin dan
Anshar. Allah
Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
Dan juga Allah
Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الصَّادِقُونَ
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [Al-Hasyr: 8]
Pada ayat ini disebutkan
Muhajirin, kemudian Allah juga menyebut
Al-Anshar.
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [Al-Hasyr: 9]
Kemudian, Allah berfirman menyebut orang-orang yang datang setelah mereka.
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” [Al-Hasyr: 10]
Kemudian, orang-orang yang datang setelah mereka, yang belajar dari mereka, itulah kalangan tabi’in dan para pengikut tabi’in dan orang-orang yang datang setelah mereka dari generasi yang utama. Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang mereka, “Sebaik-baik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang setelah mereka, kemudian generasi orang-orang setelah mereka.” Berkata perawi
hadits ini, “Saya tidak tahu, apakah beliau setelah menyebut generasi beliau, menyebut dua atau tiga generasi.” Generasi mereka inilah dikenal dan menjadi lebih baik dari setelahnya, dikenal dengan “Masa Generasi Yang Utama”. Mereka itulah ‘Salaf’ dari umat ini, yang telah dipuji oleh Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau, “Sebaik-baik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang setelah mereka, kemudian generasi orang-orang setelah mereka.” Merekalah tauladan untuk umat ini,
manhaj/metode keberagaman mereka adalah jalan yang telah mereka jalani dalam aqidah, mu’amalah, akhlak, dan dalam seluruh urusan-urusan mereka. Itulah
manhaj yang diambil dari Al-Qur`an dan Sunnah, karena kedekatannya mereka dengan masa Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan masa turunnya wahyu, serta mereka mengambil agama ini dari Rasulullah
shallallâhu alaihi wa sallam, maka mereka adalah generasi terbaik dan
manhaj mereka adalah
manhaj yang terbaik. Oleh karena itu kaum muslimin bersemangat untuk mengetahui
manhaj mereka untuk mereka jadikan pegangan. Karena tidak mungkin kita dapat berjalan di atas
manhaj mereka kecuali dengan mengetahui, mempelajari dan mengamalkannya. Oleh karena itu Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
”Dan orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”
Dengan ihsan di sini maksudnya adalah dengan kokoh, dan tidak mungkin kita dapat mengikuti mereka dengan baik kecuali dengan mempelajari
madzhab dan
manhaj mereka serta hal-hal yang membahagiakan mereka. Adapun jika hanya sekadar menisbatkan diri kepada
salaf dan dakwah
salafiyyah tanpa mengetahui tentang
salaf dan
manhaj salaf, maka sejatinya dia tidak tahu apa-apa. Bahkan terkadang hal ini akan membahayakannya, sehingga harus mengetahui
manhaj salafus shalih.
Oleh karena itulah, umat ini dulunya senantiasa mempelajari
manhaj salafush shalih, dan senantiasa mengajarkannya dari generasi ke generasi. Mereka mempelajarinya di masjid, di sekolah-sekolah, pondok-pondok pesantren, di perguruan tinggi, inilah
manhaj salafush shalih, inilah jalan atau cara untuk bisa mengetahui mereka. Sungguh kita juga (hendaknya) senantiasa mempelajari
manhaj salafush shalih yang murni yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya
shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Nabi
shallallâhu ‘alaih wa sallam telah mengabarkan bahwasanya kelak akan banyak terjadi perselisihan di tengah umat ini. Beliau bersabda, “Yahudi telah berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan
Nashrani juga berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka, kecuali satu.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah yang dikecualikan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Setiap orang yang dirinya berada seperti saya dan para sahabatku pada hari ini.” Inilah
manhaj salafush shalih, yaitu perkara yang ada padanya Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya.
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”
Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nasihat kepada para sahabatnya pada saat akhir hayat beliau, dengan nasihat yang sangat menyentuh hati yang membekas hingga membuat air mata menangis karenanya. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, berilah kami wasiat.” Beliau bersabda, “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah serta mendengar dan menaati.” Mendengar dan menaati siapa? Kepada pemerintah kaum muslimin. Mendengar dan menaati walaupun yang memimpin kalian dari kalangan seorang budak, sesungguhnya kelak barangsiapa di antara kalian yang masih hidup, maka ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnahnya para Khulafa’ Ar-Rasyidin yang berpentunjuk setelahku. Peganglah dengan erat hal itu, dan gigitlah dengan geraham kalian, dan jauhilah oleh kalian segala perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan itu adalah
bid’ah dan setiap
bid’ah itu kesesatan, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka. Inilah wasiat Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk umatnya agar berjalan di atas
manhaj salafush shalih. Karena itu adalah jalan keselamatan, sebagaimana firman Allah
Jalla wa ‘Alâ.
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” [Al-An’âm: 153]
Takutlah kalian terhadap neraka, takutlah kalian terhadap kesesatan, dan kalian pun menyelisihi golongan yang menyimpang. Berjalanlah kalian di atas
manhaj yang selamat hingga kalian berjumpa dengan Nabi kalian
shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau serta para pengikutnya, barangsiapa yang berpegang dengan hal ini, apalagi di akhir zaman ini, akan mendapati kesusahan dari manusia dan para penentang, akan mendapati ancaman-ancaman sehingga butuh kesabaran, akan mendapati perkara-perkara yang menipu lagi memalingkan dari jalan ini, serta ancaman dan gertakan-gertakan dari golongan-golongan yang menyimpang dan kelompok-kelompok yang sesat, sehingga butuh kesabaran. Karena itulah, Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan terasing, dan kelak akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.” Beliau ditanya, “Siapa orang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan di tengah rusaknya manusia.” Maka tidaklah ada yang bisa selamat dari kesesatan di dunia ini, dan tidak pula bisa selamat dari neraka kelak di akhirat kecuali orang yang berjalan di atas jalan
manhaj salafush shalih. Merekalah yang Allah sebutkan,
وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقاً* ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنْ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيماً
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” [An-Nisâ`: 69-70]
Oleh karena itulah, Allah telah mewajibkan kita untuk senantiasa membaca surat Al-Fatihah di setiap rakaat pada setiap shalat wajib kita atau sunnah, dan di akhir suratnya dengan doa,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah Kami jalan yang lurus.” [Al-Fâtihah: 6]
Disebut dengan ‘jalan yang lurus’, karena disana ada jalan-jalan yang menyimpang dan menipu. Maka engkau mintalah kepada Allah agar menjauhkanmu dari jalan-jalan tersebut, dan agar memberi hidayah kepadamu akan ‘Jalan…’, yaitu agar memberimu petunjuk akan jalan yang lurus dan mengokohkanmu di atasnya. Ini di setiap rakaat, karena sangat pentingnya doa ini. Perhatikanlah maknanya, “…jalan yang lurus”, siapakah yang berjalan di atas jalan yang lurus? Yaitu mereka yang telah Allah beri anugerah kenikmatan pada mereka.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 7]
Dan siapakah mereka yang telah diberikan nikmat tersebut?
مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقاً
“Yaitu, para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisâ`: 69]
Dan jika engkau memohon kepada Allah agar memberimu hidayah kepada jalan yang lurus ini, itu artinya juga engkau memohon agar dijauhkan dari jalan-jalan yang menyimpang dan sesat.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 7]
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
“Bukanlah jalannya orang-orang yang Engkau murkai.” [Al-Fâtihah: 7]
Yaitu mereka yang dimurkai oleh Allah, merekalah dari kalangan Yahudi, yang mereka itu mengetahui akan kebenaran namun tidak mengamalkannya, dan setiap orang yang berjalan di atas jalan Yahudi dari umat ini, yang mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya, itulah jalannya Yahudi, jalan yang dimurkai. Karena mengetahui kebenaran dan tidak mengamalkannya, mengambil ilmu namun tidak mengamalkannya, dan setiap orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya, maka ia termasuk kalangan yang dimurkai.
وَلا الضَّالِّينَ
“Dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.” [Al-Fâtihah: 7]
Yaitu, mereka yang beribadah kepada Allah di atas kebodohan dan kesesatan, beribadah dan menghambakan diri kepada Allah serta mendekatkan diri pada-Nya, akan tetapi tidak di atas jalan yang benar, tidak di atas
manhaj yang selamat, tanpa ada dalil dari Al-Qur`an dan sunnah, justru di atas ke
bid’ahan, “Dan setiap ke
bid’ahan itu adalah kesesatan.” Sebagaimana keadaannya kaum
Nashrani dan juga setiap orang yang berjalan dengan jalan mereka, beribadah kepada Allah tidak di atas jalan yang benar dan
manhaj yang selamat. Itulah kesesatan, tersesat dari jalan yang benar dan amalannya sia-sia.
Sehingga, doa ini adalah doa yang luas maknanya, senantiasa kita ulangi di setiap rakaat dari shalat-shalat kita. Perhatikanlah maknanya, kita memanjatkannya dengan menghadirkan hati dan memahami maknanya hingga bisa dikabulkan untuk kita, dan diucapkanlah setelah membaca Al-Fatihah, “Amin”, yang artinya, “Ya Allah, kabulkanlah.” Ini adalah doa yang sangat agung bagi orang yang memperhatikannya. (bersambung)
Artikel Berikutnya:
MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #2
Diterjemahkan oleh tim Redaksi alfawzan.net