artikel pilihan


LAA ILAAHA ILLALLAH KUNCI SURGA

LAA ILAAHA ILLALLAH KUNCI SURGA


Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به
Berkata Musa ‘alaihissalam: “Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepadaMu dan aku berdoa kepadaMu”
قال : قل يا موسى لا إله إلا الله
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berkata: “Wahai Musa, katakanlah laa ilaaha illallah”[1]
Perhatikan tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk diajari sesuatu yang dengannya ia berdoa sekaligus berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkannya untuk mengatakan kalimat laa ilaaha illallah.

Hadits ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai dzikir yang kita ketahui juga sebagai doa yang dipanjatkan oleh Musa ‘alaihissalam sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala ajarkan kepada beliau. Perhatikan bahwa doa terkadang juga menjadi dzikir sebagaimana kalimat  laa ilaaha illallah.

Kemudian kisah tentang doa yang dipanjatkan oleh Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alahissalam. Ketika Nabi Yunus berada di kegelapan di dalam perut ikan Paus, Nabi Yunus berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
 “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim”.[2]
Secara tekstual pada lanjutan ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ

Maka Kami telah memperkenankan doanya”[3]

Padahal Nabi Yunus hanya mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ yang seolah hanya sebagai dzikir. Tetapi Allah mengatakan فَاسْتَجَبْنَا لَهُ “maka Kami telah memperkenankan doanya”. Hal ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai doa kepada Allah juga sebagai dzikir yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan doa seseorang.

Ucapan laa ilaaha illallah sebagaimana disebutkan dari Wahab Ibnu Munabbih. Sebagaimana diketahui bahwa laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga, seseorang berkata kepada beliau “bukankah jika seseorang telah mengatakan laa ilaaha illallah maka ia telah memiliki kunci untuk pintu surga?” Berkata Wahab Ibnu Munabbih, “Betul, jika engkau memiliki kunci dan kunci tersebut memiliki gigi gerigi maka kunci tersebut akan bisa membuka kunci surga. Akan tetapi jika engkau mendatangkan kunci yang kunci tersebut tidak memiliki gigi gerigi niscaya kunci tersebut tidak akan bisa membuka sebuah pintu.”

Demikianlah juga laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga. Akan tetapi tidak semua orang yang mengatakan laa ilaaha illallah akan masuk surga kecuali barang siapa yang bisa mendatangkan laa ilaaha illallah dengan syarat dan rukun yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau diisyaratkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadits-nya.

Maka inilah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim bahwasanya laa ilaaha illallah memiliki keutamaan sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi ﷺ:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ , لَهُ الْمُلْكُ , وَلَهُ الْحَمْدُ , وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumnya adalah ucapan Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qodiir"[4]
Disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah bahwasanya orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sering mengucapkan laa ilaaha illallah akan tetapi tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka tidak bisa merealisasikan dan men-tahqiq. Mereka tidak bisa untuk benar-benar memberikan hak kepada makna laa ilaaha illallah yang terdiri dari rukun yang harus menafikan dan menetapkan bahwasanya makna laa ilaaha illallah adalah لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ atau tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang-orang Yahudi mengatakan laa ilaaha illallah akan tetapi mereka mengangkat Uzair sebagai anak Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu menjadikan ucapan laa ilaaha illallah tidaklah bermanfaat. Adapun ucapan laa ilaaha illallah yang bermanfaat selain sebagai dzikir juga sebagai doa adalah ucapannya yang dengannya seseorang bisa memenuhi rukun dan syarat-syaratnya

Dalam sebuah hadits qudsi, Nabi ﷺ bersabda sebagaimana yang telah beliau riwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala:

يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة
“Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau meninggal (dalam keadaan) tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka aku akan memberikan ampunan sepenuh bumi pula kepadamu”[5]
Di dalam hadits lain, hadits yang ma’ruf yang dikenal sebagai hadits bithaqah, Rasulullah ﷺ bersabda:

يصاح برجل من أمتي يوم القيامة على رؤوس الخلائق، فينشر له تسعة وتسعون سجلًا، كل سجل مَدَّ البصر، ثم يقول الله عز وجل: هل تنكر من هذا شيئاً؟ فيقول: لا يا رب. فيقول: أظلَمَتك كتبتي الحافظون؟ ثم يقول: ألك عن ذلك حسنة. فيهاب الرجل فيقول: لا، فيقول: بلى إن لك عندنا حسنات، وإنه لا ظلم عليك اليوم. فتخرج له بطاقة فيها أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا عبده ورسوله. قال: فيقول: يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات. فيقول: إنك لا تُظلم. فتوضع السجلات في كِفَّة والبطاقة في كِفَّة، فطاشت السجلات وثقلت البطاقة
“Dipanggil dengan suara keras dari seorang dari umatku pada hari kiamat di hadapan keramaian manusia. Lalu dibukakan atasnya 99 catatan, setiap catatan sejauh jarak mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya: “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bithaqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaaha illallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tersebut.”[6]
Sehingga di dalam lanjutan hadits Musa yang disebutkan di bagian awal pembahasan ini, Rasulullah bersabda di hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله
“Wahai Musa, kalau seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat laa ilaaha illallah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat timbangannya”[7]
Inilah yang disebutkan di dalam hadits bithaqah tersebut bahwasanya orang yang melihat amalan keburukannya sepanjang mata memandang dan ia mengira sudah tidak ada jalan keluar untuk selamat ternyata ia masih memiliki satu kebaikan yang merupakan kebaikan terbesar yaitu ucapan laa ilaaha illallah yang ia ucapkan semasa hidupnya dengan ikhlas dan penuh keyakinan.


والله أعلمُ بالـصـواب



*) Dirangkum dari khutbah Jum’at Syaikh Dr. Ashim bin Abdullah Alu Hamd

 ___________________________

[1] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Hakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[2] QS. Al-Anbiya: 87
[3] QS. Al-Anbiya: 88
[4] HR. Tirmidzi No. 3585 & Ahmad 2:220
[5] HR. Tirmidzi No. 3534, Ad-Darimy No, 2791, dan Ahmad 5/172, disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[6] HR. Ibnu Majah No 4300, Tirmidzi No. 2639, dan Ahmad 2: 213
[7] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Haakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid


Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به
Berkata Musa ‘alaihissalam: “Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepadaMu dan aku berdoa kepadaMu”
قال : قل يا موسى لا إله إلا الله
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berkata: “Wahai Musa, katakanlah laa ilaaha illallah”[1]
Perhatikan tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk diajari sesuatu yang dengannya ia berdoa sekaligus berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkannya untuk mengatakan kalimat laa ilaaha illallah.

Hadits ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai dzikir yang kita ketahui juga sebagai doa yang dipanjatkan oleh Musa ‘alaihissalam sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala ajarkan kepada beliau. Perhatikan bahwa doa terkadang juga menjadi dzikir sebagaimana kalimat  laa ilaaha illallah.

Kemudian kisah tentang doa yang dipanjatkan oleh Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alahissalam. Ketika Nabi Yunus berada di kegelapan di dalam perut ikan Paus, Nabi Yunus berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
 “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim”.[2]
Secara tekstual pada lanjutan ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ

Maka Kami telah memperkenankan doanya”[3]

Padahal Nabi Yunus hanya mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ yang seolah hanya sebagai dzikir. Tetapi Allah mengatakan فَاسْتَجَبْنَا لَهُ “maka Kami telah memperkenankan doanya”. Hal ini menunjukkan bahwa laa ilaaha illallah selain sebagai doa kepada Allah juga sebagai dzikir yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan doa seseorang.

Ucapan laa ilaaha illallah sebagaimana disebutkan dari Wahab Ibnu Munabbih. Sebagaimana diketahui bahwa laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga, seseorang berkata kepada beliau “bukankah jika seseorang telah mengatakan laa ilaaha illallah maka ia telah memiliki kunci untuk pintu surga?” Berkata Wahab Ibnu Munabbih, “Betul, jika engkau memiliki kunci dan kunci tersebut memiliki gigi gerigi maka kunci tersebut akan bisa membuka kunci surga. Akan tetapi jika engkau mendatangkan kunci yang kunci tersebut tidak memiliki gigi gerigi niscaya kunci tersebut tidak akan bisa membuka sebuah pintu.”

Demikianlah juga laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah adalah kunci pintu surga. Akan tetapi tidak semua orang yang mengatakan laa ilaaha illallah akan masuk surga kecuali barang siapa yang bisa mendatangkan laa ilaaha illallah dengan syarat dan rukun yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau diisyaratkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadits-nya.

Maka inilah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim bahwasanya laa ilaaha illallah memiliki keutamaan sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi ﷺ:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ , لَهُ الْمُلْكُ , وَلَهُ الْحَمْدُ , وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumnya adalah ucapan Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qodiir"[4]
Disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah bahwasanya orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sering mengucapkan laa ilaaha illallah akan tetapi tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka tidak bisa merealisasikan dan men-tahqiq. Mereka tidak bisa untuk benar-benar memberikan hak kepada makna laa ilaaha illallah yang terdiri dari rukun yang harus menafikan dan menetapkan bahwasanya makna laa ilaaha illallah adalah لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ atau tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang-orang Yahudi mengatakan laa ilaaha illallah akan tetapi mereka mengangkat Uzair sebagai anak Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu menjadikan ucapan laa ilaaha illallah tidaklah bermanfaat. Adapun ucapan laa ilaaha illallah yang bermanfaat selain sebagai dzikir juga sebagai doa adalah ucapannya yang dengannya seseorang bisa memenuhi rukun dan syarat-syaratnya

Dalam sebuah hadits qudsi, Nabi ﷺ bersabda sebagaimana yang telah beliau riwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala:

يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة
“Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau meninggal (dalam keadaan) tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka aku akan memberikan ampunan sepenuh bumi pula kepadamu”[5]
Di dalam hadits lain, hadits yang ma’ruf yang dikenal sebagai hadits bithaqah, Rasulullah ﷺ bersabda:

يصاح برجل من أمتي يوم القيامة على رؤوس الخلائق، فينشر له تسعة وتسعون سجلًا، كل سجل مَدَّ البصر، ثم يقول الله عز وجل: هل تنكر من هذا شيئاً؟ فيقول: لا يا رب. فيقول: أظلَمَتك كتبتي الحافظون؟ ثم يقول: ألك عن ذلك حسنة. فيهاب الرجل فيقول: لا، فيقول: بلى إن لك عندنا حسنات، وإنه لا ظلم عليك اليوم. فتخرج له بطاقة فيها أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا عبده ورسوله. قال: فيقول: يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات. فيقول: إنك لا تُظلم. فتوضع السجلات في كِفَّة والبطاقة في كِفَّة، فطاشت السجلات وثقلت البطاقة
“Dipanggil dengan suara keras dari seorang dari umatku pada hari kiamat di hadapan keramaian manusia. Lalu dibukakan atasnya 99 catatan, setiap catatan sejauh jarak mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya: “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bithaqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaaha illallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tersebut.”[6]
Sehingga di dalam lanjutan hadits Musa yang disebutkan di bagian awal pembahasan ini, Rasulullah bersabda di hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله
“Wahai Musa, kalau seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat laa ilaaha illallah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat timbangannya”[7]
Inilah yang disebutkan di dalam hadits bithaqah tersebut bahwasanya orang yang melihat amalan keburukannya sepanjang mata memandang dan ia mengira sudah tidak ada jalan keluar untuk selamat ternyata ia masih memiliki satu kebaikan yang merupakan kebaikan terbesar yaitu ucapan laa ilaaha illallah yang ia ucapkan semasa hidupnya dengan ikhlas dan penuh keyakinan.


والله أعلمُ بالـصـواب



*) Dirangkum dari khutbah Jum’at Syaikh Dr. Ashim bin Abdullah Alu Hamd

 ___________________________

[1] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Hakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[2] QS. Al-Anbiya: 87
[3] QS. Al-Anbiya: 88
[4] HR. Tirmidzi No. 3585 & Ahmad 2:220
[5] HR. Tirmidzi No. 3534, Ad-Darimy No, 2791, dan Ahmad 5/172, disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid
[6] HR. Ibnu Majah No 4300, Tirmidzi No. 2639, dan Ahmad 2: 213
[7] Diriwayatkan Ibnu Hibban (No. 2324) dan Al-Haakim (1/528, No. 1936), disebutkan di dalam Bab 1 Kitab Tauhid

TUJUH KEAGUNGAN IBADAH HAJI

TUJUH KEAGUNGAN IBADAH HAJI



Allah 'azza wa jalla mensyariatkan segala bentuk ibadah untuk maksud dan tujuan yang mulia. Salah satunya adalah rukun Islam yang kelima: haji ke Baitullah. Dalam amalan tersebut terwujud berbagai manfaat, keutamaan, dan pelajaran bagi umat manusia. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ. لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." [Surat Al-Hajj, ayat 27-28]
Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang penting bagi kaum muslimin untuk kembali merenungi nilai-nilai keagungan ibadah haji, sebagai sarana yang mendorong untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan menguatkan keimanan bahwa Allah jalla wa 'ala adalah satu-satunya yang berhak disembah karena hanya Dialah yang mampu untuk menurunkan agama yang begitu sempurna dan penuh dengan keindahan.


1.) Ibadah Haji Menanamkan Tauhidullah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus untuk menegakkan tauhid di tengah umat manusia. Beliau menyeru agar seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah tabaraka wa ta'ala. Sehingga, semenjak permulaan ibadah haji beliau memberikan teladan yang menunjukkan pentingnya keikhlasan. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, 
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berhaji (mengendarai unta). Diletakkan di atas punggung unta tersebut pelana yang sudah lama digunakan dan lembaran kain yang harganya empat Dirham atau kurang dari itu. Kemudian beliau bersabda,
(اللَّهُمَّ حَجَّةٌ لَا رِيَاءَ فِيهَا ، وَلَا سُمْعَةَ)
'Ya Allah, jadikanlah haji ini sebagai ibadah yang tidak bercampur dengan riya' dan sum'ah.'." [Riwayat Ibnu Majah no. 2885. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam "Ash-Shahihah" jilid 6 hlm. 227]
Dahulu kala, kaum musyrikin juga berhaji dan umrah dengan tata cara jahiliah. Ketika bertalbiah, mereka berucap,

لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ
"Kami menyambut seruan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang kami jadikan untuk-Mu. Engkau menguasai sekutu tersebut beserta apa yang dimilikinya."
Maka, setelah mereka mengucapkan bagian pertama dari talbiah di atas (yang berisikan tauhidullah), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari dengan sabda beliau,

(وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ)
"Celaka Kalian. Cukup! Cukup!" (Riwayat Muslim no. 2093, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma)
Maksud beliau, cukuplah bertalbiah dengan tauhid, jangan menambahnya dengan kesyirikan.


2.) Ibadah Haji Wujud Ittiba' terhadap Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Amal ibadah bersifat tauqifiah, dilakukan sesuai petunjuk syariat. Seorang muslim diperintahkan untuk menghormati aturan-aturan syariat, menjalankannya dengan segenap ketaatan, walaupun terkadang belum bisa dipahami dengan baik hikmah yang tersembunyi di balik perintah ibadah tersebut. Itulah sikap ittiba' dalam peribadatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ
"Hendaklah kalian mengambil tata cara ibadah haji (dariku)." [Riwayat Muslim no. 1297, dari Jabir radhiyallahu 'anhu]
Sikap mulia dalam mengikuti sunnah tercermin pada kehidupan para sahabat. Suatu ketika, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menuju hajar aswad, lalu menciumnya. Kemudian beliau berkata,

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ. وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
"Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu, tidak mampu menimpakan bahaya dan tidak bisa mendatangkan manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan melakukannya." [Riwayat Al-Bukhari no. 1520 dan Muslim no. 1720]


 3.) Ibadah Haji Mengingatkan tentang Hari Akhir

Surat Al-Hajj yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang haji dimulai dengan peringatan tentang kiamat. Allah ta'ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ)
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabbmu. Sungguh, guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar." [Surat Al-Hajj ayat 1]
Rangkaian ibadah haji memiliki banyak keserupaan dengan perjalanan hidup manusia menuju negeri akhirat. Di antaranya, ketika wuquf di padang Arafah. Seluruh jamaah haji dari berbagai belahan dunia berkumpul di satu tempat. Keadaan tersebut menggambarkan hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan amalan mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

(ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ)
"Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)." [Surat Hud ayat 103]


 4.) Islam Agama yang Mudah

Kewajiban haji tidak dibebankan, kecuali bagi kaum muslimin yang mampu menunaikannya. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ)
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." [Surat Ali Imran ayat 97]
Sehingga pada asalnya, kewajiban haji didasarkan pada kemudahan. Di samping itu, masih terdapat keringanan bagi orang yang memiliki udzur syar'i, seperti orang yang mencukur rambutnya saat berhaji atau umrah karena penyakit di kepalanya. Allah ta'ala berfirman,

(فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍِ)
"Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, atau bersedekah atau berqurban." [Surat Al-Baqarah ayat 196]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Ka'b bin 'Ujrah merasa terganggu dengan kutu yang ada di kepalanya. Kemudian beliau bersabda,

(فَاحْلِقْ وَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ أَوْ انْسُكْ نَسِيكَةً)
"Cukurlah rambutmu dan berpuasalah selama tiga hari atau berilah makan enam orang miskin atau sembelihlah dam." [Riwayat Al-Bukhari no. 3954 dan Muslim no. 1201]


5.) Haji adalah Jihad bagi Kaum Wanita

Ibunda kaum mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kami (para wanita) mengetahui bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Bolehkah kami berjihad?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,

لَكُنَّ أفْضَلُ الجِهَادِ: حَجٌّ مَبْرُورٌ
"Bagi kalian (para wanita) jihad yang paling afdhal, yaitu haji yang mabrur." [Riwayat Al-Bukhari no. 1448]
ِAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut haji sebagai jihad karena seseorang melawan hawa nafsunya saat menunaikan ibadah tersebut." ["Fathul Bari" jilid 3, hlm. 481, cet. Darus Salam Riyadh].


6.) Musim Haji Kesempatan untuk Berdakwah dan Menimba Ilmu

Berkumpulnya jutaan jiwa dari berbagai pelosok dunia di tanah suci merupakan saat yang tepat untuk menebar kebaikan dengan mengajarkan ilmu syariat kepada mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melaksanakan haji wada' beliau menyampaikan khutbah yang sangat berharga bagi umat Islam. Beliau berpesan,

(فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا)

"Maka, sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian terlindungi, seperti kesucian hari ini, negeri ini, dan bulan ini." [Riwayat Al-Bukhari no. 1739 dan Muslim no. 1679]

Dalam waktu yang sama, para ulama dapat berkumpul untuk membahas dan memecahkan permasalahan umat Islam. Demikian juga, para penuntut ilmu berkesempatan untuk bertemu dengan para alim ulama, belajar di hadapan mereka, dan bertanya akan hal-hal yang bermanfaat.

Ketika muncul akidah yang menyimpang tentang takdir di kota Bashrah, dua orang tabi'in: Yahya bin Ya'mur dan Humaid bin 'Abdirrahman Al-Himyari rahimahumallah melakukan perjalanan haji atau umrah. Keduanya berniat, jika bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka ingin bertanya tentang penyimpangan tersebut. Allah memberikan taufiq-Nya sehingga keduanya bertemu dengan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma. Keduanya bertanya dengan penuh adab. Kemudian, Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma menjelaskan dan bersumpah, bahwa seandainya orang-orang yang mengingkari takdir memiliki emas sebesar gunung Uhud, kemudian diinfaqkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir. (Riwayat Muslim no. 8).


7.) Ibadah Haji Membentuk Pribadi Muslim yang Berakhlak Mulia

Amaliah haji merupakan madrasah yang mendidik seorang muslim untuk berbudi luhur. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,


(الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ)
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." [Al-Baqarah ayat 197]
Asy-Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah berkata, "Wajib bagi kalian untuk mengagungkan ihram (niatan untuk melaksanakan ibadah haji), khususnya yang dilakukan pada bulan-bulan yang ditentukan (Syawwal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah). Dan wajib juga menjaganya dari segala sesuatu yang merusak atau mengurangi nilai ibadah tersebut, baik berupa rafats (jima' dan ucapan serta perbuatan yang menjurus kepadanya), terlebih ketika berada di hadapan para wanita, begitu juga kefasikan (seluruh bentuk maksiat, termasuk larangan-larangan ihram), dan jidal (perdebatan, sengketa, dan perselisihan) karena hal itu menimbulkan kejelekan dan permusuhan.

Maksud dari haji adalah ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah, mendekatkan diri kepadanya dengan ibadah-ibadah yang mampu untuk dikerjakan, dan menjaga diri dari perbuatan tercela. Dengan hal tersebut, dia menjadi haji mabrur. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga." ["Tafsir As-Sa'di" hlm. 91-92, cet. Ar-Risalah].

Inilah sebagian dari berbagai keagungan ibadah haji yang mencerminkan keindahan dan kesempurnaan Islam. Agama yang mulia ini selain mengarahkan umat manusia kepada kemaslahatan akhirat, juga membimbing para pemeluknya menuju maslahat duniawi. Allah ta'ala memperbolehkan bagi kaum muslimin melakukan perniagaan di musim haji apabila perdagangan tersebut tidak melalaikan dari pelaksanaan ibadah. Allah jalla wa 'ala berfirman,

(لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ)
" Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat." [Surat Al-Baqarah ayat 198]

Wallahu a'lamu bish shawab.




______________________



Allah 'azza wa jalla mensyariatkan segala bentuk ibadah untuk maksud dan tujuan yang mulia. Salah satunya adalah rukun Islam yang kelima: haji ke Baitullah. Dalam amalan tersebut terwujud berbagai manfaat, keutamaan, dan pelajaran bagi umat manusia. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ. لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." [Surat Al-Hajj, ayat 27-28]
Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang penting bagi kaum muslimin untuk kembali merenungi nilai-nilai keagungan ibadah haji, sebagai sarana yang mendorong untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan menguatkan keimanan bahwa Allah jalla wa 'ala adalah satu-satunya yang berhak disembah karena hanya Dialah yang mampu untuk menurunkan agama yang begitu sempurna dan penuh dengan keindahan.


1.) Ibadah Haji Menanamkan Tauhidullah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus untuk menegakkan tauhid di tengah umat manusia. Beliau menyeru agar seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah tabaraka wa ta'ala. Sehingga, semenjak permulaan ibadah haji beliau memberikan teladan yang menunjukkan pentingnya keikhlasan. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, 
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berhaji (mengendarai unta). Diletakkan di atas punggung unta tersebut pelana yang sudah lama digunakan dan lembaran kain yang harganya empat Dirham atau kurang dari itu. Kemudian beliau bersabda,
(اللَّهُمَّ حَجَّةٌ لَا رِيَاءَ فِيهَا ، وَلَا سُمْعَةَ)
'Ya Allah, jadikanlah haji ini sebagai ibadah yang tidak bercampur dengan riya' dan sum'ah.'." [Riwayat Ibnu Majah no. 2885. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam "Ash-Shahihah" jilid 6 hlm. 227]
Dahulu kala, kaum musyrikin juga berhaji dan umrah dengan tata cara jahiliah. Ketika bertalbiah, mereka berucap,

لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ
"Kami menyambut seruan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang kami jadikan untuk-Mu. Engkau menguasai sekutu tersebut beserta apa yang dimilikinya."
Maka, setelah mereka mengucapkan bagian pertama dari talbiah di atas (yang berisikan tauhidullah), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari dengan sabda beliau,

(وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ)
"Celaka Kalian. Cukup! Cukup!" (Riwayat Muslim no. 2093, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma)
Maksud beliau, cukuplah bertalbiah dengan tauhid, jangan menambahnya dengan kesyirikan.


2.) Ibadah Haji Wujud Ittiba' terhadap Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Amal ibadah bersifat tauqifiah, dilakukan sesuai petunjuk syariat. Seorang muslim diperintahkan untuk menghormati aturan-aturan syariat, menjalankannya dengan segenap ketaatan, walaupun terkadang belum bisa dipahami dengan baik hikmah yang tersembunyi di balik perintah ibadah tersebut. Itulah sikap ittiba' dalam peribadatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ
"Hendaklah kalian mengambil tata cara ibadah haji (dariku)." [Riwayat Muslim no. 1297, dari Jabir radhiyallahu 'anhu]
Sikap mulia dalam mengikuti sunnah tercermin pada kehidupan para sahabat. Suatu ketika, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menuju hajar aswad, lalu menciumnya. Kemudian beliau berkata,

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ. وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
"Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu, tidak mampu menimpakan bahaya dan tidak bisa mendatangkan manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan melakukannya." [Riwayat Al-Bukhari no. 1520 dan Muslim no. 1720]


 3.) Ibadah Haji Mengingatkan tentang Hari Akhir

Surat Al-Hajj yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang haji dimulai dengan peringatan tentang kiamat. Allah ta'ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ)
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabbmu. Sungguh, guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar." [Surat Al-Hajj ayat 1]
Rangkaian ibadah haji memiliki banyak keserupaan dengan perjalanan hidup manusia menuju negeri akhirat. Di antaranya, ketika wuquf di padang Arafah. Seluruh jamaah haji dari berbagai belahan dunia berkumpul di satu tempat. Keadaan tersebut menggambarkan hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan amalan mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

(ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ)
"Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)." [Surat Hud ayat 103]


 4.) Islam Agama yang Mudah

Kewajiban haji tidak dibebankan, kecuali bagi kaum muslimin yang mampu menunaikannya. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ)
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." [Surat Ali Imran ayat 97]
Sehingga pada asalnya, kewajiban haji didasarkan pada kemudahan. Di samping itu, masih terdapat keringanan bagi orang yang memiliki udzur syar'i, seperti orang yang mencukur rambutnya saat berhaji atau umrah karena penyakit di kepalanya. Allah ta'ala berfirman,

(فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍِ)
"Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, atau bersedekah atau berqurban." [Surat Al-Baqarah ayat 196]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Ka'b bin 'Ujrah merasa terganggu dengan kutu yang ada di kepalanya. Kemudian beliau bersabda,

(فَاحْلِقْ وَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ أَوْ انْسُكْ نَسِيكَةً)
"Cukurlah rambutmu dan berpuasalah selama tiga hari atau berilah makan enam orang miskin atau sembelihlah dam." [Riwayat Al-Bukhari no. 3954 dan Muslim no. 1201]


5.) Haji adalah Jihad bagi Kaum Wanita

Ibunda kaum mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kami (para wanita) mengetahui bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Bolehkah kami berjihad?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,

لَكُنَّ أفْضَلُ الجِهَادِ: حَجٌّ مَبْرُورٌ
"Bagi kalian (para wanita) jihad yang paling afdhal, yaitu haji yang mabrur." [Riwayat Al-Bukhari no. 1448]
ِAl-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut haji sebagai jihad karena seseorang melawan hawa nafsunya saat menunaikan ibadah tersebut." ["Fathul Bari" jilid 3, hlm. 481, cet. Darus Salam Riyadh].


6.) Musim Haji Kesempatan untuk Berdakwah dan Menimba Ilmu

Berkumpulnya jutaan jiwa dari berbagai pelosok dunia di tanah suci merupakan saat yang tepat untuk menebar kebaikan dengan mengajarkan ilmu syariat kepada mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melaksanakan haji wada' beliau menyampaikan khutbah yang sangat berharga bagi umat Islam. Beliau berpesan,

(فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا)

"Maka, sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian terlindungi, seperti kesucian hari ini, negeri ini, dan bulan ini." [Riwayat Al-Bukhari no. 1739 dan Muslim no. 1679]

Dalam waktu yang sama, para ulama dapat berkumpul untuk membahas dan memecahkan permasalahan umat Islam. Demikian juga, para penuntut ilmu berkesempatan untuk bertemu dengan para alim ulama, belajar di hadapan mereka, dan bertanya akan hal-hal yang bermanfaat.

Ketika muncul akidah yang menyimpang tentang takdir di kota Bashrah, dua orang tabi'in: Yahya bin Ya'mur dan Humaid bin 'Abdirrahman Al-Himyari rahimahumallah melakukan perjalanan haji atau umrah. Keduanya berniat, jika bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka ingin bertanya tentang penyimpangan tersebut. Allah memberikan taufiq-Nya sehingga keduanya bertemu dengan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma. Keduanya bertanya dengan penuh adab. Kemudian, Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma menjelaskan dan bersumpah, bahwa seandainya orang-orang yang mengingkari takdir memiliki emas sebesar gunung Uhud, kemudian diinfaqkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir. (Riwayat Muslim no. 8).


7.) Ibadah Haji Membentuk Pribadi Muslim yang Berakhlak Mulia

Amaliah haji merupakan madrasah yang mendidik seorang muslim untuk berbudi luhur. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman,


(الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ)
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." [Al-Baqarah ayat 197]
Asy-Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah berkata, "Wajib bagi kalian untuk mengagungkan ihram (niatan untuk melaksanakan ibadah haji), khususnya yang dilakukan pada bulan-bulan yang ditentukan (Syawwal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah). Dan wajib juga menjaganya dari segala sesuatu yang merusak atau mengurangi nilai ibadah tersebut, baik berupa rafats (jima' dan ucapan serta perbuatan yang menjurus kepadanya), terlebih ketika berada di hadapan para wanita, begitu juga kefasikan (seluruh bentuk maksiat, termasuk larangan-larangan ihram), dan jidal (perdebatan, sengketa, dan perselisihan) karena hal itu menimbulkan kejelekan dan permusuhan.

Maksud dari haji adalah ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah, mendekatkan diri kepadanya dengan ibadah-ibadah yang mampu untuk dikerjakan, dan menjaga diri dari perbuatan tercela. Dengan hal tersebut, dia menjadi haji mabrur. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga." ["Tafsir As-Sa'di" hlm. 91-92, cet. Ar-Risalah].

Inilah sebagian dari berbagai keagungan ibadah haji yang mencerminkan keindahan dan kesempurnaan Islam. Agama yang mulia ini selain mengarahkan umat manusia kepada kemaslahatan akhirat, juga membimbing para pemeluknya menuju maslahat duniawi. Allah ta'ala memperbolehkan bagi kaum muslimin melakukan perniagaan di musim haji apabila perdagangan tersebut tidak melalaikan dari pelaksanaan ibadah. Allah jalla wa 'ala berfirman,

(لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ)
" Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat." [Surat Al-Baqarah ayat 198]

Wallahu a'lamu bish shawab.




______________________

MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #2

MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #2



Dari Materi Pelajaran منهج السلف الصالح وحاجة الأمة إليه Karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله

Lanjutan dari Artikel Pertama MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #1

**********

Sebagaimana yang telah kita sebutkan bahwasanya barangsiapa yang berjalan di atas manhaj orang-orang yang telah diberi nikmat tersebut, ia akan menghadapi ujian, kesusahan, penghinaan, celaan dan tuduhan sesat dan diancam sehingga butuh kesabaran. Untuk itulah telah ada beberapa hadits yang menyebutkan bahwa berpegang teguh dengan agama di akhir zaman kelak bagaikan menggenggam bara api, karena memang akan menjumpai gangguan dan kejelekan dari manusia sehingga sangat membutuhkan kesabaran. Bagaikan menggenggam bara api, bukanlah bagaikan karpet mulus yang terbentang seperti mereka katakan, tidak ada kesulitan padanya. Namun justru di sana ada gangguan-gangguan dari manusia, maka butuh kesabaran dan kekokohan di atas hal ini hingga berjumpa dengan Rabbmu ‘Azza wa Jalla dalam keadaan engkau di atasnya agar engkau selamat dari neraka. Selamat dari kesesatan di dunia dan selamat dari neraka di akhirat, tidak ada jalan lain selain jalan ini, dan tidak ada keselamatan selain dengan menempuh jalan ini.

Di masa ini, mereka menelantarkan manhaj salafush shalih sebagaimana di lembaran-lembaran koran, majalah dan tulisan-tulisan, mereka mencela ahlussunnah wal jamaah para pengikut salaf yang sebenarnya, mereka mencelanya dengan mengatakan mereka itu ekstrim, mereka itu suka mengkafirkan, mereka itu demikian dan demikian. Namun ini semua tidaklah membahayakan, dan memang akan berdampak hanya bagi orang yang tidak memiliki kesabaran dan kekuatan serta tekad yang kuat pada dirinya, yang seperti ini memang akan terpengaruh dengan hal tersebut.

Ada di antara mereka yang berkata, siapa itu salaf?! Salaf itu hanyalah sebuah golongan yang sama seperti golongan-golongan lainnya, kelompok seperti kelompok-kelompok lainnya, hanyalah aliran seperti aliran-aliran lainnya, tidak ada keistimewaannya. Inilah yang diucapkan sebagian dari mereka, salaf itu tidak ada keistimewaannya hanyalah sebuah kelompok seperti kelompok-kelompok dan golongan-golongan lainnya, mereka inginkan agar berpaling dari manhaj salaf.

Dan ada juga diantara mereka yang berkata, kami tidaklah harus mengikuti pemahaman dan keilmuan dari salaf, kami berjalan sesuai dengan jalan kami sendiri, kami mengambil hukum dari yang baru saja, sehingga bagi kami ada fiqih modern dan yang ini fiqih kuno, fiqih dari salaf itulah fiqih kuno. Mereka juga mengatakan bahwa, “Tidaklah akan bisa menjadi baik zaman ini kecuali yang memang cocok dengan zamannya. Zaman kita telah berubah”, sehingga mereka pun menjauhi manhaj salaf, sebab kata mereka, ‘Kami tidaklah mengerti apa manhaj salaf itu, maka kita meninggalkannya dan tidak mempelajarinya, dan tidaklah cukup hanya dengan penyandaran diri kepada salaf tanpa ilmu dan pengetahuan terhadap metode keberagamaannya. Inilah yang mereka inginkan, mereka ingin agar kita meninggalkan manhaj salaf, fiqih serta ilmu salaf lalu kita membuat fiqih yang baru, sebagaimana yang mereka ucapkan. Dan juga mereka mengatakan bahwa itulah yang bisa membuat baik zaman ini. Ini adalah kedustaan, syariat Islam itu relevan/cocok dan baik untuk setiap zaman dan tempat hingga hari kiamat.

Manhaj salafush shalih itu diperuntukkan setiap zaman dan tempat, cahaya dari Allah ‘Azza wa Jalla. Janganlah membuatmu meninggalkannya hanya karena ucapan orang-orang tersebut yang memperdaya lagi menyesatkan.

Imam Malik rahimahullâh berkata, “Tidaklah akan bisa menjadi baik umat akhir ini kecuali dengan perkara yang telah membuat baik umat generasi pertamanya”, apa yang telah membuat baik umat generasi pertama?

Jawabannya adalah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan Sunnah, dan meneladani Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beramal dengan Al-Qur`an dan Sunnah, inilah yang membuat baik generasi pertama umat ini. Dan tidak akan pernah bisa menjadi baik umat generasi ini kecuali dengan perkara yang telah membuat baik umat generasi pertamanya.

Maka barangsiapa yang menginginkan keselamatan, wajib baginya untuk mengenal manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya dan menyeru kepadanya, itulah jalan keselamatan, itulah bahtera Nabi Nuh ‘alaihissalâm, barangsiapa ikut ke atasnya ia akan selamat dan barangsiapa yang meninggalkannya ia akan binasa dan tenggelam dalam kesesatan. Sehingga tidak ada keselamatan bagi kita kecuali dengan manhaj salaf, dan tidaklah bisa kita mengenal manhaj salaf tersebut kecuali dengan belajar, maka pelajarilah dan iringilah dengan senantiasa memohon kepada Allah.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 6-7]
Kita memohon kepada Allah agar memberi kita taufik dan memberi kita kekokohan di atasnya.

Haruslah seperti ini, memang bukanlah permasalahannya hanya sekadar klaim saja. Klaim atau pengakuan itu jika tanpa ada ilmu di atasnya, maka itu hanya sia-sia saja dari pengakuan tersebut. Bukanlah permasalahannya hanyalah penyandaran diri semata, Allah Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”

Maksudnya: dengan kokoh. Dan tidak akan pernah bisa kokoh manhaj salaf ini kecuali dengan cara engkau mengenal dan mengilmuinya, dan tidak akan pernah bisa engkau berpegang teguh dengannya kecuali dengan engkau bersabar di atasnya. Dan jangan engkau pedulikan seruan-seruan kesesatan itu yang memalingkan darinya dan membuat jauh darinya. Inilah jalan yang benar, jalan keselamatan. Semua golongan itu di neraka kecuali satu, ditanyakan kepada Rasulullah, “Siapakah yang selamat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Setiap orang yang dirinya berada seperti saya dan para sahabatku pada hari ini.” Inilah manhaj salaf, jalan keselamatan yang mengantarkan kepada surga, tidak ada jalan selainnya, semua jalan selain itu adalah jalan kesesatan.

وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” [Al-An’âm: 153]
Inilah jalan Allah, dan selainnya dari jalan-jalan yang ada itu adalah kesesatan, jalan-jalan menyimpang yang di setiap jalan tersebut ada syaithan yang mengajak manusia kepada jalan tersebut.

Dan Nabi shallallâhu ‘alahi wa sallam mengkhawatirkan akan adanya mereka itu, para penyeru kesesatan yang menginginkan agar manusia berpaling dari manhaj salaf. Dan beliau telah mengabarkan bahwa mereka itu adalah para penyeru di pintu jahannam, barangsiapa yang mengikutinya, maka mereka akan melemparkannya ke dalamnya. Maka waspadalah dengan penuh kewaspadaan dari mereka itu, dan setiap datang suatu zaman maka semakin bertambahlah keterasingan dan semakin banyaklah fitnah-fitnah, sehingga kaum muslimin sangat membutuhkan untuk senantiasa memperhatikan manhaj salaf.

Dan di antara bentuk kesesatan mereka itu adalah mereka berkata: ‘manusia itu seluruhnya adalah muslim’, muslim di atas jalan apa? Muslim di atas jalannya Rasul dan para sahabatnya? Kalau demikian, benar dan tepat. Adapun Islam hanya sekadar penamaan, dan mereka berada di atas jalan yang menyimpang. Jalannya si Fulan atau Allan, itu adalah kesesatan, di atas jalan menuju neraka jahannam. Bukanlah masalahnya hanya sekadar penyandaran diri saja kepada Islam, penyandaran diri dan hakikat itu tidaklah terwujud kecuali dengan ilmu yang bermanfaat serta sungguh-sungguh mempelajarinya. Karena itulah kalian dapatkan para ulama itu sangat antusias terhadap permasalahan aqidah dengan segala pembahasannya, perinciannya dan pendetailannya. Dan mereka juga menulis berbagai karya tulis yang melebar dan juga ringkasan untuk menjelaskan manhaj salaf, memperhatikannya, berpegang teguh padanya serta berjalan di atasnya.

Permasalahannya membutuhkan kesungguhan, apalagi di tengah kegelapan dan kesesatan. Seorang muslim sangat membutuhkan cahaya untuk ia berjalan di tengah kegelapan dan kesesatan serta kebodohan.

Sekarang ini, banyak yang mengaku bahwa dirinya mengajar dan menyeru kepada ilmu dan pengetahuan, namun ia tidak mengambil ilmu dari sumber asalnya, ia ambil ilmu kepada orang-orang dari kalangannya seperti dirinya atau dari buku-buku atau dari ‘kebudayaan-kebudayaan’, kata mereka. Ini bukanlah jalan yang bisa mengantarkan kepada kebaikan, dan tidaklah pula kepada jalan yang benar. Haruslah dengan mempelajari dengan benar manhaj salafush shalih agar bisa berpegang teguh dengannya dan berjalan di atasnya, harus dengan kesabaran terhadap derita yang dirasakan di atas jalan yang ia tempuh dari celaan, hinaan dan selainnya.

Kalian dengar sekarang ini adanya penghinaan dan tandingan-tandingan terhadap manhaj salaf, mereka mengatakan bahwa ‘ini adalah menurut saya’, ‘demikian dan demikian’, janganlah membuatmu lari dari kebenaran seperti ini, ini adalah bentuk teror dan kebatilan. Berpegang teguhlah dengan manhaj salaf, karena itulah jalan keselamatan. Karena itulah Nabi bersabda, “Wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnahnya para Khulafa` Ar-Rasyidin yang berpentunjuk setelahku, peganglah dengan erat hal itu, dan gigitlah dengan geraham kalian.” “Dan sesungguhnya ada di antara kalian yang akan hidup setelahku kelak ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku.” Ketika terjadi perselisihan tidaklah ada yang bisa menyelamatkan kecuali berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga petunjuk para Khulafa` Ar-Rasyidin yang berpetunjuk. Inilah jalan keselamatan dan kesejahteraan, jalan menuju surga.

Maka marilah kita memperhatikan dengan baik manhaj salaf, janganlah kita meninggalkannya hanya karena sedikit yang mengikuti dan karena adanya celaan dengan sifat-sifat yang jelek. Jangan merasa kecil hati dengan hal itu, justru hal tersebut menambah besar jiwa kita. Sebab, tidaklah mereka memerangi kecuali karena ini adalah jalan kebenaran, dan mereka menginginkan kesesatan.

Waspadalah dari mereka, wahai hamba Allah! Jangan hanya sekadar menyandarkan diri saja, jangan hanya belajar tanpa beramal, ambillah ilmu dari para ulama yang memang telah dikenal dalam hal ini. Para ulama yang istiqamah di atas jalan yang benar, dan jauhilah jalan-jalan yang menyimpang. Sebagaimana Allah telah memperingatkan kita.

وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.”

Yaitu jalan-Nya Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Kita semua sangat membutuhkan hal ini, terlebih tatkala semakin bergejolaknya fitnah-fitnah di masa ini, dan semakin banyaknya penyeru kesesatan serta banyaknya wasilah-wasilah yang mengantarkan kepada kejelekan di tengah manusia. Media-media yang tersembunyi lagi samar masuk ke dalam rumah-rumah mereka, hingga ke ranjang-ranjang mereka, menyeru kepada kesesatan, menyeru kepada ‘kebebasan’, menyeru kepada syahwat yang haram, menyeru kepada pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Mereka sebut hal tersebut dengan kelapangan berselancar, kelapangan  budaya, dan tidaklah ada lagi sikap tegas, semua ini janganlah membuat seorang muslim itu menjauhi manhaj salaf, metode keberagamaan dan ilmunya.

Jalan salaf itulah yang lebih selamat dan lebih berilmu serta lebih bijaksana daripada jalan orang-orang belakangan. Ilmu salaf itu murni dari Kitab dan Sunnah, dan ilmu khalaf (orang-orang belakangan; penj.) itu tidaklah murni lagi. Karena itulah engkau bisa mendapatkan kitab-kitab salaf itu sangat murni dan sangat sedikit dari tambahan-tambahan. Karena itulah Ibnu Rajab berkata, “Keutamaan ilmu salaf dari pada ilmu khalaf”, beliau berkata, “Salaf itu ucapan mereka sangat sedikit dan ilmu mereka sangatlah dalam, dan khalaf (itu) ucapan mereka sangatlah banyak namun ilmu mereka sangatlah sedikit.”

Hendaknya kita perhatikan hal ini. Inilah manhaj salaf yang tidaklah ada keselamatan bagi kita selain dengan berjalan di atasnya dan bersabar setelah kita mengenalnya dan mempelajarinya di atas jalan yang benar. Tanpa ada kedustaan yang tersamarkan. Sebab ada yang menyandarkan diri kepada salaf namun ternyata di atas kebatilan, bukan di atas madzhab salaf. Maka hendaknya kita mewaspadai hal ini.

Inilah beberapa kalimat yang ringkas dalam tema pembahasan ini, dan tentunya saya tidaklah mampu untuk menyampaikan keseluruhannya dalam seluruh sisinya, akan tetapi Allah Jalla wa ’Alâ berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” [Adz-Dzâriyât: 55]
فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى
“Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” [Al-A’lâ: 9-10]
Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita semua taufik untuk keshalihan dalam beramal dan berucap, dan agar memberi kita kekokohan di atas kebenaran dan berjalan di atasnya serta bersabar dengan gangguan-gangguan di atasnya.



وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.


__________________________

Ditulis Oleh Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan Al Fauzan
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

http://alfawzan.af.org.sa/ar/node/15030

Diterjemahkan oleh tim Redaksi alfawzan.net



Dari Materi Pelajaran منهج السلف الصالح وحاجة الأمة إليه Karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله

Lanjutan dari Artikel Pertama MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #1

**********

Sebagaimana yang telah kita sebutkan bahwasanya barangsiapa yang berjalan di atas manhaj orang-orang yang telah diberi nikmat tersebut, ia akan menghadapi ujian, kesusahan, penghinaan, celaan dan tuduhan sesat dan diancam sehingga butuh kesabaran. Untuk itulah telah ada beberapa hadits yang menyebutkan bahwa berpegang teguh dengan agama di akhir zaman kelak bagaikan menggenggam bara api, karena memang akan menjumpai gangguan dan kejelekan dari manusia sehingga sangat membutuhkan kesabaran. Bagaikan menggenggam bara api, bukanlah bagaikan karpet mulus yang terbentang seperti mereka katakan, tidak ada kesulitan padanya. Namun justru di sana ada gangguan-gangguan dari manusia, maka butuh kesabaran dan kekokohan di atas hal ini hingga berjumpa dengan Rabbmu ‘Azza wa Jalla dalam keadaan engkau di atasnya agar engkau selamat dari neraka. Selamat dari kesesatan di dunia dan selamat dari neraka di akhirat, tidak ada jalan lain selain jalan ini, dan tidak ada keselamatan selain dengan menempuh jalan ini.

Di masa ini, mereka menelantarkan manhaj salafush shalih sebagaimana di lembaran-lembaran koran, majalah dan tulisan-tulisan, mereka mencela ahlussunnah wal jamaah para pengikut salaf yang sebenarnya, mereka mencelanya dengan mengatakan mereka itu ekstrim, mereka itu suka mengkafirkan, mereka itu demikian dan demikian. Namun ini semua tidaklah membahayakan, dan memang akan berdampak hanya bagi orang yang tidak memiliki kesabaran dan kekuatan serta tekad yang kuat pada dirinya, yang seperti ini memang akan terpengaruh dengan hal tersebut.

Ada di antara mereka yang berkata, siapa itu salaf?! Salaf itu hanyalah sebuah golongan yang sama seperti golongan-golongan lainnya, kelompok seperti kelompok-kelompok lainnya, hanyalah aliran seperti aliran-aliran lainnya, tidak ada keistimewaannya. Inilah yang diucapkan sebagian dari mereka, salaf itu tidak ada keistimewaannya hanyalah sebuah kelompok seperti kelompok-kelompok dan golongan-golongan lainnya, mereka inginkan agar berpaling dari manhaj salaf.

Dan ada juga diantara mereka yang berkata, kami tidaklah harus mengikuti pemahaman dan keilmuan dari salaf, kami berjalan sesuai dengan jalan kami sendiri, kami mengambil hukum dari yang baru saja, sehingga bagi kami ada fiqih modern dan yang ini fiqih kuno, fiqih dari salaf itulah fiqih kuno. Mereka juga mengatakan bahwa, “Tidaklah akan bisa menjadi baik zaman ini kecuali yang memang cocok dengan zamannya. Zaman kita telah berubah”, sehingga mereka pun menjauhi manhaj salaf, sebab kata mereka, ‘Kami tidaklah mengerti apa manhaj salaf itu, maka kita meninggalkannya dan tidak mempelajarinya, dan tidaklah cukup hanya dengan penyandaran diri kepada salaf tanpa ilmu dan pengetahuan terhadap metode keberagamaannya. Inilah yang mereka inginkan, mereka ingin agar kita meninggalkan manhaj salaf, fiqih serta ilmu salaf lalu kita membuat fiqih yang baru, sebagaimana yang mereka ucapkan. Dan juga mereka mengatakan bahwa itulah yang bisa membuat baik zaman ini. Ini adalah kedustaan, syariat Islam itu relevan/cocok dan baik untuk setiap zaman dan tempat hingga hari kiamat.

Manhaj salafush shalih itu diperuntukkan setiap zaman dan tempat, cahaya dari Allah ‘Azza wa Jalla. Janganlah membuatmu meninggalkannya hanya karena ucapan orang-orang tersebut yang memperdaya lagi menyesatkan.

Imam Malik rahimahullâh berkata, “Tidaklah akan bisa menjadi baik umat akhir ini kecuali dengan perkara yang telah membuat baik umat generasi pertamanya”, apa yang telah membuat baik umat generasi pertama?

Jawabannya adalah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan Sunnah, dan meneladani Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beramal dengan Al-Qur`an dan Sunnah, inilah yang membuat baik generasi pertama umat ini. Dan tidak akan pernah bisa menjadi baik umat generasi ini kecuali dengan perkara yang telah membuat baik umat generasi pertamanya.

Maka barangsiapa yang menginginkan keselamatan, wajib baginya untuk mengenal manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya dan menyeru kepadanya, itulah jalan keselamatan, itulah bahtera Nabi Nuh ‘alaihissalâm, barangsiapa ikut ke atasnya ia akan selamat dan barangsiapa yang meninggalkannya ia akan binasa dan tenggelam dalam kesesatan. Sehingga tidak ada keselamatan bagi kita kecuali dengan manhaj salaf, dan tidaklah bisa kita mengenal manhaj salaf tersebut kecuali dengan belajar, maka pelajarilah dan iringilah dengan senantiasa memohon kepada Allah.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 6-7]
Kita memohon kepada Allah agar memberi kita taufik dan memberi kita kekokohan di atasnya.

Haruslah seperti ini, memang bukanlah permasalahannya hanya sekadar klaim saja. Klaim atau pengakuan itu jika tanpa ada ilmu di atasnya, maka itu hanya sia-sia saja dari pengakuan tersebut. Bukanlah permasalahannya hanyalah penyandaran diri semata, Allah Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”

Maksudnya: dengan kokoh. Dan tidak akan pernah bisa kokoh manhaj salaf ini kecuali dengan cara engkau mengenal dan mengilmuinya, dan tidak akan pernah bisa engkau berpegang teguh dengannya kecuali dengan engkau bersabar di atasnya. Dan jangan engkau pedulikan seruan-seruan kesesatan itu yang memalingkan darinya dan membuat jauh darinya. Inilah jalan yang benar, jalan keselamatan. Semua golongan itu di neraka kecuali satu, ditanyakan kepada Rasulullah, “Siapakah yang selamat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Setiap orang yang dirinya berada seperti saya dan para sahabatku pada hari ini.” Inilah manhaj salaf, jalan keselamatan yang mengantarkan kepada surga, tidak ada jalan selainnya, semua jalan selain itu adalah jalan kesesatan.

وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” [Al-An’âm: 153]
Inilah jalan Allah, dan selainnya dari jalan-jalan yang ada itu adalah kesesatan, jalan-jalan menyimpang yang di setiap jalan tersebut ada syaithan yang mengajak manusia kepada jalan tersebut.

Dan Nabi shallallâhu ‘alahi wa sallam mengkhawatirkan akan adanya mereka itu, para penyeru kesesatan yang menginginkan agar manusia berpaling dari manhaj salaf. Dan beliau telah mengabarkan bahwa mereka itu adalah para penyeru di pintu jahannam, barangsiapa yang mengikutinya, maka mereka akan melemparkannya ke dalamnya. Maka waspadalah dengan penuh kewaspadaan dari mereka itu, dan setiap datang suatu zaman maka semakin bertambahlah keterasingan dan semakin banyaklah fitnah-fitnah, sehingga kaum muslimin sangat membutuhkan untuk senantiasa memperhatikan manhaj salaf.

Dan di antara bentuk kesesatan mereka itu adalah mereka berkata: ‘manusia itu seluruhnya adalah muslim’, muslim di atas jalan apa? Muslim di atas jalannya Rasul dan para sahabatnya? Kalau demikian, benar dan tepat. Adapun Islam hanya sekadar penamaan, dan mereka berada di atas jalan yang menyimpang. Jalannya si Fulan atau Allan, itu adalah kesesatan, di atas jalan menuju neraka jahannam. Bukanlah masalahnya hanya sekadar penyandaran diri saja kepada Islam, penyandaran diri dan hakikat itu tidaklah terwujud kecuali dengan ilmu yang bermanfaat serta sungguh-sungguh mempelajarinya. Karena itulah kalian dapatkan para ulama itu sangat antusias terhadap permasalahan aqidah dengan segala pembahasannya, perinciannya dan pendetailannya. Dan mereka juga menulis berbagai karya tulis yang melebar dan juga ringkasan untuk menjelaskan manhaj salaf, memperhatikannya, berpegang teguh padanya serta berjalan di atasnya.

Permasalahannya membutuhkan kesungguhan, apalagi di tengah kegelapan dan kesesatan. Seorang muslim sangat membutuhkan cahaya untuk ia berjalan di tengah kegelapan dan kesesatan serta kebodohan.

Sekarang ini, banyak yang mengaku bahwa dirinya mengajar dan menyeru kepada ilmu dan pengetahuan, namun ia tidak mengambil ilmu dari sumber asalnya, ia ambil ilmu kepada orang-orang dari kalangannya seperti dirinya atau dari buku-buku atau dari ‘kebudayaan-kebudayaan’, kata mereka. Ini bukanlah jalan yang bisa mengantarkan kepada kebaikan, dan tidaklah pula kepada jalan yang benar. Haruslah dengan mempelajari dengan benar manhaj salafush shalih agar bisa berpegang teguh dengannya dan berjalan di atasnya, harus dengan kesabaran terhadap derita yang dirasakan di atas jalan yang ia tempuh dari celaan, hinaan dan selainnya.

Kalian dengar sekarang ini adanya penghinaan dan tandingan-tandingan terhadap manhaj salaf, mereka mengatakan bahwa ‘ini adalah menurut saya’, ‘demikian dan demikian’, janganlah membuatmu lari dari kebenaran seperti ini, ini adalah bentuk teror dan kebatilan. Berpegang teguhlah dengan manhaj salaf, karena itulah jalan keselamatan. Karena itulah Nabi bersabda, “Wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnahnya para Khulafa` Ar-Rasyidin yang berpentunjuk setelahku, peganglah dengan erat hal itu, dan gigitlah dengan geraham kalian.” “Dan sesungguhnya ada di antara kalian yang akan hidup setelahku kelak ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku.” Ketika terjadi perselisihan tidaklah ada yang bisa menyelamatkan kecuali berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga petunjuk para Khulafa` Ar-Rasyidin yang berpetunjuk. Inilah jalan keselamatan dan kesejahteraan, jalan menuju surga.

Maka marilah kita memperhatikan dengan baik manhaj salaf, janganlah kita meninggalkannya hanya karena sedikit yang mengikuti dan karena adanya celaan dengan sifat-sifat yang jelek. Jangan merasa kecil hati dengan hal itu, justru hal tersebut menambah besar jiwa kita. Sebab, tidaklah mereka memerangi kecuali karena ini adalah jalan kebenaran, dan mereka menginginkan kesesatan.

Waspadalah dari mereka, wahai hamba Allah! Jangan hanya sekadar menyandarkan diri saja, jangan hanya belajar tanpa beramal, ambillah ilmu dari para ulama yang memang telah dikenal dalam hal ini. Para ulama yang istiqamah di atas jalan yang benar, dan jauhilah jalan-jalan yang menyimpang. Sebagaimana Allah telah memperingatkan kita.

وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.”

Yaitu jalan-Nya Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Kita semua sangat membutuhkan hal ini, terlebih tatkala semakin bergejolaknya fitnah-fitnah di masa ini, dan semakin banyaknya penyeru kesesatan serta banyaknya wasilah-wasilah yang mengantarkan kepada kejelekan di tengah manusia. Media-media yang tersembunyi lagi samar masuk ke dalam rumah-rumah mereka, hingga ke ranjang-ranjang mereka, menyeru kepada kesesatan, menyeru kepada ‘kebebasan’, menyeru kepada syahwat yang haram, menyeru kepada pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Mereka sebut hal tersebut dengan kelapangan berselancar, kelapangan  budaya, dan tidaklah ada lagi sikap tegas, semua ini janganlah membuat seorang muslim itu menjauhi manhaj salaf, metode keberagamaan dan ilmunya.

Jalan salaf itulah yang lebih selamat dan lebih berilmu serta lebih bijaksana daripada jalan orang-orang belakangan. Ilmu salaf itu murni dari Kitab dan Sunnah, dan ilmu khalaf (orang-orang belakangan; penj.) itu tidaklah murni lagi. Karena itulah engkau bisa mendapatkan kitab-kitab salaf itu sangat murni dan sangat sedikit dari tambahan-tambahan. Karena itulah Ibnu Rajab berkata, “Keutamaan ilmu salaf dari pada ilmu khalaf”, beliau berkata, “Salaf itu ucapan mereka sangat sedikit dan ilmu mereka sangatlah dalam, dan khalaf (itu) ucapan mereka sangatlah banyak namun ilmu mereka sangatlah sedikit.”

Hendaknya kita perhatikan hal ini. Inilah manhaj salaf yang tidaklah ada keselamatan bagi kita selain dengan berjalan di atasnya dan bersabar setelah kita mengenalnya dan mempelajarinya di atas jalan yang benar. Tanpa ada kedustaan yang tersamarkan. Sebab ada yang menyandarkan diri kepada salaf namun ternyata di atas kebatilan, bukan di atas madzhab salaf. Maka hendaknya kita mewaspadai hal ini.

Inilah beberapa kalimat yang ringkas dalam tema pembahasan ini, dan tentunya saya tidaklah mampu untuk menyampaikan keseluruhannya dalam seluruh sisinya, akan tetapi Allah Jalla wa ’Alâ berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” [Adz-Dzâriyât: 55]
فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى
“Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” [Al-A’lâ: 9-10]
Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita semua taufik untuk keshalihan dalam beramal dan berucap, dan agar memberi kita kekokohan di atas kebenaran dan berjalan di atasnya serta bersabar dengan gangguan-gangguan di atasnya.



وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.


__________________________

Ditulis Oleh Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan Al Fauzan
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

http://alfawzan.af.org.sa/ar/node/15030

Diterjemahkan oleh tim Redaksi alfawzan.net

MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #1

MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #1



Dari Materi Pelajaran منهج السلف الصالح وحاجة الأمة إليه Karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله

**********

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين،  أما بعد:

Tema pembahasannya merupakan tema yang sangat penting sekali, sebagaimana yang telah kalian dengarkan dan telah diumumkan, “Manhaj As-Salaf Ash-Shalih dan Butuhnya Umat Terhadapnya.”

Yang diinginkan dengan ‘As-Salafush Shalih’ adalah generasi pertama dari umat ini, mereka para sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Allah Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
Dan juga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الصَّادِقُونَ
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [Al-Hasyr: 8]
Pada ayat ini disebutkan Muhajirin, kemudian Allah juga menyebut Al-Anshar.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [Al-Hasyr: 9]
Kemudian, Allah berfirman menyebut orang-orang yang datang setelah mereka.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” [Al-Hasyr: 10]
Kemudian, orang-orang yang datang setelah mereka, yang belajar dari mereka, itulah kalangan tabi’in dan para pengikut tabi’in dan orang-orang yang datang setelah mereka dari generasi yang utama. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang mereka, “Sebaik-baik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang setelah mereka, kemudian generasi orang-orang setelah mereka.” Berkata perawi hadits ini, “Saya tidak tahu, apakah beliau setelah menyebut generasi beliau, menyebut dua atau tiga generasi.” Generasi mereka inilah dikenal dan menjadi lebih baik dari setelahnya, dikenal dengan “Masa Generasi Yang Utama”. Mereka itulah ‘Salaf’ dari umat ini, yang telah dipuji oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau, “Sebaik-baik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang setelah mereka, kemudian generasi orang-orang setelah mereka.” Merekalah tauladan untuk umat ini, manhaj/metode keberagaman mereka adalah jalan yang telah mereka jalani dalam aqidah, mu’amalah, akhlak, dan dalam seluruh urusan-urusan mereka. Itulah manhaj yang diambil dari Al-Qur`an dan Sunnah, karena kedekatannya mereka dengan masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan masa turunnya wahyu, serta mereka mengambil agama ini dari Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam, maka mereka adalah generasi terbaik dan manhaj mereka adalah manhaj yang terbaik. Oleh karena itu kaum muslimin bersemangat untuk mengetahui manhaj mereka untuk mereka jadikan pegangan. Karena tidak mungkin kita dapat berjalan di atas manhaj mereka kecuali dengan mengetahui, mempelajari dan mengamalkannya. Oleh karena itu Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman,


وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
”Dan orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”
Dengan ihsan di sini maksudnya adalah dengan kokoh, dan tidak mungkin kita dapat mengikuti mereka dengan baik kecuali dengan mempelajari madzhab dan manhaj mereka serta hal-hal yang membahagiakan mereka. Adapun jika hanya sekadar menisbatkan diri kepada salaf dan dakwah salafiyyah tanpa mengetahui tentang salaf dan manhaj salaf, maka sejatinya dia tidak tahu apa-apa. Bahkan terkadang hal ini akan membahayakannya, sehingga harus mengetahui manhaj salafus shalih.

Oleh karena itulah, umat ini dulunya senantiasa mempelajari manhaj salafush shalih, dan senantiasa mengajarkannya dari generasi ke generasi. Mereka mempelajarinya di masjid, di sekolah-sekolah, pondok-pondok pesantren, di perguruan tinggi, inilah manhaj salafush shalih, inilah jalan atau cara untuk bisa mengetahui mereka. Sungguh kita juga (hendaknya) senantiasa mempelajari manhaj salafush shalih yang murni yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallâhu ‘alaih wa sallam telah mengabarkan bahwasanya kelak akan banyak terjadi perselisihan di tengah umat ini. Beliau bersabda, “Yahudi telah berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan Nashrani juga berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka, kecuali satu.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah yang dikecualikan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Setiap orang yang dirinya berada seperti saya dan para sahabatku pada hari ini.” Inilah manhaj salafush shalih, yaitu perkara yang ada padanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya.

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nasihat kepada para sahabatnya pada saat akhir hayat beliau, dengan nasihat yang sangat menyentuh hati yang membekas hingga membuat air mata menangis karenanya. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, berilah kami wasiat.” Beliau bersabda, “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah serta mendengar dan menaati.” Mendengar dan menaati siapa? Kepada pemerintah kaum muslimin. Mendengar dan menaati walaupun yang memimpin kalian dari kalangan seorang budak, sesungguhnya kelak barangsiapa di antara kalian yang masih hidup, maka ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnahnya para Khulafa’ Ar-Rasyidin yang berpentunjuk setelahku. Peganglah dengan erat hal itu, dan gigitlah dengan geraham kalian, dan jauhilah oleh kalian segala perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu kesesatan, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka. Inilah wasiat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk umatnya agar berjalan di atas manhaj salafush shalih. Karena itu adalah jalan keselamatan, sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Alâ.


وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” [Al-An’âm: 153]
Takutlah kalian terhadap neraka, takutlah kalian terhadap kesesatan, dan kalian pun menyelisihi golongan yang menyimpang. Berjalanlah kalian di atas manhaj yang selamat hingga kalian berjumpa dengan Nabi kalian shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau serta para pengikutnya, barangsiapa yang berpegang dengan hal ini, apalagi di akhir zaman ini, akan mendapati kesusahan dari manusia dan para penentang, akan mendapati ancaman-ancaman sehingga butuh kesabaran, akan mendapati perkara-perkara yang menipu lagi memalingkan dari jalan ini, serta ancaman dan gertakan-gertakan dari golongan-golongan yang menyimpang dan kelompok-kelompok yang sesat, sehingga butuh kesabaran. Karena itulah, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan terasing, dan kelak akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.” Beliau ditanya, “Siapa orang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan di tengah rusaknya manusia.” Maka tidaklah ada yang bisa selamat dari kesesatan di dunia ini, dan tidak pula bisa selamat dari neraka kelak di akhirat kecuali orang yang berjalan di atas jalan manhaj salafush shalih. Merekalah yang Allah sebutkan,


وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقاً* ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنْ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيماً
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” [An-Nisâ`: 69-70]
Oleh karena itulah, Allah telah mewajibkan kita untuk senantiasa membaca surat Al-Fatihah di setiap rakaat pada setiap shalat wajib kita atau sunnah, dan di akhir suratnya dengan doa,


اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah Kami jalan yang lurus.” [Al-Fâtihah: 6]

Disebut dengan ‘jalan yang lurus’, karena disana ada jalan-jalan yang menyimpang dan menipu. Maka engkau mintalah kepada Allah agar menjauhkanmu dari jalan-jalan tersebut, dan agar memberi hidayah kepadamu akan ‘Jalan…’, yaitu agar memberimu petunjuk akan jalan yang lurus dan mengokohkanmu di atasnya. Ini di setiap rakaat, karena sangat pentingnya doa ini. Perhatikanlah maknanya, “…jalan yang lurus”, siapakah yang berjalan di atas jalan yang lurus? Yaitu mereka yang telah Allah beri anugerah kenikmatan pada mereka.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 7]

Dan siapakah mereka yang telah diberikan nikmat tersebut?

مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقاً
“Yaitu, para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisâ`: 69]
Dan jika engkau memohon kepada Allah agar memberimu hidayah kepada jalan yang lurus ini, itu artinya juga engkau memohon agar dijauhkan dari jalan-jalan yang menyimpang dan sesat.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 7]

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

Bukanlah jalannya orang-orang yang Engkau murkai.” [Al-Fâtihah: 7]

Yaitu mereka yang dimurkai oleh Allah, merekalah dari kalangan Yahudi, yang mereka itu mengetahui akan kebenaran namun tidak mengamalkannya, dan setiap orang yang berjalan di atas jalan Yahudi dari umat ini, yang mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya, itulah jalannya Yahudi, jalan yang dimurkai. Karena mengetahui kebenaran dan tidak mengamalkannya, mengambil ilmu namun tidak mengamalkannya, dan setiap orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya, maka ia termasuk kalangan yang dimurkai.

وَلا الضَّالِّينَ

Dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.” [Al-Fâtihah: 7]

Yaitu, mereka yang beribadah kepada Allah di atas kebodohan dan kesesatan, beribadah dan menghambakan diri kepada Allah serta mendekatkan diri pada-Nya, akan tetapi tidak di atas jalan yang benar, tidak di atas manhaj yang selamat, tanpa ada dalil dari Al-Qur`an dan sunnah, justru di atas kebid’ahan, “Dan setiap kebid’ahan itu adalah kesesatan.” Sebagaimana keadaannya kaum Nashrani dan juga setiap orang yang berjalan dengan jalan mereka, beribadah kepada Allah tidak di atas jalan yang benar dan manhaj yang selamat. Itulah kesesatan, tersesat dari jalan yang benar dan amalannya sia-sia.

Sehingga, doa ini adalah doa yang luas maknanya, senantiasa kita ulangi di setiap rakaat dari shalat-shalat kita. Perhatikanlah maknanya, kita memanjatkannya dengan menghadirkan hati dan memahami maknanya hingga bisa dikabulkan untuk kita, dan diucapkanlah setelah membaca Al-Fatihah, “Amin”, yang artinya, “Ya Allah, kabulkanlah.” Ini adalah doa yang sangat agung bagi orang yang memperhatikannya. (bersambung)


Artikel Berikutnya:
MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #2






__________________________

Ditulis Oleh Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan Al Fauzan
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

http://alfawzan.af.org.sa/ar/node/15030

Diterjemahkan oleh tim Redaksi alfawzan.net



Dari Materi Pelajaran منهج السلف الصالح وحاجة الأمة إليه Karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله

**********

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين،  أما بعد:

Tema pembahasannya merupakan tema yang sangat penting sekali, sebagaimana yang telah kalian dengarkan dan telah diumumkan, “Manhaj As-Salaf Ash-Shalih dan Butuhnya Umat Terhadapnya.”

Yang diinginkan dengan ‘As-Salafush Shalih’ adalah generasi pertama dari umat ini, mereka para sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Allah Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
Dan juga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الصَّادِقُونَ
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [Al-Hasyr: 8]
Pada ayat ini disebutkan Muhajirin, kemudian Allah juga menyebut Al-Anshar.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [Al-Hasyr: 9]
Kemudian, Allah berfirman menyebut orang-orang yang datang setelah mereka.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” [Al-Hasyr: 10]
Kemudian, orang-orang yang datang setelah mereka, yang belajar dari mereka, itulah kalangan tabi’in dan para pengikut tabi’in dan orang-orang yang datang setelah mereka dari generasi yang utama. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang mereka, “Sebaik-baik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang setelah mereka, kemudian generasi orang-orang setelah mereka.” Berkata perawi hadits ini, “Saya tidak tahu, apakah beliau setelah menyebut generasi beliau, menyebut dua atau tiga generasi.” Generasi mereka inilah dikenal dan menjadi lebih baik dari setelahnya, dikenal dengan “Masa Generasi Yang Utama”. Mereka itulah ‘Salaf’ dari umat ini, yang telah dipuji oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau, “Sebaik-baik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi orang-orang setelah mereka, kemudian generasi orang-orang setelah mereka.” Merekalah tauladan untuk umat ini, manhaj/metode keberagaman mereka adalah jalan yang telah mereka jalani dalam aqidah, mu’amalah, akhlak, dan dalam seluruh urusan-urusan mereka. Itulah manhaj yang diambil dari Al-Qur`an dan Sunnah, karena kedekatannya mereka dengan masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan masa turunnya wahyu, serta mereka mengambil agama ini dari Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam, maka mereka adalah generasi terbaik dan manhaj mereka adalah manhaj yang terbaik. Oleh karena itu kaum muslimin bersemangat untuk mengetahui manhaj mereka untuk mereka jadikan pegangan. Karena tidak mungkin kita dapat berjalan di atas manhaj mereka kecuali dengan mengetahui, mempelajari dan mengamalkannya. Oleh karena itu Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman,


وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
”Dan orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”
Dengan ihsan di sini maksudnya adalah dengan kokoh, dan tidak mungkin kita dapat mengikuti mereka dengan baik kecuali dengan mempelajari madzhab dan manhaj mereka serta hal-hal yang membahagiakan mereka. Adapun jika hanya sekadar menisbatkan diri kepada salaf dan dakwah salafiyyah tanpa mengetahui tentang salaf dan manhaj salaf, maka sejatinya dia tidak tahu apa-apa. Bahkan terkadang hal ini akan membahayakannya, sehingga harus mengetahui manhaj salafus shalih.

Oleh karena itulah, umat ini dulunya senantiasa mempelajari manhaj salafush shalih, dan senantiasa mengajarkannya dari generasi ke generasi. Mereka mempelajarinya di masjid, di sekolah-sekolah, pondok-pondok pesantren, di perguruan tinggi, inilah manhaj salafush shalih, inilah jalan atau cara untuk bisa mengetahui mereka. Sungguh kita juga (hendaknya) senantiasa mempelajari manhaj salafush shalih yang murni yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallâhu ‘alaih wa sallam telah mengabarkan bahwasanya kelak akan banyak terjadi perselisihan di tengah umat ini. Beliau bersabda, “Yahudi telah berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan Nashrani juga berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka, kecuali satu.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah yang dikecualikan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Setiap orang yang dirinya berada seperti saya dan para sahabatku pada hari ini.” Inilah manhaj salafush shalih, yaitu perkara yang ada padanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya.

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ‘ihsan’.”

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nasihat kepada para sahabatnya pada saat akhir hayat beliau, dengan nasihat yang sangat menyentuh hati yang membekas hingga membuat air mata menangis karenanya. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, berilah kami wasiat.” Beliau bersabda, “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah serta mendengar dan menaati.” Mendengar dan menaati siapa? Kepada pemerintah kaum muslimin. Mendengar dan menaati walaupun yang memimpin kalian dari kalangan seorang budak, sesungguhnya kelak barangsiapa di antara kalian yang masih hidup, maka ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnahnya para Khulafa’ Ar-Rasyidin yang berpentunjuk setelahku. Peganglah dengan erat hal itu, dan gigitlah dengan geraham kalian, dan jauhilah oleh kalian segala perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu kesesatan, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka. Inilah wasiat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk umatnya agar berjalan di atas manhaj salafush shalih. Karena itu adalah jalan keselamatan, sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Alâ.


وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” [Al-An’âm: 153]
Takutlah kalian terhadap neraka, takutlah kalian terhadap kesesatan, dan kalian pun menyelisihi golongan yang menyimpang. Berjalanlah kalian di atas manhaj yang selamat hingga kalian berjumpa dengan Nabi kalian shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau serta para pengikutnya, barangsiapa yang berpegang dengan hal ini, apalagi di akhir zaman ini, akan mendapati kesusahan dari manusia dan para penentang, akan mendapati ancaman-ancaman sehingga butuh kesabaran, akan mendapati perkara-perkara yang menipu lagi memalingkan dari jalan ini, serta ancaman dan gertakan-gertakan dari golongan-golongan yang menyimpang dan kelompok-kelompok yang sesat, sehingga butuh kesabaran. Karena itulah, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan terasing, dan kelak akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.” Beliau ditanya, “Siapa orang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan di tengah rusaknya manusia.” Maka tidaklah ada yang bisa selamat dari kesesatan di dunia ini, dan tidak pula bisa selamat dari neraka kelak di akhirat kecuali orang yang berjalan di atas jalan manhaj salafush shalih. Merekalah yang Allah sebutkan,


وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقاً* ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنْ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيماً
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” [An-Nisâ`: 69-70]
Oleh karena itulah, Allah telah mewajibkan kita untuk senantiasa membaca surat Al-Fatihah di setiap rakaat pada setiap shalat wajib kita atau sunnah, dan di akhir suratnya dengan doa,


اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah Kami jalan yang lurus.” [Al-Fâtihah: 6]

Disebut dengan ‘jalan yang lurus’, karena disana ada jalan-jalan yang menyimpang dan menipu. Maka engkau mintalah kepada Allah agar menjauhkanmu dari jalan-jalan tersebut, dan agar memberi hidayah kepadamu akan ‘Jalan…’, yaitu agar memberimu petunjuk akan jalan yang lurus dan mengokohkanmu di atasnya. Ini di setiap rakaat, karena sangat pentingnya doa ini. Perhatikanlah maknanya, “…jalan yang lurus”, siapakah yang berjalan di atas jalan yang lurus? Yaitu mereka yang telah Allah beri anugerah kenikmatan pada mereka.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 7]

Dan siapakah mereka yang telah diberikan nikmat tersebut?

مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقاً
“Yaitu, para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisâ`: 69]
Dan jika engkau memohon kepada Allah agar memberimu hidayah kepada jalan yang lurus ini, itu artinya juga engkau memohon agar dijauhkan dari jalan-jalan yang menyimpang dan sesat.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka.” [Al-Fâtihah: 7]

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

Bukanlah jalannya orang-orang yang Engkau murkai.” [Al-Fâtihah: 7]

Yaitu mereka yang dimurkai oleh Allah, merekalah dari kalangan Yahudi, yang mereka itu mengetahui akan kebenaran namun tidak mengamalkannya, dan setiap orang yang berjalan di atas jalan Yahudi dari umat ini, yang mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya, itulah jalannya Yahudi, jalan yang dimurkai. Karena mengetahui kebenaran dan tidak mengamalkannya, mengambil ilmu namun tidak mengamalkannya, dan setiap orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya, maka ia termasuk kalangan yang dimurkai.

وَلا الضَّالِّينَ

Dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.” [Al-Fâtihah: 7]

Yaitu, mereka yang beribadah kepada Allah di atas kebodohan dan kesesatan, beribadah dan menghambakan diri kepada Allah serta mendekatkan diri pada-Nya, akan tetapi tidak di atas jalan yang benar, tidak di atas manhaj yang selamat, tanpa ada dalil dari Al-Qur`an dan sunnah, justru di atas kebid’ahan, “Dan setiap kebid’ahan itu adalah kesesatan.” Sebagaimana keadaannya kaum Nashrani dan juga setiap orang yang berjalan dengan jalan mereka, beribadah kepada Allah tidak di atas jalan yang benar dan manhaj yang selamat. Itulah kesesatan, tersesat dari jalan yang benar dan amalannya sia-sia.

Sehingga, doa ini adalah doa yang luas maknanya, senantiasa kita ulangi di setiap rakaat dari shalat-shalat kita. Perhatikanlah maknanya, kita memanjatkannya dengan menghadirkan hati dan memahami maknanya hingga bisa dikabulkan untuk kita, dan diucapkanlah setelah membaca Al-Fatihah, “Amin”, yang artinya, “Ya Allah, kabulkanlah.” Ini adalah doa yang sangat agung bagi orang yang memperhatikannya. (bersambung)


Artikel Berikutnya:
MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH DAN BUTUHNYA UMAT TERHADAPNYA #2






__________________________

Ditulis Oleh Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan Al Fauzan
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

http://alfawzan.af.org.sa/ar/node/15030

Diterjemahkan oleh tim Redaksi alfawzan.net

SEHAT ALA NABI ﷺ

SEHAT ALA NABI ﷺ



Apakah Rasulullah ﷺ Memiliki Menu Makanan Sehat Secara Khusus?

Untuk menjawabnya perlu rincian. Jika ada orang yang mengatakan demikian tetapi yang disebutkan di dalamnya tidak disandarkan kepada Nabi ﷺ maka dia telah berbicara dusta dengan menisbatkan kepada Nabi ﷺ dari apa yang tidak Beliau ﷺ sampaikan, sebagaimana sabda  beliau ﷺ:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [HR. Bukhari  dan Muslim]
Tetapi jika tsabit benar datangnya dari Beliau ﷺ maka jangan Anda dustakan, sebagaimana hadits-hadits berikut ini terkait sebagian menu makanan Rasulullah ﷺ:


1.) Hadits Pertama

وعن عبد الله بن جعفر - رضي الله عنهما - قال : رأيت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يأكل الرطب بالقثاء " . متفق عليه .
Dari Abdullah bin Ja'far radhiallahu anhuma berkata: “Aku telah melihat Rasulullah ﷺ makan kurma basah dengan mentimun.” [Muttafaqun 'alaih]

2.) Hadits Kedua:

حدثنا عبدة بن عبد الله الخزاعي حدثنا معاوية بن هشام عن سفيان عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يأكل البطيخ بالرطب.
Dari 'Aisyah radhiallahu anha: “Bahwa dahulu Nabi ﷺ makan semangka dengan kurma basah.” [HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany rahimahullah]

Juga disebutkan dalam riwayat Abu Daud rahimahullah:

عند أبي داود في حديث عائشة بلفظ :
 " كان يأكل البطيخ بالرطب فيقول : يكسر حر هذا ببرد هذا وبرد هذا بحر هذا "
Dahulu Nabi ﷺ makan semangka dengan kurma basah dan dia ﷺ berkata: “Panasnya ini (sifat kurma) dinetralkan dengan dinginnya ini (sifat semangka), dan (sebaliknya) dinginnya ini (sifat semangka dinetralkan) dengan panasnya ini (kurma basah).”
Pernah kami tanyakan dalam majelis khusus bersama Syaikh Prof. Dr. Adil bin Muhammad As-Subai’iy hafizhahullah (Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, KSA):
“Apakah hadits ini bisa menunjukkan bahwa menu makanan di atas adalah sunnah?Kemudian jawab beliau hafidzahullah: Jazman (dengan pasti) ini adalah sunnah, Kalau bukan sunnah berarti apalagi !!”
Kemudian kami juga mendengar dalam majelis khusus kami dengan Syaikh Prof Dr. Washiyullah Abbas (Guru Besar Al-Kitab Wa Assunnah Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Ummul Qura’, dan pengajar di Masjidil Haram Makkah Kerajaan Saudi Arabia) berkata:
“Tapi hal ini bukan berarti makan selain jenis makanan di atas berarti makruh atau haram.”
Penting untuk dipahami akan bukan wajibnya makan seperti menu di atas, dan Nabi ﷺ tidak selalu terus menerus makan menu seperti di atas saja (dari makanan yang bersifat panas-dingin), tapi kadang ini dan kadang itu alias kadang menu panas-dingin dan kadang bukan. Dan tidak boleh men-jazm (memastikan) bahwa pola makan Beliau ﷺ selalu hanya makan menu yang bersifat panas-dingin karena yang demikian membutuhkan dalil khusus.

Berkata Al-Khattabiy rahimahullah:

فيه إثبات الطب والعلاج ومقابلة الشيء الضار بالشيء المضاد له في طبعه على مذهب الطب والعلاج.
"Di dalamnya (hadits tersebut di atas) terkandung pembenaran dalam hal ilmu kedokteran dan pengobatan, melalui pemasangan sesuatu yang berbahaya dengan sesuatu yang merupakan sifat lawannya dari madzhab kedokteran dan pengobatan."
Juga berkata Ibnu Muflih rahimahullah dalam Al-Adab Asy-Syar'iyyah hal. 249 dengan menjadikan judul:

فصل في العلاج وحفظ الصحة بدفع كل شيء بضده

Bagian pembahasan dalam pengobatan (kuratif) dan penjagaan kesehatan (preventif) dengan memasangkan segala sesuatu dengan (sifat) lawannya. Dalam hal ini makanan yang bersifat panas dan dingin.

Dan menurut mereka para ulama menunjukkan kombinasi menu seperti di atas adalah menu sehat, sebagai pengobatan dan penjagaan kesehatan. Dan masih banyak menu lainnya yang disebutkan dalam hadits yang shahih yang perlu anda untuk terus ketahui dengan terus belajar dan belajar Al-Kitab dan As-Sunnah.

Sebagai penutup dari kami, jika ada yang bertanya apa madzhab kami, maka kami ucapkan sebagaimana yang diucapkan Imam Asy-Syafi'i rahimahullah:


إذا صح الحديث فهو مذهبي.
(ابن عابدين في الحاشية  1/63وفي رسالته رسم المفتي 1/4)
Jika ada hadits shahih maka dia adalah madzhabku. [Disebutkan Ibnu Abidin dalam Al-Hasyiyah 1/63, dan dalam Rasm Al-Mufti 1/4]

Wallahu A'lam Bis Shawwab


Baca Juga:



_____________________

Ditulis Oleh Ustadz Abdurrahman Dani


Apakah Rasulullah ﷺ Memiliki Menu Makanan Sehat Secara Khusus?

Untuk menjawabnya perlu rincian. Jika ada orang yang mengatakan demikian tetapi yang disebutkan di dalamnya tidak disandarkan kepada Nabi ﷺ maka dia telah berbicara dusta dengan menisbatkan kepada Nabi ﷺ dari apa yang tidak Beliau ﷺ sampaikan, sebagaimana sabda  beliau ﷺ:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [HR. Bukhari  dan Muslim]
Tetapi jika tsabit benar datangnya dari Beliau ﷺ maka jangan Anda dustakan, sebagaimana hadits-hadits berikut ini terkait sebagian menu makanan Rasulullah ﷺ:


1.) Hadits Pertama

وعن عبد الله بن جعفر - رضي الله عنهما - قال : رأيت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يأكل الرطب بالقثاء " . متفق عليه .
Dari Abdullah bin Ja'far radhiallahu anhuma berkata: “Aku telah melihat Rasulullah ﷺ makan kurma basah dengan mentimun.” [Muttafaqun 'alaih]

2.) Hadits Kedua:

حدثنا عبدة بن عبد الله الخزاعي حدثنا معاوية بن هشام عن سفيان عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يأكل البطيخ بالرطب.
Dari 'Aisyah radhiallahu anha: “Bahwa dahulu Nabi ﷺ makan semangka dengan kurma basah.” [HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany rahimahullah]

Juga disebutkan dalam riwayat Abu Daud rahimahullah:

عند أبي داود في حديث عائشة بلفظ :
 " كان يأكل البطيخ بالرطب فيقول : يكسر حر هذا ببرد هذا وبرد هذا بحر هذا "
Dahulu Nabi ﷺ makan semangka dengan kurma basah dan dia ﷺ berkata: “Panasnya ini (sifat kurma) dinetralkan dengan dinginnya ini (sifat semangka), dan (sebaliknya) dinginnya ini (sifat semangka dinetralkan) dengan panasnya ini (kurma basah).”
Pernah kami tanyakan dalam majelis khusus bersama Syaikh Prof. Dr. Adil bin Muhammad As-Subai’iy hafizhahullah (Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, KSA):
“Apakah hadits ini bisa menunjukkan bahwa menu makanan di atas adalah sunnah?Kemudian jawab beliau hafidzahullah: Jazman (dengan pasti) ini adalah sunnah, Kalau bukan sunnah berarti apalagi !!”
Kemudian kami juga mendengar dalam majelis khusus kami dengan Syaikh Prof Dr. Washiyullah Abbas (Guru Besar Al-Kitab Wa Assunnah Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Ummul Qura’, dan pengajar di Masjidil Haram Makkah Kerajaan Saudi Arabia) berkata:
“Tapi hal ini bukan berarti makan selain jenis makanan di atas berarti makruh atau haram.”
Penting untuk dipahami akan bukan wajibnya makan seperti menu di atas, dan Nabi ﷺ tidak selalu terus menerus makan menu seperti di atas saja (dari makanan yang bersifat panas-dingin), tapi kadang ini dan kadang itu alias kadang menu panas-dingin dan kadang bukan. Dan tidak boleh men-jazm (memastikan) bahwa pola makan Beliau ﷺ selalu hanya makan menu yang bersifat panas-dingin karena yang demikian membutuhkan dalil khusus.

Berkata Al-Khattabiy rahimahullah:

فيه إثبات الطب والعلاج ومقابلة الشيء الضار بالشيء المضاد له في طبعه على مذهب الطب والعلاج.
"Di dalamnya (hadits tersebut di atas) terkandung pembenaran dalam hal ilmu kedokteran dan pengobatan, melalui pemasangan sesuatu yang berbahaya dengan sesuatu yang merupakan sifat lawannya dari madzhab kedokteran dan pengobatan."
Juga berkata Ibnu Muflih rahimahullah dalam Al-Adab Asy-Syar'iyyah hal. 249 dengan menjadikan judul:

فصل في العلاج وحفظ الصحة بدفع كل شيء بضده

Bagian pembahasan dalam pengobatan (kuratif) dan penjagaan kesehatan (preventif) dengan memasangkan segala sesuatu dengan (sifat) lawannya. Dalam hal ini makanan yang bersifat panas dan dingin.

Dan menurut mereka para ulama menunjukkan kombinasi menu seperti di atas adalah menu sehat, sebagai pengobatan dan penjagaan kesehatan. Dan masih banyak menu lainnya yang disebutkan dalam hadits yang shahih yang perlu anda untuk terus ketahui dengan terus belajar dan belajar Al-Kitab dan As-Sunnah.

Sebagai penutup dari kami, jika ada yang bertanya apa madzhab kami, maka kami ucapkan sebagaimana yang diucapkan Imam Asy-Syafi'i rahimahullah:


إذا صح الحديث فهو مذهبي.
(ابن عابدين في الحاشية  1/63وفي رسالته رسم المفتي 1/4)
Jika ada hadits shahih maka dia adalah madzhabku. [Disebutkan Ibnu Abidin dalam Al-Hasyiyah 1/63, dan dalam Rasm Al-Mufti 1/4]

Wallahu A'lam Bis Shawwab


Baca Juga:



_____________________

Ditulis Oleh Ustadz Abdurrahman Dani
adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|

Artikel Pilihan

artikel pilihan/carousel

Arsip Artikel Per Bulan



Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id



Kids

Konten khusus anak & download e-book




Course