artikel pilihan

#10 | AYAH DAN IBU RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM


Para pembaca yang mulia, pada artikel sebelumnya, kita telah jelaskan leluhur Rasulullah sampai kepada kakek beliau, Abdul Mutthalib. Maka pada tulisan kali ini, kita akan coba jelaskan siapa ayah dan ibu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan apa kisah mereka berdua.


Putra-Putri Dari Abdul Muththalib

Abdul Muththalib mempunyai sepuluh orang putera, yaitu: Al-Harits, Az-Zubair, Abu Thalib, Abdullah, Hamzah, Abu Lahab, Al-Ghaidaaq, Al-Muqawwim, Shaffar, dan Abbas. Ada riwayat pula yang menyebutkan bahwa mereka berjumlah sebelas orang, yaitu ditambah dengan seorang putera lagi yang bernama Qutsam. Sebagian riwayat yang menyebutkan bahwa mereka berjumlah tiga belas orang ditambah dua orang putera lagi yang bernama Abdul Ka'bah dan Hajla. Namun ada riwayat yang menyebutkan bahwa Abdul Ka'bah ini tidak lain merupakan Al-Muqawwim, sedangkan Hajla adalah Al Ghaidaaq dan tidak ada diantara putera-puteranya tersebut yang bernama Qutsam. Jadi kesimpulannya bahwa putra beliau ada sepuluh orang sebagaimana yang disebutkan awal tadi. [1]

Kelak di antara putra Abdul Mutthalib, yaitu paman-paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini akan terbagi menjadi tiga kelompok:

Kelompok pertama, yang menerima Islam dan menjadi penolong dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti Hamzah dan Abbas.

Kelompok kedua, yang menolak Islam dan bahkan menjadi musuh dakwah, seperti Abu Lahab.

Kelompok ketiga, yang menolak untuk masuk Islam tapi tetap membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamyaitu Abu Thalib, ayah dari sahabat Ali bin Abi Thalib.[2]

Selain dianugerahi putra, Abdul Mutthalib juga dianugerahi para putri. Adapun puteri-puteri Abdul Mutthalib berjumlah enam orang, yaitu: Ummul Hakim yang dikenal pula dengan nama Al Baidha’ (si putih), Barrah, Atikah, Shafiyyah, Arwa dan Umaimah. [3]


Abdullah bin Abdul Mutthalib

Dari sepuluh putra Abdul Mutthalib, ayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abdullah. Ibu Abdullah bernama Fathimah binti Amru bin Aaiz bin 'Imran bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah. Abdullah merupakan putra Abdul Mutthalib yang paling tampan, yang paling bersih jiwanya dan paling disayangi ayahnya.

Ada kisah menarik tentang diri Abdullah. Dahulu Abdullah ini pernah ingin disembelih oleh bapaknya, Abdul Mutthalib. Bagaimana bisa?

Dulu ketika Makkah dikuasai oleh orang Jurhum, mereka melakukan kejahatan yang sangat keterlaluan. Mereka mengubur sumur zam-zam sehingga tidak diketahui lagi keberadaannya. Maka ketika Abdul Mutthalib menjadi pemimpin kota Makkah, dia mendapatkan mimpi untuk menggali kembali sumur tersebut. Akhirnya dengan petunjuk mimpi tersebut, Abdul Mutthalib pun berhasil menemukan lokasi sumur, lalu menggalinya kembali.

Abdul Mutthalib menemukan bahwa ternyata di dalam sumur Zam-zam terdapat benda-benda terpendam yang dulu dikubur oleh suku Jurhum ketika mereka akan keluar meninggalkan Makkah berupa pedang-pedang, baju besi, dan dua patung kijang yang terbuat dari emas. Pedang-pedang kemudian dia tempelkan di pintu Ka'bah, demikian juga dua patung kijang dari emas dia gantungkan di atas pintu tersebut. Abdul Mutthalib kemudian memberikan pelayanan air minum bagi para jama'ah haji.

Ketika sumur Zam-zam berhasil digali, maka orang-orang Quraisy mempermasalahkannya. Mereka ingin diikutsertakan pula dalam mengurusi air zam-zam. Maka Abdul Mutthalib menolak permintaan mereka.

Orang-orang Quraisy pun kemudian membawa permasalahan ini kepada seorang hakim. Dahulu yang menjadi hakim bagi mereka adalah para dukun. Maka mereka pun berkonsultasi kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa'd. Dan akhirnya ditampakkanlah kepada mereka bahwa memang yang berhak atas urusan zam-zam adalah Abdul Mutthalib.

Setelah peristiwa ini, Abdul Mutthalib menyadari dia membutuhkan dukugan untuk menjaga posisinya sebagai pengatur zam-zam. Dia pun menginginkan putra-putra yang banyak untuk membantunya. Abdul Mutthalib kemudian bernadzar jika nanti dia dikaruniai sepuluh orang anak dan mereka sudah mencapai usia baligh, maka dia akan menyembelih salah seorang dari mereka disisi Ka'bah.[4]

Setelah genap putranya sepuluh, Abdul Mutthalib pun ingin mengeksekusi nadzarnya tadi. Dia menulis nama-nama putranya di anak panah yang akan diundikan diantara mereka dan dipersembahkan kepada patung Hubal, kemudian undian tersebut dimulai maka setelah itu keluarlah nama Abdullah. Abdul Muththalib membimbingnya sembari membawa pedang dan mengarahkan wajahnya ke Ka'bah untuk segera disembelih, namun orang-orang Quraisy mencegahnya, terutama paman-pamannya dari kalangan dari Bani Makhzum dan saudara Abdullah yang bernama Abu Thalib.

Menghadapi sikap tersebut, Abdul Mutthalib berkata, “Lantas apa yang harus ku lakukan dengan nadzarku?"

Mereka pun kemudian menyarankannya agar dia berkonsultasi kepada dukun. Abdul Mutthalib pun kemudian berkonsultasi dengan seorang dukun wanita. Dukun tersebut memerintahkannya untuk diundi antara nama Abdullah dan sepuluh ekor unta. Jika yang keluar nama Abdullah maka dia (Abdul Muththalib) harus menambah tebusan sepuluh ekor unta lagi, begitu seterusnya sampai Allah ridha untuk memilih unta.

Abdul Muththalib pun kemudian pulang ke rumahnya dan melakukan undian seperti yang diperintahkan oleh sang dukun. Ketika diundi antara nama Abdullah dan sepuluh ekor unta, yang keluar adalah nama Abdullah. Ketika yang keluar nama Abdullah berarti Abdul Mutthalib harus menyembelih sepuluh unta. Begitu seterusnya, setiap diundi maka yang keluar adalah nama Abdullah, maka Abdul Mutthalib pun terus menambahnya dengan sepuluh ekor unta hingga unta tersebut sudah berjumlah seratus ekor berulah keluar dari undian pilihan “UNTA”. Maka sejak itulah diyat (denda) atas pembunuhan di kalangan orang Quraisy dan Bangsa Arab secara keseluruhan yang sebelumnya dihargai dengan sepuluh ekor unta berubah menjadi seratus ekor unta. Aturan diyat seratus unta inilah yang kemudian diakui dan ditetapkan dalam syariat Islam.[5]

Karena peristiwa inilah kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebut sebagai Ibnu Dzabihaini yang berarti putra dua orang yang disembelih. Maksudnya adalah Isma’il alaihissalaam dan Abdullah, ayah beliau. Akan tetapi hadits yang masyhur yang menyebutkan bahwa beliau bersabda,


أنا ابن الذبيحين
Aku adalah putra dua orang yang disembelih…”

Ini adalah hadits yang lemah yang tidak ada asalnya. [6]


Aminah Bintu Wahb

Abdul Muththalib memilihkan buat puteranya 'Abdullah seorang gadis bernama Aminah binti Wahab bin 'Abdu Manaf bin Zahrah bin Kilab. Di saat itu Aminah adalah wanita yang banyak didambakan di kalangan orang-orang Quraisy baik karena nasab dan martabatnya. Ayah Aminah adalah seorang pemuka Bani Zahrah. Abdullah pun kemudian dinikahkan dengan Aminah lalu mereka tinggal bersama di Kota Makkah.

Tatkala Aminah mengandung, Abdullah meninggalkannya untuk sebuah perjalanan dagang ke Yatsrib (Madinah). Sesampainya di Yatsrib, Abdullah jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia di usianya yang baru dua puluh lima tahun. Abdullah pun kemudian dimakamkan di Darul Naabighah Al Ja’d.

Ketika berita kematian suaminya sampai ke telinga Aminah, dia pun kemudian menyebutkan bait syair,

عفا جانب البطحاء من ابن هاشم ... وجاور لحدا خارجا في الغماغم

دعته المنايا دعوة فأجابها ... وما تركت في الناس مثل ابن هاشم

عشية راحوا يحملون سريره ... تعاوره أصحابه في التزاحم

فإن تك غالته المنايا وريبها ... فقد كان معطاء كثير التراحم

Telah wafat seorang putra Hasyim di sisi Al Bathha
Berdampingan liang lahadnya di tempat yang jauh di sana
Kematian telah memanggilnya, dan dia penuhi panggilan tersebut
Tidaklah kematian meninggalkan seorang manusia pun seperti putra Hasyim ini
Di sore hari mereka pergi memikul kerandanya
Kerabat-kerabatnya saling berdesakan untuk mengantarnya
Kalau memang akhir dari kehidupannya adalah kematian
Maka sungguh dia adalah orang yang dermawan dan penuh kasih sayang

Demikian bait syair yang dilantunkan sang istri dengan penuh kesedihan dan merasa kehilangan atas kematian suaminya yang sedang berada jauh. [7]

Abdullah meninggalkan harta bagi keluarganya berupa lima ekor unta, sekumpulan kambing, seorang budak wanita dari Habasyah bernama Ummu Ayman yang nama aslinya Barakah. [8] Ummu Ayman inilah yang nanti akan menjadi pengasuh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan setelah Rasulullah dewasa, beliau membebaskan Ummu Ayman. Ummu Ayman lalu menikah dengan Zaid bin Haritsah dan melahirkan seorang anak yang juga disayangi oleh Rasulullah, yaitu Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma.[9]
Wallahu ta’ala a’lam
(Bersambung)



Catatan Kaki:

[1] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Beirut: Darul Hilal, t.t.) hlm. 43.
[2] Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Tafsir Juz Amma, (Riyadh: Daruts Tsuraya lin Nasyr, 2002) hlm. 344 – 345.
[3] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Beirut: Darul Hilal, t.t.) hlm. 43.
[4] Ibid. 42-43.
[5] Ibid. 43-44.
[6] Lihat keterangan Asy Syaikh Masyhur Hasan Salman di situs islamway
[7] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Beirut: Darul Hilal, t.t.) hlm. 44.
[8] Ibid.
[9] Ibrahim Al Ali, Shahih Shirah An Nabawiyah, (Amman: Darun Nafaais, 2009) hlm. 49.




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN


Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian