artikel pilihan

#12 | HIDUP DI TENGAH BANI SA’AD


Para pembaca yang semoga dirahmati Allah. Pada artikel yang lalu kita telah sebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selain disusui oleh ibunya, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga disusui oleh dua ibu susuan: Tsuwaibah dan Halimah As-Sa’diyah. Ketika mengambil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai anak susuan, Halimah senantiasa merasakan adanya keberkahan di tengah keluarganya. Apa saja keberkahan tersebut? Mari kita simak penuturan Halimah!


TIDAK ADA YANG MAU MENYUSUI RASULULLAH

Halimah bertutur,

“Dahulu aku pergi keluar bersama suami dan bayiku yang masih kecil. Aku juga membawa serta beberapa wanita yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi susuan. Ketika itu kami sedang dilanda musim paceklik sedangkan kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi, lalu aku pergi dengan mengendarai seekor keledai betina berwarna putih kehijauan milikku beserta seekor unta yang sudah tua. Demi Allah! Ketika itu, tidak pernah hujan turun meski setetes pun, kami juga tidak bisa melewati malam dengan tidur yang pulas karena tangis bayi kami yang mengerang kelaparan sedangkan air susuku tak mencukupi. Begitu juga dengan air susu unta tua yang bersama kami tersebut sudah tidak berisi. Akan tetapi kami selalu berharap pertolongan dan jalan keluar. Aku pergi keluar dengan mengendarai unta betina milikku yang sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan sehingga hal ini membuat rombongan kami gelisah akibat letih dan kondisi kekeringan yang melilit. Akhirnya kami sampai juga ke Makkah untuk mencari bayi-bayi susuan akan tetapi tidak seorang wanita pun di antara kami ketika disodorkan untuk menyusui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melainkan menolaknya setelah mengetahui kondisi beliau yang yatim.Sebab, tujuan kami, para wanita penyusu bayi, hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedangkan beliau shallallahu 'alaihi wasallam bayi yang yatim, lantas apa yang dapat diberikan oleh ibu dan kakeknya buat kami? Kami semua tidak menyukainya karena faktor itu. Akhirnya, semua wanita penyusu yang bersamaku mendapatkan bayi susuan kecuali aku. Tatkala kami semua sepakat akan berangkat pulang, aku berkata kepada suamiku, “Demi Allah! Aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan. Demi Allah! Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku.”Lalu suamiku berkata, “Tidak ada salahnya bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita suatu keberkahan.” [1]


KEBERKAHAN BAYI MUHAMMAD

Beliau melanjutkan,

“Akhirnya aku pergi ke Rasulullaah shallallahu 'alaihi wasallam lalu membawanya serta. Sebenarnya, tujuanku membawanya serta hanyalah karena belum mendapatkan bayi susuan selain beliau. Setelah itu, aku pulang dengan membawanya serta dan mengendarai tungganganku. Ketika aku menyusuinya, bayi Muhammad pun meminumnya susuku sesukanya. Dia pun menyusu hingga kenyang, kemudian dilanjutkan oleh bayiku sendiri yang menjadi saudara sesusuannya hingga kenyang pula. Kemudian keduanya tertidur dengan pulas padahal sebelumnya kami tak bisa memejamkan mata untuk tidur karena tangis bayi kami tersebut. Anehnya lagi, suamiku ketika itu melihat unta tua milik kami dan ternyata susunya sudah berisi. Suamiku pun lalu memeras payudara unta itu untuk kemudian diminum susunya. Aku juga ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu bagi kami adalah malam tidur yang paling indah yang pernah kami rasakan. Pada pagi harinya, suamiku berkata kepadaku, “Demi Allah! Tahukah kamu wahai Halimah? Engkau telah mengambil bayi yang diberkahi.”Aku berkata, “Demi Allah! Aku berharap demikian.” Kemudian kami pergi dan aku menunggangi unta betinaku dan membawa serta beliau shallallahu 'alaihi wasallam di atasnya. Demi Allah! Unta betinaku tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh unta-unta mereka, sehingga teman-teman wanitaku dengan penuh keheranan berkata kepadaku, “Wahai Halimah! Bukankah unta ini yang dulu pernah bersamamu?”Aku menjawab, “Demi Allah! Inilah unta yang dulu itu!”Mereka berkata, “Demi Allah! Sesungguhnya unta ini memiliki keistimewaan.” [2]


KEBERKAHAN DI BANI SA’AD

Halimah dan suaminya kemudian kembali ke kampung mereka. Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid berkata menyebutkan bahwa Kampung Bani Sa’ad sekarang terletak di desa Asy-Syuhbah sekitar 100 km dari Thaif ke arah barat daya. 


Di kampung tersebut ada sebuah masjid bernama Masjid Halimah As-Sa’diyah. Akan tetapi penisbahan nama masjid tersebut kepada Halimah tidak lah memiliki dasar. Karena tempat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dibesarkan sendiri terletak jauh dari situ, yaitu di dekat lembah Nakhlah antara Miqat Qarnul Manazil dan Hunain. [3] 

Kemudian kami pun mendatangi tempat tinggal kami di perkampungan Qabilah Bani Sa'ad. Sepanjang pengetahuanku tidak ada bumi Allah yang lebih tandus darinya. Ketika kami datang, kambingku tampak dalam keadaan kenyang dan banyak air susunya sehingga kami dapat memerasnya dan meminumnya padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susupun walaupun dari kambing yang gemuk.

Demikianlah, kami selalu mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari Allah hingga tak terasa dua tahun pun berlalu dan tiba waktuku untuk menyapihnya (menghentikan penyusuan).”[4]


PERMINTAAN HALIMAH KEPADA IBU RASULULLAH

Halimah kemudian menuturkan,

“Bayi Muhammad, tumbuh besar tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya. Sebelum mencapai usia dua tahun dia sudah tumbuh dengan postur yang tinggi besar. Akhirnya, kami mengunjungi ibunya dan dalam hati yang paling dalam kami sangat berharap dia masih berada di tengah keluarga kami dikarenakan keberkahan yang kami rasakan sejak keberadaannya dan itu semua kami ceritakan kepada ibunya.” Aku berkata kepadanya, “Kiranya engkau rela membiarkan anak ini bersamaku lagi hingga dia besar, sebab aku khawatir dia terserang penyakit menular yang ada di Makkah.”Kami pun terus mendesaknya hingga Aminah bersedia mempercayakannya kepada kami lagi.”[4]
Demikianlah penuturan Halimah As Sa’diah tentang penyusuannya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisah ini dituturkan di banyak kitab-kitab sirah demikian juga kitab-kitab hadits. Para ulama di antaranya Al-Imam Adz Dzahabi menghukumi hadits ini dengan jayyidul isnad (sanadnya baik). Adapun penulis kitab Shahih Sirah An Nabawiyah mengatakan bahwa kisah ini derajatnya hasan dengan penguat-penguatnya.[5] 

Demikianlah, akhirnya Rasulullah pun tinggal di Bani Sa’ad sampai kelak terjadi peristiwa pembelahan dada beliau oleh Malaikat Jibril ‘alaihissalaam. Insya Allah pembahasan tentang peristiwa pembelahan ini akan kita bahas pada artikel yang akan datang.
Wallahu a’lam bisshawab.


(bersambung)

CATATAN KAKI:
[1] Ibnu Hisyam, As Sirah An Nabawiyah, tahqiq Prof. DR. Umar Abdus Salam Tadmuri (Beirut: Darul Kitab Al Arabi) jilid 1 hlm. 187-188.
[2] Ibid. hlm. 188.
[3] Zaid bin Abdul Karim Az Zaid, Fiqhus Sirah, (Riyadh: Darut Tadmuriyyah, 1424 H) hlm. 55
[4] Ibnu Hisyam, As Sirah An Nabawiyah, tahqiq Prof. DR. Umar Abdus Salam Tadmuri (Beirut: Darul Kitab Al Arabi) jilid 1 hlm. 188.
[5] Ibid.




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian