artikel pilihan

#13 | PEMBELAHAN DADA RASULULLAH ﷺ DAN WAFATNYA SANG IBU


Para pembaca yang budiman, pada artikel sebelumnya, kita telah sebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akhirnya tinggal bersama keluarga ibu susuannya Halimah As-Sa’diyah di lingkungan Qabilah Bani Sa’ad. Pada saat beliau tinggal di sana dan berusia empat atau lima tahun, terjadi peristiwa yang luar biasa pada diri beliau, yaitu peristiwa pembelahan dada dan pencucian qalbu beliau ‘alaihisshalatu wassalam.

Ada beberapa hadits yang berbicara tentang peristiwa ini. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ . قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi Malaikat Jibril ‘alaihis sallam ketika beliau sedang bermain dengan beberapa anak. Lalu Jibril menangkapnya, menelentangkannya, lalu Jibril membelah dada beliau, mengeluarkan jantungnya, lalu mengeluarkan dari qalbu beliau segumpal darah sambil mengatakan “Ini adalah bagian syaithan darimu”.
Jibril kemudian mencucinya dalam wadah yang terbuat dari emas dengan air zam-zam, lalu ditumpuk, kemudian dikembalikan ke tempatnya.
Sementara anak-anak kecil, teman-teman Rasulullah segera menjumpai ibu persusuannya sambil berlari-lari sembari mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh”.
Kemudian mereka bersama-bersama menjumpainya. Ketika itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangatlah pucat.
Anas kemudian mengatakan, “Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan di dadanya.”[1]
Dalam riwayat yang lain disebutkan,
فَبَيْنَمَا أَنَا مَعَ أَخٍ لِي خَلْفَ بُيُوْتِنَا نَرْعَى بِهِمَا لَنَا إِذْ أتَانِي رَجُلاَنِ – عَلَيْهِمَا ثِيَابٌ بِيْضٌ- بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوْءٍ ثَلْجًا ثُمَّ أَخَذَانِي فَشَقَّا بَطْنِي ثُمَّ اسْتَخْرَجَا قَلْبِي فَشَقَّاهُ فَاستخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَةً سَوْدَاءَ فَطَرَحَاهُ ثُمَّ غَسَلاَ قَلْبِي وبَطْنِي بِذَلِكَ الثَّلْجِ حَتَّى أَنْقَيَاه ُ
“Ketika aku sedang berada di belakang rumah bersama saudaraku (saudara angkat) menggembalakan anak kambing, tiba-tiba aku didatangi dua orang lelaki—mereka mengenakan baju putih—dengan membawa baskom yang terbuat dari emas penuh dengan es. Kedua orang itu menangkapku, lalu membedah perutku. Keduanya mengeluarkan qalbuku dan membedahnya, lalu mereka mengeluarkan gumpalan hitam darinya dan membuangnya. Kemudian keduanya membersihkan dan menyucikan qalbuku dengan air itu sampai bersih.” [2]


BUKAN METAFORIS

Pembelahan dada dan pencucian qalbu pada diri nabi ini adalah benar-benar terjadi. Peristiwa ini diriwayatkan dengan periwayatan yang shahih. Jika riwayat tersebut terbukti kuat dan sahih, kita tak punya pilihan selain menerimanya sepenuh hati. Tidak boleh menolaknya walau mungkin tidak bisa dicerna oleh akal kita.

Demikian juga hendaknya hendaknya kita pahami peristiwa ini apa adanya sebagaimana yang bisa kita pahami dari kaidah-kaidah bahasa Arab. Tidak boleh kemudian menganggap peristiwa ini sebagai kejadian metafor (kiasan) saja. Apalagi nanti kejadian pencucian ini akan berulang sebelum beliau melakukan isra’ dan mi’raj.


KEMBALI KEPADA IBUNYA

Setelah peristiwa tersebut, Halimah merasa cemas atas diri beliau sehingga dikembalikan lagi kepada ibundanya. Beliau hidup bersama ibundanya sampai berusia enam tahun.

Ketika itu Aminah memandang perlu untuk menziarahi kuburan suaminya di Yatsrib sebagai bentuk kesetiaannya terhadapnya. Akhirnya, dia keluar dari Mekkah dengan menempuh perjalanan yang mencapai 500 km bersama anaknya yang masih yatim, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, pembantunya, Ummu Aiman dan mertuanya, 'Abdul Muththalib. Setelah menginap selama sebulan disana, dia kembali pulang ke Mekkah akan tetapi di tengah perjalanan dia diserang sakit keras sehingga akhirnya meninggal dunia di Al Abwa' , suatu tempat yang terletak antara Mekkah dan Madinah. [3]


DALAM PERAWATAN SANG KAKEK

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dibawa kembali ke Mekkah oleh kakeknya. Perasaan sayang terhadap sang cucu yang sudah yatim piatu semakin bertambah di dadanya, dan hal ini ditambah lagi dengan adanya musibah baru yang seakan menimpali luka lama yang belum sembuh betul. Maka ibalah ia terhadapnya; sebuah perasaan yang tak pernah ia tumpahkan terhadap seorangpun dari anak-anaknya. Dia tidak lagi membiarkan cucunya tersebut hanyut dengan kesendirian yang harus dialaminya bahkan dia lebih mengedepankan kepentingannya daripada kepentingan anak-anaknya.

Menurut Ibnu Hisyam, dahulu Abdul Muththalib biasa menghamparkan permadaninya di bawah naungan Ka'bah, lalu anak-anaknya duduk di sekitar permadani tersebut hingga dia keluar. Tak seorangpun dari anak-anaknya tersebut yang berani duduk-duduk di atas permadani itu untuk menghormati kedudukannya. Namun tidak demikian halnya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tatkala beliau masih anak-anak, dia datang dan langsung duduk-duduk di atas permadani tersebut, paman-pamannya sertamerta mencegahnya agar tidak mendekati tempat itu.

Melihat apa yang dilakukan oleh anak-anaknya itu, Abdul Mutthalib berkata kepada mereka, “Biarkan anakku ini melakukan apa saja! Demi Allah! Sesungguhnya dia memiliki sebuah keistimewaan!”

Kemudian dia duduk-duduk bersama beliau di permadani itu, mengelus-elus punggungnya dengan tangan kasihnya. Dia merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh cucunya tersebut.

Kakek beliau shallallahu 'alaihi wasallam meninggal di Makkah saat beliau berusia delapan tahun dua bulan sepuluh hari. Sebelum meninggal, dia memandang bahwa selayaknya dia menyerahkan tanggung jawab terhadap cucunya tersebut kepada paman beliau shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Thalib yang merupakan saudara kandung ayah beliau, Abdullah. [4]


HIKMAH DI BALIK KESENDIRIAN RASULULLAH

Bukanlah kebetulan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terlahir dalam keadaan yatim. Bahkan, tidak lama kemudian sang kakek menyusul ke alam baka. Oleh karena itu, pada masa pertumbuhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mengenyam pendidikan sang ayah, tidak pula kasih sayang ibunya.

Allah subhanahu wata’ala sengaja memilihkan masa pertumbuhan seperti ini untuk nabi kesayangannya. Di balik itu semua, tentu tersimpan hikmah luar biasa. Bisa jadi agar tak ada seorang pun yang menemukan celah untuk menghembuskan keraguan ke dalam hati umat manusia bahwa Muhammad menimba ilmu dakwah yang ia sebarkan dari ayah atau kakeknya. 

Keraguan semacam itu sangat mungkin dihembuskan, terutama karena kakek Muhammad, Abdul Muthallib, adalah pemuka kaumnya. Sesuatu yang wajar jika seorang kakek atau ayah mewariskan apa saja yang biasa diwariskan secara turun-temurun kepada anak-cucunya. Allah Yang Mahabijaksana rupanya telah menakdirkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti ini. Dengan demikian, tertutuplah celah bagi orang-orang sesat yang akan meragukan kenabiannya.

Semasa kecil, Nabi Muhammad tumbuh tanpa mengenyam pengasuhan ayah, ibu, dan kakeknya. Bahkan, pada masa-masa awal setelah dilahirkan, Allah berkehendak untuk menempatkan Muhammad di tengah desa Bani Sa’ad yang jauh dari sanak keluarga.

Ketika sang kakek meninggal dunia, pengasuhan Muhammad berpindah ke tangan pamannya, Abu Thalib, yang hidup sampai sekitar tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Keengganan Abu Thalib untuk memeluk Islam hingga meninggal ternyata juga menjadi penyempurna bukti kebenaran risalah Muhammad. Dengan begitu, tak seorang pun dapat menuduh Abu Thaliblah yang mengajarkan kandungan agama Islam kepada Muhammad atau menuduh bahwa sebenarnya agama yang dibawa Muhammad tidak lebih dari sekadar masalah dominasi kekuasaan di kalangan suku Quraisy.

Demikian juga Rasulullah tumbuh sebagai yatim di bawah pertolongan langsung dari Allah ta’ala. Tidak ada yang memanjakannya. Tak banyak pula harta yang membuatnya hidup nyaman. Semua itu bagian dari rencana Allah agar Muhammad tidak tumbuh menjadi sosok yang mencintai harta atau kedudukan. Allah takdirkan agar beliau tidak menjadi pribadi yang menari kedudukan dan kehormatan sehingga orang lain dengan mudah menuduh kenabian suci yang diembannya adalah upaya untuk mencari kedudukan yang sifatnya duniawi. [5]


Wallahu a’lam.



CATATAN KAKI:
[1] Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri, As Sirah An Nabawiyah baina Al Ma’rifah wal Wajib fi Dhau’I Al Quran wa As Sunnah, (Qasim: Dar Ashda’il Mujtama’, 2017), hlm. 44.
[2] Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih As Sirah An-Nabawiyah, (Amman: Maktab Al Islamiyyah, 1420 H), hlm. 16.
[3] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Beirut: Darul Hilal, t.t.) hlm. 48.
[4] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Beirut: Darul Hilal, t.t.) hlm. 44.
[5] Muhammad Said Ramadhan Al Buthi, Fiqhus Sirah An Nabawiyah, (Beirut: Darul Fikr, 1999), hlm. 75-76.


-----

|| Seri Artikel Sirah Nabawiyah oleh Ustadz Wira Mandiri Bachrun Al Bankawy حَفِظَهُ اللهُ ||




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy


Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian