artikel pilihan

#17 | RASULULLAH ﷺ IKUT MEMBANGUN KEMBALI KA’BAH


Ka’bah yang terletak di kota Makkah adalah rumah ibadah yang pertama kali dibangun di muka bumi. Di dalam Al Quran Allah berfirman,
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبارَكاً وَهُدىً لِلْعالَمِينَ * فِيهِ آياتٌ بَيِّناتٌ مَقامُ إِبْراهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كانَ آمِناً وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali Imran: 96-97)
Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ
“Wahai, Rasulullah. Masjid apakah yang dibangun pertama kali?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Masjidil Haram”. Lalu Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Masjidil Aqsha”. Aku bertanya lagi, “Berapa rentang waktu antara keduanya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Empat puluh”. (HR. Al Bukhari) [1]


SEBAB RUSAKNYA KA’BAH

Pada saat beliau Shallallahu 'alaihi wasallam berusia tiga puluh lima tahun, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah karena kondisinya sebelum itu hanyalah berupa tumpukan-tumpukan batu-batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta di masa Ismail 'alaihissalam dan tidak memiliki atap. Karenanya, harta yang disimpan di dalamnya dengan mudah diambil oleh para pencuri.

Selain itu, karena merupakan peninggalan sejarah, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunannya dan merontokkan sendi-sendinya. Lima tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasulullah, Makkah dilanda banjir besar dan airnya meluap mencapai pelataran Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan Ka’bah hampir roboh. [2]


TIDAK MENERIMA DONASI KECUALI HARTA YANG BAIK

Orang-orang Quraisy akhirnya ingin merekonstruksi, membangun ulang Ka’bah untuk menjaga keberadaannya. Quraisy bersepakat untuk tidak membangunnya dari sembarang harta, melainkan hanya diambil dari sumber yang baik; mereka tidak mau memakai dana dari mahar hasil pelacuran, transaksi ribawi dan hasil menzhalimi orang lain.[3]

Ketika itu di Laut Merah di dekat pelabuhan Jeddah ada kapal Romawi yang karam. Di dalam kapal karam tersebut ada seorang tukang dari Romawi. Orang-orang Makkah kemudian mengambil kayu dari kapal tersebut dan mempekerjakan orang Romawi tadi untuk membantu mereka untuk membangun ulang Ka’bah. [4]


TIDAK BERANI MEROBOHKAN KA’BAH

Mereka merasa segan untuk merobohkan bangunannya, sampai akhirnya dimulai oleh Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi baru kemudian diikuti oleh yang lainnya setelah mereka melihat tidak terjadi apa-apa terhadapnya. Mereka terus melakukan perobohan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Ibrahim 'alaihissalam.

Setelah itu mereka pun mulai membangun kembali Ka’bah. Awalnya mereka membagi bagian bangunan Ka’bah yang akan dikerjakan menjadi beberapa bagian. Masing-masing kabilah mendapat satu bagian dan mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing lalu dimulailah perenovasiannya. Sedangkan yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum. [5]


KEIKUTSERTAAN RASULULLAH

Saat renovasi Ka’bah ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut andil bersama paman-pamannya. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah menceritakan,
لَمَّا بُنِيَتْ الْكَعْبَةُ ذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبَّاسٌ يَنْقُلَانِ الْحِجَارَةَ فَقَالَ عَبَّاسٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ يَقِيكَ مِنْ الْحِجَارَةِ فَخَرَّ إِلَى الْأَرْضِ وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ إِزَارِي إِزَارِي فَشَدَّ عَلَيْهِ إِزَارَهُ
Ketika Ka’bah dibangun ulang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abbas ikut serta memindahkan batu. Maka Abbas mengatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Letakkanlah sarungmu di atas pundakmu, agar batu tidak menggores tubuhmu.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melakukannya, tiba-tiba Beliau tersungkur jatuh, mata Beliau pun kemudian memandang ke langit. Saat tersadar, beliau berkata, “Ini karena sarungku, ini karena sarungku!” Maka beliau pun mengencangkan sarungnya. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Ini merupakan penjagaan Allah terhadap diri beliau, yaitu agar aurat beliau tetap tertutup.[6]


PELETAKAN HAJAR ASWAD

Tatkala pengerjaan tersebut sampai ke Hajar Aswad, mereka bertikai tentang siapa yang paling berhak untuk meletakkannya ke tempat semula dan pertikaian tersebut berlangsung selama empat atau lima malam bahkan semakin meruncing sehingga hampir terjadi peperangan yang dahsyat di tanah Haram.

Ketika itu Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi mencoba untuk menengahi dan menawarkan solusi bagi pertikaian mereka lewat perundingan damai. Abu Umayyah mengusulkan bahwa siapa di antara mereka yang paling dahulu memasuki pintu masjid, maka dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Mereka pun ridha dengan usulan tersebut.
Dan atas kehendak Allah ta'ala, Rasulullah lah yang menjadi orang pertama yang memasukinya. Tatkala mereka melihatnya, dia disambut dengan teriakan: "Inilah Al-Amiin, sosok yang amanah! Kami ridha kepadanya! Inilah Muhammad!".

Dan ketika beliau mendekati mereka dan diberitahu tentang hal tersebut, beliau meminta sehelai selendang dan meletakkan Hajar Aswad di tengahnya. Para pemimpin kabilah yang bertikai lalu diminta agar masing-masing memegang ujung selendang dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya. Sampai ketika mendekati tempatnya, barulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan solusi yang tepat dan jitu yang diridhai oleh semua pihak. [7]


PEMBANGUNAN YANG TAK SEMPURNA

Orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga mereka harus membuang sebanyak enam hasta dari bagian utara, yaitu yang dinamakan dengan Al Hijr dan Al Hathim. Mereka juga meninggikan pintu Ka’bah dari permukaan bumi agar tidak mudah dimasuki kecuali memang benar-benar ingin. Tatkala pembangunan sudah mencapai lima belas hasta, mereka memasang atap yang disangga dengan enam tiang.

Akhirnya Ka’bah yang baru diselesaikan tersebut berubah menjadi hampir berbentuk kubus dengan ketinggian lima belas meter dan panjang sisi yang berada di bagian Hajar Aswad dan bagian yang searah dengannya adalah sepuluh meter. Hajar Aswad sendiri dipasang di atas ketinggian 1,50 m dari permukaan pelataran thawaf. Adapun panjang sisi yang berada di bagian pintu dan bagian yang searah dengannya adalah duabelas meter, sedangkan tinggi pintunya berada dua meter di atas permukaan bumi. Dari sebelah luarnya, Ka’bah dikelilingi oleh tumpukan batu pondasi, tepatnya di bagian bawahnya. Tinggi pondasi ini adalah seperempat meter dengan ketebalan 30 cm. Pondasi ini disebut sebagai Asy Syaadzarwan. Bagian ini merupakan bagian asli Ka’bah yang tidak dibuang oleh Quraisy.[8]


KEINGINAN RASULULLAH UNTUK MENGUBAH KA’BAH

Kelak ketika kaum muslimin berhasil menguasai kota Makkah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengemukakan keinginan beliau untuk mengembalikan Ka’bah ke bentuk aslinya. Beliau mengatakan kepada istri beliau ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺣِﺪْﺛَﺎﻥُ ﻗَﻮْﻣِﻚِ ﺑِﺎﻟْﻜُﻔْﺮِ ﻟَﻨَﻘَﻀْﺖُ ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﺔَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﺖُ ﻟَﻬَﺎ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺷَﺮْﻗِﻴًّﺎ ﻭَﺑَﺎﺑًﺎ ﻏَﺮْﺑِﻴًّﺎ ﻭَﺃَﺩْﺧَﻠْﺖُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﺤِﺠْﺮَ
“Kalau seandainya kaummu tidak baru lepas dari kekufuran, maka sungguh aku telah merubah Ka’bah, dan aku akan membuat pintu timur dan barat, dan aku akan memasukkan al Hijr ke dalam Ka’bah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Tapi niat ini beliau urungkan karena khawatir muncul fitnah dan kekisruhan di tengah kaum muslimin Makkah yang baru saja masuk Islam.

Wallahu a’lam bisshawab.



CATATAN KAKI:
[1]Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap surat Ali Imran ayat 96-97.
[2] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 78.
[3] Ibid.
[4] Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Bari, (Beirut: Darul Ma’rifah, 1379 H), Jil. 3 hlm. 441.
[5] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 78.
[6] Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Bari, (Beirut: Darul Ma’rifah, 1379 H), Jil. 3 hlm. 441-442.
[7] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 78.
[8] Ibid. hlm. 79



-----

|| Seri Artikel Sirah Nabawiyah oleh Ustadz Wira Mandiri Bachrun Al Bankawy حَفِظَهُ اللهُ ||




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian