artikel pilihan

#33 | PENINDASAN TERHADAP KAUM MUSLIMIN



Pelecehan yang dilakukan oleh kaum musyrikin tidak hanya menimpa diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja, akan tetapi perlakuan buruk juga mereka lakukan kepada para pengikut beliau. Secara terorganisir, kaum musyrikin mulai menginterogasi dan mendata siapa saja yang sudah menjadi pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, untuk kemudian mengambil tindakan yang sesuai dengan kedudukan orang tersebut. Semakin rendah kedudukannya, maka semakin keras tindakan yang akan mereka ambil. Asy Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri dalam kitab beliau Ar Rahiqul Makhtum [1] telah merangkum bagaimana penyiksaan mereka kepada kaum muslimin:



Abu Jahl, jika dia mendengar ada seseorang yang berasal dari keluarga terpandang masuk Islam maka dia akan mencaci, menghina serta mengancam orang tersebut. Apabila orang tersebut bukan dari keluarga terpandang, maka langsung dia berikan pukulan dan siksaan. 


Sahabat yang mulia, Utsman bin Affan mengalami siksaan oleh paman-paman beliau. Beliau digulung oleh pamannya ke dalam tikar yang terbuat dari daun-daun kurma, kemudian diasapi dari bawahnya.

Mush'ab bin Umair, salah seorang pemuda dari keluarga terpandang. Ketika sang ibu mengetahui tentang keislamannya, maka Mush’ab pun diusir dan dibiarkan kelaparan. 

Shuhaib bin Sinan Ar Rumi disiksa hingga sempat hilang ingatan dan tidak memahami apa yang dibicarakannya sendiri.

 Bilal, budak yang berada di bawah kekuasaan Umayyah bin Khalaf Al Jumahi mengalami perlakuan yang sangat kejam dari majikannya. Leher Bilal diikat dengan tali lantas tali tersebut diserahkan kepada anak-anak kecil untuk diseret dan dibawa keliling sepanjang pegunungan Makkah. Akibatnya, bekas tali tersebut masih nampak di tubuhnya. Umayyah, sering mengikatnya kemudian memukul Bilal dengan tongkatnya. 

Terkadang Bilal dipaksa duduk di bawah teriknya sengatan matahari. Bahkan di suatu hari yang sangat panas, Bilal dipaksa berbaring telentang di tengah lapangan Bathha’ di Makkah. Setelah itu, Bilal pun ditindih dengan batu besar dan ditaruh ke atas dadanya. 

Ketika itu, Umayyah berkata kepadanya, "Tidak, demi Allah! engkau akan tetap mengalami seperti ini sampai engkau mati kecuali engkau ingkari ajaran Muhammad dan kembali menyembah Al Laata dan Al Uzza!”

Bilal tidak mempedulikan ucapan Umayyah. Lisannya selalu mengatakan, “Ahad... Ahad... Allah Yang Esa... Allah Yang Esa.... “

Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat Bilal mengatakan, "Demi Allah, seandainya saya mengetahui ada kalimat yang lebih membuat kalian marah, tentulah aku akan mengatakannya." [2]

Penderitaan Bilal baru berhenti ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melihat penyiksaan yang sangat keji tersebut. Abu Bakr kemudian membeli dan memerdekakan Bilal radhiyallahu ‘anhu.

Ammar bin Yasir sekeluarga adalah bekas budak Bani Makhzum. Ammar berserta ayahnya dan ibunya yang masuk Islam tak luput dari penganiayaan. Mereka diseret keluar menuju suatu tempat di tengah kota Makkah.  Maka kaum musyrikin yang dipimpin oleh Abu Jahl mulai melakukan siksaan demi siksaan kepada Ammar dan keluarga beliau. 

Ketika mereka sedang menjalani siksaan, Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam melintas di hadapan mereka sembari bersabda, 


صبراً يا آل ياسر فإن موعدكم الجنة
"Bersabarlah wahai Ali Yasir (keluarga besar Yasir)! Sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga". 
Ayah Ammar yang bernama Yasir meninggal dunia dalam siksaan tersebut sedangkan ibunya, Sumayyah ditusuk oleh Abu Jahal dari arah qubulnya dengan tombak dan meninggal dunia seketika. Dialah wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. 

Setelah itu, kaum Musyrikin tersebut menambah siksaan mereka terhadap Ammar. Kadang mereka membiarkan Ammar terbakar panasnya matahari, kadang ditambah dengan meletakkan batu besar yang memerah di atas dadanya. Dan kadang dengan menenggelamkan kepala Ammar ke dalam air. 

Mereka memerintahkan Ammar untuk mengucapkan kata-kata kufur. Ammar disuruh menyanjung berhala-berhala Quraisy dan mencaci Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena tidak tahan dengan siksaan yang datangnya bertubi-tubi akhirnya Ammar pun mengucapkan sebagaimana yang diminta oleh Quraisy.

Setelah beliau lepas dari siksaan, beliau pun mendatangi Rasulullah dan menyatakan penyesalannya. Maka turunlah firman Allah, 


مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمانِ
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)…". (An Nahl: 106).

● Abu Fakihah yang namanya Aflah, seorang mantan budaknya Bani 'Abdi ad-Daar, beliau dijerembabkan oleh kaum Musyrikin ke tanah yang melepuh oleh terik matahari, kemudian diletakkan di atas punggungnya sebuah batu besar hingga dia tak dapat bergerak lagi. Abu Fakihah pun dibiarkan seperti itu demikian hingga hilang ingatan. Suatu saat, mereka mengikat kakinya dengan tali, lalu menyeretnya dan melemparkannya ke tanah yang begitu panas oleh terik matahari seperti yang dilakukan terhadapnya sebelumnya, kemudian mencekiknya hingga mereka mengira dia telah mati. Saat itu, Abu Bakar melewatinya lalu membeli dan memerdekakannya karena Allah Ta'ala.

● Khabbab bin Aratt, mantan budaknya Ummi Anmar binti Siba' Al Khuza'iyyah. Beliau disiksa oleh kaum Musyrikin dengan aneka siksaan; rambutnya mereka jambak dengan keras sekali, lehernya mereka Tarik dengan kasar lalu melemparkannya ke dalam api yang membara kemudian – dalam kondisi demikian- jasadnya mereka tarik sehingga api itu terpadamkan oleh lemak yang meleleh dari punggungnya.

● Dari kalangan budak-budak muslimah, tersebutlah nama Zunairah, Nahdiyyah dan Ummu 'Ubais. Ketika mereka masuk Islam, kaum Musyrikin pun melakukan penyiksaan terhadap mereka sama seperti yang telah dilakukan terhadap para sahabat lainnya. Tak peduli bahwa mereka adalah kaum wanita.

● Seorang budak wanita milik Bani Mu’ammal dipukul oleh Umar bin Khaththab yang ketika itu masih musyrik. Umar baru berhenti memukulnya ketika dirinya merasa kebosanan. Semua budak-budak wanita tersebut dibeli oleh Abu Bakar kemudian dimerdekakannya sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap Bilal dan Amir bin Fuhairah.

Allah menurunkan ayat tentang upaya Abu Bakr membebaskan budak-budak ini..


وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى (17) الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَى (21
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatn nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhan Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan. (Al Lail: 17-21)

Wallahu a’lam bisshawab.



Catatan Kaki:
[1] Uraian ini beliau paparkan dalam karya beliau Ar Rahiqul Makhtum, halaman 102 sampai dengan 105 (terbitan Dar Ibnul Jauzi)
[2] Lihat juga Tafsir Ibnu Katsir, An-Nahl, ayat 106-109


-----------


Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy

-----------

Artikel Sebelumnya:

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian