artikel pilihan

#36 | HIJRAH KE HABASYAH



Penindasan yang semakin bertubi-tubi kepada kaum muslimin, membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada sahabat untuk berhijrah menyelamatkan diri dan agama mereka.
 Dalam kondisi yang seperti inilah, turun surat Az-Zumar yang mengisyaratkan perlunya berhijrah dan mengumumkan bahwa bumi Allah tidaklah sempit. Allah berfirman,
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas". (Az Zumar: 10). [1]
Ketika itu Rasulullah mendengar khabar bahwa Ash-hamah, raja Habasyah yang juga dikenal dengan gelar An-Najasyi adalah seorang yang adil. Meskipun dia beragama Nashrani, akan tidak ada seorang pun yang akan dizhalimi di hadapan An-Najasyi. Oleh karena itulah, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin agar berhijrah ke sana guna menyelamatkan agama mereka dari fitnah. Para sahabat pun diperintahkan untuk berhijrah ke bumi Habasyah, Afrika.


TENTANG AN NAJASYI

Sebenarnya An-Najasyi (النجاشي) adalah gelar yang diberikan oleh penduduk Habasyah kepada raja-raja mereka. Hal ini sebagaimana gelar Kisra yang diberikan kepada raja-raja Persia, dan Kaisar sebagai gelar bagi raja-raja Romawi. Nama asli An-Najasyi di masa Rasulullah adalah As-hamah bin Abjar (أصحمة بن أبجار).
Ayah Ash-hamah adalah raja negeri Habasyah, dan dia tidak memiliki anak melainkan beliau. Kondisi ini dipandang kurang baik untuk masa depan negeri itu. Para pembesar Habasyah pun mengatakan,
“Raja kita ini hanya memiliki seorang putra. Dia hanya menyusahkan. Dia akan mewarisi takhta bila raja wafat dan mengantar kita ke arah kebinasaan. Lebih baik, kita bunuh saja dia dan kita angkat saudaranya menjadi raja baru. Saudara laki-lakinya ini memiliki dua belas putra yang nanti akan memperkuat kekuasaannya dan menjadi pewarisnya bila meninggal.”
Syaithan pun terus menerus memberikan was-was kepada mereka sampai para pembesar ini membunuh ayah Ash-hamah lalu mengangkat paman Ash-hamah untuk menjadi raja yang baru.
Kini, Ash-hamah diasuh oleh pamannya. Dia tumbuh menjadi pemuda yang sangat cerdas, penuh semangat, ucapannya jelas, dan berkepribadian luhur. Pamannya bangga kepada Ash-hamah, dia pun mencintai Ash-hamah bahkan melebih kecintaannya kepada putra-putranya sendiri.
Namun, syaithan kembali membisiki para pembesar Habasyah. Mereka kembali bermusyawarah. Di antara mereka berkata,
“Jangan sampai pemuda ini menjadi raja. Kita khawatir bila kerajaan ini jatuh ke tangan pemuda itu, pastilah dia akan membalas dendam atas kematian ayahandanya dahulu.”
Akhirnya, mereka menghadap raja dan berkata,
“Wahai baginda, kami tidak bisa merasa aman dan tenteram bila Tuan belum membunuh Ash-hamah atau menyingkirkannya dari sini. Dia telah beranjak dewasa dan kami khawatir dia akan balas dendam.”
Mendengar permintaan tersebut, Raja sangat murka dan berkata, “Kalian adalah kaum yang terburuk! Dulu kalian membunuh ayahnya dan sekarang kalian memintaku untuk membunuhnya pula. Demi Allah, aku tak akan melakukannya!”
Mereka berkata, “Kalau begitu kami akan mengasingkannya dari negeri ini.”
Karena ketidakberdayaannya, Raja pun membiarkan perbuatan mereka, meskipun dia sendiri tidak menyukai hal tersebut.
Ash-hamah kemudian diusir dari negerinya, Habasyah.
Tak lama setelah diusirnya As-hamah, tiba-tiba terjadi peristiwa yang tak terduga. Terjadilah badai yang disertai hujan lebat dan petir. Melesatlah petir tersebut dan mengenai Sang Raja yang sedang bersedih akibat kepergian keponakannya sehingga menyebabkan kematian sang raja.
Rakyat Habasyah berunding untuk memilih raja baru. Mereka mengharapkan salah satu dari dua belas putra Raja, namun ternyata mereka tidak menemukan sedikit pun kebaikan pada putra-putra raja tersebut.
Setelah ditinggal mati oleh rajanya, mereka pun bersedih karena tidak ada yang cocok untuk menjadi penguasa baru. Semakin gelisah pula mereka ketika mendengar khabar bahwa negeri-negeri di sekitar Habasyah sudah mempersiapkan pasukan untuk menguasai Habasyah yang sedang kosong dari kepemimpinan.
Di tengah situasi genting ini salah seorang di antara pembesar itu pun ada yang berani bersuara,
“Demi Allah, tak ada yang patut menjadi pemimpin kalian kecuali pemuda yang kalian usir itu. Jika kalian memang peduli dengan negeri Habasyah, carilah dia dan pulangkanlah dia!”
Mereka pun bergegas mencari Ash-hamah dan membawanya pulang ke negerinya. Lalu, mereka meletakkan mahkota di atas kepalanya dan membai’atnya sebagai raja. Mereka pun kemudian menggelarinya dengan gelar “An-Najasyi”.
Ash-hamah pun kemudian memimpin Habasyah dengan baik dan penuh keadilan. Kini, Habasyah diliputi kebaikan dan keadilan setelah sebelumnya negeri Habasyah dipenuhi dengan berbagai kezhaliman dan kejahatan.[2]


BERANGKAT KE HABASYAH

Setelah Rasulullah memerintahkan untuk berhijrah ke Habasyah maka berangkatlah sebagian sahabat ke sana. Rombongan pertama yang membawa para shahabat bergerak pada bulan Rajab tahun kelima dari kenabian. Rombongan ini terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita. Mereka ketika itu dipimpin oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang ditemani oleh istri beliau Ruqayyah, putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah mengatakan tentang pasangan Utsman dan Ruqayyah putri beliau,
إنهما أول بيت هاجر في سبيل الله بعد إبراهيم ولوط عليهما السلام
"Mereka berdua ini adalah keluarga pertama yang berhijrah di jalan Allah setelah Nabi Ibrahim dan Luth 'alaihimassalaam"[3]
Selain itu yang turut berhijrah adalah Abdurrahman bin Auf, Abu Hudzaifah, Utbah bin Rabi’ah bersama istri beliau Shalah bin Suhail bin Amr, Az Zubair bin Al Awwam, Mush’ab bin Umair, Abu Salamah bin Abdul Asad dan istrinya Ummu Salamah binti Abi Umayyah bin Al Mughirah, Utsman bin Mazh’un, Amir bin Rabi’ah dan istri beliau Laila binti Abi Hatsmah semoga Allah meridhai mereka semua.[4]
Kepergian mereka dilakukan dengan mengendap-endap pada malam yang gelap-gulita – agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy- menuju laut kemudian mengarah ke pelabuhan Asy Syu’aibah. Asy Syu’aibah adalah nama sebuah pelabuhan yang terletak kurang lebih 68 km di selatan kota Jeddah sekarang.[5]
Ketika itu ada dua buah kapal dagang yang akan berlayar menuju Habasyah dan mereka pun ikut serta bersamanya. Orang-orang Quraisy akhirnya mengetahui hal itu, lalu menelusuri jejak perjalanan kaum muslimin akan tetapi tatkala mereka baru sampai di tepi pantai, kaum muslimin telah bergerak dengan aman. Akhirnya, kaum muslimin menetap di Habasyah dan mendapatkan sebaik-baik pelayanan. [6]

Catatan Kaki:
[1]Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 112.
[2] Abdurrahman Rafat Basya, Shuwar min Hayatit Tabi’in, (Kairo, Islamic Literatur House, 2006), hlm. 421-424
[3] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 112.
[4] Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid, Fiqhus Sirah, (Riyadh: Darut Tadmuriyyah, 1424 H), hlm. 190.
[5] Ibid., hlm., 191
[6] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 113.




Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy


--------------

Artikel Sebelumnya:

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian