artikel pilihan

#38 | HIJRAH KEDUA KE NEGERI HABASYAH (BAG. 1)



Para pembaca yang budiman, setelah terjadinya peristiwa Gharaaniq sebagaimana yang telah kita paparkan pada artikel terakhir, kaum musyrikin Quraisy kemudian meningkatkan penindasan dan penyiksaan kepada kaum muslimin. Maka kaum muslimin yang telah sampai dari Habasyah, diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk kembali berhijrah ke Habasyah. Perjalanan kembali ke Habasyah ini lebih sulit dari pada perjalanan pertama karena tentunya Quraisy sekarang sudah lebih antisipatif untuk menghalang-halangi perjalanan mereka. Hijrah ini disebut sebagai hijrah Habasyah kedua.[1]

PARA SAHABAT YANG MENGIKUTI HIJRAH KEDUA
Jumlah para sahabat yang mengikuti hijrah kedua ini sekitar delapan puluh tiga orang laki-laki apabila Ammar bin Yasir termasuk ke dalamnya. Adapun kaum wanita, jumlah mereka sekitar delapan belas atau sembilan belas orang.[2]

KISAH PARA SAHABAT DI HABASYAH
Apa yang terjadi dengan para sahabat ketika mereka berada di Habasyah?
Di dalam sebuah riwayat yang cukup panjang yang dibawakan oleh Al Imam Ahmad di dalam Musnadnya dengan sanad yang shahih dari Ummu Salamah binti Abi Umayyah bin Al Mughirah radhiyallahu ‘anha, beliau berkisah...
“Setiba kami di Habasyah, An Najasyi menyambut kami dengan sangat baik. Kami merasa aman dengan agama kami, dan bisa beribadah hanya kepada Allah tanpa siksaan dan tidak mendengar kata-kata yang menghina kami. Hal ini lalu didengar orang-orang Quraisy, kemudian mereka mengirim dua orang yang kokoh agamanya untuk menemui An Najasyi guna membicarakan tujuan mereka, dan merayunya dengan hadiah-hadiah untuk An Najasyi yang berasal dari bingkisan-bingkisan yang berasal dari Makkah.
Ketika itu mereka membawa kulit yang banyak sekali. Ini sampai membuat takjub. Tidak ada satu patriark-pun[3] yang tidak mereka mendapat hadiah dari mereka berdua.[4]

QURAISY MENYOGOK PARA PATRIARK
Barang-barang tersebut dibawa Abdullah bin Abi Rabi’ah Al Makhzhumi dan Amr bin Al Ash bim Wail As Sahmi, dan mereka berdua diperintahkan untuk tidak gagal dengan misi mereka.
Sebelum mereka berangkat ke Habasyah, memang kaum musyrikin Quraisy sudah berpesan kepada keduanya,
"Berikan hadiah ini kepada semua patriark sebelum kalian berdua mengutarakan maksud kalian kepada An Najasyi mengenai orang-orang yang hijrah. Lalu serahkanlah hadiah-hadiah ini kepada An Najasyi, kemudian lobilah An Najasyi agar beliau menyerahkan orang-orang yang hijrah itu kepada kalian berdua!”
Maka berangkatlah kedua utusan Quraisy dari Makkah menuju Habasyah. Kami semua saat itu berada di sebuah negeri yang nyaman dan para tetangga yang baik. Mereka berdua lalu memberikan hadiah tersebut kepada para patriark sebelum berbicara kepada An Najasyi.
Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amr bin Al Ash berkata kepada setiap orang dari para patriark,
"Sesungguhnya telah masuk ke negeri raja yang mulia ini anak-anak muda yang konyol. Mereka meninggalkan agama kaumnya, dan tidak masuk ke dalam agama kalian. Mereka menganut agama baru yang sama-sama tidak kita kenal. Para tetua Quraisy telah mengutus kami kepada kalian untuk membawa mereka pulang kembali kepada kaumnya. Jika kami berbicara kepada raja kalian tentang orang- orang tersebut, hendaklah kalian memberikan membantu kami melobi raja agar dia menyerahkan mereka kepada kami dan agar ia tidak berbicara dengan mereka, karena kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti apa yang mereka cela.
Para patriark berkata kepada keduanya, "Baiklah, kami akan membantu kalian."
Setelah mendapatkan dukungan dari para patriark, kedua utusan Quraisy itu menyerahkan hadiah yang demikian banyak kepada An Najasyi dan diterima dengan baik oleh An Najasyi. [5]

HASUTAN QURAISY KEPADA AN NAJASY
Akhirnya Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amr bin Al Ash pun dipertemukan dengan An Najasy. Mereka kemudian mengajak An Najasyi berdialog. Mereka berkata kepada An Najasyi,
"Wahai tuan raja yang mulia, sesungguhnya telah menyelusup masuk ke negeri tuan anak-anak muda kami yang bodoh. Mereka telah murtad dari agama kaumnya dan tidak mau pula masuk ke dalam agama tuan.
Mereka menganut agama yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengenal agama tersebut, begitu juga tuan.
Wahai tuan raja, sesungguhnya kami telah diutus oleh bapak-bapak, paman-paman, dan keluarga besar mereka untuk membawa mereka pulang kepada kaumnya, karena kaumnya jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan."
Demikian yang rangkaian kalimat yang diutarakan oleh keduanya di hadapan An Najasyi. Mereka berdua sebenarnya merasa khawatir kalau ada perwakilan kaum muslimin berada di antara mereka, pasti kaum muslimin akan membantah ucapan mereka berdua.
Setelah mendengar ucapan mereka, para patriark yang sudah disogok oleh Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amr bin Al Ash dengan hadiah-hadiah ikut memberikan dukungan.
Mereka berkata kepada An Najasyi,
"Wahai tuanku, sungguh mereka berdua telah berkata benar. Tentu kaum mereka jauh lebih mengerti terhadap apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti terhadap apa yang mereka cela. Oleh karena itu, kembalikan saja mereka kepada kedua orang ini, agar keduanya membawa mereka kembali pulang ke negeri dan kaum mereka."
Mendengar itu, An Najasyi justru marah.
Beliau mengatakan,
"Tidak, demi Allah! Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua. Jika ada sebuah kaum hidup berdampingan denganku, dan memilihku untuk melindungi mereka, di mana mereka tidak memilih pelindung selain aku.. Maka kewajibanku adalah bertanya terlebih dahulu kepada mereka tentang apa yang dikatakan dua orang ini tentang diri mereka.
Jika memang benar ucapan kedua orang ini, baru aku serahkan mereka kepada keduanya, dan aku pulangkan mereka kepada kaumnya. Namun, jika ternyata mereka tidak seperti dikatakan yang dikatakan oleh keduanya, maka aku akan melindungi mereka dari keduanya, dan memberikan suaka kepada mereka selama tinggal di negeriku." [6]
Kemudian melalui utusannya An Najasyi mengundang para sahabat Rasulullah shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ketika sampai utusan Raja An Najasyi ke tempat mereka untuk menyampaikan undangan, para sahabat segera mengadakan pertemuan.
Dalam pertemuan tersebut, sebagian Muhajirin berkata kepada sebagian yang lain,
"Apa yang akan kita katakan kepada An Najasyi jika kita datang menemuinya?"
Maka sebagian di antara mereka mengatakan, "Demi Allah, kita akan mengatakan apa yang telah kita ketahui selama ini. Apa yang disampaikan oleh Rasulullah, maka itulah yang akan kita katakan." [7]
Bagaimana pertemuan An Najasyi dengan perwakilan kaum muslimin muhajirin?
Apa respon Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amr bin Al Ash terhadap pertemuan tersebut?
Nantikan kisahnya pada artikel yang akan datang biidznillahi ta’ala.
Wallahu ta’ala a’lam bisshawab.


CATATAN KAKI:
[1] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 114.
[2] Ibid.
[3] Patriark adalah sebutan bagi pendeta agama Kristen Ortodoks. Dalam bahasa Arab disebut Bathariq, jamaknya Bathaariqah (pen).
[4] Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri, As Sirah An Nabawiyah baina Al Ma’rifah wal Wajib fi Dhau’I Al Quran wa As Sunnah, (Qasim: Dar Ashda’il Mujtama’, 2017), hlm. 102.
[5] Ibid.
[6] Ibid., hlm. 102-103
[7] Ibid.


Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy


--------------

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian