artikel pilihan

#42 | HIKMAH DI BALIK MASUK ISLAMNYA HAMZAH DAN UMAR


Pembaca yang budiman, pada tulisan sebelumnya kita telah paparkan bagaimana kisah masuk Islamya Hamzah dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Di balik masuk islamnya kedua sahabat yang mulia ini terdapat beberapa hikmah yang bisa kita renungkan. Di antaranya:

1. Telah kita sebutkan bahwa penyebab masuk Islamnya Hamzah radhiyallahu 'anhu adalah karena Abu Jahal yang selalu menyakiti dan mengganggu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Demikianlah, keburukan yang dialami Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebabkan kebaikan yang sangat besar bagi Hamzah radhiyallahu anhu.
Allah subhanahu wata'ala terkadang telah menakdirkan bahwa di balik keburukan itu terdapat kebaikan yang banyak. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

فَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً
(Maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah subhanahu wata’ala menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa': 19) 

Allah juga berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu." ( Al Baqarah: 216)

2. Kitab-kitab sirah menyebutkan bahwa awal Islamnya Hamzah radhiyallahu anhu adalah karena terdorong oleh harga diri (gengsi) seorang laki-laki yang tidak ingin seorang keluarganya dilecehkan. Kemudian Allah subhanahu wata’ala melapangkan hatinya untuk menerima Islam dan ia berpegang teguh dengan tali agama Allah yang amat kokoh ini. Bisa jadi, awal mula seseorang masuk Islam tujuannya untuk selain Allah subhanahu wata’ala, akan tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya perbaikan niat di kemudian waktu. 

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, 
إن كان الرجل ليسلم ما يريد إلا الدنيا فما يسلم حتى يكون الإسلام أحب إليه من الدنيا وما عليها
"Sesungguhnya dahulu, ada sebagian orang yang masuk Islam. Dia tidak mengharapkan dari keislamannya itu melainkan hanya keuntungan dunia. Namun setelah ia masuk Islam, maka Islam menjadi lebih ia cintai daripada dunia dan segala isinya." 

3. Tidak semua bentuk fanatisme kesukuan atau keluarga itu tercela. Jika fanatisme kesukuan ini dimanfaatkan untuk kepentingan agama dan untuk meninggikan kalimat Allah serta melawan kezhaliman, maka fanatisme ini menjadi sesuatu yang baik. Dengan adanya anggota keluarga beliau, maka dakwah beliau terlindungi. Ini salah satu factor yang menjadi sebab kenapa Islam diturunkan di tengah bangsa Arab. Karena kebiasaan mereka yang melindungi keluarga mereka sehingga dakwah Rasulullah pun selalu dijaga oleh keluarga beliau meskipun berbeda keyakinan.


4. Keutamaan membela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena pembelaan yang sangat mulia ini, Allah Ta ala membuka pintu hati Hamzah bin Abdul Mutthalib sehingga ia masuk Islam.

5. Dari kisah Laila, istri Amir bin Rabi'ah, kita mendapatkan sebuah pelajaran penting bahwa kita tidak boleh putus asa akan keimanan seseorang, sekalipun ia sangat memusuhi Islam atau banyak melakukan kemaksiatan. Contohnya Umar bin AI Khatthab radhiyallahu anhu yang sebelumnya sangat menjadi musuh besar bagi kaum muslimin sehingga Amir bin Rabi'ah merasa yakin bahwa Umar tidak akan masuk Islam sampai keledai milik ayahnya, Al Khaththab, masuk Islam terlebih dahulu. Akan tetapi, Allah subhanahu wata’ala telah menakdirkan hidayah bagi Umar radhiyallahu anhu sehingga ia menjadi salah satu tokoh yang paling besar jasanya bagi Islam.

6. Disyariatkannya mendoakan orang kafir agar mendapatkan hidayah. Khususnya bagi seseorang yang akan mempunyai pengaruh positif bagi kaum muslimin. Walaupun besar upaya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berdakwah, mengajak orang kepada Islam, namun beliau pun tidak lupa berdoa kepada Allah Ta'ala untuk kaumnya secara umum atau untuk tokoh tertentu agar mereka mendapatkan hidayah di mana beliau berdoa,

اللهم أعز الإسلام بأحب الرجلين إليك: بعمر بن الخطاب أو بأبي جهل بن هشام
“Ya Allah! Kokohkanlah Islam ini dengan salah seorang dari dua orang yang paling Engkau cintai: Umar bin Al Khatthab atau Abu Jahal bin Hisyam.” 
7. Sesungguhnya kewajiban membenci orang kafir bukanlah karena pribadinya, tetapi disebabkan akidah batil yang dibawa oleh dirinya. Pelajaran ini kita peroleh dari perbuatan Rasulullah yang mendoakan orang kafir agar mendapatkan hidayah. Kalau kita membenci seseorang karena pribadinya, maka kita tidak menyukai kalau ia mendapatkan kebaikan. Namun kalau kita membencinya dikarenakan suatu perkara, maka kita membencinya selama perkara itu ada padanya. Akan tetapi, jika ia telah meninggalkan perkara itu, maka kita pun akan mencintai dan mendukungnya.

8. Disyariatkan untuk membuat orang kafir sedih dan jengkel. Pelajaran ini diperoleh ketika Umar bin Al Khatthab radhiyallahu anhu segera mengumumkan secara terang-terangan keislamannya lalu melakukan shalat di dekat Ka'bah. Perbuatan Umar tersebut membuat orang-orang Quraisy merasa sedih dan cemas yang luar biasa. Dalam hal ini, Allah Ta'ala berfirman,
وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ
Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. (At Taubah: 120)
يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). (Al Fath: 29)

9. Pengakuan terhadap kelebihan orang lain. Ini pelajaran yang dapat kita petik dari lbnu Mas'ud radhiyallahu anhu yang menyebut-nyebut keutamaan Umar bin Al Khatthab radhiyallahu anhu atas kaum muslimin dan mengakui kelebihannya. Ibnu Mas'ud mengatakan,
ما زلنا أعزة منذ أسلم عمر
“Kami senantiasa memiliki izzah (kemulian diri) semenjak Umar masuk Islam."

10. Faktor awal yang menyebabkan Umar radhiyallahu anhu masuk Islam adalah ketika ia mendengar beberapa ayat Al Qur’an. Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh Al Qur’an yang mulía ini terhadap hati manusia.

Oleh karena itu, hendaknya para da'i dan para khatib memberikan perhatian yang besar terhadap hal ini. Tidak selayaknya berceramah atau memberikan nasihat tanpa mengutip ayat-ayat Al Qur’an. Tidak selayaknya kalimat-kalimat sang khatib atau da'i lebih mendominasi pembicaraan melebihi ayat-ayat Allah Ta’ala. 

Hendaknya selalu diingat betapa besar pengaruh ayat-ayat Allah ini ketika dibacakan oleh Rasulullah shallaliahu alaihi wasallam terhadap siapa pun yang mendengarkannya sehingga ayat-ayat yang mulia itu menjadi penyebab seseorang menerima kebenaran atau berhenti dan meninggalkan keburukan yang dilarang oleh agama. Cara dakwah seperti itu pula yang pernah dilakukan oleh para sahabat Rasul dan para Salafusshalih yang lain.

11. Di saat Umar radhiyallahu anhu masuk Islam para sahabat bertakbir. Begitulah seharusnya ketika kita mendengar atau melihat sesuatu yang menggembirakan hendaknya kita bertakbir, tidak bertepuk tangan seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin suka meniru kebiasaan orang di luar Islam.
Demikianlah beberapa hikmah yang bisa kita petik dari kisah masuk Islamnya Hamzah dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Semoga bisa bermanfaat.
Wallahu a’lam bisshawab.


Referensi:
Fiqih Siroh, Prof. DR. Zaid bin Abdul Karim Zaid, hlm. 208 s.d 212.


Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy


--------------

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian