artikel pilihan

#43 | USAHA NEGOSIASI PEMUKA QURAISY (BAG. 1)


Setelah masuk islamnya dua orang pahlawan yang agung, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib dan ‘Umar bin Al Khaththab radhiallaahu 'anhuma, kaum musyrikin berupaya untuk mencari jalan lain, yaitu mengajukan negosiasi di mana mereka akan memenuhi semua tuntutan yang diinginkan oleh beliau shallallahu 'alaihi wasallam asalkan mau menghentikan dakwahnya.

Dahulu ketika sedang berkumpul di bersama kawan-kawannya, salah seorang pemimpin Quraisy yang bernama Utbah bin Rabi'ah melihat Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam sedang duduk sendirian di masjid.

Utbah pun mengatakan "Wahai segenap pemuka Quraisy, bagaimana kalau aku ajak Muhammad bernegosiasi dengan mengajukan penawaran kepada dirinya. Mungkin ada di antara tawaran tersebut yang dia terima sehingga dia pun mau menghentikan dakwahnya?”

Peristiwa ini terjadi ketika Hamzah bin Abdul Muthalib telah masuk Islam, dan mereka melihat sahabat-sahabat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam semakin banyak dan menyebar.

Maka orang-orang Quraisy pun berkata kepada Utbah, "Baiklah, wahai Abul Walid (panggilan Utbah, WMB). Temui dia dan bicaralah dengannya!"

Utbah pun segera menghampiri beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan duduk di sampingnya sambil berkata, “Wahai keponakanku, sesungguhnya engkau masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan kami. Engkau mempu nyai kehormatan di keluarga dan memiliki keluhuran nasab. Engkau telah merusak kemapanan kaummu. Engkau memecah belah persatuan mereka, mencemoohkan mimpi-mimpi mereka, mencaci-maki sesembahan dan agama mereka, dan mengkafirkan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Dengarkan perkataanku, sebab aku akan mengajukan beberapa tawaran yang bisa engkau pikirkan dan semoga engkau bisa menerima sebagian tawaran-tawaran tersebut”

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Utbah, "Katakan, wahai Abul Walid, aku pasti menyimak apa yang engkau katakan!"

Utbah berkata, "Wahai keponakanku, jika tujuan dakwahmu untuk menginginkan harta, maka kami akan himpun seluruh harta kami agar engkau menjadi orang terkaya di antara kami. Jika tujuanmu adalah kedudukan, kami akan angkat engkau sebagai pemimpin dan kami tidak memutuskan satu perkara pun tanpamu. Jika tujuanmu adalah kekuasaan, maka kami akan angkat engkau sebagai raja. Jika yang datang kepadamu adalah makhluk halus yang tidak sanggup engkau usir, maka kami mencarikan dukun untukmu dan mengeluarkan harta kami hingga engkau sembuh darinya, karena boleh jadi ini mengalahkan orang yang dimasukinya hingga ia sembuh darinya."

Ketika Utbah selesai bicara, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam berkata: "Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Abul Walid?"

Utbah menjawab, "Ya, sudah."

Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda, "Maka simaklah baik-baik apa yang akan aku katakan."

Kemudian Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam membaca sebuah ayat,

{حم (1) تَنزيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (2) كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (3) بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ (4) وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ (5) }
Ha Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka beramallah kamu; sesungguhnya kami beramal (pula).” (Fusshilat: 1-5)
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan bacaannya.

Sementara Utbah, setiap kali ia mendengar Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat kepadanya, ia diam mendengarkannya dengan serius sambil bersandar dengan kedua tangannya.

Tatkala Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam sampai pada ayat Sajdah, beliau sujud, kemudian beliau bersabda, "Hai Utbah, engkau telah menyimak dengan jelas apa yang baru saja engkau dengar. Kini, terserah kepadamu mau kau apakan apa yang engkau baru dengarkan itu."

Utbah pun lalu kembali menemui sahabat-sahabatnya. Sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Kami bersumpah kepada Allah, sungguh, Abul Walid datang ke tempat kalian dengan wajah yang berbeda dengan wajah saat ia berangkat."

Ketika Utbah telah duduk, mereka berkata kepadanya, "Apa yang telah terjadi, wahai Abul Walid?"

Utbah menjawab, "Demi Allah, baru saja aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar sebelum ini. Demi Allah, perkataan tersebut bukan syair, bukan sihir, bukan perdukunan. Wahai orang- orang Quraisy, dengarkan aku! Serahkan perkara Quraisy kepadaku, biarkanlah orang itu dengan apa yang ia lakukan, dan biarkanlah dia! Demi Allah, ucapannya yang aku dengar tadi pada suatu saat akan menjelma menjadi kekuatan yang besar. Jika saja ucapannya tersebut dimiliki orang-orang Arab, mereka sudah merasa cukup dengannya tanpa kalian. Jika ia berhasil mengalahkan orang-orang Arab, maka kekuasaannya ialah kekuasaan kalian, dan kejayaannya adalah kejayaan kalian juga, kemudian kalian menjadi manusia yang paling berbahagia karenanya."

Mereka mengatakan kepada Utbah, "Wahai Abul Walid, Muhammad telah menyihirmu dengan mantera-manteranya!"

Utbah berkata, "Ini hanya pendapatku saja tentang dia. Terserah kalian, mau menerima atau tidak."

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Utbah mendengar bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai kepada firman-Nya,

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ
“Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan kaum Tsamud”. (surat Fushshilat, ayat 13)
Utbah langsung mengatakan, “CUKUP... CUKUP!”

Utbah pun langsung menutup mulut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menyebutkan hubungan kekeluargaannya dengan Rasul agar Rasulullah menghentikan apa yang sedang beliau bacakan. Hal yang demikian karena ketakutannya terhadap peringatan yang dibacakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Setelah itu Utbah pun menghampiri kaum Quraisy dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.

Di waktu yang lain, kembali Quraisy mengajukan tawaran-tawaran kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau kembali menjawab dengan tegas,

ما جئت بما جئتكم به أطلب أموالكم ولا الشرف فيكم ولا الملك عليكم، ولكن الله بعثني إليكم رسولا، وأنزل عليّ كتابا، وأمرني أن أكون لكم بشيرا ونذيرا، فإن تقبلوا مني ما جئتكم به، فهو حظكم في الدنيا وفي الآخرة، وإن تردوه عليّ أصبر لأمر الله حتى يحكم الله بيني وبينكم.
“Tidaklah aku datang membawa dakwahku untuk meminta harta kalian. Demikian juga bukan karena mengharap pemuliaan dan kekuasaan di sisi kalian. Akan tetapi Allah telah mengutusku kepada kalian sebagai Rasul, menurunkan kitab kepadaku, dan memerintahkanku memberi kabar gembira dan peringatan untuk kalian. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, maka itulah bagian keselamatan kalian di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika kalian menolak, aku bersabar terhadap perintah Allah hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita.”


Sumber:
Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 123-125.



Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy


--------------

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|https://3.bp.blogspot.com/-vsjjpoMCiW8/WlGA-RAlXRI/AAAAAAAABig/cGiszDzhKKsfBESHw6eUdidc1NSJNT2RQCLcBGAs/s1600/halaqah.jpg

Muamalah

muamalah/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

CRAST

Community Relief and Spreading Tauhid

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Info Kajian