artikel pilihan

#45 | MEMBUJUK ABU THALIB


Paska berlalunya pemboikotan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin pun mulai melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Adapun Quraisy, maka mereka masih tetap melakukan intimidasi terhadap kaum muslimin dan menghadang dakwah di jalan Allah meskipun sudah tidak lagi melakukan pemboikotan.

Adapun Abu Thalib, maka dia masih tetap melindungi keponakannya, dalam keadaan usianya yang sudah melebihi delapan puluh tahun. Penderitaan-penderitaan serta peristiwa-peristiwa yang begitu besar dan silih berganti sejak beberapa tahun, khususnya pada saat terjadinya pemboikotan terhadap keluarganya, telah membuat persendiannya lemah.

Baru beberapa bulan paska pemboikotan tersebut, Abu Thalib dirundung sakit yang agak payah dan kondisi ini membuat kaum musyrikun cemas kalau-kalau nama besar mereka menjadi buruk di hadapan bangsa Arab jika mereka hanya datang saat kematiannya karena tidak menyukai keponakannya. Oleh karena itulah mereka sekali lagi mengadakan perundingan dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melalui Abu Thalib dan berani memberikan sebagian dari hal yang sebelumnya tidak sudi mereka berikan. Mereka pun kemudian melakukan kunjungan kepada Abu Thalib, untuk terakhir kalinya.

Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa pada saat orang-orang Quraisy mendengar sakit Abu Thalib, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain,

"Sesungguhnya Hamzah dan Umar telah masuk Islam dan Islam telah menyebar luas di kabilah-kabilah Quraisy secara keseluruhan. Oleh karenanya, mari kita jenguk Abu Thalib dan menasihatinya agar menghentikan dakwah keponakannya. Demi Allah, kita tidak akan pernah merasa hidup nyaman kalau dia menguasai masalah kita."

Orang-orang Quraisy itu lalu datang kepada Abu Thalib dan merayunya. Di antara barisan mereka ada Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf dan Abu Sufyan dari gembong-gembong Quraisy.

Mereka berkata kepada Abu Thalib,

"Wahai Abu Thalib, seperti yang telah engkau ketahui sesungguhnya engkau bagian dari kami dan kami khawatir atas kondisimu. Sungguh engkau telah menyaksikan sendiri pertentangan antara kami dengan keponakanmu. Oleh karena itu, panggillah dia menghadapmu, tanyakan kepadanya apa yang sebenarnya dia inginkan. Apa yang dia inginkan, maka kami akan mengabulkannya dan setelah itu kami sebutkan keinginan kami yang harus dia penuhi agar dengan cara itu, ia menahan diri dari kami dan kamipun menahan diri dari dia, dia membiarkan kami pada agama kami dan kami biarkan dia berada pada agamanya.” Demikianlah ucapan para gembong Quraisy ini kepada Abu Thalib.

Maka segera Abu Thalib pun menyuruh seseorang untuk memanggil Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rasulullah pun kemudian datang menemui Abu Thalib. Abu Thalib berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam,

"Wahai keponakanku, orang-orang ini adalah pembesar kaummu. Mereka sepakat untuk memberikan sesuatu kepadamu dan sebagai gantinya mereka mendapatkan sesuatu pula darimu."

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada mereka,

أرأيتم إن أعطيتكم كلمة تكلمتم بها، ملكتم بها العرب، ودانت لكم بها العجم
Bagaimana pendapat kalian bila aku katakan kepada kalian satu kalimat yang bila kalian ucapkan niscaya kalian akan dapat menguasai bangsa Arab dan orang-orang ajam (non Arab) akan tunduk kepada kalian?”

Dalam lafazh riwayat yang lain disebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepada Abu Thalib,  

أريدهم على كلمة واحدة يقولونها، تدين لهم بها العرب، وتؤدي إليهم بها العجم الجزية
Aku menginginkan mereka untuk mengucapkan satu kalimat yang dapat membuat bangsa Arab tunduk kepada mereka, bahkan orang-orang non Arab akan mempersembahkan jizyah (upeti) kepada mereka”.

Dalam lafazh riwayat yang lainnya lagi disebutkan bahwa beliau berkata,

يا عم، أفلا تدعوهم إلى ما هو خير لهم

Wahai pamanku! Kenapa tidak engkau ajak saja mereka kepada hal yang lebih baik buat mereka?”.
Dia bertanya, “Mengajak kepada apa?”.

أدعوهم إلى أن يتكلموا بكلمة تدين لهم بها العرب، ويملكون بها العجم
Ajaklah mereka agar mengucapkan satu kalimat yang dapat membuat bangsa Arab tunduk kepada dan orang-orang non Arab berada di bawah kekuasaan mereka”

Sedangkan dalam lafazh yang diriwayatkan Ibnu Ishaq beliau shallallahu alaihi wasallam menyebutkan,

كلمة واحدة تعطونها، تملكون بها العرب، وتدين لكم بها العجم،

Satu kalimat saja yang kalian berikan niscaya kalian akan bisa menguasai bangsa Arab dan orang-orang asing akan tunduk kepada kalian”.

Tokoh-tokoh Quraisy bersorak, kemudian mereka berkata,
"Wahai Muhammad, apakah engkau mau menjadikan sesembahan kami yang banyak itu menjadi satu saja? Sungguh, merupakan perkara yang sangat mengherankan."
Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain,
"Demi Allah, orang ini hanya mempermainkan kita. Pulanglah kalian dan berpegang teguhlah kalian kepada agama leluhur kalian, hingga Allah memutuskan perkara di antara kita dan dirinya."

Setelah itu, mereka keluar berpencar dari rumah Abu Thalib.

Allah subhanahu wata’ala kemudian menurunkan ayat berkenaan dengan itu. Allah azza wajalla berfirman,

ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ (1) بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ (2) كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَلاتَ حِينَ مَنَاصٍ (3) وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (4) أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5) وَانْطَلَقَ الْمَلأ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (6) مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلا اخْتِلاقٌ(7)
Shad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu berada di dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan yang banyak itu sebagai Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka seraya mengatakan, "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) sesembahan-sesembahan kalian, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,. (Shad: 1-7).


Wallahu a’lam.


**********


REFERENSI:
  • Ar Rahiqul Makhtum, hlm. 132 
  • Al Misbah Al Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, tafsir surat Shad, ayat 1-7





Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy


--------------
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar

adv/http://halaqah.tauhid.or.id/|

Artikel Pilihan

artikel pilihan/carousel

Arsip Artikel Per Bulan

Facebook

fb/https://www.facebook.com/Tauhid.or.id

Kids

Konten khusus anak & download e-book

Course